cerpenterpen

 

matahari

[email protected]

 

MEMANG kita tidak mengharapkan matahari kala kemarau berpanjangan melanda bumi, sebaliknya yang kita inginkan kala itu tentu saja musim hujan yang terus membasah bumi kita agar tumbuhan tumbuh melata memenuhi bumi.

 

Ramai orang tua yang sangat menginginkan anak tidak dianugerahi anak, manakala orang tua yang tidak menyukai anak akan terus mendapat tambahan anak berjuta jumlahnya.

 

Remaja yang ingin pacar semakin jauh saja jodohnya, sedang remaja yang tidak suka pacaran selalu saja dikejar pasangan hingga dia jadi marah-marah di jalanan kerana bosan tak keruan.

 

Lalu lintas di kota kelihatannya semakin lancar, tetapi anehnya korban semakin ramai dan yang mati semakin memenuhi rumah sakit kota dan bumi semakin sempit jadinya untuk disemadi.

 

Orang kaya kelihatannya semakin cemas menyebab sakit jantung mereka kambuh semula, sementara pelarian makin enak tinggal di rumah sewaan atau mendirikan sulap di tanah haram di kinarut atau di Inanam dan kelihatan mereka keluar malam menjadi bajigan setan mengganggu ketenteraman awam dan hati anak tempatan selalu gundah gulana jadinya.

 

Ada seorang menteri yang bicara agar anak-anak  agar anak-anak menghafal tiap ayat al-kitab dan rajin belajar, sedangkan dia sendiri nggak tahu apa-apa selain hanya pandai bicara dan memerintah seperti ketam yang jalannya tak benar.

 

Keluarga berencana digiatkan,  bencana alam melanda di mana-mana dan gadis yang tampaknya liar tidak apa-apa, tetapi yang alim bertudung tiba-tiba saja mengandung anak luar nikah dan dunia jadi huruhara kerana ada saja drop out di mana-mana.

 

Pemimpin memangnya seharusnya menjadi contoh, tetapi dia sendiri bingung mencari teladan buat anak-anaknya dan semakin ramai ahli terasa semakin semrawut urusan segala.

 

Lalu apakah sobat pernah berfikir kalau-kalau matahari tidak ada esok pagi, apakah semuanya bakal terlaksana? Fikirkanlah sebelum tidur malam sebentar lagi.


 
ISMAILY BUNGSU
UMS-SABAH
[email protected]
[email protected]
[email protected]
019-8400005/016-8222262
014-5555175


sila layari
http://groups.yahoo.com/group/Watan_Sabah




Tulisan DINSMAN di Majallah PENTAS


.......Di Sabah, pembacaan puisi oleh Ismaily Bungsu dilakukan secara berteater/hal ini juga dilakukan oleh Prof Rahman Shari(UM),cuma Teater Puisi Rahman tidak banyak memperlihatkan kemajuan ke arah yang dimatlamatkanya.Ismaily penuh penghayatan sehingga mencapai tahap sebuah persembahan teater yang menyebabkan Prof Anuar Arai(UiTM) dan Tokoh Seniman Negara Syed Alwi menyatakan kekagumannya bila melihat Ismaily beraksi di pentas Universiti Utara Malaysia sempena Pertemuan Teater...........


Enjoy more chat on blogs and websites
Experience it with the Online Pingbox Creation Wizard!

Kirim email ke