KITA kena hati-hati terhadap kepicikan manusia dari barat ibni terutama 
Yahudi/Israel. mereka kekdang berpura-pura baik dan memuji cantiknya masjid, 
tetapi sebaliknya ada niat sesuatu yang bakal mengait untuk kita jadi rosak 
hancur binasa. 

Dalam Al-Quran sudah jelas yang Yahudi tetap mengehnatm kita selagi dia tidak 
masuk ke kerangka kita atau kita tak masuk ke kerangka mereka. Al-Quran telah 
menjelaskan begitu terperinci dan lantaran kebaikan yahudi itu, ramai sudah 
kalangan kita masuk ke kerangkanya dan terus mempertahankan yang APCO itu magus 
masuk ke rumah dan meloihat kamar tidur kita di setiap sudut. Ini tidak bisa 
bisa dibiarkan.


BUKTI KEPICIKAN BARAT
[email protected]

BUKTI kepicikan peradaban Barat ialah kenyataannya yang membinasakan disamping 
propagandanya yang bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya secara 
ekeklusif disediakan hanya bagi bangsa Eropah berkuliti putih.

Semanjak Yunani kuno hingga sekarang, noda paling hitam dari reputasi budaya 
ini ialah sifat yang keras kepala yang dengan diskriminasi rasialnya tidak 
memungkinkan kulit berwarna untuk berperan serta bersama-sama dengan kulit 
putih pada kehidupan yang setingkat.

Seorang yang berkulit hitam dapat saja menjadi kristian, ia dapat mengambil 
nama berbau Inggeris, ia dapat saja mengambil gaya hidup Barat secara total, ia 
dapat memperoleh gelar keserjanaan yang paling tinggi dengan profesi, tetapi 
secara sosial ia tetap tak dapat sederjat dengan orang berkulit putih. 

Tak peduli betapapun tingginya posisi yang telah dicapai olehnya, orang kulit 
berwarna tetap di belakang orang kulit putih, inilah sebab utama kemiskinan dan 
keterbelakangan yang saat ini melanda Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Apabila beradaban Barat benar-benar bersifat Universal, maka bangsa bukan 
Eropah akan dapat bangkit mencapai Ilmu, budaya, dan ekonomi, sebagaimana yang 
dicapai di Eropah dan dengan ghairah berperanan serta dalam bidang seni dan 
ilmu pada daerjat yang sama.

Dengan demikian westernisasi pada bangsa-bangsa bukan Eropah pasti akan 
menghasilkan suatu bentuk renaisans budaya yang besar, dan menelurkan 
orang-orang Asia dan Afrika yang terdidik, brilian dan kosmopolitan, yang akan 
memberikan sumbangan yang bererti bagi kemajuan kemanusiaan di segala bidang, 
tetapi tak seorangpun dapat menolak kenyataan bahawa westernisasi tak pernah 
menjadi, malahan westernisasi di Asia, Afrika dan Amerika Latin telah 
menghasilkan sterilitas dan penghancuran intelektual yang belum pernah terjadi 
sebelumnya.

Bukti paling menyolok dari kegagalan dunia Non-Eropah untuk berperanan serta 
pada posisi yang sedarjat dalam budaya moden, ialah jarangnya orang-orang non 
kulit putih dan bukan Eropah pada daftar pemenang hadial Nobel.

Pada tahun 1913. Raboindranath Tagore, seorang bengali Hindu memperoleh hadiah 
untuk sastera, pada tahun 1930, CV Raman untuk fisik, Dr, Ralph Bunce untuk 
perdamaian pada tahun 1950, pada tahun 1956 pula ialah Juan Ramon Jimenez, 
seorang penulis Puerto Rico untuk sastera pada tahun 1957 dan dua orang warga 
negara Amerika tirunan Cina, untuk bidang fisik, iaitu Albert Luthuli dari 
Afrika Selatan pada tahun 1960 untuk perdamaian, sebagai mana Martin Luther 
King pada tahun 1964. Dengan demikian dari 360 orang ilmuan, sasterawan dan 
negarawan pemenang hadiah nobel semenjak dianugerahkan pada tahun 1901, hanya 
sembilan orang non Eropah dan bukan kulit putih.

Nah keadaan di atas membuktikan yang kuat bahawa pada modernisasi kemanfaatan 
dari pendidikan modern dan kesempatan budaya telah tertutup bagi bangsa-bangsa 
Asia dan Afrika. Imperialisme Barat tidak boleh dikatakan sudah mati. Semanjak 
perang dunia ke dua, imperialisme budaya telah menggantikan imperialisme 
politik, kini imperialisme, betapapun berjalan secarta tak langsung dan halus, 
tidak kurang bahayanya ketimbang satu abad yang lalu.

Imperialisme budaya yang paling agresif ialah di bidang pendidikan dan media 
massa di negeri-negeri non Eropah, dimana efeknya sama saja, menaburkan rasa 
rendah diri dan demoralisasi psikoligis total diantara kaum dan menghalangi 
semua prestasi konstruktif dan aktivitas kreatif. Dengan demikian mereka tidak 
dapat menciptakan sesuatu yang asli atas inisiatifnya sendiri, mereka hanya 
dapat meniru.
Yahudi ini/dalam keadaan sekarang dia tetap menyokong pemerintah sebab dia 
dapat upah 20 juta dan kerajaan pula siap sedia bersilat kata dan tak akan 
mengakui berak tangan jalan
Ditulis 9 jam lalu · Komen·SukaTidak suka
Albert Polinoh dan Pauline Dane menyukainya.
Tuliskan komen...
LAGI BICARA ISRAEL/[email protected]
Kongsi
 Semalam pada pukul 4.32 ptg | Sunting Nota | Padam
ISRAEL: NEGARA TAK ADA BATAS WILAYAH
ISMAILY BUNGSU
MEMBAKUT-SABAH

Memang ramai menghantar e mail/sms kepada saya dan mahu saya menulis hal yahudi 
bangsat ini dan ramai bertanya siapa sebenarnya manusia Yahudi/Israel itu.

Anak sayapun bertanya bertanya siapa Israel yang sebenarnya. Bukan saja pelajar 
universiti itu yang bertanya, mungkin ramai lagi akan bertanya siapa sebenarnya 
Israel yang gila dan hauskan darah Palestina itu. Memang semunya akan bertanya 
termasuklah Anton Shammas yang merupakan seorang nobelis yang menghasilkan 
nobel yang berjodol Arabesques.


Anton Shammas adalah orang Arab yang berasal dari Dusun Fassusa, sebuah desa 
Katolik di dekat Danau Galilea dimana tempat itu kononnya penuh dengan sejarah 
kerana ia dibangunkan atas puing-puing kastil milik kesatria Perang Salib yang 
juga dibangun di atas puing-puing Mifshata, desa Yahudi setelah hancurnya 
Kenisah kedua.

Seperti yang saya katakan bahawa memang Anton Shammas adalah Arab Katolik dan 
berdasarkan apa yang dinyatakan terbayang betapa rumitnya persoalan dirinya 
sendiri Anton Shamms itu kerana yang pasti dia sendiri memang rasa sangsi 
tentang siapa dirinya sebenar. Maksud saya ialah bagaimana kedudukan 
identitinya atau ke negeri mana ia tergolong. 

Memang dia kelihatannya tidak bernegara setelah suatu waktu hampir dihabisi/ 
dihapuskan oleh Hitler kerana Hitler sebelum itu memang bijak membaca yang 
orang Israel/Yahudi adalah bangsa yang jahat dan suka bikin huruhara/kenyataan 
ini banyak dibicarakan lewat kitab suci Al-Quran dan sebelum melarat, maka 
Hitler dengan ganasnya sebagai pelakun yang mengorak langkah ke arah pesta 
darah hingga rakyatnya jadi mabuk dengan begitu hebat di atas pentas gila dan 
terus saja berusaha menghancurkan setiap anak, cucu cicit Yahudi itu yang 
akhirnya meletus perang dunia dan menjahanamkan hampir 25 juta manusia, tapi 
akhirnya Hitler akibat tidak mahu dihukum, maka ia membunuh diri dan dikatakan 
mati di muncung senjatanya sendiri.

Nobel Anton Shammas itu sendiri bisa saja dikatakan sebagai pengenal dirinya 
sendiri meski semuanya kenyataan tidak bisa dipercayai. Ia kononnya menulis 
dalam bahasa Ibrani meski dia sendiri adalah orang Arab dan mendefinasikan 
dirinya sebagai Israel secara kebudayaan bukan secara peraturan atau hukum yang 
ditentukan.

Sebenarnya jawaban Anton Shammas itu adalah khabar yang sangat buruk kerana di 
tengah-tengah orang Arab Palestina melempari batu kepada tentera Israel yang 
berkereta kebal dan bersenjata, lalu kemudian di balas dengan tembakan yang 
maha hebat yang akhirnya membunuh ribuan yang tak berdoa meski Paul Findley 
yang pernah menjadi ahli kongres Amerika selama 22 tahun asyik mempertahankan 
yang akhirnya dipulaukan/disingkirkan kerana dia dianggap sebagai musuh orang 
Yahudi.

Dalam tahun 1988 yang kira-kira bulan Mac Anton Shammas menulis lagi untuk The 
New York Review of Books dan menyatakan tentang bahaya yang khabar buruk itu 
ialah diperkatakan yang tidak ada orang Israel di Israel. Ada orang Malaysia 
memangnya ada di Malaysia, ada orang Thailand ada di Thailad, ada orang Amerika 
ada di Amerika, ada orang Rusia di Rusia, tetapi tak orang Israel di Israel. 
Itulah kenyataannya. Aneh, tapi tidak mustahil.

Kemudian ketika Israel kononnya merdeka pada tanggal 14 Mei, 1984 tidak ada 
kalimat "Kami bangsa Israel". Memang tidak ada, sebaliknya kalimat yang 
tercantum di sana setahu saya ialah "Berdirinya sebuah negara Yahudi di 
Eretz-Israel", yang kemudian dikatakan sebagai negara Israel. Kemudian kononnya 
40 tahun setelah itu di kad pengenalan mereka tercatat "Yahudi" atau "Arab". 
Memang aneh.

Nah, kelihatannya "Kebangsaan Israel" tidak pernah ada dalam dokumen rasmi 
Israel yang mana pun, Kata Shammas. Seorang Arab bisa saja membawa paspot yang 
menunjukkan yang ia warga negera Israel, tapi sesungguhnya ia tak dapat 
didefinasikan sebagai orang yang "berkebangsaan Israel". Orang-orang Yahudi pun 
demikian, meskipun menurut Anton Shammas, mereka secara tak tepat menyebut 
sebagai Israel.

Dengan kata lain Israel adalah sebuah negara yang ganjil dan aneh sangat di 
dunia tapi sobat terbaiknya terus saja merestui dan mengatakan yang Arafat yang 
mempertahankan negaranya dianggap pengganas. Ganjil dan aneh sekali kerana 
dalam kata-kata Anton Shamas bahawa negara Israel didirikan tak membatasi 
dirinya dengan wilayah atau tempat, melainkan lebih mendefinasikan dirinya 
dengan waktu. Iya, dengan waktu.

Maksud saya negara Israel semakin sehari semakin membesar yang kelak menguasai 
seluruh negara Palestina yang kemudian bakal menguasai Syria, Jordan, Libya dan 
lainplain negara yang lalu tak terkeculi negara Arab yang di dalamnya ada 
Kaabah milik kita yang dibangunkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. 

Memang semuanya yang saya perkatakan ini tidak mustahil setelah kewujudan 
Israel sendiri tanpa batas, tanpa waktu yang ertinya semua dunia bakal 
dikuasainya. Itulah cita-cita Sharon yang biadab dan kurang ajarnya bukan main 
hebat dan demikian juga yang nantinya mewarisi kerusi Sharon serta bakal 
disokong oleh sobatnya yang bernama Bush dan Blair/yang membunuh arab tua yang 
buta dan putus sebelah kakinya/teringat puisi Kemala.

Menurut Shammas bahawa Israel bukan milik warga negaranya Israel, tetapi milik 
Yahudi si keparat itu yang ada di manapun mereka berada termasuklah Yahudi yang 
menguasai kongres/sanet Amerika. Untuk mempastikan hal ini cuba saja anda baca 
buku/karya tulisan Paul Finley setebal hampir 600 halaman yang akhirnya Paul 
sendiri dipulaukan/yang berjodol Mereka Berani Bersuara/Nasib Pemimpin dan 
Institusi yang Menentang Israel, tapi dalam buku itu tidak disebut tentang 
Anton Shammas/penulis novel yang menghasilkan Arabesques.

Kemudian kala Anton Shammas terus berbicara hal yang rumit, iaitu hubungan 
Israel dengan warga negara Arab yang disebut sebagai Green Liners/yang 
tinggalnya di tepi sungai Jordan, ertinya mereka yang tinggal di wilayah Israel 
sebagai warga negara Israel.
Nah, dalam perkara yang dinyatakan sebagai Kitsch-22, apa yang diharapkan dan 
dapat dilakukan oleh para Green Liners sungguh membingungkan. Benar-benar 
membingungkan.

Negara Israel menghendaki agar mereka itu secara serius menyedari 
kewarganegaraan mereka, tetapi pada saat mereka serius, segera mereka diberi 
tahu bahawa mereka harus hanya bersifat sosial, untuk tujuan politik, mereka 
lebih baik kononnya mencari tempat lain saja. 

Nah, serentak itu pula mereka menempatkan diri mereka dalam "Kebangsaan 
Palestina" demi keselamatan atau tidak dianggap sebagai musuh dalam selimut. 
Apapun Anton Shammas sendiri terus dengan identitinya yang tak mungkin selesai 
sampai bila-bilapun. Bagaimana bisa selesai, kalau ia sendiri adalah perampok 
yang keras kepala dari orang yang tidak bertempat dan dari sepotong waktu yang 
terus berlalu menjamah akhir dunia yang makna saya hampir kiamat. 

Nah, apakah inilah yang disebut takdir? Apakah semua yang saya perkatakan ini 
tidak dapat memberikan pengajaran kepada kita? Apakah kita terus bermusuhan dan 
mengganggap diri maha hebat tanpa kembali kepada kitab suci yang diwahyukan 
atau sudah lupa akan sunah nabi yang saban jumaat diperkatakan di masjid? 

Apakah jawatan yang kita duduki sekarang ini dapat membantu hasrat pemerintah 
atau keinginan-keinginan agama yang tujuannya terus menyatukan umat membantai 
kejahatan dan menegakkan kebenaran untuk yang Islam, maupun bukan Islam?

Apakah Tuhan akan terus menolong kita kalau sekadar berdoa dan menyerah dan 
bijak berbiacar tentang agama? Cubalah terus berdoa tanpa berusaha apakah ada 
kesannya? Tidakkah kita ingat akan Negeri Sabba yang tanahnya subur dan 
kemudian Tuhan mendatangkan bala yang akhirnya kamarau datang menjelma?

Apakah Tuhan akan mendatangkan rezeki ke mulut kita atau akan jatuh makanan 
dari langit akibat doa semata tanpa usaha? Tidakkah antara kita tahu betapa 
Tuhan sendiri tidak senang kalau kita terus berdoa tanpa usaha kerana yang 
berdoa tanpa usaha juga dianggap pengecut dan penakut. Iya, memang ada yang 
berkata/sekadar ikut sabda nabi bahawa ulat dalam batupun bisa hidup, tapi 
hidupnya bagaimana? 

Bukankah bakal melarat tanpa ilmu kalau ulat itu diibaratkan manusia? Zaman ini 
bukan zaman batu. Siapa cepat dia dapat, yang lambat kembalilah ke zaman batu 
yang akhirnya dihina dan diketawakan serta dibuli oleh Bush dan Blair. 
Kembalilah kepada Al-Quran dan hadis Nabi seperti sobat kita di zaman Andalusia 
yang melahirkan Ibu Sina, A-Kindi dan ramai lagi
Muka jahanam ini harus dihapuskan dari negara kita/kalau tidak rosak binasa 
negara banga kita nanti.
 ISMAILY BUNGSU
UMS-SABAH
[email protected]
[email protected]
019-8400005/016-8222262
014-5555175 


sila layari
http://groups.yahoo.com/group/Watan_Sabah 


      
__________________________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar is now powered with Free Anti-Virus and Anti-Adware Software.
Download Yahoo! Toolbar now!
http://malaysia.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke