On 1/9/07, Koes Sardjono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   Selamat bergabung Bli,
mudah mudahan anda terpuaskan bergabung dengan SBI-INFO
Kalau mau birdwaching ke Nusa penida juga bagus lho
disana Jalak Bali sudah ada dialam bebas.
Kalau mau kesana hubungi dulu FNPF di Ubud
Jln Bisma # 3.atau hubungi 0361 977978. Di sana ada
Bli Made Bum Bum, Bli Bayu dan teman teman pelestari jalak Bali
yang lain.

 Koes.














terimakasih Pak Koes...

Untuk digital birding masih pake alat seadanya modal zoom 12X ternyata perlu
belajar menyamar dan ilmu kanuragan tinggi biar ga berisik di semak. Perlu
berguru dengan sesepuh di SBI. Terakhir jumpa Jalak Bali di ZooPark
singapadu minggu kemarin. Sang jantan kelihatan riang dengan celotehnya,
mungkin yang betina sedang mengeram didalam sarangnya.

Salam
Rivo


----- Original Message -----

*From:* Rivo yubara <[EMAIL PROTECTED]>
*To:* [email protected]
*Sent:* Monday, January 08, 2007 2:25 PM
*Subject:* [SBI-InFo] warga baru

 Hallo,

Saya blm lama ini bergabung dengan milis SBI, dan ini posting pertama
saya.
Nama: Rivo
Alamat : Perum taman muding mekar blok B no 3X
kota : Denpasar

Soal burung-burungan sudah akrab dari kecil dimulai ketika disekolah dasar
ayah saya membawa anak kutilang yg jatuh dari sarang. Saya diberi
tanggungjawab untuk mengurusnya, sampai burung itu besar. Kutilang pertama
saya itu senang diajak main dan hinggap di pundak atau kepala. Kemudian
berlanjut mendapat sepasang merpati dari kerabat di Jawa Timur hingga
berkembang menjadi puluhan ekor. Sempat juga berteriak-teriak di lomba
burung berkicau dan mengoleksi 5 ekor murai batu medan. Adalah rutinitas
setiap minggu untuk berkunjunga ke pasar burung Pramuka, asyik melihat
burung kicau import berdatangan, hwa mei, poksay dan lainnya.
Sampai pada suatu waktu termenung melihat puluhan ekor murai batu
ditempatkan di sangkar sempit, terbang tak tentu arah dengan pangkal paruh
berdarah.
berapa banyak dari burung itu yang dapat bertahan hidup? berapa banyak
yang bisa berkicau bagus dan membanggakan majikannya? bagaimana yang tidak
bisa berkicau? apakah tetap mendapat perhatian majikannya?
Wahh gimana juga nanti cerita ke anak-cucu tentang prenjak yang berbunyi
lantang dipohon jambu samping rumah? Jangan-jangan prenjak keburu punah saat
anak-cucu kita lahir?
Jadi tersadar bahwa burung-burung itu lebih baik di alam bebas ketimbang
di sangkar, dan berhubungan erat dengan kulitas lingkungannya. Makin banyak
burung di suatu tempat, makin baik kualitas lingkungan tersebut.
Sejak saat itu saya lebih suka mengamati burung di sekitar lingkungan
saya. Meski tidak bisa meninggalkan hobi memelihara burung di rumah, ya
karena kake-buyut-dan nenek moyang kita dari jaman majapahit juga suka
memelihara burung, dirumah ada beberapa koleksi hasil ternakan bukan
tangkapan liar termasuk ayam bekisar yang baru didapat hari minggu kemarin.

hal lain bergabung dengan SBI ini karena:

1. Tertarik dengan kegiatan birdwatching, dan nge-fans dengan bidikan Mas
Karyadi Baskoro dan rekan SBI lainnya
2. Suka sama ilustrasi dari Mas Agus Prijono yg bagoozz...

Demikian perkenalan dari saya, mohon panduan dan bimbingan dari
rekan-rekan ornithologist di SBI.
Terlampir adalah fot-foto hasi jepretan di Bedugul, Singapadu dan Uluwatu.
Di singapadu saya dapati burung Decu berkicau lantang di pucuk penangkal
petir. Sedangkan di Uluwatu saya berpapasan burung seperti elang di
semak-semak mungkin rekan SBI bisa bantu untuk identifikasi, begitu juga di
bedugul di kawasan wisata kebun raya banyak sekali burung dengan warna hitam
pekat berkelompok terbang di pucuk-pucuk pohon dengan bunyi cerecet yang
nyaring.


Salam
Rivo

 ------------------------------

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.16.7/620 - Release Date: 1/8/2007
4:12 PM


Kirim email ke