SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Memotret Burung di Alam Bebas
arna-warni bulunya senantiasa menebar pesona. Itulah satwa burung. Bagi 
kalangan fotografer alam bebas, memotret satwa burung adalah suatu kesenangan 
tersendiri. Bisa juga sebagai pekerjaan yang menantang. Pasalnya, subjeknya 
bergerak. Bukan seperti memotret burung di dalam sangkar. 

Memotret burung erat hubungannya dengan pemotretan satwa alam bebas (wildlife 
photography). Sehingga teknik yang digunakan tidak berbeda dengan memotret 
satwa lain. Memotret burung, berarti memotret di alam bebas. Dengan begitu, 
sudah barang tentu seorang fotografer harus melengkapi dirinya dengan perangkat 
fotografi pendukung. Apa sajakah?

Pemotretan burung perlu lensa tele dengan titik fokal 300mm, 400mm atau bahkan 
600mm. Syukur-syukur bisa lebih panjang lagi. Selain lensa tele tentu 
diperlukan juga penggunaan tripod atau monopod, agar lensa kamera bisa 
diarahkan dengan mantap ke arah burung yang dibidik.

Umumnya fotografer alam bebas juga membawa lebih dari satu bodi kamera saat 
berburu. Selain untuk cadangan juga untuk mengurangi frekuensi penukaran lensa 
atau film. Namun sekarang ini kita tidak perlu bersusah-susah lagi seperti itu, 
sebab sudah ada kamera digital. Dengan kamera jenis ini masalah menyimpan 
gambar di kamera sudah tidak masalah lagi seperti halnya pada kamera film. 
Kamera format medium hanya untuk memotret pemandangan atau makro. Jarang 
mengambil wildlife dengan kamera medium format, karena perlu memakai lensa dua 
kali lebih panjang. Untuk reaksi cepat lebih baik dengan kamera 35 mm saja. 

Beberapa peralatan khusus sering diperlukan juga untuk pemotretan wildfile. 
Seperti misalnya tenda penyamaran, jebakan pelepas rana, remote control atau 
sensor inframerah yang selalu dipakai fotografer luar negeri. Repotnya 
peralatan fotografi khusus alam bebas tidak tersedia di pasaran Indonesia. 
Meski punya banyak uang sekalipun belum tentu kita bisa membelinya. Makanya 
sering juga harus merekayasa alat sendiri, yang kadang perlu biaya dan 
konsentrasi lebih banyak. Kalau harus beli di luar negeri tentu sudah lain lagi 
ceritanya.


Sensitif Warna

Satwa burung ternyata sensitif terhadap warna. Karena itu pakaian juga harus 
diperhatikan. Jangan mengenakan baju yang berwarna meriah atau menyala. 
Pakailah stelan kecoklatan, hijau atau seperti Alain Compost yang selalu 
berhitam-hitam. Satwa terutama mamalia amat mudah terusik ketenteramannya. 
Termasuk juga oleh warna-warni yang mengganggu. Jadi kalau mau masuk hutan 
pakailah stelan yang cocok, seperti warna cokelat, hijau atau hitam. Janganlah 
pakai yang mencolok.

Untungnya burung tidaklah sepeka hewan mamalia. Umumnya mamalia macam badak 
atau harimau misalnya, amat mudah mendeteksi kehadiran manusia. Sehingga jarang 
dan sulit sekali untuk dijumpai. Sedangkan burung masih terhitung mudah 
terlihat atau diamati lewat lensa.


Cinta Alam

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memotret satwa termasuk juga burung 
adalah rasa cinta alam. Jadi fotografer perlu juga mencintai dan mengenali peri 
kehidupan unggas tersebut. Untuk itu ada baiknya jika fotografer menyempatkan 
diri melakukan observasi dan mengumpulkan informasi yang lengkap. Informasi itu 
bisa dikumpulkan dari penduduk setempat, membaca literatur atau menghubungi 
peneliti. Kumpulkan selengkap mungkin data tentang waktu, musim, jenis satwa, 
lokasi pemunculan satwa, dan kebiasaan satwa tersebut. Dari sana bisa disusun 
strategi pemotretan seperti peralatan, kepekaan film atau aksesori tambahan 
yang diperlukan.

Dengan data lengkap fotografer tidak kerepotan menggunakan peralatan. Karena 
biasanya fotografer tidak membawa semua peralatannya ke lokasi pemotretan. 
Hanya yang perlu saja dibawa sementara lainnya seperti batu baterai, tas kamera 
dan sebagiannya akan tinggal di basecamp. Informasi tentang burung itu sendiri 
juga perlu dikumpulkan selengkap mungkin. Terutama kebiasaan dan perilakunya 
seperti dari suara, makanan bahkan sangkarnya. 

Setiap jenis burung punya perilaku dan kebiasaan yang berbeda sehingga amat 
menarik untuk diamati. Misalnya burung cendrawasih yang selalu berganti bulu 
secara teratur. Biasanya bulan Desember atau Januari mereka akan ganti bulu. 
Jadi kalau mau merekam keindahan warna bulu cendrawasih jangan ke Irian pada 
bulan Januari, karena biasanya bulu mereka belum nampak sempurna.


Faktor Cuaca

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kendala yang mungkin muncul pada 
saat pemotretan. Karena pemotretan dilakukan di luar ruang maka kendala yang 
mungkin dihadapi adalah tabiat alam itu sendiri. Faktor alam terutama cuaca 
amat menentukan pada pemotretan jenis ini. 

Hasil maksimal pada pemotretan ini juga bergantung penuh pada waktu. Untuk 
hasil yang prima biasanya perlu waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Waktu 
yang panjang juga perlu penanganan tersendiri untuk mengatasinya. Agar 
kejenuhan senantiasa terhindari dan konsentrasi tetaplah prima. 

Kendala lainnya adalah satwa itu sendiri sudah mulai punah, karena habitat 
mereka sudah dirusak manusia yang pada akhirnya sulit untuk menemukan burung 
itu, apalagi ingin memotretnya. Tidak heran jika pemotretan satwa, seperti 
burung tergolong sulit dilakukan pada masa sekarang ini.


Terkonsentrasi

Bagi yang ingin mengamati burung disarankan untuk pergi pagi atau sore hari. 
Selain cuacanya tidak terlalu panas burung pun biasanya sedang sangat aktif. 
Mulai dari yang berkicau, mencari makan ataupun berterbangan. Sehingga relatif 
lebih mudah menemukannya. 

Mengamati atau memotret burung bisa dilakukan di mana saja. Tempat paling baik 
dan mudah tentu saja di sekitar rumah atau taman kota. Jika sudah bosan di 
sana, bisa datang ke pinggiran kota, kampung, tepian sungai atau tepi pantai. 
Paling baik jika mau ke luar masuk hutan, karena di sanalah tempat paling kaya 
akan burung. [Rony Simanjuntak]



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 20/3/07 

Kirim email ke