Trimakasih masukannya pak bas, akhirnya saya juga bisa merasakan bahasan dengan 
perbandingan gambar.
Memang warna kekuningan masih sedikit ada di bagian tunggir. sayang tak tampak 
dalam foto. untuk variasi lain yang agak putih, kepala hitam, dan variasi 
ketebalan warna kuning saya juga pernah melihatnya. cuman untuk yang satu ini 
memang paling mencolok.
OK, ditunggu masukan yang lain.
Salam,
Jarot



----- Pesan Asli ----
Dari: Kang Bas <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Selasa, 3 Juni, 2008 23:18:23
Topik: Re: [SBI-InFo] Yang menarik dari Prambanan ... (mohon masukan)


Salam

Menurut saya, ini belum masuk kategori albino, apalagi jadi-jadian.
Secara umum, jenis Bentet Kelabu, Lanius schach memiliki variasi warna yang 
cukup luas. Beberapa bahkan dimasukkan kedalam ras atau sub spesies tersendiri.

Yang di Indonesia adalah 'Lanius schach bentet'. Sub spesies ini mirip sekali 
dengan L. s. schach, cuma beda ukuran saja. Yang di Indonesia ukurannya lebih 
kecil.

Untuk L. s. bentet, juga memiliki variasi warna, baik pada warna punggung, 
perut dan mahkota. Hasil pengamatan selama ini, ditambah konfirmasi dari para 
"penjelajah" (hunters), ada beberapa ciri dan variasi yaitu:

Ciri pembeda Jantan dan Betina:
- Jantan, ekor lebih hitam, warna hitam mahkota melewati batas mata.
- Betina, ekor lebih coklat, warna hitam mahkota tidak melewati batas mata.

Variasi ras lokal L. s. bentet:
- Varian punggung kelabu, perut merahkarat, ukuran lebih besar, yang paling 
umum dijumpai, terutama di dataran rendah sampai tinggi.

- varian pungung kelabu muda sampai putih, perut lebih banyak putih, warna 
merah karat hanya sedikit dibawah sayap, ukuran lebih kecil, lebih sering di 
pesisir

- varian dengan mahkota hitam sampai tengkuk, ukuran paling kecil, yang paling 
langka <<< sudah pernah ada yang lihat ini?

Untuk masalah distribusi nampaknya belum ada pola khusus. Untuk Semarang, kami 
lebih sering berjumpa varian putih di daerah pesisir. Varian merahkarat 
cenderung di dataran rendah sampai tinggi.

Namun kalau melihat foto-foto rekan, ada perbedaan di lokasi lain. Foto Rivo di 
Serangan (pesisir) warnanya merahkarat. Foto Ady di Merapi (dataran tinggi) 
termasuk varian putih. Foto Jarot di Prambaan (dataran rendah) termasuk varian 
putih.

Sebenarnya cukup menarik untuk mengkaji seluk-beluk jenis ini. Informasinya 
masih minim. Terlebih lagi kalau mengkaji kemampuannya dalam meniru suara yang 
cukup jagoan, hanya suara manusia saja yang tidak ditirukan.

Sayang, seperti biasa, spesies non-selebritis seperti jenis ini pasti cuma 
numpang lewat dari "pasar penelitian". Cuma sesekali dibicarakan, setelah itu 
dilupakan...

KB

--- On Tue, 6/3/08, Dwi Jatmiko <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:

Tanggal 26 Mei
lalu sekitar pukul 08.00 WIB saya bertemu dengan "Bentet (tidak) kelabu" (Lanius
schach). Pertanyaan saya: apa mungkin itu terjadi secara alami di alam?
Kalau itu kasus albino kenapa warna hitam masih kelihatan? Ada tidak ya kasus
”albino sebagian” terjadi di alam (terutama pada hewan)? Atau burung itu hanya 
lepasan hasil mutasi rekayasa alias ”jadi-jadian”? 

 


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke