“Sue ora jamu jamu godong telo sue ra ketemu
temu pisan gawe gelo”, itu
adalah Lagu yang cukup akrab di telinga masyarakat Yogyakarta. Lama kita tidak 
ketemu sarang Elja (Elang Jawa = Spizaetus bartelsi) aktif di Merapi, sekali 
ketemu ee..kena
bencana. Kronologisnya berawal dari tanggal 4 juni ketika pertama kali
menemukan sarang si elja dan terlihat melakukan “kopulasi” (kawin) dan
membangun sarang. 8 juni terlihat melakukan mulai inkubasi dan terlihat anakan
pertama kali tanggal 23 Juli. Hari naas, tanggal 25 Juli 2008, ketika itu azat
naik ke tempat pengintaian sarang Elja di lereng selatan Merapi. Segerombolan
(mungkin ratusan) Monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) sedang mengepung lokasi sarang. Sarang kosong! Induk
terbang-terbang di sekitar sarang sambil sesekali menyerang macaca yang mencoba
mendekati sarang. Sarang yang seharusnya terdapat anakan sudah kosong,
kecurigaan terbesar tentunya ditujukan pada monyet-monyet tersebut. Diduga kuat
monyet-monyet telah memangsa si anak garuda. Sehari sebelumnya Imam, Tomi, Ayu
dan Sita masih melihat si anak garuda bersama induknya di sarang. Bahkan dari
catatan 24 Juli, si induk terlihat menyuapi anaknya dan pengamatan saat itu
dilakukan sampai sore dan pada pukul 15.00 WIB, pengamatan kemudian dilakukan 
oleh
Iwah (warga Kinahrejo) sambil mencari rumput di sekitar lokasi sarang. waktu
penyergapan mungkin dari pagi sampai jam 11.00 saat azat baru menemukan dan
melihat sarangnya. Tanggal 26 Juli saya sempat mendekati pohon sarang sampai
jarak kira-kira 15 M ke sarang dengan sudut pandang sejajar mata. Tampak induk
betina hinggap di dahan atas sarang, melihat ke sarang dengan pandangan mata
kosong dan pahit! Selama 1 jam, Si jantan kadang datang menghiburnya. Sangat
menyedihkan. Kemungkinan sergapan makhluk lain seperti pemburu ataupun lutung
sangat tidak meyakinkan. Pemburu akan menunggu anakan lebih besar sedikit baru
diambil sedangkan kalau lutung, tidak ada tanda yang cukup kuat. Kemungkinan
lain seperti penyergapan malam hari juga tipis, gunung yang dingin dan malam
gelap sepertinya cukup membuat takut pemburu. Lutung dan monyet ekor panjang
merupakan hewan diurnal (mohon review kawan-kawan). Monyet ekor panjang adalah
tersangka yang paling kuat. Menurut keterangan azat, monyet ekor panjang
mengepung dari 3 sisi yang berbeda. Kemungkinan lain adalah kekurangan pangan,
pada pengamatan tanggal 24 Juli teramati induk betina makan dan menyuapi anak
pada waktu yang sudah siang yaitu pukul 13.00 WIB (kami mengamati dari pukul
8.00). Ataukah memang sudah takdir? TRAGIZSS..

“Peristiwa
alam ternyata tidak semua terasa indah bagi kawan-kawan pecinta Elang jawa”
Semua kecewa (jawa= Gelo), kondisi ini benar-benar menjadi pelajaran berharga
bagi kita. Habitat Elang jawa yang semakin sempit ternyata sangat berpengaruh
bagi kesuksesan berbiaknya. Lereng selatan Merapi seperti sebuah neraka bagi si
Elja kebanggaan bangsa. Dari catatan-catatan yang ada selama ini si Lambang
Negara selalu terlihat kalah bersaing dengan Elang yang lain. Dalam konsisi ini
si elja di Merapi sangat jarang terlihat terbang bebas di langit tinggi. 
Ketinggian
terbangnya rata-rata setinggi punggungan atau puncak pohon, kadang-kadang hanya
(mungkin) sekitar 10 M dari puncak pohon. Diduga kondisi ini membuat si elja
tidak mempunyai orientasi atau pandangan yang baik tentang calon lokasi
sarangnya. Kasus disini, sarang elja terletak pada pohon yang berada di 
tengah-tengah
2 punggungan dengan jarak dasar punggungan yang sangat dekat (sekitar 1 Meter).
Celakanya, pemilihan lokasi pohon sarang yang berdekatan dengan pohon-pohon
yang lain, bahkan banyak ranting-ranting dan dahan pohon lain yang menempel
(Overlap). Kondisi tersebut membuat monyet-monyet akan dengan mudah masuk ke
sarang dari sisi depan,belakang,  kanan,
kiri dan tentunya bagian bawah pohon sarang. Walaupun terlihat perlawanan yang
keras dari induk si anak garuda, itu belum cukup untuk melawan serbuan RATUSAN
monyet dari segala penjuru. Mimpi tentang munculnya tunas baru si Elja di tahun
2008 MUSNAH sudah. 

PR besar bagi para pengamat burung yang sering
masuk ke Merapi, yaitu kemudian apa yang bisa dikerjakan untuk menghindari
kekecewaan serupa di masa yang akan datang? 

 

JBR 5 Report by Wawan KIBC

www.kibchome.multiply.com




      

Kirim email ke