Gw pribadi sih setuju aja orang posting pic burung di milis ini. Bukankah ini
memang milis birdwatcher??
Tapi alangkah lebih menariknya kalo setiap posting foto burung disertai narasi,
bukan cuman foto doang.
Gw pikir akan sangat menarik jika tiap posting burung disertai cerita tentang
di mana foto itu diambil; gimana cara mendapatkannya mudahkah atau sulitkah;
komen2 pribadi penulis tentang burung itu, bisa dari segi status konservasi,
ekologi, atau sekedar like-dislike pribadi, komen2 yg sederhana tapi
opinionated; atau bahkan soal human interests (atau avian interests yaaa?),
semisal reaksi dan pandangan penduduk sekitar habitat burung yg difoto itu atau
komentar mereka akan burung itu yg pernah mereka liat, apakah mereka peduli
atau cuek atau bahkan terbiasa menjadikannya sekedar obyek perburuan; Yang
semua itu bisa memperkaya wawasan pembaca postingan itu atau bahkan memberi
ilham utk melakukan upaya konservasi burung (cieeeeee....), mulai dari hal2 yg
sangat sederhana yg bisa dilakukan sendiri di lingkungan rumah, misalnya.
Sebab, kalo cuma mau liat posting gambar burung dan kita member di milis ini
cuman ngeliat pic burung yg diposting, tanpa narasi yg menggugah atau komentar
apapun, itu mah gak perlu susah2 jadi member milis ini dgn resiko mailbox-nya
cepet penuh. Kalo cuman mau liat foto burung yg bagus, tinggal ketik nama
burung di Google Image atau Oriental Birds, dan dengan sekali klik ada ratusan
foto burung yg bagus yg bisa diliat.
Gw pernah pas jalan2 motret elang laut di cagar alam pangandaran yg kemudian
diposting di sini (ya memang cuman sekali itu gw sempat motret dan posting foto
burung, hiks!). Fotonya kecil karena diambil dari jauh dgn kamera saku, tanpa
alat bantu apapun semacam lensa tele dgn zoom superbesar dll. Tapi yg lebih
menarik adalah komentar si emang tukang perahu tentang elang laut itu, ternyata
dia tak ada keinginan memburu atau menangkap si elang laut, walo dia tau persis
si elang bersarang di salah satu semak di tebing itu, dan si elang itu biasa
terlihat setiap hari di "tempat kerja" dia. Dia bahkan dgn nada kecewa
bercerita bahwa beberapa waktu sebelumnya ada elang yg lebih besar yg sering
terlilhat di situ, yg kata dia kepalanya "seperti kalkun" (tak berbulu), tapi
sekarang si "elang kalkun" itu gak pernah terliat lagi, mungkin ditangkap orang
atau pergi ke tempat lain.
Dari komen si emang tukang perahu itu kita jadi tau bahwa ternyata gak semua
penduduk, apalagi yg dari "ekonomi susah", itu tak peduli pada alam atau satwa.
Contohnya ya si emang itu.
Selama ini gw berpikir orang kayak si emang tukang perahu itu paling yg dia
pikir cuma gimana dapet setoran buat bayar sewa perahu, gimana penghasilannya
bisa menutup harga solar yg mahal dan menyisakan uang untuk makan anak-bini
atau kalo bisa buat bayar SPP anaknya. Hal2 semacam ini kan kalo juga ditulis
di postingan burung bisa sangat menarik dan inspiring.. (buat gw loh, gak tau
buat yg laen) terutama untuk membangkitkan kesadaran tentang konservasi alam
dan burung (taelah.. he he he...)
Sorry euy, cuman opini aja... Muaaf kalo terkesan sok tau dan menggurui he he
he.. sebenernya gak ada maksud begitu..
Salam,
Hasto Pratikto Irawan