Tgl 16 Januari yg lalu pesawat Airbus 320 terpaksa mendarat darurat di air
Sungai Hudson yang dingin di New York, setelah mengalami kerusakan mesin akibat
mesinnya menabrak dan menghisap sekawanan angsa liar.
Jadi iri euy... TEntu saja bukan iri sama kecelakaannya, tapi iri pada
keberadaan common birds di sana. Kapan yah di sini ada common birds yg ukuran
tubuhnya besar2 spt di daerah2 high latitude (daerah yg jauh dari
Khatulistiwa)??
Gw juga sering iri euy.. kalo liat tayangan VOA, sembari reporternya melaporkan
kejadian, di kolam di latar belakang banyak burung liar besar2 (lebih besar
dari merpati, kayaknya gull) yg terekam kamera, hinggap atau beterbangan.
Padahal itu di tengah kota euy. Demikian juga seagull yg banyak terlihat di
pantai2 yg ramai.
Di sini kebanyakan common birds (burung yg lazim dijumpai dimana2 dan dalam
jumlah banyak, termasuk di daerah habitasi manusia) adalah yg berukuran kecil:
bangsa bondol, burung gereja, bangsa bulbul (kutilang dan trocokan), bangsa
manyar, dll yg semuanya bertubuh kecil.
Apa sebabnya ya di sini burung berukuran besar jarang banget ada yg bisa sukses
menjadi common birds dan biasanya cuma bisa dijumpai di tempat2 terpencil,
pulau2 yg jauh, dan tidak dekat dgn kehidupan sehari2 manusia? Satu lagi neh
faktor X yg misterius soal habitat dan populasi burung yg bikin gw curious
pengen tau apa jawaban sebenernya he he...
DI kampung saya di Jawa, sewaktu saya SD dulu ada gagak, tapi itu juga cuma
kadang2 terlihat, gak banyak. Dan sampai sekarang udah belasan tahun (atau
mungkin ada 20 tahun kaleee) gw belom pernah liat gagak lagi di alam bebas,
walo gw juga kadang bepergian ke luar kota, ke gunung, ke pantai. (kayaknya
masih ada gagak hutan/Corvus enca yaa, tapi cuman di pulau atau wilayah2
tertentu yg jauh dari habitat manusia, gw blom pernah ketemu euy..). Padahan
jaman dulu jangankan penduduk mau makan gagak, nangkep aja gak berani karena
takut kena tulah lantaran gagak dianggap burung perlambang kematian he he.
Meski begitu, dulu gagak juga gak banyak jumlahnya walo gak diburu.
Padahal menurut literatur yg saya baca, sekedar contoh aja: di Amerika populasi
gagak di daerah habitasi manusia (desa2 atau kota2 kecil) berdasar estimasi
sampai puluhan juta ekor, saking banyaknya sampai sering dipandang sbg nuisance
(gangguan lingkungan dan pertanian). Di Inggris juga sama. Sedangkan Columba
livia, meski di sana juga melimpah dan di sini enggak, tak saya masukkan di
sini karena memang secara alamiah Columba livia bukan burung asli Indonesia dan
tak terdapat di alam secara alamiah. Jadi yg dijadikan contoh di sini gagak aja
deh..
Walo tentunya gagak di Negara Bagian New York dan gagak di mBoyolali (he he he)
berasal dari subspesies yg berbeda, tapi karena masih satu genus (Corvus sp),
mestinya sifat, syarat hidup, dan toleransi terhadap perubahan habitat mereka
gak berbeda jauh. Jadi aneh juga kalo di New York sana gagak bisa melimpah,
tapi di nJember sini sangat langka.
Hmmm..apa yaa faktor X yg misterius itu?? Think, think think!!:)
Hasto Pratikto