tuk masarek, elang yang sering masarek liat menurut saya itu elang laut perut 
putih (Haliaeetus leucogaster),
karena kebetulan kr2 2 minggu yg lalu saya baru dari simeleu juga dan saya 
sering melihat elang laut perut putih di pesisir pantai sinabang. untuk 
srigunting saya juga melihatnya di simeuleu, tapi saya gak yakin itu srigunting 
bukit atau batu, karena tidak melihat dengan jelas ekornya rata atau 
menggunting, yang pasti saya liat memang ekornya berpilin panjang. untuk burung 
yang sering dipelihara di sinabang ataupun nias, itu sebenarnya adalah kucica 
hutan (Copsychus malabaricus), tapi memang orang sana menyebutnya murai batu.

mungkin itu informasi yg dapat saya berikan,
salam,
Irfan Comata Biologi UI




________________________________
From: Masarek Simeulue <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, June 12, 2009 10:49:11 AM
Subject: [SBI-InFo] Burung Simeulue







Mohon Ma'af rekan2 milis, saya tidak ahli dan sama sekali buta dalam soal 
perburungan. namun ada sedikit info yang siapa tahu berguna bagi rekan2 milis.

Saya sering Melihat burung Elang yang terbang di sekitar pemukiman warga yang 
dekat dengan laut di Sinabang, Simeulue. Burung Elang tersebut berkepala putih, 
dada putih, dan sebagian sayap juga putih, sedangkan pertengahan sayap sampai 
ke ujung sayap hitam.
Burung Elang ini sering menyambar ikan di laut di teluk Sinabang.

Saya juga sering melihat burung srigunting di desa-desa di simeulue, burung 
srigunting ini memiliki ekor yang panjang dimana bagian ujung kedua ekor 
tersebut memilin. bahkan saya pernah melihat burung ini hingap dari satu dahan 
ke dahan lain di pepohonan dekat sebuah warung di desa Naibos, kec. Teupah 
Barat yang biasa di kenal masyarakat simeulue dengan warung puncak, karena 
letaknya yang di atas bukit dan memiliki pemandangan yang bagus ke arah laut.

Namun yang tragis nasib burung Murai Batu, burung ini sering sekali saya 
dapatin di dalam sangkar di rumah-rumah penduduk di simeulue. para pekerja 
rekonstruksi yang biasanya datang dari medan dan jawa sangat gemar mengoleksi 
burung ini, ada yang sampai 10-20 ekor per orang memiliki burung ini. para 
pekerja ini biasanya membeli dari orang kampung yang menangkap dan menjual nya 
kepada para pekerja dengan harga yang variatif Rp. 20.000-35.000 rupiah. atau 
biasanya para pekerja ini menangkap sendiri murai batu di lokasi dekat mereka 
bekerja. menurut informasi yang saya dapat dari penduduk mereka akan membawa 
burung tersebut sekembalinya ke medan atau jawa untuk di jual kembali karena 
harganya cukup tinggi di daerah asal mereka.

segitu aja info nya..mudah-mudahan bermanfaat.
Salam



________________________________
Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa 
mendapatkan semuanya. 



      

Kirim email ke