Membuat Pesan yang Melekat


Bagaikan anak panah, saat melesat dari busur, harus tepat mengenai sasaran,
tidak boleh melenceng  jauh. Sama halnya dengan membuat pesan atau iklan
bagi publik, harus tepat mengenai target sasaran dan harus mudah dicerna.
Hari Kushardanto, Senior Pride Program Manager RARE Indonesia,  dalam
Obrolan Kamis Sore, 19 Nopember 2009 menyuguhkan  cerita bagaimana “Membuat
Pesan yang Melekat.”

“Membuat pesan yang melekat hanyalah satu cuplikan dari teori komunikasi dan
berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari, terutama LSM, misalnya untuk
pembuatan *proposal*,” cerita Hari di awal presentasi.

Tak lama muncul gambar poster anak-anak penyu bersama ajakan untuk
menyelamatkannya di layar presentasi. Datar, membosankan. Sekitar tahun
1996-1997, di Baja, Mexico, penyu banyak dieksploitasi sebagai bahan
makanan, sehingga populasinya menurun drastis. Hal tersebut menimbulkan
reaksi dari kalangan aktivis lingkungan di Baja, dan mendorong aksi kampanye
untuk menghentikannya. Kampanye seperti apa yang diinginkan?

Kembali Hari menampilkan gambar, kali ini poster dengan perempuan cantik,
dengan bahasa Spanyol bertuliskan “Mi hombre no necesita huevos de tortuga”
muncul di layar. Kata itu berarti “Pasanganku tidak membutuhkan telur penyu,
karena telur penyu tidak memberikan kekuatan lebih”. Kampanye melalui poster
ini sukses, dan penangkapan penyu di alam pun berangsur menurun.

Tidak mudah membuat pesan yang mudah diingat orang. Kecerdikan dari pembuat
konsep poster ini adalah, mereka berhasil menarik perhatian masyarakat di
awal (perempuan tersebut pernah menjadi foto sampul majalah untuk orang
dewasa) dan pesannya pun tidak menggurui. Memori masyarakat dengan mudah
merekamnya.

Menurut Hari, memori manusia bekerja sangat rumit, bahkan ada perbedaan
kerja antara memori laki-laki dengan perempuan. Konsep memori merupakan
proses mengingat, membangun bentuk, merasakan, mengenal fungsi dan mendengar
suara. Semua proses ini terjadi pada lokasi yang berbeda-beda di otak.
Dengan demikian seseorang bisa memiliki konsep mengingat yang berbeda dengan
yang lainnya. Seperti halnya bila seseorang pernah memiliki pacar lebih dari
satu. Kenangan indah yang terekam antara satu dengan yang lain pasti
berbeda.

Dalam menyampaikan pesan yang melekat, selain gambar yang memikat, harus
didukung pula dengan pesan yang dapat membangun/melibatkan emosi
publik (*inform-inspire-persuade-
entertain*). “Pesan yang bersifat menghibur biasanya mudah diingat, bisa
lucu, menyedihkan, menakutkan, mengagetkan, sentuh semua sisi emosi, hati,
imajinasi pikiran khalayak,” tambah Hari di sore bersimbah hujan yang
menggelitik sebagian peserta.

Selain pesan yang menghibur, Hari juga menyinggung mengenai momen yang
mengejutkan (“wow moment”). Yaitu mengenalkan suatu cara berfikir yang tidak
biasa, terbuka, kreatif, menunjukkan sesuatu yang baru atau pun fakta-fakta
yang menakjubkan. Jangan lupa, menggunakan sumber yang dapat dipercaya.

Kebanyakan kegagalan penyampaian pesan konservasi adalah pada penggunaan
bahasanya yang terlalu teknis, sehingga sulit dimengerti oleh publik.

Udara dingin yang menjalar di ruang auditorium tak menciutkan nyali untuk
menggali lebih banyak lagi  informasi dari Hari Kushardanto. Seperti halnya
Kuswandono dari BTN Gunung Gede – Pangrango, yang berpendapat bahwa konsep
komunikasi dengan paradigma penyuluhan langsung ke masyrakat, justru
memperbesar kesenjangan antara masyarakat dengan penyuluh, karena penyuluh
biasanya memosisikan dirinya di atas masyarakat.

Hari memberikan contoh konsep penyuluhan dikaitkan dengan saat Indonesia
mengalami “baby booming” antara tahun 1960- 1970. Tingkat kelahiran bayi
mengalami lonjakan cukup besar, karena adanya konsep yang salah tentang
berkeluarga (saat itu Indonesia dalam proses membangun setelah kemerdekaan).
Pemerintah atau BKKBN, melakukaan *social marketing* untuk mengenalkan
program Keluarga Berencana (dengan *tagline* dua anak cukup dan lingkaran
biru KB. “Yang mereka lakukan bukan penyuluhan, tapi menjangkau* audience*.
Seperti halnya progam suami siaga. Indonesia adalah satu dari negara Asia,
yang tingkat kematian pada ibu melahirkan cukup tinggi. Kalau sebelumnya
konsep penyuluhan Keluarga Berencana sasarannya adalah para ibu, pada
program Suami Siaga sasarannya adalah para bapak. Karena ternyata selama ini
ada pemahaman konsep yang salah, para suami hanya memahami bahwa tugas
melahirkan dan membesarkan anak hanyalah tugas istri, sesungguhnya salah
satu peran para suami adalah dalam menjaga istrinya saat akan melahirkan,
suami-suami harus siaga pada saat tersebut. Di sinilah pentingnya memahami *
audience*,” tegas Hari.

Lepas menanggapi Kuswandono,  pertanyaan lain terus diajukan kepada Hari.
Sandika dari Burung Indonesia bertanya, “Apakah ada kata kunci atau trik
agar suatu pesan dapat mudah dipahami masyarakat?” pertanyaan yang cukup
menggelitik. “Umumnya masyarakat Indonesia masih berada pada dasar
kebutuhannya, kalau bicara konservasi, bisa dikaitkan dengan kebutuhan
prioritas mereka sehari-hari, bicara mengenai menjaga hutan bisa dikaitkan
dengan kebutuhan mereka akan air misalnya,” jawab Hari. Kalau perlu, gunakan
para pemuka masyarakat setempat dalam membantu menyampaikan pesan.

Pertanyaan seputar pesan yang melekat terus bergulir. Seperti pertanyaan
yang dilontarkan Jeni Shannaz, soal keterbatasan sumber daya yang dimiliki
oleh LSM dalam menyampaikan pesan dan harus bersaing dengan iklan-iklan
komersial, cara apa yang seharusnya digunakan, termasuk bila ingin
mempengaruhi para pengambil keputusan?

“Ternyata, bila berbicara isu konservasi banyak sistem kecil-kecil yang
mendukungnya dan ini tidak terbangun. Misalnya hal mengenai penegakan hukum,
prakteknya di lapangan, peraturan yang mendukungnya, sampai pada kapasitas
aparat di lapangan. Berdasar pengalaman, lebih baik bila kekuatan LSM
digabung untuk menekan pemerintah melalui media massa. Sayangnya perhatian
media massa belum sampai ke arah sana. Seharusnya ada *market share* media
massa dalam isu konservasi. Sampai saat ini belum pernah ada headline di
surat kabar yang berkaitan dengan isu lingkungan,” dengan semangat Hari
menjawab pertanyaan Jeni. “Cara lainnya adalah dengan mendayagunakan
masyarakat sendiri sebagai penyampai pesan konservasi, seperti *citizen
journalism *atau* photo voices*”. Tak kalah menarik, Riza Marlon berbagi
mengenai program photo voices sebagai salah satu cara menyampaikan pesan.
Menurutnya konsep photo voices belum pas diberikan bagi sebagian masyarakat
Indonesia yang tidak banyak bersentuhan dengan teknologi.

Dengan demikian, hal-hal penting dalam membuat pesan yang melekat adalah,
kenali dengan baik target penerima, gunakan bahasa yang sederhana dan
menarik, bagaimana cara menyampaikannya ke target dan paham dengan apa yang
diperlukan oleh target penerima. [Irma Dana & Jeni Shannaz]




-- 
Irma Dana
http://dawala.wordpress.com [lagi belajar nulis

Kirim email ke