Temans,
Sekedar informasi, metamorfosa Komnas Flu Burung. Beberapa teman kita
(termasuk saya) cukup aktif ikut terlibat dalam kegiatan Komnas Flu
Burung, terutama yang terkait dengan burung liar. Mudah-mudahan saja
metamorfosa Komnas baru ini masih mempertimbangkan burung liar sebagai
salah satu faktor penting dalam riset dan kegiatan terkait dengan Flu
Burung. Selain itu, kita juga harus mendorong dan mengawal terus
Departemen Kehutanan untuk terus mengkoordinir berbagai kegiatan terkait
dengan burung liar.
Salam,
Yus
*Kesehatan Hewan *
Komnas Zoonosis Terbentuk
Laporan wartawan *KOMPAS Mahdi Muhammad*
Kamis, 18 Februari 2010 | 13:46 WIB
*BANDA ACEH, KOMPAS.com -* Pemerintah telah menetapkan terbentuknya
Komisi Nasional Zoonosis sebagai pengganti Komisi Nasional Pengendalian
Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza. Komnas
Zoonosis aktif bekerja usai Komnas Pengendalian Flu Burung berakhir masa
tugasnya 13 Maret 2010 mendatang.
Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen
Pertanian Agus Wiyono, disela-sela pertemuan Dinas Peternakan
se-Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu (17/2/2010) malam,
mengatakan, Komnas Zoonosis nantinya akan berada di bawah kendali Wakil
Menteri Pertanian, Bayu Krishnamurti. Bayu Krishnamurti sendiri saat ini
juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana Harian Komnas Pengendalian Flu
Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza.
Instruksi Presiden tentang pembentukan komnas ini sudah keluar beberapa
waktu lalu, tutur Agus. Meskipun berada dibawah Departemen Pertanian,
menurut Agus, pendanaan Komnas Zoonosis masih dipegang oleh Kementerian
Kesejahteraan Rakyat.
Agus mengatakan, keberadaan Komnas Zoonosis harus diperkuat terus
menerus mengingat adanya ancaman pandemi avian influenza di Indonesia.
Badan PBB yang mengurus pangan dunia, FAO, juga telah mengingatkan
adanya kemungkinan penyebarluasan ini. Salah satunya adalah dengan
memperkuat proses deteksi dini keberadaan dan penyebaran virus AI.
Lebih lanjut Agus menerangkan, dalam tiga bulan terakhir terjadi
peningkatan kasus AI di pulau Jawa. Meski tidak merinci seberapa banyak,
Agus menyatakan, peningkatan itu cukup memberikan masukan bahwa penyakit
ini terus berkembang.
"Tapi, jangan disikapi negatif. Semakin banyak pelaporan adanya
perkembangan penyakit ini harus disikapi dengan tingkat kesadaran
pelaporan yang tinggi dari masyarakat," ujarnya.
Agus menyatakan, penguatan petugas pengamat lapangan harus terus
dilakukan. Program /participatory disease surveilance and response
/(PDSR), katanya, harus diperkuat dengan atau tanpa adanya dukungan dari
donor lembaga internasional. Pemerintah daerah juga harus turut serta
membantu memperkuat lembaga ini, tuturnya.
Sejak tahun 2003, tercatat sudah terjadi 161 kasus AI di seluruh
Indonesia dengan 134 orang meninggal dunia.
--
Putu Widhiantara
E - mail:[email protected]
<mailto:mail%[email protected]>
H P : 0817851701