Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea
Boleh neh kalo mau ngadain acara lagi, diberikan pengumuman di milis siapa yang mau ikut... --- Pada Sel, 17/8/10, raden soenarto menulis: Dari: raden soenarto Judul: Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 17 Agustus, 2010, 12:07 AM Bro Ardian dan teman2 lainnya, menarik sekali baca ceritanya,. Mudah2an aku bisa bergabung; terusin program ini, Tapi jangan lupa buat ceritanya di milis ini. Salam ... --- Pada Sel, 17/8/10, ardian_c menulis: Dari: ardian_c Judul: Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 17 Agustus, 2010, 1:21 AM ya nanti kita sambung lagi ke tempat2 laennya. kalu yg doeloe ke kioe li tong, itu sempet saya tunjukkin ke temen2 ada jembatan yg menarik. trus jg waktu ke kim tek ie saya kasih liat satu sin cie yg unik. nanti kalu ketemu en sempet ya pak, kita ke makam sunan kuning. kl yg ki ageng pandaranan seh saya sempet kesana, sayangnya gak bawa kamera buat difoto. moga2 jg bapak bisa hadir neh di acara kita bulan oktober mendatang. --- In [email protected], raden soenarto wrote: > > Menarik dan senang baca ceritanya kapan sambung lagi ..??? > > --- Pada Sen, 16/8/10, henyung menulis: > > > Dari: henyung > Judul: [budaya_tionghua] Di Ciampea > Kepada: [email protected] > Tanggal: Senin, 16 Agustus, 2010, 11:09 AM > > > Â > > > > Kapan: hari minggu kemarin tanggal 15 Agustus 2010. > > Ngapain: lihat-lihat, dengar, berbincang, kenalan, silahturahim, foto-foto, > belajar, mengamati, uji nyali > > Peserta: > - Dananjaya-chan > - ko David Kwa Kian Hauw > - ko Ayao > - mbah Ardian Zhang Zhichang > - ko Khemagiri Mitto > - Sutomo Kho > - Hartono/Joao Kho > - Awi > - Robby Dada > - Eko Hermiyanto > - Agoeng Setiawan > - Subur Teguh > - Hendri Irawan Yu Yongde > > Cerita: > Rombongan dibagi tiga, satu dari daerah pluit, satu dari kebon jeruk, satu dari kelapa gading. Dengan titik kumpul di rumah mbah. > Saya ikut rombongan dari pluit berangkat jam 6 pagi, kita makan-makan dulu > sarapan paginya bakmi keriting siantar di pasar muara karang. > > Sembari menuju meka makan, intermezzo sekalian ditunjukin ke rekan-rekan > iniloh: > - Perkumpulan Perantau Pematang Siantar > - Perkumpulan Perantau Tebing Tinggi > - Perkumpulan Perantau Belawan > > Sambil sedikit ngoceh, ini loh bukti "patriotisme???" sejati tanpa bualan > kosong membela siapa kalau perang. Tanah leluhur mereka itu yang Pematang > Siantar, Tebing Tinggi, Belawan; Bukan lagi Meixian, Anhui, Anxi, Fujian; > Masih banyak lagi misalnya perkumpulan Bagan, perkumpulan Kuala Simpang. > Isinya semua tenglang; Yang mendirikan tenglang, yang ngurus tenglang, > kerjanya ya buat tenglang. Baru-baru ini perkumpulan Tebing Tinggi mengadakan > kejuaraan xiangqi/catur gajah. > > Bakmie habis, langsung lanjut masuk jalan tol sembari obrol-obrol ringan. Rumah mbah sempat kelewatan akhirnya sampai juga setelah terpaksa muter jalan. Nunggu komplit rombongannya, rame2 sarapan dulu di warung doyong. Warung doyong ini jualannya masakan peranakan Bogor, dengan ayam gorengnya yang jadi menu populer. > > Perut kenyang baru kita menjemput liason rombongan dengan Ciampea: Ko Ayao; > Dilanjut dengan menjemput ko David; > > Sebelum ke rumah ko Ayao, rombongan sempat berhenti sebentar di GEREJA BULULU > :) > Beberapa rekan-rekan memberikan penghormatan, termasuk mbah dan saya, sesuai > cara masing-masing. Dibanding terakhir kali berkunjung, bagian belakang > gereja sudah direnovasi menjadi lebih rapi dan bersih. Sayangnya di bagian > depan ada beberapa peninggalan dan bukti sejarah yang "lenyap". Ke lantai > atas gereja, syukurlah yang antik di sana masih ada. Altarnya sungguh indah, > juga kimsinnya. Barangkali ini yang disebut altar khas peranakan ? > > Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit, titik tujuan ada di Hok Tek > Bio Ciampea. Bio ini usianya sudah lama, menurut beberapa sumber penduduk > tenglang Ciampea adalah pelarian dari pembantaian Batavia di abad ke 18. > Pelarian mereka dipimpin leluhur marga Thung, yang kemudian mendirikan Hok > Tek Bio. > > Dari Hok Tek Bio kita jalan menembus kebun singkong dan sawah. Banyakan sih > kebun singkong di kiri dan kanan, terselip juga kebun jagung dan kebun > terong. Oh yah, kita jalan dipandu oleh dua orang tokoh setempat. > > Pemberhentian pertama adalah kuburan leluhur penduduk setempat yaitu yang > marga Thung dan kuburan seorang ratu. Yang marga Thung masih berkerabat dan > keturunan dari sultan dan raja-raja di daerah jawa barat. > > Setelah itu mbah dimintain bantuan buat
Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea
Bro Ardian dan teman2 lainnya, menarik sekali baca ceritanya,. Mudah2an aku bisa bergabung; terusin program ini, Tapi jangan lupa buat ceritanya di milis ini. Salam ... --- Pada Sel, 17/8/10, ardian_c menulis: Dari: ardian_c Judul: Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 17 Agustus, 2010, 1:21 AM ya nanti kita sambung lagi ke tempat2 laennya. kalu yg doeloe ke kioe li tong, itu sempet saya tunjukkin ke temen2 ada jembatan yg menarik. trus jg waktu ke kim tek ie saya kasih liat satu sin cie yg unik. nanti kalu ketemu en sempet ya pak, kita ke makam sunan kuning. kl yg ki ageng pandaranan seh saya sempet kesana, sayangnya gak bawa kamera buat difoto. moga2 jg bapak bisa hadir neh di acara kita bulan oktober mendatang. --- In [email protected], raden soenarto wrote: > > Menarik dan senang baca ceritanya kapan sambung lagi ..??? > > --- Pada Sen, 16/8/10, henyung menulis: > > > Dari: henyung > Judul: [budaya_tionghua] Di Ciampea > Kepada: [email protected] > Tanggal: Senin, 16 Agustus, 2010, 11:09 AM > > > Â > > > > Kapan: hari minggu kemarin tanggal 15 Agustus 2010. > > Ngapain: lihat-lihat, dengar, berbincang, kenalan, silahturahim, foto-foto, > belajar, mengamati, uji nyali > > Peserta: > - Dananjaya-chan > - ko David Kwa Kian Hauw > - ko Ayao > - mbah Ardian Zhang Zhichang > - ko Khemagiri Mitto > - Sutomo Kho > - Hartono/Joao Kho > - Awi > - Robby Dada > - Eko Hermiyanto > - Agoeng Setiawan > - Subur Teguh > - Hendri Irawan Yu Yongde > > Cerita: > Rombongan dibagi tiga, satu dari daerah pluit, satu dari kebon jeruk, satu > dari kelapa gading. Dengan titik kumpul di rumah mbah. > Saya ikut rombongan dari pluit berangkat jam 6 pagi, kita makan-makan dulu > sarapan paginya bakmi keriting siantar di pasar muara karang. > > Sembari menuju meka makan, intermezzo sekalian ditunjukin ke rekan-rekan > iniloh: > - Perkumpulan Perantau Pematang Siantar > - Perkumpulan Perantau Tebing Tinggi > - Perkumpulan Perantau Belawan > > Sambil sedikit ngoceh, ini loh bukti "patriotisme???" sejati tanpa bualan > kosong membela siapa kalau perang. Tanah leluhur mereka itu yang Pematang > Siantar, Tebing Tinggi, Belawan; Bukan lagi Meixian, Anhui, Anxi, Fujian; > Masih banyak lagi misalnya perkumpulan Bagan, perkumpulan Kuala Simpang. > Isinya semua tenglang; Yang mendirikan tenglang, yang ngurus tenglang, > kerjanya ya buat tenglang. Baru-baru ini perkumpulan Tebing Tinggi mengadakan > kejuaraan xiangqi/catur gajah. > > Bakmie habis, langsung lanjut masuk jalan tol sembari obrol-obrol ringan. > Rumah mbah sempat kelewatan akhirnya sampai juga setelah terpaksa muter > jalan. Nunggu komplit rombongannya, rame2 sarapan dulu di warung doyong. > Warung doyong ini jualannya masakan peranakan Bogor, dengan ayam gorengnya > yang jadi menu populer. > > Perut kenyang baru kita menjemput liason rombongan dengan Ciampea: Ko Ayao; > Dilanjut dengan menjemput ko David; > > Sebelum ke rumah ko Ayao, rombongan sempat berhenti sebentar di GEREJA BULULU > :) > Beberapa rekan-rekan memberikan penghormatan, termasuk mbah dan saya, sesuai > cara masing-masing. Dibanding terakhir kali berkunjung, bagian belakang > gereja sudah direnovasi menjadi lebih rapi dan bersih. Sayangnya di bagian > depan ada beberapa peninggalan dan bukti sejarah yang "lenyap". Ke lantai > atas gereja, syukurlah yang antik di sana masih ada. Altarnya sungguh indah, > juga kimsinnya. Barangkali ini yang disebut altar khas peranakan ? > > Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit, titik tujuan ada di Hok Tek > Bio Ciampea. Bio ini usianya sudah lama, menurut beberapa sumber penduduk > tenglang Ciampea adalah pelarian dari pembantaian Batavia di abad ke 18. > Pelarian mereka dipimpin leluhur marga Thung, yang kemudian mendirikan Hok > Tek Bio. > > Dari Hok Tek Bio kita jalan menembus kebun singkong dan sawah. Banyakan sih > kebun singkong di kiri dan kanan, terselip juga kebun jagung dan kebun > terong. Oh yah, kita jalan dipandu oleh dua orang tokoh setempat. > > Pemberhentian pertama adalah kuburan leluhur penduduk setempat yaitu yang > marga Thung dan kuburan seorang ratu. Yang marga Thung masih berkerabat dan > keturunan dari sultan dan raja-raja di daerah jawa barat. > > Setelah itu mbah dimintain bantuan buat identifikasi beberapa bongpay tua > dari era Guangxu (abad ke 19), yang sudah tidak terurus. Karena mbah pakainya > bahasa mandarin, sepertinya agak sulit diidentifikasi siapa anak cucunya yang > masih tersisa di kampung itu. Jadi rencana lain kalinya adalah menculik kang > Kinghian, karena dia sp
Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea
bolehlah nanti kita liat jembatan yg unik yg aye belon liat lage di jkt selaen ditempat itu hehehehehehehe sebenernya kita org dah brp kali adain acara seperti ini, kayak ke kelenteng org hinghoa di jkt, tanjung kait dan tangerang dan bbrp tempat lainnya. target laen ngkale kemang jg menarik tuh, boleh seret liasonnya si ko ayao. --- In [email protected], "henyung" wrote: > > Tunggu sesajen buat mbah, yaitu minat peserta. Tadi dah ada yang kasih usul, > menjelajah dataran Karawang mulai dari Cikarang terus ke timur. > > Tapi sebenarnya di Ciampea masih banyak hotspot yang nurut mbah patut > dijelajahi. Cuman, kudu nginap, bisa itu di bio atau di petilasan (bareng > sama makhluk lain) nginapnya atau camping. > > hy > > --- In [email protected], raden soenarto wrote: > > > > Menarik dan senang baca ceritanya kapan sambung lagi ..??? > > >
Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea
ya nanti kita sambung lagi ke tempat2 laennya. kalu yg doeloe ke kioe li tong, itu sempet saya tunjukkin ke temen2 ada jembatan yg menarik. trus jg waktu ke kim tek ie saya kasih liat satu sin cie yg unik. nanti kalu ketemu en sempet ya pak, kita ke makam sunan kuning. kl yg ki ageng pandaranan seh saya sempet kesana, sayangnya gak bawa kamera buat difoto. moga2 jg bapak bisa hadir neh di acara kita bulan oktober mendatang. --- In [email protected], raden soenarto wrote: > > Menarik dan senang baca ceritanya kapan sambung lagi ..??? > > --- Pada Sen, 16/8/10, henyung menulis: > > > Dari: henyung > Judul: [budaya_tionghua] Di Ciampea > Kepada: [email protected] > Tanggal: Senin, 16 Agustus, 2010, 11:09 AM > > > Â > > > > Kapan: hari minggu kemarin tanggal 15 Agustus 2010. > > Ngapain: lihat-lihat, dengar, berbincang, kenalan, silahturahim, foto-foto, > belajar, mengamati, uji nyali > > Peserta: > - Dananjaya-chan > - ko David Kwa Kian Hauw > - ko Ayao > - mbah Ardian Zhang Zhichang > - ko Khemagiri Mitto > - Sutomo Kho > - Hartono/Joao Kho > - Awi > - Robby Dada > - Eko Hermiyanto > - Agoeng Setiawan > - Subur Teguh > - Hendri Irawan Yu Yongde > > Cerita: > Rombongan dibagi tiga, satu dari daerah pluit, satu dari kebon jeruk, satu > dari kelapa gading. Dengan titik kumpul di rumah mbah. > Saya ikut rombongan dari pluit berangkat jam 6 pagi, kita makan-makan dulu > sarapan paginya bakmi keriting siantar di pasar muara karang. > > Sembari menuju meka makan, intermezzo sekalian ditunjukin ke rekan-rekan > iniloh: > - Perkumpulan Perantau Pematang Siantar > - Perkumpulan Perantau Tebing Tinggi > - Perkumpulan Perantau Belawan > > Sambil sedikit ngoceh, ini loh bukti "patriotisme???" sejati tanpa bualan > kosong membela siapa kalau perang. Tanah leluhur mereka itu yang Pematang > Siantar, Tebing Tinggi, Belawan; Bukan lagi Meixian, Anhui, Anxi, Fujian; > Masih banyak lagi misalnya perkumpulan Bagan, perkumpulan Kuala Simpang. > Isinya semua tenglang; Yang mendirikan tenglang, yang ngurus tenglang, > kerjanya ya buat tenglang. Baru-baru ini perkumpulan Tebing Tinggi mengadakan > kejuaraan xiangqi/catur gajah. > > Bakmie habis, langsung lanjut masuk jalan tol sembari obrol-obrol ringan. > Rumah mbah sempat kelewatan akhirnya sampai juga setelah terpaksa muter > jalan. Nunggu komplit rombongannya, rame2 sarapan dulu di warung doyong. > Warung doyong ini jualannya masakan peranakan Bogor, dengan ayam gorengnya > yang jadi menu populer. > > Perut kenyang baru kita menjemput liason rombongan dengan Ciampea: Ko Ayao; > Dilanjut dengan menjemput ko David; > > Sebelum ke rumah ko Ayao, rombongan sempat berhenti sebentar di GEREJA BULULU > :) > Beberapa rekan-rekan memberikan penghormatan, termasuk mbah dan saya, sesuai > cara masing-masing. Dibanding terakhir kali berkunjung, bagian belakang > gereja sudah direnovasi menjadi lebih rapi dan bersih. Sayangnya di bagian > depan ada beberapa peninggalan dan bukti sejarah yang "lenyap". Ke lantai > atas gereja, syukurlah yang antik di sana masih ada. Altarnya sungguh indah, > juga kimsinnya. Barangkali ini yang disebut altar khas peranakan ? > > Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit, titik tujuan ada di Hok Tek > Bio Ciampea. Bio ini usianya sudah lama, menurut beberapa sumber penduduk > tenglang Ciampea adalah pelarian dari pembantaian Batavia di abad ke 18. > Pelarian mereka dipimpin leluhur marga Thung, yang kemudian mendirikan Hok > Tek Bio. > > Dari Hok Tek Bio kita jalan menembus kebun singkong dan sawah. Banyakan sih > kebun singkong di kiri dan kanan, terselip juga kebun jagung dan kebun > terong. Oh yah, kita jalan dipandu oleh dua orang tokoh setempat. > > Pemberhentian pertama adalah kuburan leluhur penduduk setempat yaitu yang > marga Thung dan kuburan seorang ratu. Yang marga Thung masih berkerabat dan > keturunan dari sultan dan raja-raja di daerah jawa barat. > > Setelah itu mbah dimintain bantuan buat identifikasi beberapa bongpay tua > dari era Guangxu (abad ke 19), yang sudah tidak terurus. Karena mbah pakainya > bahasa mandarin, sepertinya agak sulit diidentifikasi siapa anak cucunya yang > masih tersisa di kampung itu. Jadi rencana lain kalinya adalah menculik kang > Kinghian, karena dia spesialis bongpay dan dialek minnan. > > Rekan-rekan yang lain juga asik mendokumentasikan beberapa kuburan yang > termasuk "unik". Salah satunya adalah kuburan dengan tanda salib yang besar > tapi dicat merah seperti bio dan dihiasi ukiran naga ! Sungguh unik dan indah > kuburan itu. > > Lewat dari pekuburan, rombongan dipandu menyusuri medan yang lebih berat. > Terjal, curam, licin, vegatasi lebih padat dan uji nyali menyeberangi > jembatan bambu yang waduh... nget ngit nget > > Sehabis itu ada pendakian beberapa menit yang cukup menguras tenaga. Dan > reward nya adalah prasasti Tarumanagara yang tersohor itu ! Melihat langsung > batu besar prasasti beserta cetakan kaki prabu
Re: Bls: [budaya_tionghua] Di Ciampea
Tunggu sesajen buat mbah, yaitu minat peserta. Tadi dah ada yang kasih usul, menjelajah dataran Karawang mulai dari Cikarang terus ke timur. Tapi sebenarnya di Ciampea masih banyak hotspot yang nurut mbah patut dijelajahi. Cuman, kudu nginap, bisa itu di bio atau di petilasan (bareng sama makhluk lain) nginapnya atau camping. hy --- In [email protected], raden soenarto wrote: > > Menarik dan senang baca ceritanya kapan sambung lagi ..??? >
