RE: [ekonomi-nasional] Ibukota Pindah dan Jakarta yang Tamak

2009-02-21 Terurut Topik Huri AH
Ibukota negara harus pindah dari jakarta?

Kalau menurut saya, ibukota tak harus pindah. Selain butuh proses yang lama,
akan menghabiskan biaya negara yang tidak sedikit.

Hal yang membuat jakarta masih menjadi magnet untuk menarik minat rakyat
indonesia pindah ke jakarta, karena disanalah semuanya berpusat. Uang,
kebijakan, gemerlap entertainment, lapangan kerja yang bonafid dan
sebagainya, hanya bisa didapatkan di jakarta.

Kalau diperlukan alternatif, dengan biaya yang tidak sebesar memindahkan
ibukota, maka saya mengusulkan agar melakukan penyebarluasan pusat
kebijakan, terutama kebijakan-kebijakan teknis di provinsi lain. Sebagai
contoh, Mungkin presiden, wakil presiden, deplu, dan depkeu tetap berpusat
di jakarta. Tetapi departemen teknis lain sebaiknya menjalankan kewajiban
teknisnya di provinsi. Semisal, dep pertambangan dan energi ditempatkan di
Kaltim, karena disana paling banyak pertambangan, misalnya. Atau dep agama
berada di daerah yang keragaman agama paling besar, mungkin di Maluku, dep
pertanian bisa saja ada di salah satu kota sulawesi, atau perdagangan di
jawa timur, dan sebagainya. Tentu saja jalur kebijakan ke daerah lain yang
punya keterkaitan dengan departemen tersebut harus dibuka dengan lebih
lebar. Semisal, bagi perusahaan pertambangan yang ada di sulawesi dan papua,
bisa mengakses jalur transportasi langsung ke Kaltim, tanpa harus transit di
jakarta terlebih dulu. Bisa menghemat biaya, dan bandara di Balikpapan -mau
tak mau, pasti akan berkembang menjadi bandara internasional yang diusahakan
oleh pemerintah daerahnya sendiri. 

Selain itu, pelabuhan kontainer juga ditempatkan di provinsi strategis yang
terbuka dari dunia internasional, tetapi dapat dijangkau oleh provinsi lain
yang punya produk ekspor. Mungkin sulawesi utara atau nusa tenggara bisa
dipilih untuk ini. Dengan demikian, setiap daerah akan memiliki kesempatan
berkembang yang lebih baik, tanpa harus berkiblat ke jakarta, dan mereka
bisa meningkatkan daerah dengan keunggulan masing-masing.

Masih banyak strategi lain yang dapat dilakukan untuk membangun negeri
tercinta ini, dengan dampak sosial seminimal mungkin dan sasaran hasil yang
bisa dinikmati secara merata oleh masyarakat di seluruh Indonesia, bukan
hanya di jakarta. Dan jakarta tidak akan menjadi surga lagi bagi generasi
muda yang mengejar lapangan kerja

 

 

Regards,

 

Huri A. Hasan

Mobile: 0812 872 2686

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Mansyur Alkatiri
Sent: 20 Februari 2009 17:53
To: [email protected]
Subject: [ekonomi-nasional] Ibukota Pindah dan Jakarta yang Tamak

 

Ibukota harus pindah ke luar Jakarta, memang isu menarik.
Dan mungkin bisa menyelesaikan kesumpekan Jakarta
saat ini. Tapi itu memerlukan waktu lama. Prosesnya
sangat mahal.

Sambil menunggu proses pemindahan ibukota yang harus
lama ditunggu itu, ada baiknya dipikirkan solusi jangka 
pendek dan menengahnya. 

Salah satu harapan yang terbit di awal era otonomi khusus
adalah, munculnya daerah-daerah kaya di luar Jakarta.
Daerah juga akan giat membangun diri. Dan itu semua
diharapkan menjadi magnet bagi penduduk Jakarta untuk
pindah ke daerah-daerah tersebut, terutama yang punya
ikatan leluhur dan darah.

Dan kini kita sudah melihat munculnya daerah-daerah kaya
tersebut, seperti Riau, Kaltim, Papua, Sumsel, Aceh, dan
lainnya. Tapi sayang kita tetap tidak melihat berkurangnya
penduduk Jakarta karena pindah ke daerah-daerah itu.

Kenapa? Agaknya itu karena Jakarta sendiri justeru terus
bernafsu menjadi center (pusat) dari segalanya di negeri
ini. Jakarta semakin hari justeru semakin TAMAK !
Tak hanya mempertahankan diri sebagai pusat 
pemerintahan dan bisnis, tapi juga sebagai pusat budaya,
tujuan pariwisata (dengan terus dibangun sarana-sarana
pariwisata besar dan mewah), pusat Hankam (Mabes
TNI di Cilangkap dan Polri di tempat lain), dan lainnya!

Dengan terus TAMAK seperti itu, Jakarta pasti terus
menjadi MAGNET bagi orang daerah untuk berduyun-
duyun datang.

Nah, barangkali memang kita harus memikirkan, untuk
memaksa Jakarta tidak tamak lagi. Dengan mau 
mengamputasi diri sebagai pusat-pusat lain di luar pusat
bisnis dan pemerintahan (ibukota negara) saat ini. 
Sebelum nantinya pusat pemerintahan ini juga harus
diamputasi!

Demikian

MANSYUR ALKATIRI
www.cordova-bookstore.com
www.formulabisnis.com/?id=mansyur

Bertambahnya urbanisasi 

- Original Message - 
From: A Nizami 
To: [email protected]
<mailto:ekonomi-nasional%40yahoogroups.com>  
Sent: Wednesday, February 18, 2009 8:56 AM
Subject: Pindahkan Ibukota - Re: [ekonomi-nasional] OOT: Orang Kaya
Sombong?! Ke Laut Aje!

Karena Jakarta adalah ibukota segala-galanya (politik, ekonomi, kebudayaan,
dsb) dan 80-90% uang yang ada beredar di Jakarta, maka seluruh rakyat
Indonesia berbondong2 datang ke Jakarta.

Tahun 1970-an penduduk Jakarta hanya sekitar 3 juta. Jalan2 masih lengang. 
Sekarang sudah 10 juta. Ditambah dengan warga

[ekonomi-nasional] Ibukota Pindah dan Jakarta yang Tamak

2009-02-21 Terurut Topik Mansyur Alkatiri
  Ibukota harus pindah ke luar Jakarta, memang isu menarik.
  Dan mungkin bisa menyelesaikan kesumpekan Jakarta
  saat ini. Tapi itu memerlukan waktu lama. Prosesnya
  sangat mahal.

  Sambil menunggu proses pemindahan ibukota yang harus
  lama ditunggu itu, ada baiknya dipikirkan solusi jangka 
  pendek dan menengahnya. 

  Salah satu harapan yang terbit di awal era otonomi khusus
  adalah, munculnya daerah-daerah kaya di luar Jakarta.
  Daerah juga akan giat membangun diri. Dan itu semua
  diharapkan menjadi magnet bagi penduduk Jakarta untuk
  pindah ke daerah-daerah tersebut, terutama yang punya
  ikatan leluhur dan darah.

  Dan kini kita sudah melihat munculnya daerah-daerah kaya
  tersebut, seperti Riau, Kaltim, Papua, Sumsel, Aceh, dan
   lainnya. Tapi sayang kita tetap tidak melihat berkurangnya
  penduduk Jakarta karena pindah ke daerah-daerah itu.

  Kenapa? Agaknya itu karena Jakarta sendiri justeru terus
  bernafsu menjadi center (pusat) dari segalanya di negeri
  ini. Jakarta semakin hari justeru semakin TAMAK !
  Tak hanya mempertahankan diri sebagai pusat 
  pemerintahan dan bisnis, tapi juga sebagai pusat budaya,
  tujuan pariwisata (dengan terus dibangun sarana-sarana
  pariwisata besar dan mewah), pusat Hankam (Mabes
  TNI di Cilangkap dan Polri di tempat lain), dan lainnya!

  Dengan terus TAMAK seperti itu, Jakarta pasti terus
   menjadi MAGNET bagi orang daerah untuk berduyun-
  duyun datang.

  Nah, barangkali memang kita harus memikirkan, untuk
  memaksa Jakarta tidak tamak lagi. Dengan mau 
  mengamputasi diri sebagai pusat-pusat lain di luar pusat
  bisnis dan pemerintahan (ibukota negara) saat ini. 
  Sebelum nantinya pusat pemerintahan ini juga harus
  diamputasi!

  Demikian

  MANSYUR ALKATIRI
  www.cordova-bookstore.com
  www.formulabisnis.com/?id=mansyur






   


   Bertambahnya urbanisasi 

   



- Original Message - 
From: A Nizami 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, February 18, 2009 8:56 AM
Subject: Pindahkan Ibukota - Re: [ekonomi-nasional] OOT: Orang Kaya 
Sombong?! Ke Laut Aje!


Karena Jakarta adalah ibukota segala-galanya (politik, ekonomi, kebudayaan, 
dsb) dan 80-90% uang yang ada beredar di Jakarta, maka seluruh rakyat Indonesia 
berbondong2 datang ke Jakarta.

Tahun 1970-an penduduk Jakarta hanya sekitar 3 juta. Jalan2 masih lengang. 
Sekarang sudah 10 juta. Ditambah dengan warga Bogor, Tangerang, Bekasi, dan 
Depok yang jumlahnya 10 juta juga dan sebagian bekerja di Jakarta, maka wilayah 
metropolitan Jabodetabek jadi 20 juta.

Macet, asap kendaraan, tanah resapan yang berubah jadi aspal dan gedung 
akhirnya akan mengakibatkan Jakarta jadi kota mati.

Oleh karena itu saya menulis agar ibukota dipindahkan dari Jakarta ke 
Kalimantan Tengah. Lihat argumennya di: www.infoindonesia.wordpress.com

===

Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490

ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900

Informasi selengkapnya ada di:

http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam?

Kirim email ke: [email protected]

--- Pada Sen, 16/2/09, jamila lestyowati  menulis:
Dari: jamila lestyowati 
Topik: Re: [ekonomi-nasional] OOT: Orang Kaya Sombong?! Ke Laut Aje!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 16 Februari, 2009, 8:13 PM

kalo saya..pernah 3 tahun di jakartabiasa dengan macet...

pas pindah ke daerah.. gak ada macet..awalnya anehtapi lama lama enakkk 
bgt...

eh ..pas ada bbrp tugas ke jkt.bbrp hr aja tugasnya .keluar deh 
statementnya. ..'ogah dah kalo harus ke jkt lagi'.gak tahan macetnya

--- On Mon, 2/16/09, wondo wondo dwija siswanta  
wrote:

From: wondo wondo dwija siswanta 

Subject: Re: [ekonomi-nasional] OOT: Orang Kaya Sombong?! Ke Laut Aje!

To: ekonomi-nasional@ yahoogroups. com

Date: Monday, February 16, 2009, 6:26 PM

Hidup cuma sekali ya kita nikmati sajalah. ...

 

Macet memang bikin kita stres tapi kalau kita enjoy aja dan kalau bisa kita 
nikmati sajalah. ... 

Tinggal di jakarta identik dengan macet, tapi begitu kita pindah ke daerah 
justru kita kangen dengan macet, 

Kami alami juga sebelumnya saya tinggal di jakarta, terus pindah ke 
palembang kurang lebih 6 tahun, kami merasakan ada sesuatu yang hilang, kami 
kangen dengan macet dan gak betah tinggal di tempat yang cenderung sepi

Akhirnya kami pindah lagi dan menyenangkan kok .

Intinya kita nikmati aja, dan harus preepart masalah waktu... ..  

--- Pada Ming, 15/2/09, jamila lestyowati  menulis:

Dari: jamila lestyowati 

Topik: Re: [ekonomi-nasional] OOT: Orang Kaya Sombong?! Ke Laut Aje!

Kepada: ekonomi-nasional@ yahoogroups. com

Tanggal: Minggu, 15 Februari, 2009, 9:32 PM

saya emang bukan di jakarta...tapi saya bisa merasakan gmn rasanya kena 
macet berjam2...

ya, perlu aturan kepemilikan mobil pribadi yg j