Re: [ekonomi-nasional] Re; Mandiri (was: Boycott Israel Company List) .

2009-02-01 Terurut Topik Hario Dhewanto
Wa alaikumussalaam warrahmatullaahi wabarakaatuh.

Pak Taufik,

Mohon maaf baru sempat membalasnya sekarang. Memang sulit dan nyaris tidak 
mungkin untuk melakukan embargo pada diri sendiri. Tapi saya teringat dengan 
slogan `think globally, act locally`. Jadi saya berusaha mulai dari diri 
sendiri, dan mulai dengan hal yang mudah. Yang sudah saya lakukan, saya tidak 
lagi nongkrong di starbucks, tapi di kedai kopi lokal. Saya tidak lagi maan di 
restoran franchise yang terhubung dengan perusahaan di US, tapi makan di 
restoran yang franchisenya lokal. Sebagai gambaran, daripada makan di kfc, bisa 
ke texas fried chicken, yang sudah tidak mempunyai hubungan dengan texas church 
chicken di US, tidak makan di pizza hut, tapi di beberapa restoran pizza lokal, 
seperti papa ron, canadian pizza, etc. Atau lebih baik lagi, bisa makan di 
resto masakan Indonesia!

Jadi, itu yang sudah saya lakukan, Pak. Dan saya akan berusaha menambah usaha 
saya tersebut. Mohon doa dari semua rekan milis agar kita bersama-sama bisa 
mengurangi ketergantungan mengkonsumsi barang luar negeri.

wassalaam,
hario

--- On Thu, 1/15/09, Taufik Dwidjowinarto  
wrote:
From: Taufik Dwidjowinarto 
Subject: [ekonomi-nasional] Re; Mandiri (was: Boycott Israel Company List) .
To: "Milis : ekonomi nasional" 
Date: Thursday, January 15, 2009, 10:23 PM

Asw wr wb, pak Nizami dan pak Hario.

Hati nurani saya sih sebenarnya mengakui kebenaran dan sekaligus juga 100%
menyepakati pendapat
bapak2 bahwa Indonesia harus mengembargo dirinya sendiri dari  produk luar
negri. Tentunya
¡embargo¢ itu harus kompak, belanja pemerintahnya (APBN dan APBD) juga
belanja masyarakatnya
(belanja perusahaan swasta dan belanja rumah tangga masing2 pribadi anggota
masyarakatnya). Dan
saya juga yakin kalau itu bisa dijalankan pasti akibatnya akan baik bagi
perekonomian nasional
Indonesia dan eksesnya akan sangat terasa memukul bagi kepentingan usahanya 
Zionis Yahudi
Laknatullah beserta antek-anteknya.

Cuma saya kok gak yakin ya bahwa hal itu bisa dilakukan.
Mengapa ?.

Pertama-tama, kita (bangsa Indonesia) paling tidak pada saat ini, boleh
dibilang sebagai lagi
paceklik (tidak mempunyai) pemimpin nasional yang mampu menjadi solidarity
maker bagi gerakan
tersebut. Tanpa adanya figur pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi untuk
menggalakkan gerakan
embargo mengkonsumsi produk luar negeri maka tak mungkin akan dapat
dilaksanakan program Indonesia
yang harus mengembargo dirinya sendiri dari  produk luar negri.
Jangankan soal komitmen, soal nawaitu menuju kesana pun rasanya nihil.
Apakah ada aturan yang mengatur alokasi belanja di APBN dan APBD yang mendukung
pelaksanaa program
pengasurtamaan sekaligus affirmative action bagi produk dalam negeri ?. Nol
besar.
Lha, kalau formal pemerintahnya saja tak ada niatan kesitu, bagaimana mungkin
akan mengajak
masyarakatnya untuk melakukan gerakan mencintai dan mengutamakan serta
mengkonsumsi produk dalam
negeri ?. 
IPTN, PAL, Industri-industri strategis kita yang lainnya malahan dibiarkan
merana ¡rindu
order¢, sementara budget ABPN / APBD digelontorkan untuk memborong produk
impor. 

Kedua, psikologi kita (masyarakat Indonesia) paling tidak untuk saat ini, boleh
dibilang lagi
mengalami kecanduan produk luar negeri. Kecanduan itu terjadi di semua strata
masyarakatnya, dari
golongan paling jet set sampai.yang paling gembel sekalipun, pokok luar negeri
minded.
Rasanya belum bisa disebut pekerja kantoran yang sukses dan bergengsi serta
prestige, jika baju
kerjanya bukan bermerk Marks & Spencer dengan di sakunya terselip ballpoint
mountblanc misalnya,
atau tali ikat yang melingkari pinggang celananya bukan dari dupont atau
etienne aigner misalnya.
Minumnya pun Coca Cola, makan siang di McDonald¢s, pulang kerja ngopi dulu di
Starbuck. Dan
seabreg lainnya, termasuk belanja rumah tangga tentu Carefour dong, yang
pajangan barangnya pun
banyak impornya.

Belum lagi jika mengingat bahwa hampir semua pabrik yang memproduksi barang di
dalam negeri kita
sendiri pun pada dasarnya adalah miliki oleh perusahaan luar negeri. Notabene
groupnya para Yahudi
itu.

Lha dengan sikon yang seperti itu pak, gimana bisa pak kok kita disuruh
mengembargo dirinya
sendiri dari  produk luar negeri ?.
Mana tahan...

Wass wr wb.  

***


  

[Non-text portions of this message have been removed]




Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [email protected]
http://capresindonesia.wordpress.com
http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:[email protected] 
mailto:ekonomi-nasional-fullfeatu...@ya

[ekonomi-nasional] Re; Mandiri (was: Boycott Israel Company List) .

2009-01-15 Terurut Topik Taufik Dwidjowinarto
Asw wr wb, pak Nizami dan pak Hario.

Hati nurani saya sih sebenarnya mengakui kebenaran dan sekaligus juga 100% 
menyepakati pendapat
bapak2 bahwa Indonesia harus mengembargo dirinya sendiri dari  produk luar 
negri. Tentunya
‘embargo’ itu harus kompak, belanja pemerintahnya (APBN dan APBD) juga belanja 
masyarakatnya
(belanja perusahaan swasta dan belanja rumah tangga masing2 pribadi anggota 
masyarakatnya). Dan
saya juga yakin kalau itu bisa dijalankan pasti akibatnya akan baik bagi 
perekonomian nasional
Indonesia dan eksesnya akan sangat terasa memukul bagi kepentingan usahanya  
Zionis Yahudi
Laknatullah beserta antek-anteknya.

Cuma saya kok gak yakin ya bahwa hal itu bisa dilakukan.
Mengapa ?.

Pertama-tama, kita (bangsa Indonesia) paling tidak pada saat ini, boleh 
dibilang sebagai lagi
paceklik (tidak mempunyai) pemimpin nasional yang mampu menjadi solidarity 
maker bagi gerakan
tersebut. Tanpa adanya figur pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi untuk 
menggalakkan gerakan
embargo mengkonsumsi produk luar negeri maka tak mungkin akan dapat 
dilaksanakan program Indonesia
yang harus mengembargo dirinya sendiri dari  produk luar negri.
Jangankan soal komitmen, soal nawaitu menuju kesana pun rasanya nihil.
Apakah ada aturan yang mengatur alokasi belanja di APBN dan APBD yang mendukung 
pelaksanaa program
pengasurtamaan sekaligus affirmative action bagi produk dalam negeri ?. Nol 
besar.
Lha, kalau formal pemerintahnya saja tak ada niatan kesitu, bagaimana mungkin 
akan mengajak
masyarakatnya untuk melakukan gerakan mencintai dan mengutamakan serta 
mengkonsumsi produk dalam
negeri ?. 
IPTN, PAL, Industri-industri strategis kita yang lainnya malahan dibiarkan 
merana ‘rindu
order’, sementara budget ABPN / APBD digelontorkan untuk memborong produk 
impor. 

Kedua, psikologi kita (masyarakat Indonesia) paling tidak untuk saat ini, boleh 
dibilang lagi
mengalami kecanduan produk luar negeri. Kecanduan itu terjadi di semua strata 
masyarakatnya, dari
golongan paling jet set sampai.yang paling gembel sekalipun, pokok luar negeri 
minded.
Rasanya belum bisa disebut pekerja kantoran yang sukses dan bergengsi serta 
prestige, jika baju
kerjanya bukan bermerk Marks & Spencer dengan di sakunya terselip ballpoint 
mountblanc misalnya,
atau tali ikat yang melingkari pinggang celananya bukan dari dupont atau 
etienne aigner misalnya.
Minumnya pun Coca Cola, makan siang di McDonald’s, pulang kerja ngopi dulu di 
Starbuck. Dan
seabreg lainnya, termasuk belanja rumah tangga tentu Carefour dong, yang 
pajangan barangnya pun
banyak impornya.

Belum lagi jika mengingat bahwa hampir semua pabrik yang memproduksi barang di 
dalam negeri kita
sendiri pun pada dasarnya adalah miliki oleh perusahaan luar negeri. Notabene 
groupnya para Yahudi
itu.

Lha dengan sikon yang seperti itu pak, gimana bisa pak kok kita disuruh 
mengembargo dirinya
sendiri dari  produk luar negeri ?.
Mana tahan...

Wass wr wb.  

***

[email protected]   menulis :

Wa'alaikum salam,
Iya.  APBN sekitar Rp 1.000 trilyun.
Nah daripada uang tsb dipakai untuk membeli produk2 asing, lebih baik dipakai 
untuk memperkaya
bangsa
sendiri.
Indonesia harus buat produk sendiri seperti sepatu, baju, motor, mobil, dsb.
Sudah saatinya bangsa ini mandiri.
Wassalam

***

hari...@yahoo. com menulis:

Assalaamu alaikum,
Pak Taufik dan milisers,
Boleh memberi pendapat dari sudut yang berbeda, ya, Pak. Mau memberi komentar 
dari sudut
perekonomian Indonesia. Terus terang pemikiran saya diilhami oleh email 
sebelumnya yang masuk ke
milis kita ini, dari Pak Firdaus Ibrahim tanggal 5 November 2008. Di email itu, 
diceritakan ada
seorang pengusaha asal Singapura, yang terkagum-kagum akan kekayaan Indonesia  
(Indonesia doesn't
need the world, the  world needs Indonesia), dan menyarankan kalau bangsa kita 
ingin maju, maka
semestinya orang Indonesia  mengkonsumsi produk Indonesia sendiri, dan 
menghentikan konsumsi
produk luar.

Ekstrimnya, Indonesia harus mengembargo dirinya sendiri dari  produk luar negri.
Untuk lebih jelasnya, bisa dibuka kembali email tersebut, terarsip di webpage 
milis kita ini.

Kalau saja orang-orang tergerak untuk menghentikan konsumsi barang-barang dari 
luar negeri, dan
mengkonsumsi barang-barang kita sendiri, seperti yang sering dikemukakan oleh 
para suhu milis ini 
(Pak Imam, Pak Agus, dan Bapak-Bapak yang lain),  sepertinya perekonomian 
Indonesia akan lebih
cepat pulih dari krisis ekonomi ini. Dan efek sampingnya, karena kebanyakan 
produk yang masuk di
Indonesia lebih banyak dari barat, terutama dari Amerika Serikat yang menurut 
beberapa pihak 
membela  kepentingan Israel, maka penurunan konsumsi barang-barang mereka oleh 
bangsa Indonesia
akan  berdampak negatif terhadap pendapatan mereka. 
 
Mungkin jawaban ini terlalu menyederhanakan masalah,  karena mungkin nalar saya 
hanya sampai
segini saja. Silahkan rekan-rekan milis yang lain untuk urun rembug terhadap 
masalah ini.
 
wassalaam,
hario







  
-