Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Hi ... hi ... hi, nggak nyambung babar blas:-) Udahlah mas:-) jangan dipaksa-paksain, bikin yang ngerti ekonomi moneter pada ber-ha ... ha ... hi ... hi. No hard felling lho mas. Salam hangat B. Samparan --- On Thu, 3/5/09, Arif Muljadi wrote: > From: Arif Muljadi > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > To: [email protected] > Date: Thursday, March 5, 2009, 10:36 AM > Misalkan pabrik mobil BMW membuat sebuah mobil dengan model > XYZ yang sangat aduhai. Pokoknya model ini model yang paling > ngetop yang pernah dibuat BMW. Dan untuk model ini, hanya > dibuat SATU unit saja dan dijual dengan harga USD 100 juta. > Saya beli mobil ini. Saya mampu beli mobil ini dari > kekayaan saya hasil investasi dalam emas, bukan investasi > dalam USD, apalagi Rp! :-) > Kemudian, mobil ini saya pinjamkan ke perusahaan sewa mobil > W untuk dijadikan barang usaha. > Kemudian, seseorang berinitial B, menyewa mobil ini dari > perusahaan W. B lantas meminjamkan mobil ini ke perusahaan > sewa mobil V untuk dijadikan barang usaha. > Kemudian, seseorang berinitial C, menyewa mobil ini dari > perusahaan V. C lantas meminjamkan mobil ini ke perusahaan > sewa mobil U untuk dijadikan barang usaha. > Demikian seterusnya. > Apakah, dengan "lingkaran" demikian diartikan > bahwa Indonesia punya sekian puluh mobil BMW model XYZ yang > sebenarnya oleh BMW cuma pernah dibuat SATU unit saja? > > Bagaimana dengan M0, M1, dst? Apakah "bermain2 > kata" seperti begini juga? > > -Arif- > > > --- In [email protected], Bango Samparan > wrote: > > > > Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan - > menabung dan kredit - akan tercipta - bila diidealkan - JUB > sebanyak 10.000; 1000 uang inti dan 9000 uang giral. > > > > Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, > setengahnya aja mungkin tidak, ya tergantung multiplier uang > intinya. > > > > Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter mencetak > uang 1000 dinar, jub-nya hanya 1000 dinar. Nah disinilah > kemudian persoalan memanage JUB yang tepat itu tetap tetap > muncul meskipun standar moneter yang dipakai adalah standar > emas. > > > > Masalah inflasi dan unemployment sangat tergantung > pada managemen JUB tersebut. Dengan demikian, standar emas, > tidak terus menyelesaikan semua persoalan secara instant. > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Misalkan pabrik mobil BMW membuat sebuah mobil dengan model XYZ yang sangat aduhai. Pokoknya model ini model yang paling ngetop yang pernah dibuat BMW. Dan untuk model ini, hanya dibuat SATU unit saja dan dijual dengan harga USD 100 juta. Saya beli mobil ini. Saya mampu beli mobil ini dari kekayaan saya hasil investasi dalam emas, bukan investasi dalam USD, apalagi Rp! :-) Kemudian, mobil ini saya pinjamkan ke perusahaan sewa mobil W untuk dijadikan barang usaha. Kemudian, seseorang berinitial B, menyewa mobil ini dari perusahaan W. B lantas meminjamkan mobil ini ke perusahaan sewa mobil V untuk dijadikan barang usaha. Kemudian, seseorang berinitial C, menyewa mobil ini dari perusahaan V. C lantas meminjamkan mobil ini ke perusahaan sewa mobil U untuk dijadikan barang usaha. Demikian seterusnya. Apakah, dengan "lingkaran" demikian diartikan bahwa Indonesia punya sekian puluh mobil BMW model XYZ yang sebenarnya oleh BMW cuma pernah dibuat SATU unit saja? Bagaimana dengan M0, M1, dst? Apakah "bermain2 kata" seperti begini juga? -Arif- --- In [email protected], Bango Samparan wrote: > > Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan - menabung dan kredit - > akan tercipta - bila diidealkan - JUB sebanyak 10.000; 1000 uang inti dan > 9000 uang giral. > > Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, setengahnya aja mungkin > tidak, ya tergantung multiplier uang intinya. > > Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter mencetak uang 1000 dinar, jub-nya > hanya 1000 dinar. Nah disinilah kemudian persoalan memanage JUB yang tepat > itu tetap tetap muncul meskipun standar moneter yang dipakai adalah standar > emas. > > Masalah inflasi dan unemployment sangat tergantung pada managemen JUB > tersebut. Dengan demikian, standar emas, tidak terus menyelesaikan semua > persoalan secara instant. > > Salam hangat > B. Samparan > >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
--- On Wed, 3/4/09, A Nizami wrote: > Di situ dikatakan "PERNAH".. Artinya tidak > terjadi terus menerus/sering. Ini bisa terjadi pada saat > musim panen di mana harga pangan turun dan musim paceklik > harga pangan naik karena langka. Jangan diekstrapolasi mas:-) Yang jelas kalau panjenengan berkenan banyak membaca buku-buku ekonomi Islam, masalah inflasi dan intervensi harga termasuk yang ramai dibahas:-) > Di Indonesia ongkos naik haji dari tahun 1970-an hingga > sekarang tetap 100 gram emas. Padahal kalau rupiah dari Rp > 182.000 naik jadi Rp 35.000.000 pada tahun 2009. Naik 192 x > lipat (19200%). Ini catatan akhir saya untuk diskusi ini, karena sudah banyak yang dibahas dan sudah banyak yang kita saling pelajari. Saat ini jelas emas dan perak belum menjadi standar moneter, oleh karena itu emas posisinya masih menjadi komoditas seperti barang-barang lain. Oleh karena itu, positif relatifnya terhadap komoditas lain masih bisa seperti contoh-contoh yang mas Nizami sampaikan di atas itu. Rasanya kalau emas dan perak sudah menjadi standar moneter, posisi relatifnya terhadap komoditas lain akan menjadi berbeda. Bahkan setahu saya posisi emas dan perak sebagai komoditas dan barang moneter pun akan menimbulkan masalah. Oleh karena itu, Imam Ghazali cenderung pada sikap tidak memperbolehkan emas dijadikan komoditas:-) Kalau baca tulisan-tulisan dari Hizbut Tahrir tentang standar emas dan perak. Ah ... indahnya ... dan andai ... sayang jalan menuju ke situ masih jauh dan terjal, bahkan Hizbut Tahrir sendiri sering tidak bisa menggambarkan bagaimana sistem ini bisa diimplementasikan dalam skala global. Dinar memang mulai ada yang memperjualbelikan, tapi ingat dinar tersebut bukan barang moneter, dinar di sini adalah komoditas, seperti halnya tanah, intan, permata, dll. Oleh karena itu, orang membeli dan menjual, ya karena hitung-hitungan untung rugi yang dihitung dengan uang kertas (rupiah). Salam hangat B. Samparan
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kasus inflasi yang dikemukakan mas Bango sepertinya jarang terjadi di zaman Nabi. Lihat haditsnya: Anas Ibnu Malik berkata: Pada zaman Rasulullah SAW pernah terjadi kenaikan harga barang-barang di Madinah. Maka orang-orang berkata: Wahai Rasulullah, harga barang-barang melonjak tingi, tentukanlah harga bagi kami. Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allahlah penentu harga, Dialah yang menahan, melepas dan pemberi rizki. Dan aku berharap menemui Allah dan berharap tiada seorangpun yang menuntutku karena kasus penganiayaan terhadap darah maupun harta benda." Riwayat Imam Lima kecuali Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. Di situ dikatakan "PERNAH".. Artinya tidak terjadi terus menerus/sering. Ini bisa terjadi pada saat musim panen di mana harga pangan turun dan musim paceklik harga pangan naik karena langka. Pada uang emas fluktuasi harga karena itu tetap akan terjadi. Tapi selalu kembali ke titik setimbang. Pada uang kertas rupiah/dollar, nilainya merosot terus menerus karena memang nilai rielnya paling rp 10/lembar. Selain itu nilai emas vs barang meski fluktuatif tetap kembali kepada kesetimbangan hingga secara umum stabil selama 14 abad lebih. Di Indonesia ongkos naik haji dari tahun 1970-an hingga sekarang tetap 100 gram emas. Padahal kalau rupiah dari Rp 182.000 naik jadi Rp 35.000.000 pada tahun 2009. Naik 192 x lipat (19200%). Lihat beritanya di Tempo: MBM TEMPO Lagi pula, mulai 1970 subsidi haji diberhentikan. Ini mengakibatkan Ongkos Naik Haji (ONH) tahun 1969/1970 sebesar Rp 182.000, naik dari tahun sebelumnya ... majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1978/08/26/EB/mbm..19780826.EB72605.id.html Lihat stabilitas dinar emas dalam jangka panjang: Dari Urwah al-Bariqy ra bahwa Nabi SAW pernah memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor hewan kurban atau kambing. Ia membeli dengan uang tersebut dua ekor kambing dan menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Lalu ia datang kepada beliau dengan seekor kambing dan satu dinar. Beliau mendoakan agar jual-belinya diberkahi Allah, sehingga kalaupun ia membeli debu, ia akan memperoleh keuntungan. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa'i. Bukhari meriwayatkan hadits tersebut dalam salah satu riwayatnya, namun lafadznya tidak seperti itu Nah menurut mas Bango mana yang lebih baik? Emas yang inflasinya misalnya 5% dalam 14 abad atau uang kertas rupiah yang inflasinya sampai 19200% hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun? Kalau saya sih tidak bingung/pusing untuk memilih mana yang lebih baik === Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam? Kirim email ke: [email protected] --- Pada Sel, 3/3/09, Arif Muljadi menulis: Dari: Arif Muljadi Topik: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 3 Maret, 2009, 8:55 PM Mari kita tengok negara yang katanya ekonominya, stabilitasnya, militernya, kapitalisnya, pertaniannya, industrinya paling jagoan. Lihat inflasi di sana melalui website menarik http://www.westegg.. com/inflation/ . Ini yang saya lakukan di situ: - - The following form adjusts any given amount of money for inflation, according to the Consumer Price Index, from 1800 to 2007. Enjoy! Enter the amount of money: 100 Enter the initial year (1800-2007): 1800 Enter the final year (1800-2007): 2007 Hasilnya: - What cost $100 in 1800 would cost $1204.60 in 2007. Also, if you were to buy exactly the same products in 2007 and 1800, they would cost you $100 and $8.53 respectively. Memang, dalam sistem moneter menggunakan uang emas, bisa ada inflasi. Seperti sudah aaya bilang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi, apakah di dalam sistem moneter dengan uang emas akan ada inflasi yang seperti di atas yang bahkan terjadi di negara yang konon paling jagoan? -Arif- --- In ekonomi-nasional@ yahoogroups. com, Bango Samparan wrote: > > --- On Wed, 3/4/09, A Nizami wrote: > > > From: A Nizami > > > Iya mas Arif. > > Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di seluruh dunia > > relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram. Meski ada > > turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke titik > > kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa mempelajari > > kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih Bukhari yang > > menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor kambing hanya 1 > > dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang ternyata > > harganya sama sekitar 1 dinar juga. > > Mohon maaf lho, panjenengan berdua ini pernah baca buku Ekonomi Moneter > enggak? Terus terang cara panjenengan berdua memahami fenomena JUB (jumlah > uang beredar) itu terlalu sederhana, makanya membayangkan masalah inflasi > dalam
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Sip, kalau begitu point bahwa standar emas dan perak tak langsung menyelesaikan udah diterima tho? Begitu lho maksud saya! Jadi jangan nekad, sekarang tugas kita jadinya adalah mempelajari kebijakan moneter ala Islam:-) Leres mas, inflasi memang jadi penyakit, oleh karena itu di dalam ekonomi makro cara melihat pertumbuhan ekonomi-nya adalah memakai pendapatan nasional riil - pendapatan nasional yang sudah dideflasikan dengan inflasi. Nah, realitasnya di banyak negara pendapatan nasional riil tetep tumbuh meskipun tidak selaju pendapatan nasional nominal. Jadi, kemakmuran yang tetep bertambah lah. Baiknya diamati pula pertumbuhan upah riil, biar kita tahu seberapa besar dampak inflasi terhadap upah. Nah, di sinilah Umar Capra mengemukakan indeksasi upah sebagai salah satu solusi terhadap masalah inflasi. Jadi upah harus dijaga nilai riilnya agar tidak digerus inflasi. Tapi hutangpun nantinya juga harus diperlakukan sama, biar yang penghutang tidak mendholimi yang memberi hutang:-) Cobalah baca Toward a Just Monetary System, kelihatan udah diterjemahkan nih. Dulu saya coba menerjemahkan, tapi keduluan:-) Salam sayang selalu B. Samparan --- On Wed, 3/4/09, Arif Muljadi wrote: > From: Arif Muljadi > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > To: [email protected] > Date: Wednesday, March 4, 2009, 11:55 AM > Mari kita tengok negara yang katanya ekonominya, > stabilitasnya, militernya, kapitalisnya, pertaniannya, > industrinya paling jagoan. Lihat inflasi di sana melalui > website menarik > http://www.westegg.com/inflation/ . > > Ini yang saya lakukan di situ: > -- > The following form adjusts any given amount of money for > inflation, according to the Consumer Price Index, from 1800 > to 2007. Enjoy! > Enter the amount of money: 100 > Enter the initial year (1800-2007): 1800 > Enter the final year (1800-2007): 2007 > > Hasilnya: > - > What cost $100 in 1800 would cost $1204.60 in 2007. > Also, if you were to buy exactly the same products in 2007 > and 1800, > they would cost you $100 and $8.53 respectively. > > > Memang, dalam sistem moneter menggunakan uang emas, bisa > ada inflasi. Seperti sudah aaya bilang, tidak ada yang > sempurna di dunia ini. Tapi, apakah di dalam sistem moneter > dengan uang emas akan ada inflasi yang seperti di atas yang > bahkan terjadi di negara yang konon paling jagoan? > > -Arif- > > --- In [email protected], Bango Samparan > wrote: > > > > --- On Wed, 3/4/09, A Nizami > wrote: > > > > > From: A Nizami > > > > > Iya mas Arif. > > > Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di > seluruh dunia > > > relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram. > Meski ada > > > turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke > titik > > > kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa > mempelajari > > > kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih > Bukhari yang > > > menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor > kambing hanya 1 > > > dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang > ternyata > > > harganya sama sekitar 1 dinar juga. > > > > Mohon maaf lho, panjenengan berdua ini pernah baca > buku Ekonomi Moneter enggak? Terus terang cara panjenengan > berdua memahami fenomena JUB (jumlah uang beredar) itu > terlalu sederhana, makanya membayangkan masalah inflasi > dalam standar emas dan perak tidak sampai-sampai. > > > > Standar emas dan perak, seperti pernah saya utarakan, > memang akan menyelesaikan masalah instabilitas nilai tukar, > tetapi tidak secara otomatis menyelesaikan masalah inflasi. > Masalah inflasi nantinya tetap harus dimanage lewat > kebijakan moneter dan fiskal yang piawai. Mengapa hayo? Ya, > salah satunya karena masalah JUB itu lho:-) > > > > Bayangkan sekarang perekonomian sudah pakai standar > emas dan perak, nah mungkin tidak terjadi inflasi? Ya > mungkin saja, kan harga komoditas bisa naik tho dari sekian > dinar menjadi sekian dinar. (Jangan berpikir lagi dalam > kontradiksi dinar dan kertas, komoditas kan tidak hanya > kambing saja.) > > > > Mas Nizami pernah enggak baca-baca kisah mengenai para > sahabat mengeluh karena harga-harga barang naik, dan mereka > meminta Rasulullah melakukan intervensi harga? Kemudian > Rasulullah menolak. Semoga pernah ya:-) Nah, di buku-buku > ekonomi Islam nantinya akan menarik sekali diskusi mengenai > intervensi harga ini: boleh atau tidak? kapan? bagaimana? > > > > Kok bisa ya harga-harga naik, kok bisa ya sampai > masyarakat mengeluh, padahal itu di zaman Rasulullah lho, > pakai Dinar dan Dirham. > > > > Moga-moga panjenengan berdua bisa memahami di mana > kita sama di mana kita berbeda:-) > > > > Salam hangat > > B. Samparan > >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Mari kita tengok negara yang katanya ekonominya, stabilitasnya, militernya, kapitalisnya, pertaniannya, industrinya paling jagoan. Lihat inflasi di sana melalui website menarik http://www.westegg.com/inflation/ . Ini yang saya lakukan di situ: -- The following form adjusts any given amount of money for inflation, according to the Consumer Price Index, from 1800 to 2007. Enjoy! Enter the amount of money: 100 Enter the initial year (1800-2007): 1800 Enter the final year (1800-2007): 2007 Hasilnya: - What cost $100 in 1800 would cost $1204.60 in 2007. Also, if you were to buy exactly the same products in 2007 and 1800, they would cost you $100 and $8.53 respectively. Memang, dalam sistem moneter menggunakan uang emas, bisa ada inflasi. Seperti sudah aaya bilang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi, apakah di dalam sistem moneter dengan uang emas akan ada inflasi yang seperti di atas yang bahkan terjadi di negara yang konon paling jagoan? -Arif- --- In [email protected], Bango Samparan wrote: > > --- On Wed, 3/4/09, A Nizami wrote: > > > From: A Nizami > > > Iya mas Arif. > > Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di seluruh dunia > > relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram. Meski ada > > turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke titik > > kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa mempelajari > > kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih Bukhari yang > > menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor kambing hanya 1 > > dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang ternyata > > harganya sama sekitar 1 dinar juga. > > Mohon maaf lho, panjenengan berdua ini pernah baca buku Ekonomi Moneter > enggak? Terus terang cara panjenengan berdua memahami fenomena JUB (jumlah > uang beredar) itu terlalu sederhana, makanya membayangkan masalah inflasi > dalam standar emas dan perak tidak sampai-sampai. > > Standar emas dan perak, seperti pernah saya utarakan, memang akan > menyelesaikan masalah instabilitas nilai tukar, tetapi tidak secara otomatis > menyelesaikan masalah inflasi. Masalah inflasi nantinya tetap harus dimanage > lewat kebijakan moneter dan fiskal yang piawai. Mengapa hayo? Ya, salah > satunya karena masalah JUB itu lho:-) > > Bayangkan sekarang perekonomian sudah pakai standar emas dan perak, nah > mungkin tidak terjadi inflasi? Ya mungkin saja, kan harga komoditas bisa naik > tho dari sekian dinar menjadi sekian dinar. (Jangan berpikir lagi dalam > kontradiksi dinar dan kertas, komoditas kan tidak hanya kambing saja.) > > Mas Nizami pernah enggak baca-baca kisah mengenai para sahabat mengeluh > karena harga-harga barang naik, dan mereka meminta Rasulullah melakukan > intervensi harga? Kemudian Rasulullah menolak. Semoga pernah ya:-) Nah, di > buku-buku ekonomi Islam nantinya akan menarik sekali diskusi mengenai > intervensi harga ini: boleh atau tidak? kapan? bagaimana? > > Kok bisa ya harga-harga naik, kok bisa ya sampai masyarakat mengeluh, padahal > itu di zaman Rasulullah lho, pakai Dinar dan Dirham. > > Moga-moga panjenengan berdua bisa memahami di mana kita sama di mana kita > berbeda:-) > > Salam hangat > B. Samparan >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
--- On Wed, 3/4/09, A Nizami wrote: > From: A Nizami > Iya mas Arif. > Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di seluruh dunia > relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram. Meski ada > turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke titik > kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa mempelajari > kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih Bukhari yang > menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor kambing hanya 1 > dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang ternyata > harganya sama sekitar 1 dinar juga. Mohon maaf lho, panjenengan berdua ini pernah baca buku Ekonomi Moneter enggak? Terus terang cara panjenengan berdua memahami fenomena JUB (jumlah uang beredar) itu terlalu sederhana, makanya membayangkan masalah inflasi dalam standar emas dan perak tidak sampai-sampai. Standar emas dan perak, seperti pernah saya utarakan, memang akan menyelesaikan masalah instabilitas nilai tukar, tetapi tidak secara otomatis menyelesaikan masalah inflasi. Masalah inflasi nantinya tetap harus dimanage lewat kebijakan moneter dan fiskal yang piawai. Mengapa hayo? Ya, salah satunya karena masalah JUB itu lho:-) Bayangkan sekarang perekonomian sudah pakai standar emas dan perak, nah mungkin tidak terjadi inflasi? Ya mungkin saja, kan harga komoditas bisa naik tho dari sekian dinar menjadi sekian dinar. (Jangan berpikir lagi dalam kontradiksi dinar dan kertas, komoditas kan tidak hanya kambing saja.) Mas Nizami pernah enggak baca-baca kisah mengenai para sahabat mengeluh karena harga-harga barang naik, dan mereka meminta Rasulullah melakukan intervensi harga? Kemudian Rasulullah menolak. Semoga pernah ya:-) Nah, di buku-buku ekonomi Islam nantinya akan menarik sekali diskusi mengenai intervensi harga ini: boleh atau tidak? kapan? bagaimana? Kok bisa ya harga-harga naik, kok bisa ya sampai masyarakat mengeluh, padahal itu di zaman Rasulullah lho, pakai Dinar dan Dirham. Moga-moga panjenengan berdua bisa memahami di mana kita sama di mana kita berbeda:-) Salam hangat B. Samparan
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Iya mas Arif. Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di seluruh dunia relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram. Meski ada turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke titik kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa mempelajari kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih Bukhari yang menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor kambing hanya 1 dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang ternyata harganya sama sekitar 1 dinar juga. Ada pun uang kertas yang bahan+ongkos cetaknya cuma Rp 10/lembar dan kemudian dihargai Rp 10 ribu, RP 100 ribu, dsb memang sulit dijaga stabilitasnya. Itu terserah pelaku pasar. Andai pun uang Rp 100 ribu jatuh nilainya jadi Rp 1.000 (ingat saneriing dulu?) itu tetap untung karena masih jauh di atas nilai rielnya yang cuma Rp 10. Relakah gaji/penghasilan kita dinilai dengan uang kertas yang sebenarnya nilainya cuma Rp 10 dan terus digerus inflasi sepanjang tahun? Seandainya bisa memilih, saya lebih senang gaji 10 dinar ketimbang Rp 20 juta/bulan. Para buruh pun sebetulnya lebih enak punya UMR 1 dinar (Rp 1,6 juta) ketimbang Rp 1,8 juta yang dalam waktu 2-3 tahun nilainya jatuh jadi cuma Rp 1,4 juta. === Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam? Kirim email ke: [email protected] --- Pada Sen, 2/3/09, Arif Muljadi menulis: Dari: Arif Muljadi Topik: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 2 Maret, 2009, 9:15 PM O ya, memang di dunia ini, tidak ada sesuatu yang begitu manjur sempurna. Yang sempurna gitu 'kan adanya cuma di surga. Lha, kita ini masih hidup di dunia. Sistem uang emas pun tidak manjur sempurna, tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Buat apa emas berton-ton kalau tidak ada makanan? Sederhananya begitu. Yang paling penting adalah produksi itu sendiri, baik itu produksi makanan, pakaian, gedung, mobil, komputer, dsb. Kalau perlu, negara mengatur produksi semua kebutuhan rakyat tanpa menggunakan uang sepeserpun. Milyaran hektar lahan diolah untuk pertanian, ribuan pabrik didirikan untuk memproduksi barang2, pendidikan gratis, pelayanan gratis, perumahan gratis, dst. Tapi, semua orang harus bekerja, apakah itu di lahan, di pabrik, di sekolah, di rumah sakit, di bidang konstruksi rumah, jalan, dsb., dst. dan digaji NATURA. Gaji natura ini ya beras dari lahan itu, minyak goreng dari lahan kebun kelapa itu, pendidikan gratis itu, pelayanan kesehatan gratis itu. Ya udah, makmur 'kan? Tanpa perlu uang sepeserpun! Syaratnya sederhana saja, yakni segenap rakyat "kompak" gitu, bekerja sama, bergotong royong, saling berbaik sesamanya, nggak saling gontok, nggak saling sikut, nggak saling sikat, nggak saling sabet! Semuanya memang kembali ke orang2nya, sikap orang2nya, watak orang2nya. Balik... bahkan, sistem uang emas memiliki beberapa kelemahan. Tapi, overall, saya pikir sistem uang emas masih lebih baik dengan uang kertas. Mungkin, dengan kondisi tertentu yang dijaga dengan prima atau didukung dengan sistem2 lain, uang kertas oke-oke saja. Sejatinya, uang kertas bukanlah "tanda kekayaan", tapi lebih tepat sebagai pencatat hutang. Ini udah filosofis, mungkin. Kalau seseorang memegang uang kertas bercetak angka 100R, itu sebenarnya berarti ada orang/pihak lain yang berhutang kepadanya barang atau jasa yang disepakati bernilai 100R. Kalau barang atau jasa ini tidak ada, ya uang ini "kopong". Satu lagi, dengan uang kertas, rasanya mudah sekali orang menaikkan harga untuk barang yang sama. Karena sudah dari awalnya uang kertas adalah sesuatu yang diberi nilai "seenaknya", jadi para penggunanya juga memakai "sekenanya", i.e. mematok harga seenaknya, yakni inflasi. -Arif- --- In ekonomi-nasional@ yahoogroups. com, "Arif Muljadi" wrote: > > Secara "administratif" memang bisa tercatat ada uang beredar 10R, > walau "hakiki"nya, cuma ada 1R saja. Dan, sejatinya, TIDAK ada uang > yang beredar, lha semua uangnya ngendon di brankas bank2. > > "Lingkaran" itu semakin memusingkan kalau pengusaha B, balik > menabungkan uang yang 810 itu ke bank X, lalu bank X meminjamkan 90% > dari ini ke A, yang lalu menabungkannya ke bank Y lagi, dst. Di sini > sepertinya bank X punya banyak uang, tapi sebenarnya uang yang itu2 > juga. Ini 'kan hanya kelemahan metode "pencatatan" /pen-track- an. > Seharusnya ada metode yang benar2 mencatat uang beredar yang > sesungguhnya. Sebenarnya 'kan, kalau semua kredit dan debit di atas > dijumlahkan, ya hasilnya 1000 itu, karena sejatinya uang yang ada ya > 1000 itu. > > Jadi? > > -Arif- > > > --- In ekonomi-nasional@ yahoogroups. com, Bango Samparan >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Nggih mas, nggih mas, nyuwun pareng, matur nuwun. Salam hangat B. Samparan --- On Tue, 3/3/09, Arif Muljadi wrote: > From: Arif Muljadi > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > To: [email protected] > Date: Tuesday, March 3, 2009, 12:15 PM > O ya, memang di dunia ini, tidak ada sesuatu yang begitu > manjur > sempurna. Yang sempurna gitu 'kan adanya cuma di surga. > Lha, kita ini > masih hidup di dunia. Sistem uang emas pun tidak manjur > sempurna, > tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Buat apa emas > berton-ton kalau > tidak ada makanan? Sederhananya begitu. Yang paling penting > adalah > produksi itu sendiri, baik itu produksi makanan, pakaian, > gedung, > mobil, komputer, dsb. Kalau perlu, negara mengatur produksi > semua > kebutuhan rakyat tanpa menggunakan uang sepeserpun. > Milyaran hektar > lahan diolah untuk pertanian, ribuan pabrik didirikan untuk > memproduksi barang2, pendidikan gratis, pelayanan gratis, > perumahan > gratis, dst. Tapi, semua orang harus bekerja, apakah itu di > lahan, di > pabrik, di sekolah, di rumah sakit, di bidang konstruksi > rumah, jalan, > dsb., dst. dan digaji NATURA. Gaji natura ini ya beras dari > lahan itu, > minyak goreng dari lahan kebun kelapa itu, pendidikan > gratis itu, > pelayanan kesehatan gratis itu. Ya udah, makmur 'kan? > Tanpa perlu uang > sepeserpun! Syaratnya sederhana saja, yakni segenap rakyat > "kompak" > gitu, bekerja sama, bergotong royong, saling berbaik > sesamanya, nggak > saling gontok, nggak saling sikut, nggak saling sikat, > nggak saling > sabet! Semuanya memang kembali ke orang2nya, sikap > orang2nya, watak > orang2nya. > > Balik... bahkan, sistem uang emas memiliki beberapa > kelemahan. Tapi, > overall, saya pikir sistem uang emas masih lebih baik > dengan uang > kertas. Mungkin, dengan kondisi tertentu yang dijaga dengan > prima atau > didukung dengan sistem2 lain, uang kertas oke-oke saja. > Sejatinya, uang kertas bukanlah "tanda kekayaan", > tapi lebih tepat > sebagai pencatat hutang. Ini udah filosofis, mungkin. Kalau > seseorang > memegang uang kertas bercetak angka 100R, itu sebenarnya > berarti ada > orang/pihak lain yang berhutang kepadanya barang atau jasa > yang > disepakati bernilai 100R. Kalau barang atau jasa ini tidak > ada, ya > uang ini "kopong". Satu lagi, dengan uang kertas, > rasanya mudah sekali > orang menaikkan harga untuk barang yang sama. Karena sudah > dari > awalnya uang kertas adalah sesuatu yang diberi nilai > "seenaknya", jadi > para penggunanya juga memakai "sekenanya", i.e. > mematok harga > seenaknya, yakni inflasi. > > -Arif- > > > --- In [email protected], "Arif > Muljadi" > wrote: > > > > Secara "administratif" memang bisa tercatat > ada uang beredar 10R, > > walau "hakiki"nya, cuma ada 1R saja. Dan, > sejatinya, TIDAK ada uang > > yang beredar, lha semua uangnya ngendon di brankas > bank2. > > > > "Lingkaran" itu semakin memusingkan kalau > pengusaha B, balik > > menabungkan uang yang 810 itu ke bank X, lalu bank X > meminjamkan 90% > > dari ini ke A, yang lalu menabungkannya ke bank Y > lagi, dst. Di sini > > sepertinya bank X punya banyak uang, tapi sebenarnya > uang yang itu2 > > juga. Ini 'kan hanya kelemahan metode > "pencatatan"/pen-track-an. > > Seharusnya ada metode yang benar2 mencatat uang > beredar yang > > sesungguhnya. Sebenarnya 'kan, kalau semua kredit > dan debit di atas > > dijumlahkan, ya hasilnya 1000 itu, karena sejatinya > uang yang ada ya > > 1000 itu. > > > > Jadi? > > > > -Arif- > > > > > > --- In [email protected], Bango > Samparan > > wrote: > > > > > > Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan > - menabung dan > > kredit - akan tercipta - bila diidealkan - JUB > sebanyak 10.000; 1000 > > uang inti dan 9000 uang giral. > > > > > > Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, > setengahnya aja > > mungkin tidak, ya tergantung multiplier uang intinya. > > > > > > Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter > mencetak uang 1000 dinar, > > jub-nya hanya 1000 dinar. Nah disinilah kemudian > persoalan memanage > > JUB yang tepat itu tetap tetap muncul meskipun standar > moneter yang > > dipakai adalah standar emas. > > > > > > Masalah inflasi dan unemployment sangat > tergantung pada managemen > > JUB tersebut. Dengan demikian, standar emas, tidak >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
O ya, memang di dunia ini, tidak ada sesuatu yang begitu manjur sempurna. Yang sempurna gitu 'kan adanya cuma di surga. Lha, kita ini masih hidup di dunia. Sistem uang emas pun tidak manjur sempurna, tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Buat apa emas berton-ton kalau tidak ada makanan? Sederhananya begitu. Yang paling penting adalah produksi itu sendiri, baik itu produksi makanan, pakaian, gedung, mobil, komputer, dsb. Kalau perlu, negara mengatur produksi semua kebutuhan rakyat tanpa menggunakan uang sepeserpun. Milyaran hektar lahan diolah untuk pertanian, ribuan pabrik didirikan untuk memproduksi barang2, pendidikan gratis, pelayanan gratis, perumahan gratis, dst. Tapi, semua orang harus bekerja, apakah itu di lahan, di pabrik, di sekolah, di rumah sakit, di bidang konstruksi rumah, jalan, dsb., dst. dan digaji NATURA. Gaji natura ini ya beras dari lahan itu, minyak goreng dari lahan kebun kelapa itu, pendidikan gratis itu, pelayanan kesehatan gratis itu. Ya udah, makmur 'kan? Tanpa perlu uang sepeserpun! Syaratnya sederhana saja, yakni segenap rakyat "kompak" gitu, bekerja sama, bergotong royong, saling berbaik sesamanya, nggak saling gontok, nggak saling sikut, nggak saling sikat, nggak saling sabet! Semuanya memang kembali ke orang2nya, sikap orang2nya, watak orang2nya. Balik... bahkan, sistem uang emas memiliki beberapa kelemahan. Tapi, overall, saya pikir sistem uang emas masih lebih baik dengan uang kertas. Mungkin, dengan kondisi tertentu yang dijaga dengan prima atau didukung dengan sistem2 lain, uang kertas oke-oke saja. Sejatinya, uang kertas bukanlah "tanda kekayaan", tapi lebih tepat sebagai pencatat hutang. Ini udah filosofis, mungkin. Kalau seseorang memegang uang kertas bercetak angka 100R, itu sebenarnya berarti ada orang/pihak lain yang berhutang kepadanya barang atau jasa yang disepakati bernilai 100R. Kalau barang atau jasa ini tidak ada, ya uang ini "kopong". Satu lagi, dengan uang kertas, rasanya mudah sekali orang menaikkan harga untuk barang yang sama. Karena sudah dari awalnya uang kertas adalah sesuatu yang diberi nilai "seenaknya", jadi para penggunanya juga memakai "sekenanya", i.e. mematok harga seenaknya, yakni inflasi. -Arif- --- In [email protected], "Arif Muljadi" wrote: > > Secara "administratif" memang bisa tercatat ada uang beredar 10R, > walau "hakiki"nya, cuma ada 1R saja. Dan, sejatinya, TIDAK ada uang > yang beredar, lha semua uangnya ngendon di brankas bank2. > > "Lingkaran" itu semakin memusingkan kalau pengusaha B, balik > menabungkan uang yang 810 itu ke bank X, lalu bank X meminjamkan 90% > dari ini ke A, yang lalu menabungkannya ke bank Y lagi, dst. Di sini > sepertinya bank X punya banyak uang, tapi sebenarnya uang yang itu2 > juga. Ini 'kan hanya kelemahan metode "pencatatan"/pen-track-an. > Seharusnya ada metode yang benar2 mencatat uang beredar yang > sesungguhnya. Sebenarnya 'kan, kalau semua kredit dan debit di atas > dijumlahkan, ya hasilnya 1000 itu, karena sejatinya uang yang ada ya > 1000 itu. > > Jadi? > > -Arif- > > > --- In [email protected], Bango Samparan > wrote: > > > > Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan - menabung dan > kredit - akan tercipta - bila diidealkan - JUB sebanyak 10.000; 1000 > uang inti dan 9000 uang giral. > > > > Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, setengahnya aja > mungkin tidak, ya tergantung multiplier uang intinya. > > > > Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter mencetak uang 1000 dinar, > jub-nya hanya 1000 dinar. Nah disinilah kemudian persoalan memanage > JUB yang tepat itu tetap tetap muncul meskipun standar moneter yang > dipakai adalah standar emas. > > > > Masalah inflasi dan unemployment sangat tergantung pada managemen > JUB tersebut. Dengan demikian, standar emas, tidak terus menyelesaikan > semua persoalan secara instant. > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > > > > --- On Tue, 3/3/09, Arif Muljadi wrote: > > > > > From: Arif Muljadi > > > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > > To: [email protected] > > > Date: Tuesday, March 3, 2009, 9:53 AM > > > Saya tidak paham ujung dari skenario ini. > > > > > > Kalau "lingkaran kredit ke pengusaha dan pengusaha > > > balik menabungkan" > > > ini diteruskan, maka tidak ada uang beredar. Lalu? > > > > > > Sementara itu di lain pihak, apa mungkin terjadi lingkaran > > > seperti > > > itu? Bukankah biasanya bank tahu ke mana uang pinjaman akan > > > digunakan?. Kalau bank X tahu pengusaha A cuma be
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Secara "administratif" memang bisa tercatat ada uang beredar 10R, walau "hakiki"nya, cuma ada 1R saja. Dan, sejatinya, TIDAK ada uang yang beredar, lha semua uangnya ngendon di brankas bank2. "Lingkaran" itu semakin memusingkan kalau pengusaha B, balik menabungkan uang yang 810 itu ke bank X, lalu bank X meminjamkan 90% dari ini ke A, yang lalu menabungkannya ke bank Y lagi, dst. Di sini sepertinya bank X punya banyak uang, tapi sebenarnya uang yang itu2 juga. Ini 'kan hanya kelemahan metode "pencatatan"/pen-track-an. Seharusnya ada metode yang benar2 mencatat uang beredar yang sesungguhnya. Sebenarnya 'kan, kalau semua kredit dan debit di atas dijumlahkan, ya hasilnya 1000 itu, karena sejatinya uang yang ada ya 1000 itu. Jadi? -Arif- --- In [email protected], Bango Samparan wrote: > > Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan - menabung dan kredit - akan tercipta - bila diidealkan - JUB sebanyak 10.000; 1000 uang inti dan 9000 uang giral. > > Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, setengahnya aja mungkin tidak, ya tergantung multiplier uang intinya. > > Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter mencetak uang 1000 dinar, jub-nya hanya 1000 dinar. Nah disinilah kemudian persoalan memanage JUB yang tepat itu tetap tetap muncul meskipun standar moneter yang dipakai adalah standar emas. > > Masalah inflasi dan unemployment sangat tergantung pada managemen JUB tersebut. Dengan demikian, standar emas, tidak terus menyelesaikan semua persoalan secara instant. > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Tue, 3/3/09, Arif Muljadi wrote: > > > From: Arif Muljadi > > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > To: [email protected] > > Date: Tuesday, March 3, 2009, 9:53 AM > > Saya tidak paham ujung dari skenario ini. > > > > Kalau "lingkaran kredit ke pengusaha dan pengusaha > > balik menabungkan" > > ini diteruskan, maka tidak ada uang beredar. Lalu? > > > > Sementara itu di lain pihak, apa mungkin terjadi lingkaran > > seperti > > itu? Bukankah biasanya bank tahu ke mana uang pinjaman akan > > digunakan?. Kalau bank X tahu pengusaha A cuma bermaksud > > menyimpan > > semua 900 dinar itu ke sebuah bank lain, apakah bank X akan > > memberi > > kredit itu? > > > > Atau, misal pengusaha A terkait pembagian hasil dengan bank > > X 50:50. > > Kalau lingakran itu terjadi, tentu pada akhirnya > > "usaha" pengusaha A > > tidak akan menghasilkan apa2. Tentu saja bank X akan > > menghentikan > > kredit kepada A. Lalu? > > > > Wah, gimana ini mas Bango. > > > > > > > > --- In [email protected], Bango Samparan > > wrote: > > > > > > Otoritas moneter membuat uang dinar 1000. Oleh > > pemerintah dipakai > > untuk membayar gaji PNS. > > > > > > Sama PNS ditabung semuanya ke bank X. Sama bank X > > ditahan 100 > > sebagai cadangan, dikreditkan 900 ke pengusaha A. Setelah > > terima 900, > > oleh pengusaha A dimasukkan ke bank Y. Oleh bank Y ditahan > > 90 sebagai > > cadangan, 810 dikreditkan ke pengusaha B. dst > > > > > > Berapa jumlah uang beredar yang akan terjadi? Kalau > > mas Arif bisa > > melogika hal ini, baru mas Arif tahu apa itu yang > > dimaksudkan dengan > > JUB, dan permasalahan ketidakseimbangan yang mungkin muncul > > antara > > pasar uang dan pasar riil. > > > > > > Contoh di atas memang disederhanakan mas. Selamat > > mencerna:-) > > > > > > Salam hangat > > > B. Samparan > > > > > > > > > --- On Mon, 3/2/09, Arif Muljadi > > wrote: > > > > > > > From: Arif Muljadi > > > > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > > > To: [email protected] > > > > Date: Monday, March 2, 2009, 10:13 PM > > > > Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang > > emas (atau > > > > uang penuh > > > > lainnya), ... justru agak susah saya > > bayangkan/pikirkan, > > > > mengapa > > > > sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana > > yaa... > > > > apakah orang > > > > mau menukar (sementara) uang emasnya dengan > > sekian lembar > > > > kertas > > > > bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu > > nggak beda > > > > dari menabung. > > > > Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini > > (yakni > > > > dibeli dengan >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan - menabung dan kredit - akan tercipta - bila diidealkan - JUB sebanyak 10.000; 1000 uang inti dan 9000 uang giral. Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, setengahnya aja mungkin tidak, ya tergantung multiplier uang intinya. Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter mencetak uang 1000 dinar, jub-nya hanya 1000 dinar. Nah disinilah kemudian persoalan memanage JUB yang tepat itu tetap tetap muncul meskipun standar moneter yang dipakai adalah standar emas. Masalah inflasi dan unemployment sangat tergantung pada managemen JUB tersebut. Dengan demikian, standar emas, tidak terus menyelesaikan semua persoalan secara instant. Salam hangat B. Samparan --- On Tue, 3/3/09, Arif Muljadi wrote: > From: Arif Muljadi > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > To: [email protected] > Date: Tuesday, March 3, 2009, 9:53 AM > Saya tidak paham ujung dari skenario ini. > > Kalau "lingkaran kredit ke pengusaha dan pengusaha > balik menabungkan" > ini diteruskan, maka tidak ada uang beredar. Lalu? > > Sementara itu di lain pihak, apa mungkin terjadi lingkaran > seperti > itu? Bukankah biasanya bank tahu ke mana uang pinjaman akan > digunakan?. Kalau bank X tahu pengusaha A cuma bermaksud > menyimpan > semua 900 dinar itu ke sebuah bank lain, apakah bank X akan > memberi > kredit itu? > > Atau, misal pengusaha A terkait pembagian hasil dengan bank > X 50:50. > Kalau lingakran itu terjadi, tentu pada akhirnya > "usaha" pengusaha A > tidak akan menghasilkan apa2. Tentu saja bank X akan > menghentikan > kredit kepada A. Lalu? > > Wah, gimana ini mas Bango. > > > > --- In [email protected], Bango Samparan > wrote: > > > > Otoritas moneter membuat uang dinar 1000. Oleh > pemerintah dipakai > untuk membayar gaji PNS. > > > > Sama PNS ditabung semuanya ke bank X. Sama bank X > ditahan 100 > sebagai cadangan, dikreditkan 900 ke pengusaha A. Setelah > terima 900, > oleh pengusaha A dimasukkan ke bank Y. Oleh bank Y ditahan > 90 sebagai > cadangan, 810 dikreditkan ke pengusaha B. dst > > > > Berapa jumlah uang beredar yang akan terjadi? Kalau > mas Arif bisa > melogika hal ini, baru mas Arif tahu apa itu yang > dimaksudkan dengan > JUB, dan permasalahan ketidakseimbangan yang mungkin muncul > antara > pasar uang dan pasar riil. > > > > Contoh di atas memang disederhanakan mas. Selamat > mencerna:-) > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > > > > --- On Mon, 3/2/09, Arif Muljadi > wrote: > > > > > From: Arif Muljadi > > > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > > To: [email protected] > > > Date: Monday, March 2, 2009, 10:13 PM > > > Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang > emas (atau > > > uang penuh > > > lainnya), ... justru agak susah saya > bayangkan/pikirkan, > > > mengapa > > > sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana > yaa... > > > apakah orang > > > mau menukar (sementara) uang emasnya dengan > sekian lembar > > > kertas > > > bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu > nggak beda > > > dari menabung. > > > Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini > (yakni > > > dibeli dengan > > > uang emas), dari mana dana untuk membayar > bunganya? Intuisi > > > saya > > > mengatakan, agak aneh kalau negara/pemerintah > (yang > > > sebenarnya, yang > > > kena akhirnya ya rakyat juga), kalau harus > membayar bunga > > > untuk uang > > > emas yang ditarik dari peredaran demi mengurangi > inflasi. > > > Lha, uang > > > emas 'kan uang yang riil, bukan cuma uang > > > "percaya" saja (yakni uang > > > kertas). Dan untuk uang emas, tidak ada yang > namanya > > > devaluasi, 'kan? > > > Mau devaluasi gimana? Karena, 5gr emas di > Indonesia, > > > beratnya juga 5gr > > > di Amerika. Walau, bisa saja, sekeping uang emas > seberat X > > > gram yang > > > dicetak oleh sebuah perusahaan logam Amerika > dihargai 1000 > > > kg beras > > > jenis tertentu, sedang sekeping uang emas seberat > X gram > > > juga yang > > > dicetak oleh sebuah perusahaan logam di Indonesia > > > "cuma" dihargai > > > 999.5 kg beras yang sama. > > > > > > Saya pikir bisa saja, uang emas ditabung di bank. > Kalau > > > menurut sistem > > > Islam, uang tabungan ini bisa dikreditkan untuk > dijadikan > > > modal usaha > > > dengan sistem bagi hasil. Yang dibagikan is real > there, > > > memang ada > > > gitu, karena memang hasil usaha. Setelah uang > emas > > > keuntungan hasil > > > usaha diterima oleh penerima kredit, lalu > dibagi2. > > > > > > -Arif- > > > > >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Saya tidak paham ujung dari skenario ini. Kalau "lingkaran kredit ke pengusaha dan pengusaha balik menabungkan" ini diteruskan, maka tidak ada uang beredar. Lalu? Sementara itu di lain pihak, apa mungkin terjadi lingkaran seperti itu? Bukankah biasanya bank tahu ke mana uang pinjaman akan digunakan?. Kalau bank X tahu pengusaha A cuma bermaksud menyimpan semua 900 dinar itu ke sebuah bank lain, apakah bank X akan memberi kredit itu? Atau, misal pengusaha A terkait pembagian hasil dengan bank X 50:50. Kalau lingakran itu terjadi, tentu pada akhirnya "usaha" pengusaha A tidak akan menghasilkan apa2. Tentu saja bank X akan menghentikan kredit kepada A. Lalu? Wah, gimana ini mas Bango. --- In [email protected], Bango Samparan wrote: > > Otoritas moneter membuat uang dinar 1000. Oleh pemerintah dipakai untuk membayar gaji PNS. > > Sama PNS ditabung semuanya ke bank X. Sama bank X ditahan 100 sebagai cadangan, dikreditkan 900 ke pengusaha A. Setelah terima 900, oleh pengusaha A dimasukkan ke bank Y. Oleh bank Y ditahan 90 sebagai cadangan, 810 dikreditkan ke pengusaha B. dst > > Berapa jumlah uang beredar yang akan terjadi? Kalau mas Arif bisa melogika hal ini, baru mas Arif tahu apa itu yang dimaksudkan dengan JUB, dan permasalahan ketidakseimbangan yang mungkin muncul antara pasar uang dan pasar riil. > > Contoh di atas memang disederhanakan mas. Selamat mencerna:-) > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Mon, 3/2/09, Arif Muljadi wrote: > > > From: Arif Muljadi > > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > To: [email protected] > > Date: Monday, March 2, 2009, 10:13 PM > > Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang emas (atau > > uang penuh > > lainnya), ... justru agak susah saya bayangkan/pikirkan, > > mengapa > > sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana yaa... > > apakah orang > > mau menukar (sementara) uang emasnya dengan sekian lembar > > kertas > > bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu nggak beda > > dari menabung. > > Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini (yakni > > dibeli dengan > > uang emas), dari mana dana untuk membayar bunganya? Intuisi > > saya > > mengatakan, agak aneh kalau negara/pemerintah (yang > > sebenarnya, yang > > kena akhirnya ya rakyat juga), kalau harus membayar bunga > > untuk uang > > emas yang ditarik dari peredaran demi mengurangi inflasi. > > Lha, uang > > emas 'kan uang yang riil, bukan cuma uang > > "percaya" saja (yakni uang > > kertas). Dan untuk uang emas, tidak ada yang namanya > > devaluasi, 'kan? > > Mau devaluasi gimana? Karena, 5gr emas di Indonesia, > > beratnya juga 5gr > > di Amerika. Walau, bisa saja, sekeping uang emas seberat X > > gram yang > > dicetak oleh sebuah perusahaan logam Amerika dihargai 1000 > > kg beras > > jenis tertentu, sedang sekeping uang emas seberat X gram > > juga yang > > dicetak oleh sebuah perusahaan logam di Indonesia > > "cuma" dihargai > > 999.5 kg beras yang sama. > > > > Saya pikir bisa saja, uang emas ditabung di bank. Kalau > > menurut sistem > > Islam, uang tabungan ini bisa dikreditkan untuk dijadikan > > modal usaha > > dengan sistem bagi hasil. Yang dibagikan is real there, > > memang ada > > gitu, karena memang hasil usaha. Setelah uang emas > > keuntungan hasil > > usaha diterima oleh penerima kredit, lalu dibagi2. > > > > -Arif- > > >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Otoritas moneter membuat uang dinar 1000. Oleh pemerintah dipakai untuk membayar gaji PNS. Sama PNS ditabung semuanya ke bank X. Sama bank X ditahan 100 sebagai cadangan, dikreditkan 900 ke pengusaha A. Setelah terima 900, oleh pengusaha A dimasukkan ke bank Y. Oleh bank Y ditahan 90 sebagai cadangan, 810 dikreditkan ke pengusaha B. dst Berapa jumlah uang beredar yang akan terjadi? Kalau mas Arif bisa melogika hal ini, baru mas Arif tahu apa itu yang dimaksudkan dengan JUB, dan permasalahan ketidakseimbangan yang mungkin muncul antara pasar uang dan pasar riil. Contoh di atas memang disederhanakan mas. Selamat mencerna:-) Salam hangat B. Samparan --- On Mon, 3/2/09, Arif Muljadi wrote: > From: Arif Muljadi > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > To: [email protected] > Date: Monday, March 2, 2009, 10:13 PM > Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang emas (atau > uang penuh > lainnya), ... justru agak susah saya bayangkan/pikirkan, > mengapa > sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana yaa... > apakah orang > mau menukar (sementara) uang emasnya dengan sekian lembar > kertas > bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu nggak beda > dari menabung. > Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini (yakni > dibeli dengan > uang emas), dari mana dana untuk membayar bunganya? Intuisi > saya > mengatakan, agak aneh kalau negara/pemerintah (yang > sebenarnya, yang > kena akhirnya ya rakyat juga), kalau harus membayar bunga > untuk uang > emas yang ditarik dari peredaran demi mengurangi inflasi. > Lha, uang > emas 'kan uang yang riil, bukan cuma uang > "percaya" saja (yakni uang > kertas). Dan untuk uang emas, tidak ada yang namanya > devaluasi, 'kan? > Mau devaluasi gimana? Karena, 5gr emas di Indonesia, > beratnya juga 5gr > di Amerika. Walau, bisa saja, sekeping uang emas seberat X > gram yang > dicetak oleh sebuah perusahaan logam Amerika dihargai 1000 > kg beras > jenis tertentu, sedang sekeping uang emas seberat X gram > juga yang > dicetak oleh sebuah perusahaan logam di Indonesia > "cuma" dihargai > 999.5 kg beras yang sama. > > Saya pikir bisa saja, uang emas ditabung di bank. Kalau > menurut sistem > Islam, uang tabungan ini bisa dikreditkan untuk dijadikan > modal usaha > dengan sistem bagi hasil. Yang dibagikan is real there, > memang ada > gitu, karena memang hasil usaha. Setelah uang emas > keuntungan hasil > usaha diterima oleh penerima kredit, lalu dibagi2. > > -Arif- >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang emas (atau uang penuh lainnya), ... justru agak susah saya bayangkan/pikirkan, mengapa sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana yaa... apakah orang mau menukar (sementara) uang emasnya dengan sekian lembar kertas bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu nggak beda dari menabung. Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini (yakni dibeli dengan uang emas), dari mana dana untuk membayar bunganya? Intuisi saya mengatakan, agak aneh kalau negara/pemerintah (yang sebenarnya, yang kena akhirnya ya rakyat juga), kalau harus membayar bunga untuk uang emas yang ditarik dari peredaran demi mengurangi inflasi. Lha, uang emas 'kan uang yang riil, bukan cuma uang "percaya" saja (yakni uang kertas). Dan untuk uang emas, tidak ada yang namanya devaluasi, 'kan? Mau devaluasi gimana? Karena, 5gr emas di Indonesia, beratnya juga 5gr di Amerika. Walau, bisa saja, sekeping uang emas seberat X gram yang dicetak oleh sebuah perusahaan logam Amerika dihargai 1000 kg beras jenis tertentu, sedang sekeping uang emas seberat X gram juga yang dicetak oleh sebuah perusahaan logam di Indonesia "cuma" dihargai 999.5 kg beras yang sama. Saya pikir bisa saja, uang emas ditabung di bank. Kalau menurut sistem Islam, uang tabungan ini bisa dikreditkan untuk dijadikan modal usaha dengan sistem bagi hasil. Yang dibagikan is real there, memang ada gitu, karena memang hasil usaha. Setelah uang emas keuntungan hasil usaha diterima oleh penerima kredit, lalu dibagi2. -Arif- --- In [email protected], Bango Samparan wrote: > > Apa iya tho mas? Bagaimana logikanya? > > Saya bukan tidak setuju kalau uang diganti dinar dan dirham, tapi kalau terus simplifikasi, ya nanti dulu. > > Kalau uang diganti dinar dan dirham. Saya masih boleh nggak menabung di bank? Boleh enggak ada rekening giro di bank? Boleh enggak bank menciptakan kredit? > > Lha kalau masih, uang giral kan masih eksis juga:-) Masalah multipier uang inti juga masih eksis. Jadi masalah Jumlah Uang Beredar yang tepat masih harus diperhatikan:-) Inflasi juga masih mungkin terjadi, hanya sekarang kenaikkan atau penurunan harganya sudah pakai dinar dan dirham. Intinya sekali lagi adalah kebijakan untuk menyeimbangkan sektor riil dan sektor moneter. > > > Salam hangat > B. Samparan >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Ya itu. Uang, "uang kertas" untuk lebih tepatnya, adalah HANYA alat bayar yang sebenarnya hampir tidak memiliki HARGA sama sekali. Bagaimana selembar kertas ketika masih fresh ke luar dari percetakan cuma berharga 10rp (bahan + ongkos cetak), sesaat setelah diedarkan oleh BI, tiba-tiba menjadi sesuatu yang dihargai setara dengan sepasang sepatu hanya karena di atas kertas ini tercetak angka 100R. Bukankah ini sesuatu yang berbau manipulatif? Saya ingin tahu, bagaimana "asal muasal"nya sesuatu yang berharga cuma 10rp, tiba2 orang2 mau menganggapnya berharga 100R, 50R, 10R, dsb., rupiah. Kalau menurut orang bijak, sesuatu yang berharga cuma 10rp seharusnya ya dihargai 10rp saja, 'kan? --- In [email protected], Agung Bayu Purwoko wrote: > Kembali ke soal uang beredar, uang itu sebenarnya hanya alat bayar. > Namun berkembang jadi komoditas. Ditambah greedy, akhirnya > perkembangan pasar uang lebih pesat dari pasar barang yang pada > ujungnya menyebabkan inflasi. Kalo soal dijamin atau tidaknya dengan > emas, saya pikir sama aja tergantung perkembangan di belakangnya. Nah > kalo emas juga diperjualbelikan seperti pasar uang bagaimana? akhirnya > sama kan, terus Pak Nizami menyalahkan siapa?
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Apa iya tho mas? Bagaimana logikanya? Saya bukan tidak setuju kalau uang diganti dinar dan dirham, tapi kalau terus simplifikasi, ya nanti dulu. Kalau uang diganti dinar dan dirham. Saya masih boleh nggak menabung di bank? Boleh enggak ada rekening giro di bank? Boleh enggak bank menciptakan kredit? Lha kalau masih, uang giral kan masih eksis juga:-) Masalah multipier uang inti juga masih eksis. Jadi masalah Jumlah Uang Beredar yang tepat masih harus diperhatikan:-) Inflasi juga masih mungkin terjadi, hanya sekarang kenaikkan atau penurunan harganya sudah pakai dinar dan dirham. Intinya sekali lagi adalah kebijakan untuk menyeimbangkan sektor riil dan sektor moneter. Salam hangat B. Samparan --- On Mon, 3/2/09, Arif Muljadi wrote: > From: Arif Muljadi > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > To: [email protected] > Date: Monday, March 2, 2009, 11:04 AM > Kalau sistem moneternya memakai uang emas, saya pikir, tidak > akan ada > yang namanya "terlalu banyak uang beredar", > sehingga tidak perlu ada > penjualan SBI, ORI atau apapun namanya yang semacam itu. > > > --- In [email protected], Bango Samparan > wrote: > > > > Lha kalau uangnya diganti dirham dan dinar, SBI kan > juga bisa tetep > ada tho? Bunga (riba) juga bisa tetep ada? > > > > Dirham dan dinar memang bisa menyelesaikan masalah > instabilitas kurs > antar valas. Tapi kalau masalah inflasi dan riba, rasanya > tidak akan > langsung terlesaikan dengannya. > > > > Salam hangat > > B. Samparan > >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kalau sistem moneternya memakai uang emas, saya pikir, tidak akan ada yang namanya "terlalu banyak uang beredar", sehingga tidak perlu ada penjualan SBI, ORI atau apapun namanya yang semacam itu. --- In [email protected], Bango Samparan wrote: > > Lha kalau uangnya diganti dirham dan dinar, SBI kan juga bisa tetep ada tho? Bunga (riba) juga bisa tetep ada? > > Dirham dan dinar memang bisa menyelesaikan masalah instabilitas kurs antar valas. Tapi kalau masalah inflasi dan riba, rasanya tidak akan langsung terlesaikan dengannya. > > Salam hangat > B. Samparan >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Lha kalau uangnya diganti dirham dan dinar, SBI kan juga bisa tetep ada tho? Bunga (riba) juga bisa tetep ada? Dirham dan dinar memang bisa menyelesaikan masalah instabilitas kurs antar valas. Tapi kalau masalah inflasi dan riba, rasanya tidak akan langsung terlesaikan dengannya. Salam hangat B. Samparan
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Jitu sekali penalaran pak Nizami, bahwa SBI itu malah UJUNG2nya, menambah uang beredar karena bunga! Haaa, ini dekat dengan yang saya bidik (H2 dan H3). Tapi ini sendiri satu hal yang harus kita benar2 sadari, yakni the game of paper money! --- In [email protected], A Nizami wrote: > > Logikanya tidak terbalik. > Jangka pendek mungkin SBI menyerap uang. Uang beredar jadi sedikit. > Tapi jangka penjang, pengembalian+bunga SBI akan mengakibatkan penambahan jumlah uang beredar. > > Sebagai contoh jika bunga SBI 10%/tahun dan periode 4 tahun, maka dari 100 trilyun uang pokok yang diserap nanti harus dikembalikan sebesar Rp 146 trilyun (pokok+bunga). Akhirnya jumlah uang beredar lebih banyak dan mengakibatkan inflasi. > > Buktinya? > Dulu bakso cuma Rp 500 sepiring sekarang cuma Rp 7000. > Dulu naik bis cuma Rp 100 sekarang jadi Rp 2.000 > > Jadi SBI yang selama ini dipakai pemerintah akan selalu mengakibatkan inflasi karena dengan bunganya akan mengakibatkan uang beredar bertambah banyak. > > > === > > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > > Informasi selengkapnya ada di: > > http://www.media-islam.or.id > > Ingin belajar Islam? > > Kirim email ke: [email protected] > > --- Pada Rab, 25/2/09, Agung Bayu Purwoko menulis: > > Dari: Agung Bayu Purwoko > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > Kepada: [email protected] > Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 6:08 PM > > > > > > > > > > > > > Mau meluruskan aja kalo penerbitan SBI/ORI menyebabkan inflasi. > > Logikanya jadi terbalik pak, penerbitan SBI/ORI justru bersifat > > kontraktif, karena menarik uang beredar dari sistem ekonomi ke bank > > sentral/pemerintah. > > > > Nah pemerintah bikin jalan itu memang gak bikin untung pemerintah tapi > > bikin untung warganya. Gara2 ada jalan, ada aktivitas ekonomi, ada > > yang untung. Jadi logikanya jangan dibalik-balik. > > > > Kembali ke soal uang beredar, uang itu sebenarnya hanya alat bayar. > > Namun berkembang jadi komoditas. Ditambah greedy, akhirnya > > perkembangan pasar uang lebih pesat dari pasar barang yang pada > > ujungnya menyebabkan inflasi. Kalo soal dijamin atau tidaknya dengan > > emas, saya pikir sama aja tergantung perkembangan di belakangnya. Nah > > kalo emas juga diperjualbelikan seperti pasar uang bagaimana? akhirnya > > sama kan, terus Pak Nizami menyalahkan siapa? > > > > Setelah saya baca beberapa buku, kegagalan sistem fixed exchange rates > > dengan standar emas berdasarkan bretton woods agreement karena sistem > > fixed exchange rates tersebut tidak mengakomodasi pertumbuhan ekonomi > > yang mendorong permintaan uang. Pada saat dilakukan pegging, mungkin > > tidak masalah. Namun pada saat perkembangan ekonomi suatu negara > > berbeda, akhirnya membuat kurs pada saat peg tidak pas lagi. > > > > Akhirnya, sistem moneter itu sebenarnya memfasilitasi sektor riil. > > Segala macam barrier di sektor riil yang harus diselesaikan, bukan > > menyalahkan infrastrukturnya. > > > > On 2/26/09, A Nizami wrote: > > > Karena emas itu adalah benda berharga yang diakui secara universal dari > > > zaman dulu sampai sekarang. 1 gram emas di Indonesia harganya sekitar RP 300 > > > ribu. Nah di AS, Eropa, Afrika harganya juga akan berkisar seperti itu.. > > > Kalau ada satu negeri yang harga emasnya cuma Rp 50 ribu / gram, niscaya > > > akan diserbu oleh pedagang emas untuk dibeli. > > > > > > Dari Hadits Bukhari yang akurasinya diakui dinyatakan bahwa harga seekor > > > kambing adalah 1 dinar emas (4,25 gram emas 22 karat). Nah harganya sekarang > > > juga sekitar itu yaitu Rp 1,6 juta (lihat www.wakalanusantara .com). Ini > > > adalah bukti sejarah. > > > > > > Sebaliknya uang kertas yang tidak dijamin emas memang akan selalu mengalami > > > inflasi. Nilai 1 US$ pada tahun 1900 beda dengan Nilai sekarang. > > > > > > Nilai.rupiah tahun 1960 beda dengan sekarang. Saat itu orang digaji Rp > > > 10.000/bulan saja sudah senang betul. Sekarang digaji Rp 500 ribu saja > > > amit2...:) > > > > > > Karena kertas itu tidak ada harganya, maka nilai uang kertas itu tergantung > > > spekulasi pelaku pasar. Tidak jelas. Tahun 1970-an 1 USD=450. Sekarang 1 > > > USD=12.000. Itu nilainya terserah pasar. > > > > > > Dengan adanya SBI, setiap tahun jumlah uang bertambah = pokok+bunga SBI. > > > Belum lagi d
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Wah menarik nih Pak Agung. Mohon dijabarkan lebih jelas lagi dan kalau bisa pake istilah yang ga teknis ;) Maklum saya orang awam yang pingin mengerti ekonomi :) Pegging dan bretton wood agreements itu apa ya Pak? 2009/2/26 Agung Bayu Purwoko : > Mau meluruskan aja kalo penerbitan SBI/ORI menyebabkan inflasi. > Logikanya jadi terbalik pak, penerbitan SBI/ORI justru bersifat > kontraktif, karena menarik uang beredar dari sistem ekonomi ke bank > sentral/pemerintah. > > Nah pemerintah bikin jalan itu memang gak bikin untung pemerintah tapi > bikin untung warganya. Gara2 ada jalan, ada aktivitas ekonomi, ada > yang untung. Jadi logikanya jangan dibalik-balik. > > Kembali ke soal uang beredar, uang itu sebenarnya hanya alat bayar. > Namun berkembang jadi komoditas. Ditambah greedy, akhirnya > perkembangan pasar uang lebih pesat dari pasar barang yang pada > ujungnya menyebabkan inflasi. Kalo soal dijamin atau tidaknya dengan > emas, saya pikir sama aja tergantung perkembangan di belakangnya. Nah > kalo emas juga diperjualbelikan seperti pasar uang bagaimana? akhirnya > sama kan, terus Pak Nizami menyalahkan siapa? > > Setelah saya baca beberapa buku, kegagalan sistem fixed exchange rates > dengan standar emas berdasarkan bretton woods agreement karena sistem > fixed exchange rates tersebut tidak mengakomodasi pertumbuhan ekonomi > yang mendorong permintaan uang. Pada saat dilakukan pegging, mungkin > tidak masalah. Namun pada saat perkembangan ekonomi suatu negara > berbeda, akhirnya membuat kurs pada saat peg tidak pas lagi. > > Akhirnya, sistem moneter itu sebenarnya memfasilitasi sektor riil. > Segala macam barrier di sektor riil yang harus diselesaikan, bukan > menyalahkan infrastrukturnya. > > On 2/26/09, A Nizami wrote: >> Karena emas itu adalah benda berharga yang diakui secara universal dari >> zaman dulu sampai sekarang. 1 gram emas di Indonesia harganya sekitar RP >> 300 >> ribu. Nah di AS, Eropa, Afrika harganya juga akan berkisar seperti itu. >> Kalau ada satu negeri yang harga emasnya cuma Rp 50 ribu / gram, niscaya >> akan diserbu oleh pedagang emas untuk dibeli. >> >> Dari Hadits Bukhari yang akurasinya diakui dinyatakan bahwa harga seekor >> kambing adalah 1 dinar emas (4,25 gram emas 22 karat). Nah harganya >> sekarang >> juga sekitar itu yaitu Rp 1,6 juta (lihat www.wakalanusantara.com). Ini >> adalah bukti sejarah. >> >> Sebaliknya uang kertas yang tidak dijamin emas memang akan selalu >> mengalami >> inflasi. Nilai 1 US$ pada tahun 1900 beda dengan Nilai sekarang. >> >> Nilai.rupiah tahun 1960 beda dengan sekarang. Saat itu orang digaji Rp >> 10.000/bulan saja sudah senang betul. Sekarang digaji Rp 500 ribu saja >> amit2...:) >> >> Karena kertas itu tidak ada harganya, maka nilai uang kertas itu >> tergantung >> spekulasi pelaku pasar. Tidak jelas. Tahun 1970-an 1 USD=450. Sekarang 1 >> USD=12.000. Itu nilainya terserah pasar. >> >> Dengan adanya SBI, setiap tahun jumlah uang bertambah = pokok+bunga SBI. >> Belum lagi dari bunga ORI karena kalau pemerintah bikin jalan, dijamin itu >> tidak ada profitnya. Tapi pokok pinjaman beserta bunga diberikan pada >> pemegang ORI. Pertambahan jumlah rupiah yang lebih besar dari kebutuhan >> itu >> akhirnya mengakibatkan inflasi. >> >> === >> >> Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 >> >> ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 >> >> Informasi selengkapnya ada di: >> >> http://www.media-islam.or.id >> >> Ingin belajar Islam? >> >> Kirim email ke: [email protected] >> >> --- Pada Rab, 25/2/09, Irwansyah Irwansyah menulis: >> >> Dari: Irwansyah Irwansyah >> Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar >> Kepada: [email protected] >> Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 1:57 AM >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> Saya bukan ahli ekonomi mungkin bisa dijelaskan kenapa dengan >> emas >> >> kita bisa menghindari inflasi? >> >> >> >> 2009/2/25 Bango Samparan : >> >>> --- On Wed, 2/25/09, A Nizami wrote: >> >>> >> >>>> Mas Irwan, >> >>>> Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang >> >>>> kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan >> >>>> Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya >> >>>> tidak bernilai itu. >> >>> >> >>> Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. >>> Soal >&
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Logikanya tidak terbalik. Jangka pendek mungkin SBI menyerap uang. Uang beredar jadi sedikit. Tapi jangka penjang, pengembalian+bunga SBI akan mengakibatkan penambahan jumlah uang beredar. Sebagai contoh jika bunga SBI 10%/tahun dan periode 4 tahun, maka dari 100 trilyun uang pokok yang diserap nanti harus dikembalikan sebesar Rp 146 trilyun (pokok+bunga). Akhirnya jumlah uang beredar lebih banyak dan mengakibatkan inflasi. Buktinya? Dulu bakso cuma Rp 500 sepiring sekarang cuma Rp 7000. Dulu naik bis cuma Rp 100 sekarang jadi Rp 2.000 Jadi SBI yang selama ini dipakai pemerintah akan selalu mengakibatkan inflasi karena dengan bunganya akan mengakibatkan uang beredar bertambah banyak. === Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam? Kirim email ke: [email protected] --- Pada Rab, 25/2/09, Agung Bayu Purwoko menulis: Dari: Agung Bayu Purwoko Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 6:08 PM Mau meluruskan aja kalo penerbitan SBI/ORI menyebabkan inflasi. Logikanya jadi terbalik pak, penerbitan SBI/ORI justru bersifat kontraktif, karena menarik uang beredar dari sistem ekonomi ke bank sentral/pemerintah. Nah pemerintah bikin jalan itu memang gak bikin untung pemerintah tapi bikin untung warganya. Gara2 ada jalan, ada aktivitas ekonomi, ada yang untung. Jadi logikanya jangan dibalik-balik. Kembali ke soal uang beredar, uang itu sebenarnya hanya alat bayar. Namun berkembang jadi komoditas. Ditambah greedy, akhirnya perkembangan pasar uang lebih pesat dari pasar barang yang pada ujungnya menyebabkan inflasi. Kalo soal dijamin atau tidaknya dengan emas, saya pikir sama aja tergantung perkembangan di belakangnya. Nah kalo emas juga diperjualbelikan seperti pasar uang bagaimana? akhirnya sama kan, terus Pak Nizami menyalahkan siapa? Setelah saya baca beberapa buku, kegagalan sistem fixed exchange rates dengan standar emas berdasarkan bretton woods agreement karena sistem fixed exchange rates tersebut tidak mengakomodasi pertumbuhan ekonomi yang mendorong permintaan uang. Pada saat dilakukan pegging, mungkin tidak masalah. Namun pada saat perkembangan ekonomi suatu negara berbeda, akhirnya membuat kurs pada saat peg tidak pas lagi. Akhirnya, sistem moneter itu sebenarnya memfasilitasi sektor riil. Segala macam barrier di sektor riil yang harus diselesaikan, bukan menyalahkan infrastrukturnya. On 2/26/09, A Nizami wrote: > Karena emas itu adalah benda berharga yang diakui secara universal dari > zaman dulu sampai sekarang. 1 gram emas di Indonesia harganya sekitar RP 300 > ribu. Nah di AS, Eropa, Afrika harganya juga akan berkisar seperti itu.. > Kalau ada satu negeri yang harga emasnya cuma Rp 50 ribu / gram, niscaya > akan diserbu oleh pedagang emas untuk dibeli. > > Dari Hadits Bukhari yang akurasinya diakui dinyatakan bahwa harga seekor > kambing adalah 1 dinar emas (4,25 gram emas 22 karat). Nah harganya sekarang > juga sekitar itu yaitu Rp 1,6 juta (lihat www.wakalanusantara .com). Ini > adalah bukti sejarah. > > Sebaliknya uang kertas yang tidak dijamin emas memang akan selalu mengalami > inflasi. Nilai 1 US$ pada tahun 1900 beda dengan Nilai sekarang. > > Nilai.rupiah tahun 1960 beda dengan sekarang. Saat itu orang digaji Rp > 10.000/bulan saja sudah senang betul. Sekarang digaji Rp 500 ribu saja > amit2...:) > > Karena kertas itu tidak ada harganya, maka nilai uang kertas itu tergantung > spekulasi pelaku pasar. Tidak jelas. Tahun 1970-an 1 USD=450. Sekarang 1 > USD=12.000. Itu nilainya terserah pasar. > > Dengan adanya SBI, setiap tahun jumlah uang bertambah = pokok+bunga SBI. > Belum lagi dari bunga ORI karena kalau pemerintah bikin jalan, dijamin itu > tidak ada profitnya. Tapi pokok pinjaman beserta bunga diberikan pada > pemegang ORI. Pertambahan jumlah rupiah yang lebih besar dari kebutuhan itu > akhirnya mengakibatkan inflasi. > > === > > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > > Informasi selengkapnya ada di: > > http://www.media- islam.or. id > > Ingin belajar Islam? > > Kirim email ke: syiar-islam- subscribe@ yahoogroups. com > > --- Pada Rab, 25/2/09, Irwansyah Irwansyah menulis: > > Dari: Irwansyah Irwansyah > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > Kepada: ekonomi-nasional@ yahoogroups. com > Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 1:57 AM > > > > > > > > > > > > > Saya bukan ahli ekonomi mungkin bisa dijelaskan kenapa dengan > emas > > kita bisa menghindari inflasi? > > > >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Mau meluruskan aja kalo penerbitan SBI/ORI menyebabkan inflasi. Logikanya jadi terbalik pak, penerbitan SBI/ORI justru bersifat kontraktif, karena menarik uang beredar dari sistem ekonomi ke bank sentral/pemerintah. Nah pemerintah bikin jalan itu memang gak bikin untung pemerintah tapi bikin untung warganya. Gara2 ada jalan, ada aktivitas ekonomi, ada yang untung. Jadi logikanya jangan dibalik-balik. Kembali ke soal uang beredar, uang itu sebenarnya hanya alat bayar. Namun berkembang jadi komoditas. Ditambah greedy, akhirnya perkembangan pasar uang lebih pesat dari pasar barang yang pada ujungnya menyebabkan inflasi. Kalo soal dijamin atau tidaknya dengan emas, saya pikir sama aja tergantung perkembangan di belakangnya. Nah kalo emas juga diperjualbelikan seperti pasar uang bagaimana? akhirnya sama kan, terus Pak Nizami menyalahkan siapa? Setelah saya baca beberapa buku, kegagalan sistem fixed exchange rates dengan standar emas berdasarkan bretton woods agreement karena sistem fixed exchange rates tersebut tidak mengakomodasi pertumbuhan ekonomi yang mendorong permintaan uang. Pada saat dilakukan pegging, mungkin tidak masalah. Namun pada saat perkembangan ekonomi suatu negara berbeda, akhirnya membuat kurs pada saat peg tidak pas lagi. Akhirnya, sistem moneter itu sebenarnya memfasilitasi sektor riil. Segala macam barrier di sektor riil yang harus diselesaikan, bukan menyalahkan infrastrukturnya. On 2/26/09, A Nizami wrote: > Karena emas itu adalah benda berharga yang diakui secara universal dari > zaman dulu sampai sekarang. 1 gram emas di Indonesia harganya sekitar RP 300 > ribu. Nah di AS, Eropa, Afrika harganya juga akan berkisar seperti itu. > Kalau ada satu negeri yang harga emasnya cuma Rp 50 ribu / gram, niscaya > akan diserbu oleh pedagang emas untuk dibeli. > > Dari Hadits Bukhari yang akurasinya diakui dinyatakan bahwa harga seekor > kambing adalah 1 dinar emas (4,25 gram emas 22 karat). Nah harganya sekarang > juga sekitar itu yaitu Rp 1,6 juta (lihat www.wakalanusantara.com). Ini > adalah bukti sejarah. > > Sebaliknya uang kertas yang tidak dijamin emas memang akan selalu mengalami > inflasi. Nilai 1 US$ pada tahun 1900 beda dengan Nilai sekarang. > > Nilai.rupiah tahun 1960 beda dengan sekarang. Saat itu orang digaji Rp > 10.000/bulan saja sudah senang betul. Sekarang digaji Rp 500 ribu saja > amit2...:) > > Karena kertas itu tidak ada harganya, maka nilai uang kertas itu tergantung > spekulasi pelaku pasar. Tidak jelas. Tahun 1970-an 1 USD=450. Sekarang 1 > USD=12.000. Itu nilainya terserah pasar. > > Dengan adanya SBI, setiap tahun jumlah uang bertambah = pokok+bunga SBI. > Belum lagi dari bunga ORI karena kalau pemerintah bikin jalan, dijamin itu > tidak ada profitnya. Tapi pokok pinjaman beserta bunga diberikan pada > pemegang ORI. Pertambahan jumlah rupiah yang lebih besar dari kebutuhan itu > akhirnya mengakibatkan inflasi. > > === > > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > > Informasi selengkapnya ada di: > > http://www.media-islam.or.id > > Ingin belajar Islam? > > Kirim email ke: [email protected] > > --- Pada Rab, 25/2/09, Irwansyah Irwansyah menulis: > > Dari: Irwansyah Irwansyah > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > Kepada: [email protected] > Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 1:57 AM > > > > > > > > > > > > > Saya bukan ahli ekonomi mungkin bisa dijelaskan kenapa dengan > emas > > kita bisa menghindari inflasi? > > > > 2009/2/25 Bango Samparan : > >> --- On Wed, 2/25/09, A Nizami wrote: > >> > >>> Mas Irwan, > >>> Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang > >>> kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan > >>> Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya > >>> tidak bernilai itu. > >> > >> Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. >> Soal > >> bunga itu tidak hanya terjadi pada kasus uang kertas. Jika sistem >> monoternya > >> memakai gold standar-pun tetap bisa terjadi bunga (riba). > >> > >> Sekali lagi mohon maaf, kalau solusi Islam itu ditawarkan secara kurang > >> komprehensif, malahan akan membuat yang mendengar skeptis. > >> > >> Uang kertas, merujuk kepada perkataan Umar, mungkin (boleh) dipakai juga > >> kok. Saya bisa merujukkan buku yang menyebutkan hal ini. > >> > >> Seperti persoalan inflasi, misalnya, akar penyakitnya sebenarnya bukan >> pada > >> fiat standar, tapi justru terletak pada ketidaksempurnaan pasar, pasar > >> cenderung menuju ke monopoli atau
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Karena emas itu adalah benda berharga yang diakui secara universal dari zaman dulu sampai sekarang. 1 gram emas di Indonesia harganya sekitar RP 300 ribu. Nah di AS, Eropa, Afrika harganya juga akan berkisar seperti itu. Kalau ada satu negeri yang harga emasnya cuma Rp 50 ribu / gram, niscaya akan diserbu oleh pedagang emas untuk dibeli. Dari Hadits Bukhari yang akurasinya diakui dinyatakan bahwa harga seekor kambing adalah 1 dinar emas (4,25 gram emas 22 karat). Nah harganya sekarang juga sekitar itu yaitu Rp 1,6 juta (lihat www.wakalanusantara.com). Ini adalah bukti sejarah. Sebaliknya uang kertas yang tidak dijamin emas memang akan selalu mengalami inflasi. Nilai 1 US$ pada tahun 1900 beda dengan Nilai sekarang. Nilai.rupiah tahun 1960 beda dengan sekarang. Saat itu orang digaji Rp 10.000/bulan saja sudah senang betul. Sekarang digaji Rp 500 ribu saja amit2...:) Karena kertas itu tidak ada harganya, maka nilai uang kertas itu tergantung spekulasi pelaku pasar. Tidak jelas. Tahun 1970-an 1 USD=450. Sekarang 1 USD=12.000. Itu nilainya terserah pasar. Dengan adanya SBI, setiap tahun jumlah uang bertambah = pokok+bunga SBI. Belum lagi dari bunga ORI karena kalau pemerintah bikin jalan, dijamin itu tidak ada profitnya. Tapi pokok pinjaman beserta bunga diberikan pada pemegang ORI. Pertambahan jumlah rupiah yang lebih besar dari kebutuhan itu akhirnya mengakibatkan inflasi. === Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam? Kirim email ke: [email protected] --- Pada Rab, 25/2/09, Irwansyah Irwansyah menulis: Dari: Irwansyah Irwansyah Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 1:57 AM Saya bukan ahli ekonomi mungkin bisa dijelaskan kenapa dengan emas kita bisa menghindari inflasi? 2009/2/25 Bango Samparan : > --- On Wed, 2/25/09, A Nizami wrote: > >> Mas Irwan, >> Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang >> kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan >> Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya >> tidak bernilai itu. > > Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. Soal > bunga itu tidak hanya terjadi pada kasus uang kertas. Jika sistem monoternya > memakai gold standar-pun tetap bisa terjadi bunga (riba). > > Sekali lagi mohon maaf, kalau solusi Islam itu ditawarkan secara kurang > komprehensif, malahan akan membuat yang mendengar skeptis. > > Uang kertas, merujuk kepada perkataan Umar, mungkin (boleh) dipakai juga > kok. Saya bisa merujukkan buku yang menyebutkan hal ini. > > Seperti persoalan inflasi, misalnya, akar penyakitnya sebenarnya bukan pada > fiat standar, tapi justru terletak pada ketidaksempurnaan pasar, pasar > cenderung menuju ke monopoli atau sudah monopoli. Akar masalah yang lain > adalah motif ribawi yang banyak melahirkan ketidakseimbangan antara sektor > riil dan sektor moneter (ketidakseimbangan antara permintaan agregat dan > penawaran agregat.) > > Soal inflasi sendiri, tidak selalu ditembak dengan solusi gold standar, bisa > juga melalui indeksasi (lihat Capra, Toward a Just Monetery System). > > Salam hangat > B. Samparan > > -- It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change. (Charles Darwin) Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Saya bukan ahli ekonomi mungkin bisa dijelaskan kenapa dengan emas kita bisa menghindari inflasi? 2009/2/25 Bango Samparan : > --- On Wed, 2/25/09, A Nizami wrote: > >> Mas Irwan, >> Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang >> kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan >> Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya >> tidak bernilai itu. > > Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. Soal > bunga itu tidak hanya terjadi pada kasus uang kertas. Jika sistem monoternya > memakai gold standar-pun tetap bisa terjadi bunga (riba). > > Sekali lagi mohon maaf, kalau solusi Islam itu ditawarkan secara kurang > komprehensif, malahan akan membuat yang mendengar skeptis. > > Uang kertas, merujuk kepada perkataan Umar, mungkin (boleh) dipakai juga > kok. Saya bisa merujukkan buku yang menyebutkan hal ini. > > Seperti persoalan inflasi, misalnya, akar penyakitnya sebenarnya bukan pada > fiat standar, tapi justru terletak pada ketidaksempurnaan pasar, pasar > cenderung menuju ke monopoli atau sudah monopoli. Akar masalah yang lain > adalah motif ribawi yang banyak melahirkan ketidakseimbangan antara sektor > riil dan sektor moneter (ketidakseimbangan antara permintaan agregat dan > penawaran agregat.) > > Soal inflasi sendiri, tidak selalu ditembak dengan solusi gold standar, bisa > juga melalui indeksasi (lihat Capra, Toward a Just Monetery System). > > Salam hangat > B. Samparan > > -- It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change. (Charles Darwin)
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Setuju Pak Bango,hubungan uang beredar dan inflasi itu sebenarnya hubungan jangka panjang. Sementara untuk jangka pendek, faktor non moneter seperti struktur pasar dan infrastruktur sangat mempengaruhi pembentukan harga yang pada ujungnya mempengaruhi inflasi. Dan kembali pada faktor perilaku konsumsi masyarakat yang impor minded mengakibatkan ketidakseimbangan pasokan valas yang akhirnya berujung pada inflasi yang bersumber dari impor (imported inflation). 2009/2/25 Bango Samparan > --- On Wed, 2/25/09, A Nizami > > wrote: > > > Mas Irwan, > > Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang > > kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan > > Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya > > tidak bernilai itu. > > Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. Soal > bunga itu tidak hanya terjadi pada kasus uang kertas. Jika sistem monoternya > memakai gold standar-pun tetap bisa terjadi bunga (riba). > > Sekali lagi mohon maaf, kalau solusi Islam itu ditawarkan secara kurang > komprehensif, malahan akan membuat yang mendengar skeptis. > > Uang kertas, merujuk kepada perkataan Umar, mungkin (boleh) dipakai juga > kok. Saya bisa merujukkan buku yang menyebutkan hal ini. > > Seperti persoalan inflasi, misalnya, akar penyakitnya sebenarnya bukan pada > fiat standar, tapi justru terletak pada ketidaksempurnaan pasar, pasar > cenderung menuju ke monopoli atau sudah monopoli. Akar masalah yang lain > adalah motif ribawi yang banyak melahirkan ketidakseimbangan antara sektor > riil dan sektor moneter (ketidakseimbangan antara permintaan agregat dan > penawaran agregat.) > > Soal inflasi sendiri, tidak selalu ditembak dengan solusi gold standar, > bisa juga melalui indeksasi (lihat Capra, Toward a Just Monetery System). > > Salam hangat > B. Samparan > > > -- Agung Bayu Purwoko Economic Research Group Bank Indonesia Padang [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
--- On Wed, 2/25/09, A Nizami wrote: > Mas Irwan, > Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang > kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan > Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya > tidak bernilai itu. Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. Soal bunga itu tidak hanya terjadi pada kasus uang kertas. Jika sistem monoternya memakai gold standar-pun tetap bisa terjadi bunga (riba). Sekali lagi mohon maaf, kalau solusi Islam itu ditawarkan secara kurang komprehensif, malahan akan membuat yang mendengar skeptis. Uang kertas, merujuk kepada perkataan Umar, mungkin (boleh) dipakai juga kok. Saya bisa merujukkan buku yang menyebutkan hal ini. Seperti persoalan inflasi, misalnya, akar penyakitnya sebenarnya bukan pada fiat standar, tapi justru terletak pada ketidaksempurnaan pasar, pasar cenderung menuju ke monopoli atau sudah monopoli. Akar masalah yang lain adalah motif ribawi yang banyak melahirkan ketidakseimbangan antara sektor riil dan sektor moneter (ketidakseimbangan antara permintaan agregat dan penawaran agregat.) Soal inflasi sendiri, tidak selalu ditembak dengan solusi gold standar, bisa juga melalui indeksasi (lihat Capra, Toward a Just Monetery System). Salam hangat B. Samparan
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Iya betul, konteksnya adalah pengedaran uang kartal. Ada tiga hal yang sebenarnya ingin saya bidik, yaitu: [H1] nilai atau "kekayaan" yang dimiliki atau "dibawa" oleh setiap lembar uang, termasuk asal muasalnya. [H2] beban bunga yang diakibatkan karena memiliki/memegang selembar uang. [H3] sebuah lingkaran "setan" akibat beban bunga ini. Jadi, rangkumannya sejauh ini adalah: [L10] Kertas dicetak menjadi uang oleh perusahaan cetak uang. [L20] Uang yang baru dicetak ini dikirim ke BI (secara fisik atau mungkin secara "administratif"/pencatatan saja). [L30] Uang diambil oleh bank-bank kemudian diedarkan kepada masyarakat, melalui teller atau ATM. L30 ini sangat mengherankan. Dalam konteks H1, selembar kertas yang berharga mungkin beberapa rupiah dengan proses cetak yang menelan ongkos beberapa rupiah juga, yakni nilai intrinsik uang kertas ini sebenarnya cuma katakanlah 10 rupiah, lalu dicetak angka 10 (100R), lantas "tiba2" berharga 100R rupiah? Yakni selembar kertas yang semula berharga 10 rp, tiba2 nilainya disamakan dengan sepasang sepatu misalnya. Yakni, usaha untuk membuat selembar uang itu yang biaya totalnya cuma 10 rp, tiba2 disamakan dengan usaha menghasilkan sepasang sepatu ber"nilai" 10R kalinya. Ini tentu tidak adil. Kita selangkah demi selangkah saja ya. Setahu saya, masalah uang kertas dan nilainya ini berbelit-belit, sehingga kalau tidak selangkah demi selangkah saya takut diskusi juga menjadi berbelit-belit tidak berujung pangkal. Sementara itu saya percaya, atau secara intuisi berpendapat, berbelit-belit ini tidak akan terjadi dengan jenis uang penuh (emas, perak, dst). Terima kasih. --- In [email protected], "Agung Bayu Purwoko" wrote: > > > Kalo berbicara konteks ini sebenarnya dalam kerangka pengedaran uang kartal ya, tidak termasuk uang giral. Pengambilan uang oleh bank untuk operasional bank seperti transaksi harian melalui teller atau mengisi ATM. > Sebenarnya pertanyaannya dalam konteks apa ya? Yang saya tangkap dari awal adalah pengedaran uang secara kartal (setelah BI cetak uang), tidak termasuk pengedaran uang secara total (m1, m2, m3). > Sent from my CurveBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -Original Message- > From: "Arif Muljadi" > > Date: Tue, 24 Feb 2009 06:28:51 > To: > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > > (Sebenarnya saya sudah balas posting pak Agung ini, rupanya ke jaring > filter, karena salah format penulisan). > > Apa yang mengontrol pengambilan uang dari BI oleh bank-bank? Apakah > kriteria "sesuai kebutuhan" ini? > > > --- In [email protected], "Agung Bayu Purwoko" > wrote: > > > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan bunga Pak. Bank-bank melakukan > pengambilan uang atau penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. > > > > Sent from my CurveBerry® > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > > > -Original Message- > > From: "Arif Muljadi" > > > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 > > To: > > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > > > > Salam, > > > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang yang > > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan dalam > > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu sendiri rumit), > > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk menghindari > > sebanyak mungkin kesalahpahaman. > > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini diedarkan. > > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai bunga? > > > > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya. > > > > Arif > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
ned by law. Until the 19th century, most countries of the world maintained a bimetallic monetary system. The widespread adoption of the gold standard during the second half of the 19th century was largely a result of the Industrial Revolution, which brought about a vast increase in the production of goods and widened the basis of world trade. The countries that adopted the gold standard had three principal aims: to facilitate the settlement of international commercial and financial transactions; to establish stability in foreign exchange rates; and to maintain domestic monetary stability. They believed these aims could best be accomplished by having a single standard of universal validity and relative stability; hence the gold standard is sometimes called the single gold standard. The first country to go on the gold standard was Britain, in 1816. The United States made the change in 1873, and most other countries followed suit by 1900. With some exceptions, the prevalence of the gold standard lasted until the economic crisis of 1929 and the ensuing depression. Between 1931 and 1934, the governments of virtually all countries found it expedient or necessary to abandon the gold standard. This policy was partly motivated by the belief that the exports of a country could be stimulated by devaluating its currency in terms of foreign exchange. In time, however, the advantage thus gained was offset as other countries also abandoned the gold standard. In the U.S., a policy of devaluation of the currency was initiated by President Franklin D. Roosevelt. Shortly after his inauguration in April 1933, the U.S. went off the full gold standard in favor of the “modified gold bullion standard.” Under this system, the circulation of gold coins is prohibited by law, but gold is still used in defining the value of the dollar, then set at 1/35 of an ounce of gold. In 1971 the U.S. suspended the free exchange of U.S. gold for foreign-held dollars and then devalued the dollar to 1/38 and in 1973 to 1/42.22 of an ounce of gold. In 1975 the role of gold was further diminished when the U.S. government began to sell some of its holdings on the open market, making gold more of a commodity than a standard in the international monetary system. In 1978, in conjunction with reforms made by the International Monetary Fund, Congress formally removed the U.S. from the gold standard on an international basis. At the end of the decade no major currency was redeemable in gold. === Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam? Kirim email ke: [email protected] --- Pada Sen, 23/2/09, Irwansyah Irwansyah menulis: Dari: Irwansyah Irwansyah Topik: Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 23 Februari, 2009, 10:30 PM Kalau memang benar klaimnya, lalu kenapa yang dipake bukan mas dinar tapi kertas? On Tue, Feb 24, 2009 at 7:09 AM, A Nizami wrote: > "Main Cetak" sepertinya kasar. Tapi anjloknya nilai uang/inflasi > menunjukkan itu. > > Bahkan US Dollar pun mengalami penurunan. > Coba lihat di: > http://en.wikipedia .org/wiki/ United_States_ dollar > > Di situ nilai US$ dibandingkan dengan nilai 1 US$ pada tahun 1980 > (berdasarkan daya beli dollar terhadap barang2 kebutuhan pokok). > Tahun Nilai > 1900 $10.12 > 1980 $1.00 > 2008 $0.38 > > Dulu dollar dipatok terhadap emas dan perak (nilainya relatif thd gram > emas). Namun sekarang dilepas jadi FIAT MONEY. Oleh karena itu tidak > ada yang bisa mengontrol/mengawas i berapa dollar yang dicetak The Fed.. > > Coba baca artikel tentang uang kertas dan dinar emas di > www.wakalanusantara .com > > Mungkin sebagian besar ekonom yang terdidik dengan ekonomi Barat > (meski sekarang gagal total) agak meremehkannya. Namun emas dan perak > yang dijadikan mata uang dinar emas dan dirham perak (di mana dulu > mata uang dollar juga dipatok dgn nilai emas/perak) ternyata stabil > Ratenya: > 1 Dinar (Emas) > Rp. 1.607.502,- > > 1 Dirham (Perak) > Rp. 40.272,- > > Nah di Buku Hadits Bukhari disebut sahabat Nabi menjual seekor kambing > dengan harga 1 dinar. Ternyata sekarang harganya juga sekitar itu. > Artinya nilai Stabil. > > Dalam Al Qur'an, surat Ashabul Kahfi diceritakan seorang penghuni gua > disuruh membawa beberapa dirham (sekitar 3 dirham) untuk beli makanan > bagi 5 orang teman2nya atau sekarang sekitar Rp 120 ribu. Nah ternyata > untuk makan berlima kita perlu uang sekitar itu juga. > > Artinya dalam rentang 1.400 tahun bahkan untuk kasus Ashabul Kahfi > mungkin 2.000 tahun lebih, ternyata "inflasi" mata uang emas dan perak > tsb
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kalo berbicara konteks ini sebenarnya dalam kerangka pengedaran uang kartal ya, tidak termasuk uang giral. Pengambilan uang oleh bank untuk operasional bank seperti transaksi harian melalui teller atau mengisi ATM. Sebenarnya pertanyaannya dalam konteks apa ya? Yang saya tangkap dari awal adalah pengedaran uang secara kartal (setelah BI cetak uang), tidak termasuk pengedaran uang secara total (m1, m2, m3). Sent from my CurveBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -Original Message- From: "Arif Muljadi" Date: Tue, 24 Feb 2009 06:28:51 To: Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar (Sebenarnya saya sudah balas posting pak Agung ini, rupanya ke jaring filter, karena salah format penulisan). Apa yang mengontrol pengambilan uang dari BI oleh bank-bank? Apakah kriteria "sesuai kebutuhan" ini? --- In [email protected], "Agung Bayu Purwoko" wrote: > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan bunga Pak. Bank-bank melakukan pengambilan uang atau penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. > > Sent from my CurveBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -Original Message- > From: "Arif Muljadi" > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 > To: > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > Salam, > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang yang > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan dalam > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu sendiri rumit), > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk menghindari > sebanyak mungkin kesalahpahaman. > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini diedarkan. > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai bunga? > > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya. > > Arif > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? Kirim email ke [email protected] http://capresindonesia.wordpress.com http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kalau saya pikir, uang emas, perak, tembaga, aluminium atau uang penuh (yakni uang dengan nilai instrinsik yang sama dengan nilai nominalnya)lainnya adalah yang ideal. Saya juga yakin, kalau pakai uang penuh, tidak bakalan ada inflasi. Tapi, sudah adakah studi yang membuktikan ini? --- In [email protected], "A Nizami" wrote: > > "Main Cetak" sepertinya kasar. Tapi anjloknya nilai uang/inflasi > menunjukkan itu. > > Bahkan US Dollar pun mengalami penurunan. > Coba lihat di: > http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_dollar > > Di situ nilai US$ dibandingkan dengan nilai 1 US$ pada tahun 1980 > (berdasarkan daya beli dollar terhadap barang2 kebutuhan pokok). > Tahun Nilai > 1900 $10.12 > 1980 $1.00 > 2008 $0.38 > > Dulu dollar dipatok terhadap emas dan perak (nilainya relatif thd gram > emas). Namun sekarang dilepas jadi FIAT MONEY. Oleh karena itu tidak > ada yang bisa mengontrol/mengawasi berapa dollar yang dicetak The Fed. > > Coba baca artikel tentang uang kertas dan dinar emas di > www.wakalanusantara.com > > Mungkin sebagian besar ekonom yang terdidik dengan ekonomi Barat > (meski sekarang gagal total) agak meremehkannya. Namun emas dan perak > yang dijadikan mata uang dinar emas dan dirham perak (di mana dulu > mata uang dollar juga dipatok dgn nilai emas/perak) ternyata stabil > Ratenya: > 1 Dinar (Emas) > Rp. 1.607.502,- > > 1 Dirham (Perak) > Rp. 40.272,- > > Nah di Buku Hadits Bukhari disebut sahabat Nabi menjual seekor kambing > dengan harga 1 dinar. Ternyata sekarang harganya juga sekitar itu. > Artinya nilai Stabil. > > Dalam Al Qur'an, surat Ashabul Kahfi diceritakan seorang penghuni gua > disuruh membawa beberapa dirham (sekitar 3 dirham) untuk beli makanan > bagi 5 orang teman2nya atau sekarang sekitar Rp 120 ribu. Nah ternyata > untuk makan berlima kita perlu uang sekitar itu juga. > > Artinya dalam rentang 1.400 tahun bahkan untuk kasus Ashabul Kahfi > mungkin 2.000 tahun lebih, ternyata "inflasi" mata uang emas dan perak > tsb relatif kecil. > > November 2008 1 dinar masih Rp 1,2 juta. Sekarang Februari jadi Rp 1,6 > juta. > > Kalau saya dipilih mau digaji 10 dinar atau Rp 20 juta, maka saya > pilih gaji 10 dinar. Karena 20 tahun lagi pun nilainya akan sama. > Sementara rupiah bisa jadi nilainya susut tinggal Rp 2 juta. > > Sebetulnya mata uang dinar atau patokan UMR memakai dinar/emas bisa > jadi solusi yang bagus untuk menghindari pemiskinan masal karena > nilainya tetap. Kalau pakai rupiah nilainya turun terus dan kalau > protes sampai ludah kering pun belum tentu kenaikannya sesuai dengan > besar inflasi. >
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kalau memang benar klaimnya, lalu kenapa yang dipake bukan mas dinar tapi kertas? On Tue, Feb 24, 2009 at 7:09 AM, A Nizami wrote: > "Main Cetak" sepertinya kasar. Tapi anjloknya nilai uang/inflasi > menunjukkan itu. > > Bahkan US Dollar pun mengalami penurunan. > Coba lihat di: > http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_dollar > > Di situ nilai US$ dibandingkan dengan nilai 1 US$ pada tahun 1980 > (berdasarkan daya beli dollar terhadap barang2 kebutuhan pokok). > Tahun Nilai > 1900 $10.12 > 1980 $1.00 > 2008 $0.38 > > Dulu dollar dipatok terhadap emas dan perak (nilainya relatif thd gram > emas). Namun sekarang dilepas jadi FIAT MONEY. Oleh karena itu tidak > ada yang bisa mengontrol/mengawasi berapa dollar yang dicetak The Fed. > > Coba baca artikel tentang uang kertas dan dinar emas di > www.wakalanusantara.com > > Mungkin sebagian besar ekonom yang terdidik dengan ekonomi Barat > (meski sekarang gagal total) agak meremehkannya. Namun emas dan perak > yang dijadikan mata uang dinar emas dan dirham perak (di mana dulu > mata uang dollar juga dipatok dgn nilai emas/perak) ternyata stabil > Ratenya: > 1 Dinar (Emas) > Rp. 1.607.502,- > > 1 Dirham (Perak) > Rp. 40.272,- > > Nah di Buku Hadits Bukhari disebut sahabat Nabi menjual seekor kambing > dengan harga 1 dinar. Ternyata sekarang harganya juga sekitar itu. > Artinya nilai Stabil. > > Dalam Al Qur'an, surat Ashabul Kahfi diceritakan seorang penghuni gua > disuruh membawa beberapa dirham (sekitar 3 dirham) untuk beli makanan > bagi 5 orang teman2nya atau sekarang sekitar Rp 120 ribu. Nah ternyata > untuk makan berlima kita perlu uang sekitar itu juga. > > Artinya dalam rentang 1.400 tahun bahkan untuk kasus Ashabul Kahfi > mungkin 2.000 tahun lebih, ternyata "inflasi" mata uang emas dan perak > tsb relatif kecil. > > November 2008 1 dinar masih Rp 1,2 juta. Sekarang Februari jadi Rp 1,6 > juta. > > Kalau saya dipilih mau digaji 10 dinar atau Rp 20 juta, maka saya > pilih gaji 10 dinar. Karena 20 tahun lagi pun nilainya akan sama. > Sementara rupiah bisa jadi nilainya susut tinggal Rp 2 juta. > > Sebetulnya mata uang dinar atau patokan UMR memakai dinar/emas bisa > jadi solusi yang bagus untuk menghindari pemiskinan masal karena > nilainya tetap. Kalau pakai rupiah nilainya turun terus dan kalau > protes sampai ludah kering pun belum tentu kenaikannya sesuai dengan > besar inflasi. > > --- In [email protected], "Arif Muljadi" > wrote: > >> >> Kalau memang BI main cetak uang untuk bayar bunga, ya memang tidak >> mengherankan, kalau RP terus turun harganya, sekarang sudah stabil >> anjlok di hampir 12000/USD. Apakah bank2 sentral lain di dunia juga >> melakukan hal seperti ini? >> >> >> --- In [email protected], A Nizami wrote: >> > >> > >> > Untuk mengontrol uang beredar, sering BI/Pemerintah menerbitkan SBI >> (Sertifikat Bank Indonesia) atau ORI (Obligasi RI) yang ujung2nya >> memberi bunga (ada rate BI untuk SBI sekitar 7-10%/tahun). >> > >> > Nah karena umumnya uang yang disedot via SBI/ORI itu jarang dipakai >> untuk hal yang produktif dan menghasilkan profit/keuntungan, maka >> dicetaklah lebih banyak urang untuk membayar pokok pinjaman+bunga. >> > >> > Tak heran hasilnya adalah inflasi dan turunnya nilai mata uang >> rupiah dari tahun ke tahun (coba bandingkan dgn nilai emas). >> > >> > Apalagi dengan rencana kenaikan gaji PNS dsb, dipastikan akan lebih >> banyak uang rupiah dicetak. >> > >> > Sebagai contoh November lalu kurus 1 dinar emas terhadap rupiah >> sekitar Rp 1,2 juta. Sekarang sekitar Rp 1,6 juta (lihat di >> www.wakalanusantara.com) >> > >> > === >> > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 >> > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 >> > Informasi selengkapnya ada di: >> > http://www.media-islam.or.id >> > Ingin belajar Islam? >> > Kirim email ke: [email protected] >> > >> > >> > --- Pada Sen, 23/2/09, Agung Bayu Purwoko menulis: >> > >> > > Dari: Agung Bayu Purwoko >> > > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar >> > > Kepada: [email protected] >> > > Tanggal: Senin, 23 Februari, 2009, 7:33 PM >> > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan >> > > bunga Pak. Bank-bank melakukan pengambilan uang atau >> > > penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. >> > > >> > > Sent from my CurveBerry® >> > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT >> > > >> > > -Original Message- >> > > From: "Arif Muljadi" >> > > >> > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 >> > > To: >> > > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar >> > > >> > > >> > > Salam, >> > > >> > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang >> > > yang >> > > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan >> > > dalam >> > > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu >> > > sendiri rumit), >> > > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk >> > > menghindari >> > > sebanyak mungkin kesalahpahaman. >> > > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini >> > > d
Re: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Mas Arif, BI itu gak sembarangan cetak uang untuk bayar bunga. Kalo gitu mah gak perlu analisis susah2 :). Untuk membayar bunga SBI sebagai biaya operasi moneter, BI memperoleh pendapatan dari pengelolaan devisa yang dikuasai BI. Silakan pelajari struktur pendapatan dan biaya BI di http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Laporan+Tahunan/Laporan+Tahunan+BI/lktbi_07.htm Nah Bunga SBI itu adalah implikasi dari arah kebijakan moneter yang dipilih BI. BI menggunakan inflation targeting framework dalam menentukan kebijakannya. Sederhananya, inflasi menjadi tujuan kebijakan moneter BI. Kalo BI memandang inflasi meningkat, maka BI akan meningkatkan suku bunga, demikian sebaliknya. Lalu mas Arif menghubungkan cetak uang dan nilai tukar? He he mas, terlalu sederhana menghubungkan cetak uang dan nilai tukar. Faktor yang menyebabkan nilai tukar bergejolak itu banyak sekali. Namun jika dilihat dari kondisi krisis finansial global saat ini,dollar memang punya potensi untuk menguat. Sebabnya: 1. pemerintah amrik mau melakukan stimulus fiskal, tentu butuh duit alias dollar. Nah narik pajak lebih tinggi ke warganegaranya tentu kontraktif terhadap ekonomi, akhirnya tentu memilih menerbitkan surat utang dan bahkan merayu China untuk beli t-bills ama t-bonds. Tentunya ini akan menyebabkan sentimen untuk pegang dollar semakin tinggi. 2. Ekspor kita menurun, sementara impor relatif tetap. Hal ini mengakibatkan pasokan dollar menurun sementara permintaan dollar tetap. So, what should we do? 1. Kalo nomor satu mah ya udah, emang itu kerjaan amerika. Gimana2, tetap lebih laku T-bills dengan suku bunga 1%. 2. Nah ini dia, mari gunakan produk dalam negeri, bisa menggerakkan sektor riil sekaligus memperkuat nilai tukar. Di BI sekarang ada policy menambah waktu pemakaian baju batik/daerah dari hanya Jumat menjadi selasa dan jumat. Kalo ini diikuti perusahaan2 lokal dan pemda wah berapa banyak permintaan untuk baju batik. Asal jangan beli batik made in cina aja :) On Tue, Feb 24, 2009 at 12:41 PM, Arif Muljadi wrote: > Kalau memang BI main cetak uang untuk bayar bunga, ya memang tidak > mengherankan, kalau RP terus turun harganya, sekarang sudah stabil > anjlok di hampir 12000/USD. Apakah bank2 sentral lain di dunia juga > melakukan hal seperti ini? > > > --- In [email protected], > A Nizami wrote: > > > > > > Untuk mengontrol uang beredar, sering BI/Pemerintah menerbitkan SBI > (Sertifikat Bank Indonesia) atau ORI (Obligasi RI) yang ujung2nya > memberi bunga (ada rate BI untuk SBI sekitar 7-10%/tahun). > > > > Nah karena umumnya uang yang disedot via SBI/ORI itu jarang dipakai > untuk hal yang produktif dan menghasilkan profit/keuntungan, maka > dicetaklah lebih banyak urang untuk membayar pokok pinjaman+bunga. > > > > Tak heran hasilnya adalah inflasi dan turunnya nilai mata uang > rupiah dari tahun ke tahun (coba bandingkan dgn nilai emas). > > > > Apalagi dengan rencana kenaikan gaji PNS dsb, dipastikan akan lebih > banyak uang rupiah dicetak. > > > > Sebagai contoh November lalu kurus 1 dinar emas terhadap rupiah > sekitar Rp 1,2 juta. Sekarang sekitar Rp 1,6 juta (lihat di > www.wakalanusantara.com) > > > > === > > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > > Informasi selengkapnya ada di: > > http://www.media-islam.or.id > > Ingin belajar Islam? > > Kirim email ke: > > [email protected] > > > > > > --- Pada Sen, 23/2/09, Agung Bayu Purwoko menulis: > > > > > Dari: Agung Bayu Purwoko > > > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > Kepada: > > > [email protected] > > > Tanggal: Senin, 23 Februari, 2009, 7:33 PM > > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan > > > bunga Pak. Bank-bank melakukan pengambilan uang atau > > > penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. > > > > > > Sent from my CurveBerry® > > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > > > > > -Original Message- > > > From: "Arif Muljadi" > > > > > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 > > > To: > > > > > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > > > > > > > Salam, > > > > > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang > > > yang > > > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan > > > dalam > > > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu > > > sendiri rumit), > > > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk > > > menghindari > > > sebanyak mungkin kesalahpahaman. > > > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini > > > diedarkan. > > > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai > > > bunga? > > > > > > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya. > > > > > > Arif > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? > > > Kirim email ke > > > [email protected] > > > http://capresindonesia
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
(Sebenarnya saya sudah balas posting pak Agung ini, rupanya ke jaring filter, karena salah format penulisan). Apa yang mengontrol pengambilan uang dari BI oleh bank-bank? Apakah kriteria "sesuai kebutuhan" ini? --- In [email protected], "Agung Bayu Purwoko" wrote: > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan bunga Pak. Bank-bank melakukan pengambilan uang atau penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. > > Sent from my CurveBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -Original Message- > From: "Arif Muljadi" > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 > To: > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > Salam, > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang yang > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan dalam > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu sendiri rumit), > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk menghindari > sebanyak mungkin kesalahpahaman. > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini diedarkan. > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai bunga? > > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya. > > Arif > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
"Main Cetak" sepertinya kasar. Tapi anjloknya nilai uang/inflasi menunjukkan itu. Bahkan US Dollar pun mengalami penurunan. Coba lihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_dollar Di situ nilai US$ dibandingkan dengan nilai 1 US$ pada tahun 1980 (berdasarkan daya beli dollar terhadap barang2 kebutuhan pokok). Tahun Nilai 1900$10.12 1980$1.00 2008$0.38 Dulu dollar dipatok terhadap emas dan perak (nilainya relatif thd gram emas). Namun sekarang dilepas jadi FIAT MONEY. Oleh karena itu tidak ada yang bisa mengontrol/mengawasi berapa dollar yang dicetak The Fed. Coba baca artikel tentang uang kertas dan dinar emas di www.wakalanusantara.com Mungkin sebagian besar ekonom yang terdidik dengan ekonomi Barat (meski sekarang gagal total) agak meremehkannya. Namun emas dan perak yang dijadikan mata uang dinar emas dan dirham perak (di mana dulu mata uang dollar juga dipatok dgn nilai emas/perak) ternyata stabil Ratenya: 1 Dinar (Emas) Rp. 1.607.502,- 1 Dirham (Perak) Rp. 40.272,- Nah di Buku Hadits Bukhari disebut sahabat Nabi menjual seekor kambing dengan harga 1 dinar. Ternyata sekarang harganya juga sekitar itu. Artinya nilai Stabil. Dalam Al Qur'an, surat Ashabul Kahfi diceritakan seorang penghuni gua disuruh membawa beberapa dirham (sekitar 3 dirham) untuk beli makanan bagi 5 orang teman2nya atau sekarang sekitar Rp 120 ribu. Nah ternyata untuk makan berlima kita perlu uang sekitar itu juga. Artinya dalam rentang 1.400 tahun bahkan untuk kasus Ashabul Kahfi mungkin 2.000 tahun lebih, ternyata "inflasi" mata uang emas dan perak tsb relatif kecil. November 2008 1 dinar masih Rp 1,2 juta. Sekarang Februari jadi Rp 1,6 juta. Kalau saya dipilih mau digaji 10 dinar atau Rp 20 juta, maka saya pilih gaji 10 dinar. Karena 20 tahun lagi pun nilainya akan sama. Sementara rupiah bisa jadi nilainya susut tinggal Rp 2 juta. Sebetulnya mata uang dinar atau patokan UMR memakai dinar/emas bisa jadi solusi yang bagus untuk menghindari pemiskinan masal karena nilainya tetap. Kalau pakai rupiah nilainya turun terus dan kalau protes sampai ludah kering pun belum tentu kenaikannya sesuai dengan besar inflasi. --- In [email protected], "Arif Muljadi" wrote: > > Kalau memang BI main cetak uang untuk bayar bunga, ya memang tidak > mengherankan, kalau RP terus turun harganya, sekarang sudah stabil > anjlok di hampir 12000/USD. Apakah bank2 sentral lain di dunia juga > melakukan hal seperti ini? > > > --- In [email protected], A Nizami wrote: > > > > > > Untuk mengontrol uang beredar, sering BI/Pemerintah menerbitkan SBI > (Sertifikat Bank Indonesia) atau ORI (Obligasi RI) yang ujung2nya > memberi bunga (ada rate BI untuk SBI sekitar 7-10%/tahun). > > > > Nah karena umumnya uang yang disedot via SBI/ORI itu jarang dipakai > untuk hal yang produktif dan menghasilkan profit/keuntungan, maka > dicetaklah lebih banyak urang untuk membayar pokok pinjaman+bunga. > > > > Tak heran hasilnya adalah inflasi dan turunnya nilai mata uang > rupiah dari tahun ke tahun (coba bandingkan dgn nilai emas). > > > > Apalagi dengan rencana kenaikan gaji PNS dsb, dipastikan akan lebih > banyak uang rupiah dicetak. > > > > Sebagai contoh November lalu kurus 1 dinar emas terhadap rupiah > sekitar Rp 1,2 juta. Sekarang sekitar Rp 1,6 juta (lihat di > www.wakalanusantara.com) > > > > === > > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > > Informasi selengkapnya ada di: > > http://www.media-islam.or.id > > Ingin belajar Islam? > > Kirim email ke: [email protected] > > > > > > --- Pada Sen, 23/2/09, Agung Bayu Purwoko menulis: > > > > > Dari: Agung Bayu Purwoko > > > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > Kepada: [email protected] > > > Tanggal: Senin, 23 Februari, 2009, 7:33 PM > > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan > > > bunga Pak. Bank-bank melakukan pengambilan uang atau > > > penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. > > > > > > Sent from my CurveBerry® > > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > > > > > -Original Message- > > > From: "Arif Muljadi" > > > > > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 > > > To: > > > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > > > > > > > Salam, > > > > > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang > > > yang > > > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan > > > dalam > > > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu > > > sendiri rumit), > > > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk > > > menghindari > > > sebanyak mungkin kesalahpahaman. > > > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini > > > diedarkan. > > > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai > > > bunga? > > > > > > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya. > > > > > > Arif > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > >
[ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
Kalau memang BI main cetak uang untuk bayar bunga, ya memang tidak mengherankan, kalau RP terus turun harganya, sekarang sudah stabil anjlok di hampir 12000/USD. Apakah bank2 sentral lain di dunia juga melakukan hal seperti ini? --- In [email protected], A Nizami wrote: > > > Untuk mengontrol uang beredar, sering BI/Pemerintah menerbitkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) atau ORI (Obligasi RI) yang ujung2nya memberi bunga (ada rate BI untuk SBI sekitar 7-10%/tahun). > > Nah karena umumnya uang yang disedot via SBI/ORI itu jarang dipakai untuk hal yang produktif dan menghasilkan profit/keuntungan, maka dicetaklah lebih banyak urang untuk membayar pokok pinjaman+bunga. > > Tak heran hasilnya adalah inflasi dan turunnya nilai mata uang rupiah dari tahun ke tahun (coba bandingkan dgn nilai emas). > > Apalagi dengan rencana kenaikan gaji PNS dsb, dipastikan akan lebih banyak uang rupiah dicetak. > > Sebagai contoh November lalu kurus 1 dinar emas terhadap rupiah sekitar Rp 1,2 juta. Sekarang sekitar Rp 1,6 juta (lihat di www.wakalanusantara.com) > > === > Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490 > ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 > Informasi selengkapnya ada di: > http://www.media-islam.or.id > Ingin belajar Islam? > Kirim email ke: [email protected] > > > --- Pada Sen, 23/2/09, Agung Bayu Purwoko menulis: > > > Dari: Agung Bayu Purwoko > > Topik: Re: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > Kepada: [email protected] > > Tanggal: Senin, 23 Februari, 2009, 7:33 PM > > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan > > bunga Pak. Bank-bank melakukan pengambilan uang atau > > penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. > > > > Sent from my CurveBerry® > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > > > -Original Message- > > From: "Arif Muljadi" > > > > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 > > To: > > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar > > > > > > Salam, > > > > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang > > yang > > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan > > dalam > > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu > > sendiri rumit), > > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk > > menghindari > > sebanyak mungkin kesalahpahaman. > > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini > > diedarkan. > > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai > > bunga? > > > > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya. > > > > Arif > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? > > Kirim email ke [email protected] > > http://capresindonesia.wordpress.com > > http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! > > Groups Links > > > > > > mailto:[email protected] > > > > > > > > > Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ >
