Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Kemakmuran tak bisa diciptakan dengan membagi harta yang kaya kepada yang miskin! Kemakmuran harus tercipta dengan memberikan kesempatan kepada semuanya! Kerusuhan yang terjadi di Jakarta (dulu) dan di Bangkok (baru-baru ini) jelaslah karena tak adanya kesempatan! Kalau tak banyak kesempatan buat memperoleh pekerjaan, sukar buat punya rumah, jeleknya public transport serta terbatasnya komunikasi (koneksi), ya timbullah segala masalah sosial! Kemakmuran juga harus disertai dengan keadilan hingga tercipta masyarakat yang adil dan makmur (adem ayem)! Bagaimana Pak/Bu? Salam Las --- On Wed, 11/8/10, Paulus Tanuri wrote: From: Paulus Tanuri Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" To: [email protected] Received: Wednesday, 11 August, 2010, 7:47 PM Jadi maksudnya penyebabnya adalah kesenjangan ekonomi ? Lalu semestinya bagaimana ? Apakah semua orang yang mampu harus pura-pura miskin atau pura-pura susah ? Atau semua yang mampu harus mendonasikan sebagian kekayaannya ? Regards, Paulus T. 2010/8/10 > Pak Wal Suparno yb; > Siapapun dalangnya, apakah elite TNI atau lainnya, kalau tdk ada segregasi > ekonomi yg tajam, massa kalangan bawah tidak mudah digerakkan utk menjarah > perumahan elite, pertokoan, bank dsb. > Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan sistem ekonomi dengan risiko > politiknya, Indonesia punya teman seiring, Argentina. > Salam, > > Andrinof A Chaniago > Penulis buku, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi politik akar krisis > Indonesia (LP3ES, 2001) > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Coba lagi, Peristiwa Malari, penyebabnya bukan tunggal? betulkah? 2010/8/13, [email protected] : > Tidak pernah ada dalam kerusuhan bersar penyebabnya adalah tunggal. Titik. > Salam, > > Andrinof > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > >
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Dengan melihat kondisi yang sekarang saya setuju Ibu Kota dipindahkan, biar adil persis ditengah-enggah Indonesia dan jangan di p.jawa. P jawa sudah terlalu sumpek. Yang perlu juga dipindahkan adalah markas2/kantor tentara, TNI AD, TNI AU, TNI AL, bukankah seharusnya/logikanya markas mereka jauh dari pemukiman penduduk. Setidaknya markas/kantor angakatan bersenjata tersebut jauh dari pemukiman penduduk, bukan malah ada ditengah tengah pemukiman pendududk. Coba seandainya terjadi perang, pasti markas2/kantor mereka akan menjadi sasaran peuluru. Apa rakyat mau dijadikan tameng hidup --- On Mon, 8/16/10, baswati wrote: From: baswati Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" To: [email protected] Date: Monday, August 16, 2010, 7:10 AM Belajarlah dari mBah Marijan dari lereng Merapi dan Pak Mayar dalam buku Pak Beye On Fri, 2010-08-13 at 14:11 +0700, Paulus Tanuri wrote: > > Kalau seperti ini pandangan anda, maka saya sangat setuju dengan anda. > > Saya menanyakan ini karena cukup banyak bertemu dengan orang yang > berpandangan bahwa orang kaya harus menahan diri tidak boleh menikmati > hasil > kerja mereka dengan berpura-pura atau terlihat susah. Nah itu yang > saya > tidak setuju. Apa bedanya dengan menipu diri sendiri dan semua orang. > Walaupun saya juga kurang setuju melihat mereka yang gaya hidupnya > terlalu > mewah, tapi tetap itu adalah hak mereka masing-masing untuk menikmati > hasil > kerja keras mereka. > > Apalagi kalau sampai ada yang berpendapat bahwa orang-orang kaya harus > membagikan kekayaannya buat yang miskin, ini lebih tidak setuju lagi. > > Karena kita bukan menganut paham komunis. > > Regards, > Paulus T. [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Saya di sisi Andrianof, Pak Wal perlu update informasi banyak kepentingan di peristiwa 1998 devide et empera , menurut my best knwoledge, adalah isunya yang goblok petok yang mau diadu domba. Selama potensi diadu domba itu semakin besar maka pengadu domba senang. Oleh karena itu, persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya isu utamanya. On Fri, 2010-08-13 at 05:44 +, [email protected] wrote: > > Tidak pernah ada dalam kerusuhan bersar penyebabnya adalah tunggal. > Titik. > Salam, > > Andrinof > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > -Original Message- > From: Wal Suparmo > Sender: [email protected] > > Salam, > Kerusuhan di JKT tahun 1998 adalah GERAKAN MILITER. titik.kARENA ITU > TIDAK MUDAH DIBONGKAR SELAM MASIH ADA MILITER YANG MEMIMPIN iNDONEIA. > > Wasalam, > Wal Suparmo > > > >
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Belajarlah dari mBah Marijan dari lereng Merapi dan Pak Mayar dalam buku Pak Beye On Fri, 2010-08-13 at 14:11 +0700, Paulus Tanuri wrote: > > Kalau seperti ini pandangan anda, maka saya sangat setuju dengan anda. > > Saya menanyakan ini karena cukup banyak bertemu dengan orang yang > berpandangan bahwa orang kaya harus menahan diri tidak boleh menikmati > hasil > kerja mereka dengan berpura-pura atau terlihat susah. Nah itu yang > saya > tidak setuju. Apa bedanya dengan menipu diri sendiri dan semua orang. > Walaupun saya juga kurang setuju melihat mereka yang gaya hidupnya > terlalu > mewah, tapi tetap itu adalah hak mereka masing-masing untuk menikmati > hasil > kerja keras mereka. > > Apalagi kalau sampai ada yang berpendapat bahwa orang-orang kaya harus > membagikan kekayaannya buat yang miskin, ini lebih tidak setuju lagi. > > Karena kita bukan menganut paham komunis. > > Regards, > Paulus T.
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Tidak pernah ada dalam kerusuhan bersar penyebabnya adalah tunggal. Titik. Salam, Andrinof Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -Original Message- From: Wal Suparmo Sender: [email protected] Salam, Kerusuhan di JKT tahun 1998 adalah GERAKAN MILITER. titik.kARENA ITU TIDAK MUDAH DIBONGKAR SELAM MASIH ADA MILITER YANG MEMIMPIN iNDONEIA. Wasalam, Wal Suparmo
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Kalau seperti ini pandangan anda, maka saya sangat setuju dengan anda. Saya menanyakan ini karena cukup banyak bertemu dengan orang yang berpandangan bahwa orang kaya harus menahan diri tidak boleh menikmati hasil kerja mereka dengan berpura-pura atau terlihat susah. Nah itu yang saya tidak setuju. Apa bedanya dengan menipu diri sendiri dan semua orang. Walaupun saya juga kurang setuju melihat mereka yang gaya hidupnya terlalu mewah, tapi tetap itu adalah hak mereka masing-masing untuk menikmati hasil kerja keras mereka. Apalagi kalau sampai ada yang berpendapat bahwa orang-orang kaya harus membagikan kekayaannya buat yang miskin, ini lebih tidak setuju lagi. Karena kita bukan menganut paham komunis. Regards, Paulus T. 2010/8/11 Andrinof A Chaniago > Jadi orang kaya nggak usah takut kehilangan harta atau dimintain donasi. > Asal orang kaya punya kesadaran saja untuk mendesak pemerintah agar > menggunakan pajak yang mereka bayar dengan benar, sudah cukup. Orang kaya > yang sudah menyetor pajak PPh, PPN, pajak kendaraan bermotor, pajak bea > balik nama kendaraan bermotor, Pajak Bumi & Bangunan, dsb., harusnya > seperti > tax payers di luar negeri yang ikut mengontrol kebijakan pemerintah. > Coba saja perhatikan, APBD DKI Jakarta naik Rp 2 triliun per tahun, sampai > sekarang besarnya sudah Rp 27 trilun. Cobalah perhatikan, hampir 60% hanya > untuk belanja aparat. Besarnya anggaran belanja aparat di lungkungan > Pemprov > DKI jelas karena pemborosan. Banyak Dinas-dinas dan kantor yang tidak > perlu, > sengaja didirikan dan dipertahankan untuk menggerogoti anggaran yang > bersumber dari pajak orang kaya tadi. Saya yakin, kalau kita belajar dari > cara Walikota Solo Jokowi mengatur anggaran, anggaran yang Rp 20-an > triliun, > tiap tahun bisa disisihkan Rp 1 triliun untuk membangun ratusan unit rumah > susun sederhana. Banyaknya rusun sederhana akan mengoreksi harga rusun > mewah > yang mengambil keuntungan gila-gilaan, dan membuat harga tanah di tengah > kota makin meroket. Akibat dari rendahnya perhatian pemerintah inilah > segregasi sosial makin tajam. Warga kalangan bawah makin terdesak ke > pinggir, dan setiap hari berjuang di jalan dengan jutaan sepeda motor, di > kereta ekonomi yg muatannya tidak manusiawi, atau sambung menyambung > angkutan umum. Akhirnya, kenaikan UMR 10% per tahun pun tidak ada artinya. > Pertama, kenaikan itu tidak lain hanya penyesuaian terhadap inflasi. Kedua, > di sisi lain pengeluaran rumah tangga masyarakat kalangan bawah ini > meningkat krn makin mahalnya biaya transportasi dan biaya pemulihan > kesehatan. > > Sekarang, coba anda bayangkan, kalau Pemerintah tidak hanya memanjakan > pengusaha properti yg terus menambah tempat-tempat orang bekerja dengan > berdirinya mal, pusat perkantoran, dan rumah susun elite di pusat kota, > tetapi juga peduli dengan pembangunan rumah susun kalangan menengah bawah > di > wilayah dalam kota (tidak harus di tengah kota) dalam jumlah yang cukup > seperti di Singapore, Taipei, Seoul, atau Hongkong. Saya yakin, > kesejnjangan > sosial tidak akan melebar. Apakah alasan Pemrov DKI yang mengatakan mereka > tidak punya anggaran bisa kita terima? Kalau saya tidak bisa menerima. > > Jadi, orang kaya nggak usah takut dipaksa menjadi donatur orang miskin. > Orang kaya kita sudah membayar kewajibannya seperti juga orang kaya di > negara lain. Besaran pajak untuk masing-masing jenis toh hampir sama dengan > yang diberlakukan di negara-negara lain. > Maaf, kalau anda tidak puas. > Regards, > > Andrinof > > > [Non-text portions of this message have been removed]
Re: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
bangsa bodoh menghasilkan para pemimpin yang bodoh pula - sudah jelas : cepat atau lambat Jakarta akan macet total - sudah jelas : banjir di Jakarta pernah sampai istana pasti suatu saat akan berulang dan makin tinggi. jadi Ibukota pindah sejatinya merupakan keniscayaan. tapi para pemimpin negeri ini masih adem ayem. Mestinya sudah mulai bertindak, paling tidak membentuk Tim Ahli. Pindah ibokota kan bukan pekerjaan gampang. tapi kita-kita ini bodoh sehingga memilih para pemimpin yang . Maaf seperti memaki-maki, cuma cara saja, biar jika ada pemimpin yang (hobi) baca terkesan dan kemudian bertindak. salam sugri --- In [email protected], n...@... wrote: > > Ya biar saja semua kantor departemen RI pindah dari jakarta kemana pemerintah > mau. Kami akan tetap di sini bersama pemprov. Bagi rakyat seperti saya tidak > pernah berhubungan dengan kantor kepresidenan dan departemen-departemernnya. > Kami cukup dengan lurah sampai tingkat wali kota/bupati. Silakan pemerintah > pusat pindah ke tempat yang jauh dari jakarta. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -Original Message- > From: Wal Suparmo > Sender: [email protected] > Date: Sun, 1 Aug 2010 16:20:22 > To: news Trans TV; kampus > tiga; ; ex menwa > UI 2; HMI Kahmi Pro > Network; Indonesia > Rising; ppiindia; > nasional list; > technomedia; > jurnalisme; AJI > INDONESIA; Forum > Kompas; > warta-lingk; sastra > pembebasan; > > Reply-To: [email protected] > Subject: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa > Terulang" > > Salam, > Ternyata yang meledakkan kerusuhan itu BUKAN RAKYAT jelata tetapi para > PEMIMPIN baik POLITIK apalagi AGAMA. Mereka menghasut rakyat.Jadi ibu kota > mau dipindah kemana saja,TIDAK BERGUNA., alias sama saja. > > Wasalam, > Wal Suparmo >
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Salam, Kerusuhan di JKT tahun 1998 adalah GERAKAN MILITER. titik.kARENA ITU TIDAK MUDAH DIBONGKAR SELAM MASIH ADA MILITER YANG MEMIMPIN iNDONEIA. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Rab, 11/8/10, Paulus Tanuri menulis: Dari: Paulus Tanuri Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 11 Agustus, 2010, 4:47 PM Jadi maksudnya penyebabnya adalah kesenjangan ekonomi ? Lalu semestinya bagaimana ? Apakah semua orang yang mampu harus pura-pura miskin atau pura-pura susah ? Atau semua yang mampu harus mendonasikan sebagian kekayaannya ? Regards, Paulus T. 2010/8/10 > Pak Wal Suparno yb; > Siapapun dalangnya, apakah elite TNI atau lainnya, kalau tdk ada segregasi > ekonomi yg tajam, massa kalangan bawah tidak mudah digerakkan utk menjarah > perumahan elite, pertokoan, bank dsb. > Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan sistem ekonomi dengan risiko > politiknya, Indonesia punya teman seiring, Argentina. > Salam, > > Andrinof A Chaniago > Penulis buku, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi politik akar krisis > Indonesia (LP3ES, 2001) > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Menurut Lee Kwan Yew, mantan orang NO.1 di Singapura, jika penegakan hukum tanpa pandang bulu, walaupun ada kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, maka tetap kejahatan dan kerusuhan dapat dihilangkan. Dicontohkan di zaman pendudukan Jepang, tidak ada yang berani maling,mencuri apalagi merampok karena takut akan hukuman. Semua pelaku kejahatan, pemerkosaan dan penyelundupan disikat. Padahal kemiskinan dan kesenjangan ekonomi bukan main gap nya. Bandingkan dengan sebelum Jepang masuk ataupun setelah menyerah di Singapura. Penjarahan dan kejahatan di mana mana. Di mana-mana kerusuhan, revolusi Perancis dan Rusia, awalnya dari hukum yang amburadul. Sehingga ketika merasa perlakuan adil menyebabkan kesusahan di kehidupan, tinggal diprovokasi dan dihasut saja. Wass, Liman Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Paulus Tanuri Sender: [email protected] Date: Wed, 11 Aug 2010 16:47:30 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Jadi maksudnya penyebabnya adalah kesenjangan ekonomi ? Lalu semestinya bagaimana ? Apakah semua orang yang mampu harus pura-pura miskin atau pura-pura susah ? Atau semua yang mampu harus mendonasikan sebagian kekayaannya ? Regards, Paulus T. 2010/8/10 > Pak Wal Suparno yb; > Siapapun dalangnya, apakah elite TNI atau lainnya, kalau tdk ada segregasi > ekonomi yg tajam, massa kalangan bawah tidak mudah digerakkan utk menjarah > perumahan elite, pertokoan, bank dsb. > Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan sistem ekonomi dengan risiko > politiknya, Indonesia punya teman seiring, Argentina. > Salam, > > Andrinof A Chaniago > Penulis buku, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi politik akar krisis > Indonesia (LP3ES, 2001) > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] = Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI = Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Jadi orang kaya nggak usah takut kehilangan harta atau dimintain donasi. Asal orang kaya punya kesadaran saja untuk mendesak pemerintah agar menggunakan pajak yang mereka bayar dengan benar, sudah cukup. Orang kaya yang sudah menyetor pajak PPh, PPN, pajak kendaraan bermotor, pajak bea balik nama kendaraan bermotor, Pajak Bumi & Bangunan, dsb., harusnya seperti tax payers di luar negeri yang ikut mengontrol kebijakan pemerintah. Coba saja perhatikan, APBD DKI Jakarta naik Rp 2 triliun per tahun, sampai sekarang besarnya sudah Rp 27 trilun. Cobalah perhatikan, hampir 60% hanya untuk belanja aparat. Besarnya anggaran belanja aparat di lungkungan Pemprov DKI jelas karena pemborosan. Banyak Dinas-dinas dan kantor yang tidak perlu, sengaja didirikan dan dipertahankan untuk menggerogoti anggaran yang bersumber dari pajak orang kaya tadi. Saya yakin, kalau kita belajar dari cara Walikota Solo Jokowi mengatur anggaran, anggaran yang Rp 20-an triliun, tiap tahun bisa disisihkan Rp 1 triliun untuk membangun ratusan unit rumah susun sederhana. Banyaknya rusun sederhana akan mengoreksi harga rusun mewah yang mengambil keuntungan gila-gilaan, dan membuat harga tanah di tengah kota makin meroket. Akibat dari rendahnya perhatian pemerintah inilah segregasi sosial makin tajam. Warga kalangan bawah makin terdesak ke pinggir, dan setiap hari berjuang di jalan dengan jutaan sepeda motor, di kereta ekonomi yg muatannya tidak manusiawi, atau sambung menyambung angkutan umum. Akhirnya, kenaikan UMR 10% per tahun pun tidak ada artinya. Pertama, kenaikan itu tidak lain hanya penyesuaian terhadap inflasi. Kedua, di sisi lain pengeluaran rumah tangga masyarakat kalangan bawah ini meningkat krn makin mahalnya biaya transportasi dan biaya pemulihan kesehatan. Sekarang, coba anda bayangkan, kalau Pemerintah tidak hanya memanjakan pengusaha properti yg terus menambah tempat-tempat orang bekerja dengan berdirinya mal, pusat perkantoran, dan rumah susun elite di pusat kota, tetapi juga peduli dengan pembangunan rumah susun kalangan menengah bawah di wilayah dalam kota (tidak harus di tengah kota) dalam jumlah yang cukup seperti di Singapore, Taipei, Seoul, atau Hongkong. Saya yakin, kesejnjangan sosial tidak akan melebar. Apakah alasan Pemrov DKI yang mengatakan mereka tidak punya anggaran bisa kita terima? Kalau saya tidak bisa menerima. Jadi, orang kaya nggak usah takut dipaksa menjadi donatur orang miskin. Orang kaya kita sudah membayar kewajibannya seperti juga orang kaya di negara lain. Besaran pajak untuk masing-masing jenis toh hampir sama dengan yang diberlakukan di negara-negara lain. Maaf, kalau anda tidak puas. Regards, Andrinof 2010/8/11 Paulus Tanuri > > > Jadi maksudnya penyebabnya adalah kesenjangan ekonomi ? > Lalu semestinya bagaimana ? > Apakah semua orang yang mampu harus pura-pura miskin atau pura-pura susah ? > Atau semua yang mampu harus mendonasikan sebagian kekayaannya ? > > Regards, > Paulus T. > > 2010/8/10 > > > > > Pak Wal Suparno yb; > > Siapapun dalangnya, apakah elite TNI atau lainnya, kalau tdk ada > segregasi > > ekonomi yg tajam, massa kalangan bawah tidak mudah digerakkan utk > menjarah > > perumahan elite, pertokoan, bank dsb. > > Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan sistem ekonomi dengan risiko > > politiknya, Indonesia punya teman seiring, Argentina. > > Salam, > > > > Andrinof A Chaniago > > Penulis buku, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi politik akar krisis > > Indonesia (LP3ES, 2001) > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Jadi maksudnya penyebabnya adalah kesenjangan ekonomi ? Lalu semestinya bagaimana ? Apakah semua orang yang mampu harus pura-pura miskin atau pura-pura susah ? Atau semua yang mampu harus mendonasikan sebagian kekayaannya ? Regards, Paulus T. 2010/8/10 > Pak Wal Suparno yb; > Siapapun dalangnya, apakah elite TNI atau lainnya, kalau tdk ada segregasi > ekonomi yg tajam, massa kalangan bawah tidak mudah digerakkan utk menjarah > perumahan elite, pertokoan, bank dsb. > Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan sistem ekonomi dengan risiko > politiknya, Indonesia punya teman seiring, Argentina. > Salam, > > Andrinof A Chaniago > Penulis buku, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi politik akar krisis > Indonesia (LP3ES, 2001) > > [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Pak Wal Suparno yb; Siapapun dalangnya, apakah elite TNI atau lainnya, kalau tdk ada segregasi ekonomi yg tajam, massa kalangan bawah tidak mudah digerakkan utk menjarah perumahan elite, pertokoan, bank dsb. Berdasarkan kondisi sosial-ekonomi dan sistem ekonomi dengan risiko politiknya, Indonesia punya teman seiring, Argentina. Salam, Andrinof A Chaniago Penulis buku, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi politik akar krisis Indonesia (LP3ES, 2001) Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -Original Message- From: Wal Suparmo Sender: [email protected] Date: Thu, 5 Aug 2010 19:38:58 To: ; Naek Djaoloan Hutabarat Reply-To: [email protected] Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Salam, 1 ) Negara FEDERAL dalam linkup NKRI bisa bertbentuk berdasarkan ETNIS atau AGAMA. Kalau berdasarkan agama kan lebi kacau lagi jadi lebih baik berdasarkan etnis dan PANCASILA. 2) Rusuh 1998 di Jakarta tidak ada hubungannya SAMA SEKALI DENGAN PADATNYA Jakarta karena kerusuhan itu didalangani oleh TNI. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Kam, 5/8/10, Naek Djaoloan Hutabarat menulis: Dari: Naek Djaoloan Hutabarat Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Kepada: [email protected], [email protected] Cc: [email protected], [email protected] Tanggal: Kamis, 5 Agustus, 2010, 3:33 PM NDH 5 8 2010 ACC WS DAN ASALKAN NKRI DASAR HAM HAA HAK AZASI ALAM PS PANCA SILA NDH [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Salam, 1 ) Negara FEDERAL dalam linkup NKRI bisa bertbentuk berdasarkan ETNIS atau AGAMA. Kalau berdasarkan agama kan lebi kacau lagi jadi lebih baik berdasarkan etnis dan PANCASILA. 2) Rusuh 1998 di Jakarta tidak ada hubungannya SAMA SEKALI DENGAN PADATNYA Jakarta karena kerusuhan itu didalangani oleh TNI. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Kam, 5/8/10, Naek Djaoloan Hutabarat menulis: Dari: Naek Djaoloan Hutabarat Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Kepada: [email protected], [email protected] Cc: [email protected], [email protected] Tanggal: Kamis, 5 Agustus, 2010, 3:33 PM NDH 5 8 2010 ACC WS DAN ASALKAN NKRI DASAR HAM HAA HAK AZASI ALAM PS PANCA SILA NDH
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
NDH 5 8 2010 ACC WS DAN ASALKAN NKRI DASAR HAM HAA HAK AZASI ALAM PS PANCA SILA NDH > Original-Nachricht > Datum: Wed, 4 Aug 2010 22:56:39 +0800 (SGT) > Von: Wal Suparmo > An: [email protected] > CC: apul > Betreff: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa > Terulang" > > > > Sal;am, > Orang daerah malah korupsinya lebih hebat dari orang pusat.Tetapi saya > setuju NEGARA FEDERAL namum tetap dalam linhkup NKRI seperti Amerika, > Jerman, Swiss dsb. > > Wasalam, > Wal Suparmo > > --- Pada Rab, 4/8/10, ingan apul sitepu menulis: > > Dari: ingan apul sitepu > Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa > Terulang" > Kepada: [email protected] > Tanggal: Rabu, 4 Agustus, 2010, 12:28 AM > > > > betul sekali pendapat Pak Wal,sepertinya model NKRI sudah tidak cocok > lagi saat ini karena saat ini yang ada hanya kesatuan para koruptor > republik indonesia yang semakin kuat,melumat kaum melarat mewariskan > sifat laknat diseantero jagat. > > Pada tanggal 01/08/10, Wal Suparmo menulis: > > Salam, > > Ternyata yang meledakkan kerusuhan itu BUKAN RAKYAT jelata tetapi para > > PEMIMPIN baik POLITIK apalagi AGAMA. Mereka menghasut rakyat.Jadi ibu > kota > > mau dipindah kemana saja,TIDAK BERGUNA., alias sama saja. > > > > Wasalam, > > Wal Suparmo > > > > --- Pada Kam, 29/7/10, Satrio Arismunandar > > > menulis: > > > > > > Dari: Satrio Arismunandar > > Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa > Terulang" > > Kepada: "news Trans TV" , "kampus tiga" > > , [email protected], "ex menwa > UI 2" > > , "HMI Kahmi Pro Network" > > , "Indonesia Rising" > > , "ppiindia" > , > > "nasional list" , "technomedia" > > , "jurnalisme" > , > > "AJI INDONESIA" , "Forum Kompas" > > , "warta-lingk" > > , "sastra pembebasan" > > > > Tanggal: Kamis, 29 Juli, 2010, 4:43 PM > > > > > > > > > > > > > > "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 98 Bisa Terulang" > > Arfi Bambani Amri > > Kamis, 29 Juli 2010, 16:25 WIB > > > > > > > > VIVAnews - > > Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas > > Indonesia, Andrinof Chaniago, menyatakan pemindahan Ibukota ke luar > > Pulau Jawa mendekati titik urgensi. Menurutnya, Jakarta berpotensi > > mengalami ledakan sosial dalam rentang 20 tahun yang akan datang. > > > > "Kalau > > tidak ada keputusan politik untuk pindah, kita mungkin menghadapi > > ledakan sosial seperti Mei 1998," kata Andrinof dalam jumpa pers di > > sebuah restoran di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010. > > > > Ledakan sosial > > itu, kata anggota Visi Indonesia 2033 itu, karena menajamnya > > kesenjangan sosial di Jakarta. Kelas menengah ke bawah yang tak bisa > > mengakses perumahan murah di tengah kota terpaksa mendiami perumahan > > kumuh atau tinggal di luar kota. Ketika tinggal di luar kota, muncul > > beban transportasi karena lapangan pekerjaan hanya tersedia di tengah > > kota. > > > > Saat yang sama, pemerintah tidak memberikan pelayanan > > transportasi massal, cepat dan murah sehingga beban untuk warga > > menengah ke bawah semakin besar. "Muncullah cost of poverty," > > kata Tata Mutasya, ekonom lulusan Universitas Indonesia dalam jumpa > > pers bersama Andrinof. "Yaitu orang miskin membayar lebih mahal," kata > > Tata yang mendapatkan master di bidang ekonomi dari sebuah universitas > > di Turin, Italia, itu. > > > > Maksudnya membayar lebih mahal adalah, > > orang-orang kalangan menengah atas yang bisa tinggal di dalam kota tak > > membutuhkan biaya banyak untuk tiba di tempat kerja. Sementara, > > kalangan menengah bawah harus berjibaku dengan kemacetan namun juga > > dengan biaya yang lebih banyak untuk sampai ke tempat kerja. > > > > Jadinya > > apa? "Satu dari sepuluh orang di Jakarta ini bisa dikatakan mengidap > > gangguan jiwa ringan," kata Andrinof. Kemudian delapan dari sepuluhnya > > mengalami stres. Kemudian angka kriminalitas menaik karena perbedaan > > pendapatan yang semakin tajam. > > > > "
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Sal;am, Orang daerah malah korupsinya lebih hebat dari orang pusat.Tetapi saya setuju NEGARA FEDERAL namum tetap dalam linhkup NKRI seperti Amerika, Jerman, Swiss dsb. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Rab, 4/8/10, ingan apul sitepu menulis: Dari: ingan apul sitepu Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 4 Agustus, 2010, 12:28 AM betul sekali pendapat Pak Wal,sepertinya model NKRI sudah tidak cocok lagi saat ini karena saat ini yang ada hanya kesatuan para koruptor republik indonesia yang semakin kuat,melumat kaum melarat mewariskan sifat laknat diseantero jagat. Pada tanggal 01/08/10, Wal Suparmo menulis: > Salam, > Ternyata yang meledakkan kerusuhan itu BUKAN RAKYAT jelata tetapi para > PEMIMPIN baik POLITIK apalagi AGAMA. Mereka menghasut rakyat.Jadi ibu kota > mau dipindah kemana saja,TIDAK BERGUNA., alias sama saja. > > Wasalam, > Wal Suparmo > > --- Pada Kam, 29/7/10, Satrio Arismunandar > menulis: > > > Dari: Satrio Arismunandar > Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" > Kepada: "news Trans TV" , "kampus tiga" > , [email protected], "ex menwa UI 2" > , "HMI Kahmi Pro Network" > , "Indonesia Rising" > , "ppiindia" , > "nasional list" , "technomedia" > , "jurnalisme" , > "AJI INDONESIA" , "Forum Kompas" > , "warta-lingk" > , "sastra pembebasan" > > Tanggal: Kamis, 29 Juli, 2010, 4:43 PM > > > > > > > "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 98 Bisa Terulang" > Arfi Bambani Amri > Kamis, 29 Juli 2010, 16:25 WIB > > > > VIVAnews - > Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas > Indonesia, Andrinof Chaniago, menyatakan pemindahan Ibukota ke luar > Pulau Jawa mendekati titik urgensi. Menurutnya, Jakarta berpotensi > mengalami ledakan sosial dalam rentang 20 tahun yang akan datang. > > "Kalau > tidak ada keputusan politik untuk pindah, kita mungkin menghadapi > ledakan sosial seperti Mei 1998," kata Andrinof dalam jumpa pers di > sebuah restoran di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010. > > Ledakan sosial > itu, kata anggota Visi Indonesia 2033 itu, karena menajamnya > kesenjangan sosial di Jakarta. Kelas menengah ke bawah yang tak bisa > mengakses perumahan murah di tengah kota terpaksa mendiami perumahan > kumuh atau tinggal di luar kota. Ketika tinggal di luar kota, muncul > beban transportasi karena lapangan pekerjaan hanya tersedia di tengah > kota. > > Saat yang sama, pemerintah tidak memberikan pelayanan > transportasi massal, cepat dan murah sehingga beban untuk warga > menengah ke bawah semakin besar. "Muncullah cost of poverty," > kata Tata Mutasya, ekonom lulusan Universitas Indonesia dalam jumpa > pers bersama Andrinof. "Yaitu orang miskin membayar lebih mahal," kata > Tata yang mendapatkan master di bidang ekonomi dari sebuah universitas > di Turin, Italia, itu. > > Maksudnya membayar lebih mahal adalah, > orang-orang kalangan menengah atas yang bisa tinggal di dalam kota tak > membutuhkan biaya banyak untuk tiba di tempat kerja. Sementara, > kalangan menengah bawah harus berjibaku dengan kemacetan namun juga > dengan biaya yang lebih banyak untuk sampai ke tempat kerja. > > Jadinya > apa? "Satu dari sepuluh orang di Jakarta ini bisa dikatakan mengidap > gangguan jiwa ringan," kata Andrinof. Kemudian delapan dari sepuluhnya > mengalami stres. Kemudian angka kriminalitas menaik karena perbedaan > pendapatan yang semakin tajam. > > "Jelas, mempertahankan Jakarta > sebagai Ibukota sampai beberapa tahun ke depan sangat berbahaya, karena > segregasi semakin menajam," katanya. (hs) > > Satrio Arismunandar > Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3 > Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 > Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, > 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com > HP: 0819 0819 9163 > > "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si > tigawarna (Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah > pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan > sebanyak-banyaknya keringat" > > (Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1950) > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed]
Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
betul sekali pendapat Pak Wal,sepertinya model NKRI sudah tidak cocok lagi saat ini karena saat ini yang ada hanya kesatuan para koruptor republik indonesia yang semakin kuat,melumat kaum melarat mewariskan sifat laknat diseantero jagat. Pada tanggal 01/08/10, Wal Suparmo menulis: > Salam, > Ternyata yang meledakkan kerusuhan itu BUKAN RAKYAT jelata tetapi para > PEMIMPIN baik POLITIK apalagi AGAMA. Mereka menghasut rakyat.Jadi ibu kota > mau dipindah kemana saja,TIDAK BERGUNA., alias sama saja. > > Wasalam, > Wal Suparmo > > --- Pada Kam, 29/7/10, Satrio Arismunandar > menulis: > > > Dari: Satrio Arismunandar > Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" > Kepada: "news Trans TV" , "kampus tiga" > , [email protected], "ex menwa UI 2" > , "HMI Kahmi Pro Network" > , "Indonesia Rising" > , "ppiindia" , > "nasional list" , "technomedia" > , "jurnalisme" , > "AJI INDONESIA" , "Forum Kompas" > , "warta-lingk" > , "sastra pembebasan" > > Tanggal: Kamis, 29 Juli, 2010, 4:43 PM > > > > > > > "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 98 Bisa Terulang" > Arfi Bambani Amri > Kamis, 29 Juli 2010, 16:25 WIB > > > > VIVAnews - > Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas > Indonesia, Andrinof Chaniago, menyatakan pemindahan Ibukota ke luar > Pulau Jawa mendekati titik urgensi. Menurutnya, Jakarta berpotensi > mengalami ledakan sosial dalam rentang 20 tahun yang akan datang. > > "Kalau > tidak ada keputusan politik untuk pindah, kita mungkin menghadapi > ledakan sosial seperti Mei 1998," kata Andrinof dalam jumpa pers di > sebuah restoran di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010. > > Ledakan sosial > itu, kata anggota Visi Indonesia 2033 itu, karena menajamnya > kesenjangan sosial di Jakarta. Kelas menengah ke bawah yang tak bisa > mengakses perumahan murah di tengah kota terpaksa mendiami perumahan > kumuh atau tinggal di luar kota. Ketika tinggal di luar kota, muncul > beban transportasi karena lapangan pekerjaan hanya tersedia di tengah > kota. > > Saat yang sama, pemerintah tidak memberikan pelayanan > transportasi massal, cepat dan murah sehingga beban untuk warga > menengah ke bawah semakin besar. "Muncullah cost of poverty," > kata Tata Mutasya, ekonom lulusan Universitas Indonesia dalam jumpa > pers bersama Andrinof. "Yaitu orang miskin membayar lebih mahal," kata > Tata yang mendapatkan master di bidang ekonomi dari sebuah universitas > di Turin, Italia, itu. > > Maksudnya membayar lebih mahal adalah, > orang-orang kalangan menengah atas yang bisa tinggal di dalam kota tak > membutuhkan biaya banyak untuk tiba di tempat kerja. Sementara, > kalangan menengah bawah harus berjibaku dengan kemacetan namun juga > dengan biaya yang lebih banyak untuk sampai ke tempat kerja. > > Jadinya > apa? "Satu dari sepuluh orang di Jakarta ini bisa dikatakan mengidap > gangguan jiwa ringan," kata Andrinof. Kemudian delapan dari sepuluhnya > mengalami stres. Kemudian angka kriminalitas menaik karena perbedaan > pendapatan yang semakin tajam. > > "Jelas, mempertahankan Jakarta > sebagai Ibukota sampai beberapa tahun ke depan sangat berbahaya, karena > segregasi semakin menajam," katanya. (hs) > > Satrio Arismunandar > Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3 > Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 > Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, > 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com > HP: 0819 0819 9163 > > "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si > tigawarna (Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah > pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan > sebanyak-banyaknya keringat" > > (Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1950) > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > >
Re: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Ya biar saja semua kantor departemen RI pindah dari jakarta kemana pemerintah mau. Kami akan tetap di sini bersama pemprov. Bagi rakyat seperti saya tidak pernah berhubungan dengan kantor kepresidenan dan departemen-departemernnya. Kami cukup dengan lurah sampai tingkat wali kota/bupati. Silakan pemerintah pusat pindah ke tempat yang jauh dari jakarta. Powered by Telkomsel BlackBerry® -Original Message- From: Wal Suparmo Sender: [email protected] Date: Sun, 1 Aug 2010 16:20:22 To: news Trans TV; kampus tiga; ; ex menwa UI 2; HMI Kahmi Pro Network; Indonesia Rising; ppiindia; nasional list; technomedia; jurnalisme; AJI INDONESIA; Forum Kompas; warta-lingk; sastra pembebasan; Reply-To: [email protected] Subject: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Salam, Ternyata yang meledakkan kerusuhan itu BUKAN RAKYAT jelata tetapi para PEMIMPIN baik POLITIK apalagi AGAMA. Mereka menghasut rakyat.Jadi ibu kota mau dipindah kemana saja,TIDAK BERGUNA., alias sama saja. Wasalam, Wal Suparmo
Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
Salam, Ternyata yang meledakkan kerusuhan itu BUKAN RAKYAT jelata tetapi para PEMIMPIN baik POLITIK apalagi AGAMA. Mereka menghasut rakyat.Jadi ibu kota mau dipindah kemana saja,TIDAK BERGUNA., alias sama saja. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Kam, 29/7/10, Satrio Arismunandar menulis: Dari: Satrio Arismunandar Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang" Kepada: "news Trans TV" , "kampus tiga" , [email protected], "ex menwa UI 2" , "HMI Kahmi Pro Network" , "Indonesia Rising" , "ppiindia" , "nasional list" , "technomedia" , "jurnalisme" , "AJI INDONESIA" , "Forum Kompas" , "warta-lingk" , "sastra pembebasan" Tanggal: Kamis, 29 Juli, 2010, 4:43 PM "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 98 Bisa Terulang" Arfi Bambani Amri Kamis, 29 Juli 2010, 16:25 WIB VIVAnews - Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, menyatakan pemindahan Ibukota ke luar Pulau Jawa mendekati titik urgensi. Menurutnya, Jakarta berpotensi mengalami ledakan sosial dalam rentang 20 tahun yang akan datang. "Kalau tidak ada keputusan politik untuk pindah, kita mungkin menghadapi ledakan sosial seperti Mei 1998," kata Andrinof dalam jumpa pers di sebuah restoran di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010. Ledakan sosial itu, kata anggota Visi Indonesia 2033 itu, karena menajamnya kesenjangan sosial di Jakarta. Kelas menengah ke bawah yang tak bisa mengakses perumahan murah di tengah kota terpaksa mendiami perumahan kumuh atau tinggal di luar kota. Ketika tinggal di luar kota, muncul beban transportasi karena lapangan pekerjaan hanya tersedia di tengah kota. Saat yang sama, pemerintah tidak memberikan pelayanan transportasi massal, cepat dan murah sehingga beban untuk warga menengah ke bawah semakin besar. "Muncullah cost of poverty," kata Tata Mutasya, ekonom lulusan Universitas Indonesia dalam jumpa pers bersama Andrinof. "Yaitu orang miskin membayar lebih mahal," kata Tata yang mendapatkan master di bidang ekonomi dari sebuah universitas di Turin, Italia, itu. Maksudnya membayar lebih mahal adalah, orang-orang kalangan menengah atas yang bisa tinggal di dalam kota tak membutuhkan biaya banyak untuk tiba di tempat kerja. Sementara, kalangan menengah bawah harus berjibaku dengan kemacetan namun juga dengan biaya yang lebih banyak untuk sampai ke tempat kerja. Jadinya apa? "Satu dari sepuluh orang di Jakarta ini bisa dikatakan mengidap gangguan jiwa ringan," kata Andrinof. Kemudian delapan dari sepuluhnya mengalami stres. Kemudian angka kriminalitas menaik karena perbedaan pendapatan yang semakin tajam. "Jelas, mempertahankan Jakarta sebagai Ibukota sampai beberapa tahun ke depan sangat berbahaya, karena segregasi semakin menajam," katanya. (hs) Satrio Arismunandar Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com HP: 0819 0819 9163 "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si tigawarna (Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat" (Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1950) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
[Forum-Pembaca-KOMPAS] "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 1998 Bisa Terulang"
"Ibukota Tak Pindah, Rusuh 98 Bisa Terulang" Arfi Bambani Amri Kamis, 29 Juli 2010, 16:25 WIB VIVAnews - Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, menyatakan pemindahan Ibukota ke luar Pulau Jawa mendekati titik urgensi. Menurutnya, Jakarta berpotensi mengalami ledakan sosial dalam rentang 20 tahun yang akan datang. "Kalau tidak ada keputusan politik untuk pindah, kita mungkin menghadapi ledakan sosial seperti Mei 1998," kata Andrinof dalam jumpa pers di sebuah restoran di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010. Ledakan sosial itu, kata anggota Visi Indonesia 2033 itu, karena menajamnya kesenjangan sosial di Jakarta. Kelas menengah ke bawah yang tak bisa mengakses perumahan murah di tengah kota terpaksa mendiami perumahan kumuh atau tinggal di luar kota. Ketika tinggal di luar kota, muncul beban transportasi karena lapangan pekerjaan hanya tersedia di tengah kota. Saat yang sama, pemerintah tidak memberikan pelayanan transportasi massal, cepat dan murah sehingga beban untuk warga menengah ke bawah semakin besar. "Muncullah cost of poverty," kata Tata Mutasya, ekonom lulusan Universitas Indonesia dalam jumpa pers bersama Andrinof. "Yaitu orang miskin membayar lebih mahal," kata Tata yang mendapatkan master di bidang ekonomi dari sebuah universitas di Turin, Italia, itu. Maksudnya membayar lebih mahal adalah, orang-orang kalangan menengah atas yang bisa tinggal di dalam kota tak membutuhkan biaya banyak untuk tiba di tempat kerja. Sementara, kalangan menengah bawah harus berjibaku dengan kemacetan namun juga dengan biaya yang lebih banyak untuk sampai ke tempat kerja. Jadinya apa? "Satu dari sepuluh orang di Jakarta ini bisa dikatakan mengidap gangguan jiwa ringan," kata Andrinof. Kemudian delapan dari sepuluhnya mengalami stres. Kemudian angka kriminalitas menaik karena perbedaan pendapatan yang semakin tajam. "Jelas, mempertahankan Jakarta sebagai Ibukota sampai beberapa tahun ke depan sangat berbahaya, karena segregasi semakin menajam," katanya. (hs) Satrio Arismunandar Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com HP: 0819 0819 9163 "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si tigawarna (Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat" (Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1950) [Non-text portions of this message have been removed]
