Re: [GELORA45] Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu

2018-03-02 Terurut Topik jonathango...@yahoo.com [GELORA45]

Kali ini pemikiran bung Chan tepat, ha ha ha. Ada banyak hal yg bisa dilakukan 
untuk melindungi/membantu "ekonomi lemah" tanpa diskriminasi pribumi dan non 
pribumi, membantu mereka yg belum punya rumah, dlsb. Bisa ada pembedaan 
perlakuan pada first time home buyer, primary residence, second home, 
investment property, rental property. Pembedaan perlakuan bisa pada perpajakan, 
pembiayaan (credit). 

---In GELORA45@yahoogroups.com,  wrote :

 Sebenarnya, seandainya ketentuan melarang Tionghoa membeli tanah di Jogya itu 
dasarnya MELINDUNGI Ekonomi LEMAH dan tidak didasari jiwa RASIALIS yang 
menyasar Tionghoa, mudah saja, kok. Buatlah keteentuan penjualan tanah di kota 
Jogya BERDASARKAN KEKAYAAN pembeli! Katakanlah tanah di Jogya hanya 
diperuntukkan orang yang benar-benar hendak tinggal/penghuni disitu, PEMILIK 
rumah pertama dan satu-satunya. Jadi, tidak dijual pada orang-orang yang sudah 
punya rumah di Jogya atau bahkan juga diwilayah lain diluar Jogya. Kalau mau 
beli tanah di Jogya, harus lebih dahulu menjual tanah semula, dengan syarat 
tenggak waktu tidak lebih dari 1 tahun, misalnya! Segala aturan bisa dibuat 
sebijaksana mungkin, TAPI, ... tidak berdasarkan ras, etnis warga untuk 
menentukan penjualan tanah di Jogya yang jelas-menabrak UU Anti-Diskriminasi 
rasial yang sudah disahkan tahun 2008 itu!
  
 Dijaman sekarang masih saja berpandangan rasialis, membeda-bedakan “PRIBUMI” 
dan “Non-Pribumi”, padahal kenyataan tidak ada yang bisa mengklain “PRIBUMI”. 
Bukankah sudah mulai ada yang menelusuri Minahasa leluhurnya adalah Penguasa 
Dinasti Han di Tiongkok sana. Dan kalau dilihat dengan kasat-mata, suku 
minoritas Yu di Yun Nan itu mirip banget dengan orang Melayu, orang Jawa, ... 
Kenapa masih saja hendak membeda-bedakan sesama umat manusia berdasarkan ras, 
etnis dan Agama?
  
  
 
 From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] 
 Sent: Saturday, March 3, 2018 8:15 AM
 To: Yahoogroups 
 Subject: [GELORA45] Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu


  

   
 Pengantar berpanjang-panjang barusan sebenarnya cuma untuk menemani kekaguman 
saya kepada hasil keputusan pengadilan yang mementahkan gugatan Handoko, 
seorang beretnis Tionghoa di Jogja. Dia menggugat peraturan yang melarang 
kepemilikan tanah bagi warga keturunan Tionghoa di DIY. Namun gugatan itu 
dimentahkan, dan salah satu pertimbangan dalam keputusan majelis hakim sungguh 
ajaib meski sekilas terdengar mulia: "Untuk melindungi warga masyarakat yang 
ekonominya relatif lemah."

 ...
 Selebihnya, meski saya punya banyak teman beretnis Tionghoa, justru 
orang-orang paling tajir yang saya kenal di Jogja, yang aset ekonominya 
berjibun dan tanahnya ada di mana-mana, justru mereka yang so called"pribumi". 
Apa artinya?

 ...
  
 Selasa 27 Februari 2018, 15:42 WIB
 Sentilan Iqbal Aji Daryono Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu  
 
 Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu Iqbal Aji Daryono
 Pengadilan menolak gugatan Handoko, seorang beretnis Tionghoa di Jogja. Dia 
menggugat peraturan yang melarang ke...

  
  
 Iqbal Aji Daryono - detikNews
  

 Jakarta - Waktu kami masih di Perth, Australia, beberapa kali ibu saya datang 
berkunjung. Selain saya ajak jalan-jalan cantik menonton segala yang 
indah-indah, sering juga saya bawa dia blusukan ke tempat-tempat tak biasa. 
Misalnya ke sebuah kota dengan eko nomi yang sekarat. Kota itu bernama 
Kalgoorlie, 600 kilometer di timur Perth. Kota yang pernah menjadi salah satu 
kota terbesar di Australia karena tambang emasnya itu kini nyaris mati akibat 
kehabisan sumber daya.

Di Kalgoorlie yang mengenaskan, saya ingat emak saya bergumam. "Kasihan banget 
ya, orang bule kok miskin-miskin begitu. Ternyata ada juga ya bule miskin."

Saya langsung terpingkal. "Lho , Mak, kalo lihat orang Jawa miskin kok nggak 
kasihan-kasihan amat? Begitu orang kulit putih yang miskin, kok jadi kasihan 
banget? Hahaha!"

 
Tentu saja, kesan yang muncul di benak emak saya itu lazim saja bagi masyarakat 
awam pascakolonial. Kita pernah dijajah orang Eropa selama ratusan tahun. Citra 
orang kulit putih selalu kuat dan hebat, juga kaya raya. Kita inferior di depan 
mereka. Apalagi pada masa selepas perang pun hegemoni budaya kulit putih terus 
meneguhkan superioritas mereka. Lewat film, lewat foto-foto, lewat 
produk-produk teknologi, dan entah lewat apa lagi.

Maka, para turis bule yang datang ke tempat kita pun selalu kita anggap 
orang-orang kaya. Jadi jangan kaget kalau teman Anda yang berpenampilan 
Kaukasoi d diminta membayar dua atau tiga kali lipat dari harga biasa, saat 
makan-minum di angkringan dekat rumah saya. Dia di-thuthuk, kalau istilah 
Jawanya. Lha semua orang bule kan pasti kaya! Hehehe.

Hari ini, setelah media jenis apa pun dengan gampang kita akses, setelah 
jangkauan pergaulan meluas dengan aneka kemudahan untuk melawan sindrom kurang 
piknik, kita tahu bahwa teori sosial "semua orang kulit putih pasti kaya" itu 
mitos belaka. Kita paham bahwa banyak wisatawan di bilangan Prawirotaman, 

Re: [GELORA45] Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu

2018-03-02 Terurut Topik 'Chan CT' sa...@netvigator.com [GELORA45]
Sebenarnya, seandainya ketentuan melarang Tionghoa membeli tanah di Jogya itu 
dasarnya MELINDUNGI Ekonomi LEMAH dan tidak didasari jiwa RASIALIS yang 
menyasar Tionghoa, mudah saja, kok. Buatlah keteentuan penjualan tanah di kota 
Jogya BERDASARKAN KEKAYAAN pembeli! Katakanlah tanah di Jogya hanya 
diperuntukkan orang yang benar-benar hendak tinggal/penghuni disitu, PEMILIK 
rumah pertama dan satu-satunya. Jadi, tidak dijual pada orang-orang yang sudah 
punya rumah di Jogya atau bahkan juga diwilayah lain diluar Jogya. Kalau mau 
beli tanah di Jogya, harus lebih dahulu menjual tanah semula, dengan syarat 
tenggak waktu tidak lebih dari 1 tahun, misalnya! Segala aturan bisa dibuat 
sebijaksana mungkin, TAPI, ... tidak berdasarkan ras, etnis warga untuk 
menentukan penjualan tanah di Jogya yang jelas-menabrak UU Anti-Diskriminasi 
rasial yang sudah disahkan tahun 2008 itu!

Dijaman sekarang masih saja berpandangan rasialis, membeda-bedakan “PRIBUMI” 
dan “Non-Pribumi”, padahal kenyataan tidak ada yang bisa mengklain “PRIBUMI”. 
Bukankah sudah mulai ada yang menelusuri Minahasa leluhurnya adalah Penguasa 
Dinasti Han di Tiongkok sana. Dan kalau dilihat dengan kasat-mata, suku 
minoritas Yu di Yun Nan itu mirip banget dengan orang Melayu, orang Jawa, ... 
Kenapa masih saja hendak membeda-bedakan sesama umat manusia berdasarkan ras, 
etnis dan Agama?


From: Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45] 
Sent: Saturday, March 3, 2018 8:15 AM
To: Yahoogroups 
Subject: [GELORA45] Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu

  

Pengantar berpanjang-panjang barusan sebenarnya cuma untuk menemani kekaguman 
saya kepada hasil keputusan pengadilan yang mementahkan gugatan Handoko, 
seorang beretnis Tionghoa di Jogja. Dia menggugat peraturan yang melarang 
kepemilikan tanah bagi warga keturunan Tionghoa di DIY. Namun gugatan itu 
dimentahkan, dan salah satu pertimbangan dalam keputusan majelis hakim sungguh 
ajaib meski sekilas terdengar mulia: "Untuk melindungi warga masyarakat yang 
ekonominya relatif lemah."


Selebihnya, meski saya punya banyak teman beretnis Tionghoa, justru orang-orang 
paling tajir yang saya kenal di Jogja, yang aset ekonominya berjibun dan 
tanahnya ada di mana-mana, justru mereka yang so called"pribumi". Apa artinya?



Selasa 27 Februari 2018, 15:42 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu


 
   
 Jogja dalam Himpitan Logika Masa Lalu
  Iqbal Aji Daryono

  Pengadilan menolak gugatan Handoko, seorang beretnis Tionghoa 
di Jogja. Dia menggugat peraturan yang melarang ke...
 
   
 



Iqbal Aji Daryono - detikNews

Jakarta - Waktu kami masih di Perth, Australia, beberapa kali ibu saya datang 
berkunjung. Selain saya ajak jalan-jalan cantik menonton segala yang 
indah-indah, sering juga saya bawa dia blusukan ke tempat-tempat tak biasa. 
Misalnya ke sebuah kota dengan eko nomi yang sekarat. Kota itu bernama 
Kalgoorlie, 600 kilometer di timur Perth. Kota yang pernah menjadi salah satu 
kota terbesar di Australia karena tambang emasnya itu kini nyaris mati akibat 
kehabisan sumber daya.

Di Kalgoorlie yang mengenaskan, saya ingat emak saya bergumam. "Kasihan banget 
ya, orang bule kok miskin-miskin begitu. Ternyata ada juga ya bule miskin."

Saya langsung terpingkal. "Lho , Mak, kalo lihat orang Jawa miskin kok nggak 
kasihan-kasihan amat? Begitu orang kulit putih yang miskin, kok jadi kasihan 
banget? Hahaha!"



Tentu saja, kesan yang muncul di benak emak saya itu lazim saja bagi masyarakat 
awam pascakolonial. Kita pernah dijajah orang Eropa selama ratusan tahun. Citra 
orang kulit putih selalu kuat dan hebat, juga kaya raya. Kita inferior di depan 
mereka. Apalagi pada masa selepas perang pun hegemoni budaya kulit putih terus 
meneguhkan superioritas mereka. Lewat film, lewat foto-foto, lewat 
produk-produk teknologi, dan entah lewat apa lagi.

Maka, para turis bule yang datang ke tempat kita pun selalu kita anggap 
orang-orang kaya. Jadi jangan kaget kalau teman Anda yang berpenampilan 
Kaukasoi d diminta membayar dua atau tiga kali lipat dari harga biasa, saat 
makan-minum di angkringan dekat rumah saya. Dia di-thuthuk, kalau istilah 
Jawanya. Lha semua orang bule kan pasti kaya! Hehehe.

Hari ini, setelah media jenis apa pun dengan gampang kita akses, setelah 
jangkauan pergaulan meluas dengan aneka kemudahan untuk melawan sindrom kurang 
piknik, kita tahu bahwa teori sosial "semua orang kulit putih pasti kaya" itu 
mitos belaka. Kita paham bahwa banyak wisatawan di bilangan Prawirotaman, Jogja 
adalah para buruh rendahan di negaranya. Kita mengerti bahwa tak sedikit turis 
Australia yang mabuk-mabukan di Legian adalah pengangguran di negeri mereka, 
mendapat santunan dari negara, lalu dengan uang santunan itu mereka ke Bali 
menghabiskan dolar untuk bertamasya.

Sebagaimana tidak semua orang kulit putih itu kaya, tidak semua juga