Title: e-JEMMi -- Edisi 09/September/2017
e-JEMMi -- Edisi 09/September/2017
 
Perjalanan Kabar Baik
e-JEMMi -- Edisi 09/September/2017
 

e-JEMMi

DARI REDAKSI:

Mendukung Tujuan Misi

Shalom,

Meski tidak semua orang terpanggil untuk menjadi misionaris sepenuh waktu, setiap orang percaya seharusnya tetap mengambil bagian dalam pelayanan misi. Bentuk keterlibatan yang paling banyak diberikan bagi pelayanan misi adalah dukungan doa dan dana. Selain itu sebenarnya masih ada cara lain yang juga bisa dilakukan, yaitu melakukan misi jangka-pendek. Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi menyebutkan bahwa pelayanan misi jangka pendek bisa menjadi salah satu upaya untuk mendukung kegiatan misi.

Bagaimana misi jangka pendek ini dapat berguna untuk mendukung kegiatan misi? Edisi e-JEMMi bulan ini akan membahas mengenai apa yang dapat dilakukan dalam kegiatan misi jangka-pendek untuk mendukung tujuan misi, yang kiranya dapat berguna dan diterapkan dalam pelayanan misi kita. Simak juga artikel dalam kolom Kesaksian Misi yang mengulas cerita mengenai pertobatan seorang kepala suku di pedalaman Amerika Selatan yang kemudian melakukan penjangkauan terhadap suku-suku lainnya bagi Kristus. Selamat membaca dan mendapatkan berkat. Tuhan Yesus memberkati.

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
N. Risanti

 

ARTIKEL
Tidak Ada yang Pendek dalam Misi Jangka-Pendek

Apakah perjalanan misi jangka-pendek kita benar-benar berguna untuk mencapai tujuan misi?

Yang saya maksud dengan "misi" adalah proses pemberitaan Injil oleh orang Kristen dari kelompok orang yang telah dijangkau kepada kelompok orang yang belum terjangkau, artinya ada bahasa dan budaya lain yang harus dipahami. Penguasaan bahasa dan pemahaman budaya memerlukan waktu bertahun-tahun, bahkan mungkin berabad-abad -- bukan hari.

Definisi ini menunjukkan bahwa sejak awal, misi paling efektif adalah dijalankan oleh para misionaris jangka-panjang. Yang saya maksud dengan "perjalanan misi" jangka-pendek adalah kunjungan ke negara asing untuk tujuan misi, yang biasanya berlangsung tidak lebih dari dua atau tiga minggu. Saya mendefinisikannya demikian bukan karena itu merupakan pengertian paling tepat, tetapi itulah definisi yang paling dikenal di hampir semua gereja sejak akhir abad ke-20. Akan tetapi, dengan definisi misi seperti di atas, misi jangka-pendek sebenarnya tidak ada -- bahasa tidak bisa dipelajari dan budaya tidak dapat dipahami dalam kunjungan tiga minggu. Hal ini belum tentu berarti bahwa perjalanan misi jangka-pendek tidak dapat mendukung tujuan misi.

Pertanyaannya adalah peran apa yang bisa dilakukan oleh perjalanan misi jangka-pendek dalam mencapai tujuan jangka-panjang gereja di antara bangsa-bangsa?

Alkitab adalah yang harus pertama kali kita lihat untuk memahami model pelayanan, terutama ketika standarnya setinggi itu. Kita sedang bicara tentang ribuan perjalanan, jutaan dollar, dan jiwa belum terjangkau yang tak terhitung banyaknya.

Pelayanan Pendukungan Jangka Panjang

"Akan tetapi, aku berpikir perlu juga mengutus Epafroditus kepadamu. Ia adalah saudaraku, teman sepelayananku, teman seperjuanganku, dan juga orang yang membawa pesan kepadamu dan yang melayani kebutuhanku ... sambutlah dia dalam Tuhan dengan penuh sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia karena ia hampir mati demi pekerjaan Kristus; ia mempertaruhkan nyawanya untuk menggantikan bantuan yang tidak dapat kamu berikan kepadaku." (Filipi 2:25, 29-30)

Dalam surat kepada jemaat Filipi terdapat ucapan terima kasih dari seorang misionaris (Paulus) kepada salah satu gereja pendukungnya atas bantuan yang mereka kirim melalui Epafroditus, yang menjadi contoh penting untuk pekerjaan jangka-pendek. Epafroditus melayani gereja dan memenuhi tujuan misi dengan menjadi utusan kasih dari gereja kepada Paulus, dan dengan menjadi seorang pelayan bagi kebutuhan emosi dan jasmaninya (Filipi 2:25). Usaha keras jangka-pendeknya memajukan tujuan misi dengan mendukung sarana misi yang paling efektif bagi misionaris jangka-panjang.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Epafroditus. Timnya sangat kecil. Kita mungkin sebaiknya tidak melakukan perjalanan sendirian, tetapi apakah tim yang terdiri dari sepuluh, dua puluh, atau lebih adalah masuk akal? Mari berpikir secara praktis: apakah menurut Anda akan nyaman memiliki sepuluh atau dua puluh orang di rumah Anda selama kira-kira seminggu? Lalu, bagaimana rasanya bagi seorang misionaris yang jauh dari tempat asal mereka dengan bantuan yang jauh lebih sedikit?

Epafroditus tidak melakukan pekerjaan di luar bidangnya (misalnya membangun atap untuk panti asuhan, entah dia ahli memasang atap atau tidak). Dia tidak mengajak anak-anak usia sekolah supaya mereka mendapat pengalaman yang hebat. Seorang anak yang masih terlalu kecil hanya akan melelahkan daripada membantu pekerjaan tersebut. Dia membawa jemaat kepada Paulus. Orang Kristen yang berada di tempat asal memiliki akses untuk bersekutu setiap waktu. Mereka disegarkan kembali dengan acara persekutuan setiap minggu dan kebersamaan di kelompok kecil. Misionaris, sesuai definisinya, tidak memiliki akses serupa dengan orang-orang percaya lain.

Kesaksian-kesaksian dan pengamalaman pribadi para misionaris menyatakan dan menegaskan bahwa pengunjung tipe -- Epafroditus dapat menyegarkan dan menguatkan kembali para misionaris jangka-panjang yang telah kehilangan semangat dan sudah hampir siap berkemas.

Pelayanan Pendidikan Jangka-Panjang

Meskipun tujuan misi tidak berubah sejak abad pertama, strateginya berubah. Lapangan pekerjaan, industri, dan jasa telah mengalami kemajuan dan berkembang selama bertahun-tahun.

Perhatikan pekerjaan atau bisnis Anda sendiri. Pernahkah Anda memiliki satu tim terdiri dari 10-20 orang yang datang membantu di tempat kerja Anda selama seminggu? Mungkin beberapa dari Anda mengetahui ada pengecualian yang jarang. Akan tetapi, umumnya, bila tim itu tidak bisa berbicara dalam bahasa rekan kerja atau pelanggan Anda, bila mereka bukan berasal dari Amerika Utara dan tidak tahu apa-apa tentang budayanya, seberapa bergunakah tim itu bagi Anda?

Jika kunjungan tim pekerja semacam itu tidak terbiasa dengan pekerjaan atau industri di Amerika Serikat, akankah kita beranggapan tim itu akan bermanfaat bagi misionaris?

Daripada bekerja selama beberapa minggu, akan lebih efektif jika tim jangka-pendek melayani dengan memberikan pelatihan berkelanjutan yang berguna untuk pekerjaan. Banyak kaum profesional mengadakan seminar, konferensi, atau pertemuan di mana mereka dengan bidang tertentu dapat belajar dari orang lain yang ada di bidang yang sama. Sebagian besar misionaris tidak memiliki akses geografis maupun finansial ke jenis pengajaran yang ditujukan seperti itu. Karena kurangnya tenaga ahli dan sumber di banyak ladang misi, perjalanan pemberian pendidikan seperti itu akan menguntungkan, bahkan jika pelatihnya bukan para ahli industri -- mereka hanya perlu dilatih untuk melatih orang lain.

Dan, pelatihan berkaitan dengan lapangan pekerjaan ini tidak perlu dibatasi untuk pekerjaan yang dibayar saja. Misalnya, ada konferensi di US untuk melatih para orangtua yang mengajar sendiri anak-anaknya di home-schooling. Menurut Anda, seberapa besarkah manfaat sebuah kunjungan oleh dua relawan seperti Epafroditus dengan keahlian dalam pendidikan atau penilaian akademik bagi seorang ibu yang anak-anak home-schoolnya ada di tengah gurun Sahara? Jika kunjungan yang fokus dan dipikirkan dengan matang diteruskan satu tahun lagi di tempat itu, akan menjadi jauh berarti daripada misi jangka-pendek 52 minggu untuk tujuan misi (dan, selain itu, jauh lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumber dayanya).

Kesimpulan

Misi adalah proses menjangkau orang-orang yang belum terjangkau Injil, yang membutuhkan pembelajaran bahasa, studi budaya, dan membangun hubungan secara terus-menerus. Karenanya, misi jangka-pendek tidak ada. Semua misi kita -- seberapa lama secara fisik kita ada di negara itu -- adalah misi jangka-panjang. Sumber gereja harusnya diinvestasikan dalam misi jangka-pendek sebagai cara mendukung para misionaris, bukan sebagai strategi misi yang tersendiri.

Salah satu cara untuk mendukung para misionaris adalah mengirim para pelayan seperti Epafroditus untuk mengasihi dan menguatkan hati mereka. Cara lain, yaitu memberikan pendidikan berkaitan dengan lapangan pekerjaan secara berkelanjutan untuk bidang pelayanan mereka di keluarga dan masyarakat. Tentu ada beragam cara lain untuk mendukung para misionaris melalui orang-orang yang datang berkunjung, tetapi alih-alih berusaha mengembangkan rencana karangan, mari berpikir secara praktis dan memperhatikan apa yang berhasil dengan baik di tempat asal Anda sendiri, lingkungan, dan tempat kerja Anda. Mungkin hal paling penting untuk diingat adalah tidak seperti liburan -- yang direncanakan untuk kepentingan orang-orang yang pergi berlibur -- kunjungan-kunjungan ini seharusnya dilakukan bukan demi mereka yang mengunjungi, melainkan demi para misionaris kita yang berharga.

Mari bekerja sama untuk menghapus "pendek" dari misi jangka-pendek. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/there-s-nothing-short-about-short-term-missions
Judul asli artikel : There’s Nothing Short About Short-Term Missions
Penulis artikel : Ramon Lull
Tanggal akses : 31 Juli 2017
 

KESAKSIAN MISI
Elka dari Wai Wai

Elka yang berusia 10 tahun melihat dari tempat persembunyiannya ketika Mafolio, penyihir yang ditakuti dan dihormati, meminta Kworokyam yang kuat dan tak kenal ampun untuk menyembuhkan ayah tirinya. Bagi orang Wai Wai, Kworokyam adalah kumpulan semua roh di dunia mereka. Dia adalah yang paling jahat dan menyebabkan penyakit, tetapi kepada dia juga dukun akan mengajukan permohonan untuk kesembuhan.

Elka terpesona dengan ritual Mafolio, dan segera mulai bernyanyi dan menyenandungkan nyanyian yang dia dengar yang ada dalam pikirannya. Dunia roh menariknya masuk. Lama-kelamaan, Elka pun tinggal bersama Mafolio di rumah besarnya di dekat sungai. Pada suatu malam, seekor babi hutan berbicara kepadanya dalam mimpinya dan memerintahkannya untuk menyanyikan lagu-lagu Kworokyam. Elka menceritakan mimpinya kepada Mafolio. Si penyihir terkejut, menegaskan bahwa Kworokyam telah menyatakan dirinya pada Elka melalui babi hutan.

Tahun-tahun berlalu, Elka pun tumbuh besar dengan memiliki paras tubuh tinggi dan kuat, dan dia mempelajari jalan-jalan di hutan dan kelicikan bangsanya. Dia juga semakin peka terhadap roh-roh dan menjadi penyihir dewasa yang dihormati karena kemampuannya untuk menyembuhkan orang sakit. Orang-orang mengenalinya karena kebijaksanaannya, dan mengikuti nasihat dan kepemimpinannya. Dia bisa bekerja sama, tegas, dan baik hati. Tak lama kemudian, orang-orang mengangkat Elka menjadi kepala mereka dan dia menjadi orang paling berkuasa di wilayah ini.

Akan tetapi, tetap saja kehidupan orang Wai Wai didominasi oleh rasa takut, bahkan Elka, dengan semua kekuatannya, takut akan kehampaan hutan dan teror spiritual. Dia takut pada tersulutnya kembali permusuhan lama antara Wai Wai dan suku-suku tetangga. Namun, ketakutan terbesar adalah hal yang tidak diketahui yang ada setelah kematian.

Jenis Cinta yang Asing

Ketika pria kulit putih masuk ke wilayah mereka, orang Wai Wai menyambut orang asing itu dengan senyuman, tetapi meracuni minuman mereka dan memukuli mereka dengan tongkat sampai mati. Tidak ada lagi yang datang untuk waktu yang lama. Namun, pada suatu hari terdengar berita bahwa sekelompok pria kulit putih lainnya datang. Ketakutan mencekam hati orang-orang, mengira orang-orang ini adalah pembunuh. Akan tetapi, yang mengejutkan orang Wai Wai, saudara-saudara Hawkins, Neill, dan Bob baik hati dan membawa hadiah: kait ikan, pisau, dan sumbu baja.

Mula-mula, para misionaris dari UFM (sekarang Crossworld) tidak berbicara bahasa Wai Wai, tetapi sedikit demi sedikit mereka mempelajari bahasanya. Mereka mulai berbicara tentang Allah, Sang Pencipta, yang menciptakan pepohonan, bebatuan, matahari – seluruh dunia. Dia memiliki seorang putra – Chisusu (Yesus) – yang mati untuk melenyapkan semua kejahatan manusia karena Dia mencintai semua orang, termasuk orang Wai Wai. Cinta semacam ini asing bagi orang Wai Wai, yang hanya mencintai apa yang akan mereka dapatkan sebagai imbalannya.

Elka merenungkan pesan orang kulit putih itu. Dia tahu dia hidup di tengah kejahatan: kebencian ditutupi dengan senyuman, mereka dibunuh melalui tipu muslihat, bayi yang tidak diinginkan dibunuh, istri bisa diperdagangkan atau dicuri. Dia merasa terjebak, tetapi tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri.

Bob Hawkins menetap untuk tinggal di antara orang Wai Wai bersama istrinya Florine. Seorang perawat juga bergabung dengan mereka. Bob menjelaskan bahwa dia memiliki God’s Paper, yaitu Allah mengungkapkan diri-Nya dan memberi tahu orang-orang bagaimana mereka seharusnya hidup. Bob bekerja dengan teliti menerjemahkan Perjanjian Baru ke bahasa Wai Wai, sebuah proyek yang dia kerjakan selama bertahun-tahun. Awalnya, Elka dan yang lainnya menertawakan usahanya mengucapkan bahasa mereka, tetapi kemudian terpesona oleh proyek tersebut dan mulai membantunya dan memperbaiki usahanya.

Saat Elka berpartisipasi dalam penerjemahan God's Paper, dia mulai mengerti apa yang Allah harapkan darinya: untuk berbalik dari kejahatannya dan "mengundang Yesus ke dalam hatinya". Dia dan orang-orang lain mulai menghadiri pertemuan pengajaran mingguan yang diadakan Bob untuk mereka. Mereka menikmati lagu yang diajarkan Bob dan bernyanyi dengan riuh. Mereka dengan bersemangat menerima perhatian medis yang efektif yang diberikan perawat kepada mereka, dengan pil dan jarumnya yang mengilap. Namun, sedikit perubahan yang terlihat dalam perilaku mereka.

Melenyapkan Ketakutan

Meskipun tidak ada yang benar-benar menanggapi pesan misionaris, ada sesuatu yang menggelisahkan hati dan pikiran Elka. Pada suatu hari, dia membantu menerjemahkan ayat berikut ini: Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan ... kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:18).

Ini membuat Elka tertarik karena begitu mengena pada dirinya. Sepanjang hidupnya, dia hidup dalam ketakutan Kworokyam. Namun, kasih Yesus menawarkan kebebasan dan kehidupan yang tidak diketahui Elka. Dia dihadapkan pada sebuah pilihan: hidup sesuai dengan Kworokyam dan seluruh dunia roh yang paling jahat, atau menjalani hidup sesuai dengan Yesus. Entah tinggal dengan dunia spiritual yang ia tahu dari masa kecilnya, atau menyerah kepada Allah yang kekal yang memerintah atas kuasa gelap dari kematian.

Ketika Elka mengatakan kepada istri dan teman dekatnya tentang ketertarikannya untuk menanggapi Injil, mereka menertawakannya. Mereka memperingatkannya bahwa Kworokyam tidak akan menyukainya.

Elka bergumul. Dia bermimpi di mana seseorang seperti Bob muncul di hadapannya dan berkata, "Lepaskan dosa-dosamu. Katakanlah kepada Yesus, 'Masuklah.' Jika kau melakukannya, Dia akan masuk." Pagi-pagi sekali, Elka pergi ke ladang yang kosong untuk berdoa. Dia menatap langit dan berkata, "Bapa, aku ingin mengenal Engkau. Jadi, tunjukkanlah diri-Mu kepadaku selamanya. Apa pendapat-Mu tentang itu? Elka tua ingin Engkau masuk ke dalam hatinya, Bapa, dan membuat jiwanya kuat." Dia mengakui dosanya dan meminta Allah untuk mengambil dirinya yang lama beserta dengan semua kejahatan. "Ubah aku menjadi seperti Yesus."

"Bapa, aku ingin mengenal Engkau. Jadi, tunjukkanlah diri-Mu kepadaku selamanya. Apa pendapat-Mu tentang itu? Elka tua ingin Engkau masuk ke dalam hatinya, Bapa, dan membuat jiwanya kuat. Ubah aku menjadi seperti Yesus."

Allah mendengar doanya yang sederhana dan memasuki hidupnya. Ketika Elka bertumbuh dalam imannya, dia menyadari bahwa dia harus mengambil langkah lain: berhenti melakukan sihir. Prospeknya sangat mengerikan bagi bangsanya, tetapi waktu Elka telah tiba. Pada sebuah perayaan komunal, Elka menyerahkan keranjangnya kepada misionaris tersebut dan mengatakan kepada warganya bahwa dia telah memutuskan untuk memercayai Allah sebagai gantinya. Semua orang yakin dia akan langsung meninggal atau dalam minggu ini.

Komunitas Berubah

Meskipun desa tersebut mencela hari itu, pertobatan total Elka terbukti menjadi titik balik dalam kehidupan komunitas itu. Seiring berjalannya waktu dan dia tidak mati, individu-individu mulai mengambil langkah yang sama dengannya. Sebuah gereja pun lahir. Saat Allah mulai mengubah komunitas mereka, mereka harus belajar apa artinya hidup bagi Allah. Mereka harus belajar pengampunan, kesabaran, belas kasihan, kesabaran, kejujuran, kemurnian, dan banyak hal lainnya. Mereka tidak bisa lagi hidup untuk diri mereka sendiri.

Para misionaris mendorong mereka untuk memilih penatua mereka sendiri dan menerapkan prinsip-prinsip yang mereka pelajari dari Kitab Suci. Orang asing tidak membawa serta kenyamanan modern, untuk menghindari terciptanya harapan material. Mereka tidak mengenakan aturan tentang berpakaian, poligami, upacara pernikahan, atau organisasi sosial. Mereka yakin bahwa Allah akan menunjukkan kepada orang-orang itu bagaimana cara hidup dan melakukan perubahan yang dibutuhkan sesuai dengan waktu-Nya sendiri.

Para penatua Wai Wai mulai melakukan khotbah. Hari Minggu menjadi hari istirahat dan beribadah, dan Rabu pagi adalah waktu mengajar bagi orang-orang yang percaya. Pria berhenti mencuri istri. Mereka bahkan mulai membantu wanita mereka melakukan tugas berat, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka berhenti membunuh bayi mereka. Dari menjadi suku yang hampir punah, mereka mulai bertambah banyak jumlahnya.

Elka dan para penatua merasakan beban yang besar dari Tuhan untuk menjangkau suku-suku lain dengan pesan yang telah mereka dengar. Dalam khotbah mereka, mereka menekankan bagaimana suku-suku lain hidup seperti mereka dulu -- takut akan roh jahat, curiga, dibunuh dengan tongkat atau sihir. Elka menekankan bagaimana para misionaris datang sejauh ini untuk menjangkau mereka, dan bahwa Yesus sendiri telah datang dari tempat tinggal-Nya untuk menyelamatkan mereka. "Yesus sudah jauh-jauh datang. Jadi, mari kita pergi jauh juga. Dia mati untuk kita. Kita belum mati untuk-Nya. Marilah kita mati demi Yesus." (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Urbana
Alamat situs : https://urbana.org/blog/elka-wai-wai
Judul asli artikel : Elka of The Wai-Wai
Penulis artikel : Jack Voelkel
Tanggal akses : 20 Februari 2017
 
Anda terdaftar dengan alamat: arch...@mail-archive.com.
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
m...@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: N. Risanti, Davida, dan Yulia
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
© 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

Kirim email ke