Re: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran sesat

2011-03-15 Terurut Topik Ahmad Ridha
2011/3/15 Ephi Lintau 

> harap berhati2 dgn postingan ini, ada maksud tersirat nampaknya. selain
> tidak ada hubungannya dgn sumbar, tapi ada semacam ajakan utk kita memahami
> ajaran kejawen yg jelas2 tidak benar dalam agama islam.
>

Posting itu sih bukan tersirat lagi, Pak, malah telah jelas tersurat
memuji-muji kejawen.

BTW, saya selalu bingung dengan klaim-klaim budaya dan adat asli.  Apakah
iya yang dianggap asli itu sudah ada dari awal keberadaan orang-orang etnis
empunya budaya dan adat tersebut?  Misalnya di Bali ada tradisi berciuman
antara pemuda pemudi yang katanya ingin dilestarikan, dan juga pelbagai adat
dan tradisi.  Biasanya sih yang dikatakan sebagai "pendatang asing" adalah
agama, terutama Islam, karena Islam melakukan perubahan menyeluruh dalam
kehidupan manusia.

-- 
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


RE: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ajaran sesat

2011-03-15 Terurut Topik Madahar (madahar)
Assalamu'alaikum ww,

Bia awak tolong senek Jo, mungkin kanakan ajo sadang indak dimuko
komputer kini du.

HAK & KEWAJIBAN

 

A.Hak peserta mailing list Palanta RantauNet menerima/membaca
posting email dari mailing list Palanta RantauNet.

B.Untuk menjadi anggota, wajib mengisi formulir biodata dibawah
dengan jujur dan benar dan dikirim ke [email protected].

 

Nama Lengkap: Serly Nofita

Panggilan/Alias (jika ada): serly/ cik Uniang
Gelar Adat (jika ada):

Tahun Lahir: 30 Mei 1985

Jenis Kelamin: Perempuan


Suku: piliang


Kampung Asal
o Desa/Jorong: 
o Nagari/Kecamatan: Lubuak bagaluang
o Kabupaten/Kota: Padang pariaman

 

No Telepon/SMS:

Website/Blog (jika ada):

 

Domisili Sekarang
o Kota/Kabupaten: Palembang
o Negara (jika diluar negeri):

Pekerjaan

o Profesi/Keahlian: wiraswasta

o Bidang/Industri:

 

Wassalam

Batuduang Ameh (44) 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of [email protected]
Sent: Tuesday, March 15, 2011 2:01 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa
kejawen/ajaran sesat

 

Maaf JB ingin tahu sia kolah Serly Novita ko ah.Maklum lah tuo ingatan
gak sakuaik masa mudo.Tolong sanak rang Dapua infonyo.
JB,Dt Rajo Jambi,71thn,sk Mandailiang,Piaman,Bonjer,Jakbar.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


Re: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran sesat

2011-03-15 Terurut Topik Masdar TGM
Serly, dengan segala kerendahan hati mohon di bagian bawah surat anda
dituliskan ID anda sebagaimana kebiasaan yang kita jaga di milis ini,
seperti umur, kelamin dan tempat tinggal anda.
Terima kasih.

Masdar, L/51/Bkl
NB. Saya berprasangka baik bahwa anda tentu ingin dihargai sebagai manusia
yang berbudi luhur sebagaimana isi posting anda.
==

Pada 15 Maret 2011 12:58, Serly Nofita  menulis:

>
> KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


Re: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran sesat

2011-03-15 Terurut Topik Ephi Lintau
harap berhati2 dgn postingan ini, ada maksud tersirat nampaknya. selain
tidak ada hubungannya dgn sumbar, tapi ada semacam ajakan utk kita memahami
ajaran kejawen yg jelas2 tidak benar dalam agama islam.

satuju ambo jo Mak Zubir...siakolah serly nofita ko?

2011/3/15 andiko 

> Mana cerita Sumbarnya ?
>
> salam
>
> andiko
>
> - Original Message -
> From: "Serly Nofita" 
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, March 15, 2011 12:58:26 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi,
> Jakarta
> Subject: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/
> ajaran sesat
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


Re: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ajaran sesat

2011-03-15 Terurut Topik zubir . amin
   Maaf JB ingin tahu sia kolah Serly Novita ko ah.Maklum lah tuo ingatan gak 
sakuaik masa mudo.Tolong sanak rang Dapua infonyo.
   JB,Dt Rajo Jambi,71thn,sk Mandailiang,Piaman,Bonjer,Jakbar.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-Original Message-
From: Serly Nofita 
Sender: [email protected]
Date: Tue, 15 Mar 2011 13:58:26 
To: 
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/
 ajaran sesat


KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan


KEJAWEN 
“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai
Dan Dikambinghitamkan
 
 
Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai
 
Ajaran
 kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu 
tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya 
asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah
 benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru 
disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, 
memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai 
kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, 
dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia 
segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan 
jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena 
dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik 
asing yang tengah bertarung di negeri ini. 
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image
 buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara 
memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), 
penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu,
 diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran 
Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara 
menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang 
korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili 
santrinya, dst. 
 Tidak
 berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa
 dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. 
Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali 
naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, 
budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era 
kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” 
tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa
 yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian 
dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif 
disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan 
“local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, 
tahyul
 mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah 
tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma 
agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan,
 menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya 
istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb; 
 
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan 
hukum sebab akibat
 yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain 
bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama
 manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis :
 adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami 
manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam 
agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan 
istilah tasawuf.
Tahyul :
 adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan 
makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya 
kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang 
Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam 
rukun Islam. 
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk 
lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe
 sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga 
mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai 
bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat
 dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: 
not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng,
 sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam 
berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan 
tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada 
lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib 
yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah
 kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa sy

Re: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran sesat

2011-03-15 Terurut Topik andiko
Mana cerita Sumbarnya ?

salam

andiko

- Original Message -
From: "Serly Nofita" 
To: [email protected]
Sent: Tuesday, March 15, 2011 12:58:26 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran 
sesat


KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan 


KEJAWEN 

“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai 

Dan Dikambinghitamkan 





Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai 



Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu 
tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing 
(Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan 
dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan 
upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah 
martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus 
ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan 
“kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya 
kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. 
Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat 
dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini. 

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap 
kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan 
contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, 
pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang 
baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan 
menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis 
terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai 
yang menghamili santrinya, dst. 

Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa 
dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti 
kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang 
berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa 
(Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan 
oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, 
istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, 
kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif 
disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local 
wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul 
mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut 
“di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; 
kemusyrikan, gugon tuhon , budak setan , menyembah setan, dst. Padahal tidak 
demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang 
sangat religius sbb; 



Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan 
hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak 
lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama 
manapun unsur “klenik” ini selalu ada. 

Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami 
manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama 
Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah 
tasawuf. 

Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan 
makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib 
yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. 
Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam. 

Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk 
lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe 
sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga 
mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk 
isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan 
jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), 
melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol 
kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat 
unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan . Upacara-upacara 
tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada 
lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, 
agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, 
setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil 
(ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat 
membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual 
tersebut sering dianggap sebagai 

[R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran sesat

2011-03-14 Terurut Topik Serly Nofita

KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan


KEJAWEN 
“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai
Dan Dikambinghitamkan
 
 
Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai
 
Ajaran
 kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu 
tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya 
asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah
 benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru 
disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, 
memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai 
kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, 
dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia 
segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan 
jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena 
dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik 
asing yang tengah bertarung di negeri ini. 
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image
 buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara 
memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), 
penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu,
 diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran 
Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara 
menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang 
korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili 
santrinya, dst. 
 Tidak
 berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa
 dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. 
Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali 
naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, 
budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era 
kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” 
tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa
 yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian 
dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif 
disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan 
“local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, 
tahyul
 mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah 
tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma 
agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan,
 menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya 
istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb; 
 
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan 
hukum sebab akibat
 yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain 
bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama
 manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis :
 adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami 
manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam 
agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan 
istilah tasawuf.
Tahyul :
 adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan 
makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya 
kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang 
Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam 
rukun Islam. 
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk 
lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe
 sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga 
mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai 
bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat
 dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: 
not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng,
 sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam 
berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan 
tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada 
lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib 
yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah
 kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus 
diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan
 dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan 
tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap 
sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, 
dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen :
 berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara 
manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha 
Tungga