Re: [R@ntau-Net] Universitas Andalas Teliti Naskah Kuno di Calau Sijunjung

2011-09-16 Terurut Topik Nofend St. Mudo
Mak Ngah.

Sebelum dapek tambahan teng asal kato "calau" ko tarutamo dari sanak
awak nan dari "Muaro Sijunjuang"  barikuik ambo tambahkan link tentang
sejarah nan akan ditaliti ko.

Laporan penelitian melacak jejak Hamzah Fansuri di Kampung Calau,
Muaro Sijunjung
studi kasus faham Wahdat al-Wujud
oleh Drs. Nurfaizal.
Published 2002 by Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Institut Agama
Islam Negeri Sulthan Syarif Qasim in Pekanbaru .
http://openlibrary.org/works/OL2326493W/Laporan_penelitian_melacak_jejak_Hamzah_Fansuri_di_Kampung_Calau_Muaro_Sijunjung

Surau Syech Abdul Wahab di Calau Ramai Dikunjungi
Selasa, 02/08/2011 23:50 WIB

padangmedia.com - Diperkirakan pada abad ke -17 Masehi, seorang ulama
yang bernama Abdul Wahab datang ke daerah Sijunjung, atau tepatnya
dinagari Muaro untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat
setempat. Menurut sejarah yang diterima dari berapa orang yang
mengetahui riwayatnya, Syech Abdul Wahab datang dari Tanjung Bonai Aur
Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung.

Syech Abdul Wahab dikenal dengan sebutan “Tuanku Dibawah Manggis”,
yang berusia lebih kurang 100 tahun dan belajar ilmu agama di Lubuak
Sikarah, dulunya dikenal dengan sebutan Kubuang Tigo Baleh, Ia juga
belajar ilmu agama dengan seorang guru dari Pangian, Kecamatan Lintau
Buo Kabuaten Tanah Datar.

Menurut sejarah yang di terima turun-temurun, Syech Abdul Wahab
mengajarkan agama Islam di perkampungan Calau. Ia termasuk orang yang
dicari-cari oleh pemerintah Belanda. Seperti dijelaskan Umar Tuangku
Mudo yang meneruskan kekhalifahan Calau, Syech Abdul Wahab dikenal
sebagai ulama yang sangat benci kepada pemerintah Belanda. Disamping
itu di Nagari Tanjung Bonai Aur, ia juga berselisih faham tentang
I’tikat pengajian Sifat Duo Puluah dengan Tuangku Nan Basiriang .
Menurutnya, kalau paham itu dipakai dan terbawa mati maka akhir
hayatnya kelak akan menjadi harimau. Syech Abdul Wahab khawatir lama
kelamaan nanti bisa tertarik dengan paham itu.

Alasan itulah Syech Abdul Wahab memutuskan untuk menyingkir dari
daetah Tanjung Bonai Aur sekaligus mancari tempat persembunyian dari
Pemerintah Belanda. Di Tanjung Bonai Aur surau beliu terletak dibawah
sebuah batang manggis dan memiliki pancuran tampek mandi sebanyak
tujuh buah. Makanya beliau disebut Tuanku Dibawah Manggis.

Dari tanjung Bonai Aur, ia mengikuti hilir Sungai Batang Sinamar
sampai kemuara Batang ombilin, Batang Palanki dan Batang Sukam yaitu
Batang Kuantan. Lalu ia menepi di daerah yang bernama “Kederasan Baru”
atau Patahan, diperkirakan sebelah hilir dari lokasi runtuhnya Bukit
yang dibelah oleh sungai batang Kuantan pada tanggal 7 april 1968.
Ditempat tersebut terdapat dua peninggalannya selama 3 tahun menetap
di sana yakni batu yang disusun untuk tempat sholat. Menurut seorang
saksi yang melihat tempat tersebut sebelum runtuhnya bukit yang
dibelah dua oleh sungai batang kuantan, batu ini masih bisa dilihat.
Peninggalaan lain adalah sebuah areal persawahan yang dibuat sendiri
oleh Sech Abdul Wahab.

Tak berapa lama menetap disana, Syech bertemu dengan Dt. Tapawuok yang
sekarang bergelar Dt. Tan Marajo. Sang Dt. Tan Marajo sering
berpergian. Iapun membawa Syech Abdul Wahab dari Muaro Kulampi ke
Ranah Katimahar yang sekarang menjadi nagari Muaro. Kala itu Ranah
Katimahar masih dalam tahap pembuatan sebuah nagari.

Setibanya di Ranah Katimahar, atau nagari Muaro sekarang, dicarikanlah
tempat tinggal yang cocok untuknya. Tujuannya agar Syech Abdul Wahab
dapat beribadah dengan khusuk serta aman dalam menyebarkan ilmu agama
Islam kepada masyarakat setempat. Tempaat itupun diminta kepada Ninik
mamak nagari muaro karena akan dijadikan tempat beribadah dan tempat
mengajarkan ilmu pengetahuan agama serta sekaligus menjadi hak kaum
muslimin. Setelah disetujui dan disepakati oleh ninik mamak nagari
muaro barulah beliau membangun tempat tersebut dengan membuat surau.

Surau yang pertama dibangun yaitu Surau Tinggi yang berbentuk
menyerupai rumah adat di Minang kabau yang memiliki tanduk. Hal
tersebut bermakna kesepakatan ninik mamak orang adat dengan orang
agama ( Ulama ), kemudian beliau membangun Surau Tuo dan Surau Masjid.
Ketiga surau inilah yang menjadi surau pokok di Kampung Calau.

Menurut sejarahnya di Surau Tuo beliau tempatkan guru beliau yang
berasal dari Pangian Lintau Buo. Sedangkan pada Surau Masjid itu
pembangunannya dimotori oleh orang-orang dari Nagari Padang Laweh yang
ada pada masa itu. Sedangkan di Surau Masjid ini beliau tempatkan
murid beliau yang merupakan orang Nagari Sijunjung yang saat itu
tinggal diantara Batang Hari dengan Sungai Pugu yang juga merupakan
kemenakan dari Tuangku yang bertempat di Pudak Sijunjung.

Batas daerah yang diberikan oleh ninik mamak nagari Muaro seakan-akan
berbentuk sebuah perkampungan. Sebelah utara berbatas dengan Bandar
yang digali dan Bandar inilah yang dinamakan dengan Calau. Sebelah
selatan berbatas dengan sungai kecil sebelah barat berbatas dengan
pagar kawat. Di Kampung Calau ini, selain mengajarkan ilmu 

Re: [R@ntau-Net] Universitas Andalas Teliti Naskah Kuno di Calau Sijunjung

2011-09-16 Terurut Topik sjamsir_sjarif
Rupanya ada dua Calau di daerah Sijunjung. yang saya kenal baik Calau yang di 
sumopur Kudus, Kampung Buya Ma'arif. 

Ada yang tahu apa arti kata Calau? Mudah-mudahan para pengreset dapat pula 
maresek-resek apa asal katanya.

Tentu sebaiknya halaman-halam buku tua itu discan dan disimpan dalam alat-alat 
computer storage modern yang dapat diakses dengan mudah di 
perpustakaan-perpustakaan dimasa depan.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi riak nan Badabua.
Santa Cruz, California
Sept 16, 2011


--- In [email protected], "Nofend St. Mudo"  wrote:
>
> Kab. Sijunjung | Jumat, 16/09/2011 11:01 WIB
> 
> Muaro Sijunjung, (ANTARA) – Ragam budaya dan peninggalan benda-benda
> kuno di Kabupaten Sijunjung, Sumbar, kini mulai menarik perhatian para
> ilmuwan. Salah satunya adalah para dosen Fakultas Sastra Universitas
> Andalas (Unand) Padang, yang kini tengah melakukan penelitian terhadap
> kitab kuno di Calau Muaro Nagari Muaro Kecamatan Sijunjung.
> 
> "Kita senang dan bangga dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh
> Universitas Andalas Padang yang bekerjasama dengan Tokyo University of
> Foriegn Studies (TUFS) terhadap naskah-naskah kuno yang ada di Calau.
> Ini tentu nantinya akan dapat menguak sejarah yang sangat bermanfaat
> bagi masyarakat Calau khususnya dan Muaro secara umum," ujar Ketua
> Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) LP3I Kabupaten Sijunjung, Zulkarnain
> di kediamannya, Jumat.
> 
> Menurut Zulkarnain, kedatangan para ilmuwan dari Unand dan TUFS itu
> adalah, dalam rangkaian kegiatan bhakti masyarakat yang dilakukan
> Unand bersama TUFS berupa konservasi naskah kuno, dimana di Kabupaten
> Sijunjung ada 2 lokasi yang dijadikan objek yaitu, naskah kuno yang
> terdapat di surau M. Yasin Tanjung Ampalu dan di Calau Nagari Muaro.
> 
> "Untuk naskah yang terdapat di surau Syech M. Yasin telah selesai
> dilakukan, sekarang tim ini tengah melakukan penelitian di surau
> Syech. Abdul Wahab di Calau," katanya.
> 
> Kegiatan yang dilakukan oleh tim ini, selain melakukan penelitian juga
> sekaligus memperbaiki kembali kitab-kitab yang rusak dan robek, tanpa
> mengubah naskah asli, baik kertas maupun tulisan dalam kitab tersebut.
> 
> "Dari hasil penelitian mereka, kitab-kitab tersebut sudah berumur
> sekitar 300 tahun dan ditulis dengan tulisan tangan menggunakan kertas
> dari Eropah. Dengan adanya konservasi dan perbaikan terhadap
> kitab-kitab yang rusak, kita berharap kitab yang amat bersejarah dalam
> pengembangan ajaran Islam di Kabupaten Sijunjung ini kembali utuh
> seperti sedia kala," harapnya. (eri)
> 
> http://www.antara-sumbar.com/id/berita/kab-sijunjung/d/18/185604/universitas-andalas-teliti-naskah-kuno-di-calau-sijunjung.html
> 
> --  
> 
> Wassalam
> Nofend/34+ CKRG



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


[R@ntau-Net] Universitas Andalas Teliti Naskah Kuno di Calau Sijunjung

2011-09-16 Terurut Topik Nofend St. Mudo
Kab. Sijunjung | Jumat, 16/09/2011 11:01 WIB

Muaro Sijunjung, (ANTARA) – Ragam budaya dan peninggalan benda-benda
kuno di Kabupaten Sijunjung, Sumbar, kini mulai menarik perhatian para
ilmuwan. Salah satunya adalah para dosen Fakultas Sastra Universitas
Andalas (Unand) Padang, yang kini tengah melakukan penelitian terhadap
kitab kuno di Calau Muaro Nagari Muaro Kecamatan Sijunjung.

“Kita senang dan bangga dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh
Universitas Andalas Padang yang bekerjasama dengan Tokyo University of
Foriegn Studies (TUFS) terhadap naskah-naskah kuno yang ada di Calau.
Ini tentu nantinya akan dapat menguak sejarah yang sangat bermanfaat
bagi masyarakat Calau khususnya dan Muaro secara umum,” ujar Ketua
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) LP3I Kabupaten Sijunjung, Zulkarnain
di kediamannya, Jumat.

Menurut Zulkarnain, kedatangan para ilmuwan dari Unand dan TUFS itu
adalah, dalam rangkaian kegiatan bhakti masyarakat yang dilakukan
Unand bersama TUFS berupa konservasi naskah kuno, dimana di Kabupaten
Sijunjung ada 2 lokasi yang dijadikan objek yaitu, naskah kuno yang
terdapat di surau M. Yasin Tanjung Ampalu dan di Calau Nagari Muaro.

“Untuk naskah yang terdapat di surau Syech M. Yasin telah selesai
dilakukan, sekarang tim ini tengah melakukan penelitian di surau
Syech. Abdul Wahab di Calau,” katanya.

Kegiatan yang dilakukan oleh tim ini, selain melakukan penelitian juga
sekaligus memperbaiki kembali kitab-kitab yang rusak dan robek, tanpa
mengubah naskah asli, baik kertas maupun tulisan dalam kitab tersebut.

“Dari hasil penelitian mereka, kitab-kitab tersebut sudah berumur
sekitar 300 tahun dan ditulis dengan tulisan tangan menggunakan kertas
dari Eropah. Dengan adanya konservasi dan perbaikan terhadap
kitab-kitab yang rusak, kita berharap kitab yang amat bersejarah dalam
pengembangan ajaran Islam di Kabupaten Sijunjung ini kembali utuh
seperti sedia kala,” harapnya. (eri)

http://www.antara-sumbar.com/id/berita/kab-sijunjung/d/18/185604/universitas-andalas-teliti-naskah-kuno-di-calau-sijunjung.html

-- 



Wassalam
Nofend/34+ CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/