Re: [R@ntau-Net] Dokter Rahyus Salim dari Jepang

2011-03-11 Terurut Topik sjamsir_sjarif
Sasudah mambaco postiang iko tadi, Makngah sempat basms ka Yokohama, dan Angku 
Dr. Rahyas Salim manalipon MakNgah langsuang mancaritokan kisah pengalam baliu. 
Ruponyo sabalun ka Yokohama baliau ado ka Padang. 

MakNgah sarankan nanti mudah-mudahan Urang di Padang -- Pihak-pihak nan 
bertalian jo persiapan kewaspadaan bnecana alam -- dapek mahubuangi Dr. Rahyus 
Salim dalam rencana-rencana kewaspadaan. Pangalaman baliau di Cino, dan kini di 
Japang, akan baguno untuak kito di Sumatera Barat,  baiak untuak jangka pendek 
maupun panjang ...

Salam,
--MakNgah 
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], "sjamsir_sjarif"  wrote:
>
> Sebelum berangkat ke Yokohama, Jepang, MakNgah sempat ber-sms-an dan 
> ber-telepon-an jo Angku Dr Rahyus Salam. Indak aco acara baliau doh untuak 
> mengalami Gampao Tsunami tu. MakNgah sangko baliau lah taruih ka Barcelona, 
> Spanyol manuruik rsncana sasudah Jepang. Mudah-mudahan baliau seklamat, baik 
> dalam acaranya, maupun dalam keadaanbahaya di nagarri tsusnami gampo tu.
> 
> Pengalaman Bencana Dahsyat gampo dan tsusnami nan baliau alami langsuang 
> dapek manambah pelajaran ka masyarakat kito, baa mauruik perbedaan budaya 
> kesiagaan mahabencana dapek dipalajari nanti di Ssumatra.
> 
> Kami di Santa Cruz, California, lai pulo kanai kapacakan Tsunami dari Japang 
> tu. Sayang sebagai Anggota Sukarela (DSHR System Member, American Red Cross) 
> indak dapek bapartisipasi hari ko dek di badan kurang taleso. Kerusakan ado 
> tajadidi Yach Harbor, Santa Cruz. Katu MakNgah datang ka kantua ARC mancaliak 
> kawan-kawana sukarelawan, kesiagaan alah ditarik dan para sukarelawan lah 
> pulang. Tingga para stafnyo sajo lai nan tingga dan MakNgah lah malapor 
> baliak karano absen salamo tigo bulan.
> 
> Salam,
> --MakNgah
> Samsir Sjarif
> Santa Cruz, California, March 11, 2011.
> 
> --- In [email protected], "Nofendri T. Lare"  wrote:
> >
> > Uda Doto RS gadang tapampang di harian Singgalang, laporan dari Japang nan
> > baru tibo disambuik hoyak gampo.
> > 
> > Wassalam
> > Nofend/34+/M-CKRG
> > -
> > 
> > Gempa Besar tak Bikin Panik
> > 
> > Dokter Rahyus Salim, urang awak, diudang ke Jepang untuk mempresentasikan
> > keahliannya mengoperasi tulang belakang. Berangkat Kamis malam dan sampai
> > pukul 09.00 Jumat (11/3) waktu setempat.
> > 
> > Ia merasakan gempa 8,9 SR yang menghantam Jepang. Di bawah suhu 2 derajat
> > celsius, dokter ini goyah lututnya karena kuatnya gem pa. Huyung ke kiri dan
> > ke kanan. Ia menyaksikan gedung bergetar kuat.
> > Tapi, katanya tak ada yang panik. Saat gempa kuat itu, ia bersama dokter
> > Yoichi Aota, seorang ahli tulang yang mengundangnya secara khusus ke
> > Yokohama City University. 
> > 
> > Saat gempa terjadi, katanya kepada Singgalang, kemarin, ia sedang di lantai
> > delapan rumah sakit Yokohama dan saat itu sekitar pukul 3 sore.
> > "Tiba-tiba saya terhuyung, saya tanya gempakah?" Orang-orang Jepang itu
> > tersenyum saja. 
> > "Kini bukan hanya saya yang terhuyung, tapi dokter-dokter Jepang itu juga.
> > Namun mereka terlihat amat tenang. Tak ada yang komat-kamit, selain saya,"
> > kata dia. Jangankan orang sehat, pasien rumah sakit saja, tidak panik.
> > Begitu benarlah.
> > Menurut anak Balanti, Padang ini, gempa besar terjadi berkali-kali. Tapi
> > anehnya, tidak ada yang memekik-mekik, tidak ada yang berlarian. Semua
> > tenang. Selain tenang, ada yang menyingkirkan kursi, menyusun barang-barang
> > yang mudah jatuh.
> > "Tentu saja saya tidak bisa menyimpan rasa panik, lantas saya disuruh tetap
> > merapatkan diri ke dinding sambil memegang besi yang ada di sana."
> > 
> > Terdengar pengumuman lewat pelantang suara di interior. Dokter kita ini,
> > tentu tak mengerti. Rupanya permintaan agar semua penghuni rumah sakit
> > meninggalkan gedung.
> > Semua turun dengan tenang. Bahkan sempat berfoto-foto. Sesampai di
> > halamanrumah sakit, ia terkejut, sebab di sana sudah berkumpul Tim SAR dan
> > tim medis dalam jumlah banyak dan sangat siap untuk bekerja. Gempa saja
> > masih terasa, tapi tim penyelamat justru sudah siap.
> > 
> > Dokter yang pada Kamis pagi melakukan operasi tulang belakang di RS Siti
> > Rahmah Padang itu, melayangkan pandangannya sekeliling. Orang-orang tidak
> > panik, sesuatu yang mengherankan.
> > Rahyus Salim yang bekerja di RSCM itu, tak lama setelah gempa kembali ke
> > penginapnnya Yokohama Isezakicho Washington Hotel. Di hotel, seolah-olah tak
> > terjadi apa-apa.
> > Bahkan siang ini (Sabtu) ia akan memberi kuliah sesuai jadwal. Tak ada libur
> > seusai gempa. Aktivitas tetap berjalan seperti biasa.
> > 
> > Heran
> > Siaran breaking news tsunami Jepang di televisi memperlihatkan kepada kita,
> > para pekerja di kantor NHK, memang tidak panik. Mereka terlihat santai saja.
> > Cuma saja, mereka tidak berbicara apalagi berteriak-teriak, atau
> > memekik-mekik.
> > Gempa bumi kuat telah mengguncang lepas pantai Jepang pada Jumat, Gempa
> > besar yang menghantam lepas pantai Jepang itu berk

Re: [R@ntau-Net] Dokter Rahyus Salim dari Jepang

2011-03-11 Terurut Topik sjamsir_sjarif
Sebelum berangkat ke Yokohama, Jepang, MakNgah sempat ber-sms-an dan 
ber-telepon-an jo Angku Dr Rahyus Salam. Indak aco acara baliau doh untuak 
mengalami Gampao Tsunami tu. MakNgah sangko baliau lah taruih ka Barcelona, 
Spanyol manuruik rsncana sasudah Jepang. Mudah-mudahan baliau seklamat, baik 
dalam acaranya, maupun dalam keadaanbahaya di nagarri tsusnami gampo tu.

Pengalaman Bencana Dahsyat gampo dan tsusnami nan baliau alami langsuang dapek 
manambah pelajaran ka masyarakat kito, baa mauruik perbedaan budaya kesiagaan 
mahabencana dapek dipalajari nanti di Ssumatra.

Kami di Santa Cruz, California, lai pulo kanai kapacakan Tsunami dari Japang 
tu. Sayang sebagai Anggota Sukarela (DSHR System Member, American Red Cross) 
indak dapek bapartisipasi hari ko dek di badan kurang taleso. Kerusakan ado 
tajadidi Yach Harbor, Santa Cruz. Katu MakNgah datang ka kantua ARC mancaliak 
kawan-kawana sukarelawan, kesiagaan alah ditarik dan para sukarelawan lah 
pulang. Tingga para stafnyo sajo lai nan tingga dan MakNgah lah malapor baliak 
karano absen salamo tigo bulan.

Salam,
--MakNgah
Samsir Sjarif
Santa Cruz, California, March 11, 2011.

--- In [email protected], "Nofendri T. Lare"  wrote:
>
> Uda Doto RS gadang tapampang di harian Singgalang, laporan dari Japang nan
> baru tibo disambuik hoyak gampo.
> 
> Wassalam
> Nofend/34+/M-CKRG
> -
> 
> Gempa Besar tak Bikin Panik
> 
> Dokter Rahyus Salim, urang awak, diudang ke Jepang untuk mempresentasikan
> keahliannya mengoperasi tulang belakang. Berangkat Kamis malam dan sampai
> pukul 09.00 Jumat (11/3) waktu setempat.
> 
> Ia merasakan gempa 8,9 SR yang menghantam Jepang. Di bawah suhu 2 derajat
> celsius, dokter ini goyah lututnya karena kuatnya gem pa. Huyung ke kiri dan
> ke kanan. Ia menyaksikan gedung bergetar kuat.
> Tapi, katanya tak ada yang panik. Saat gempa kuat itu, ia bersama dokter
> Yoichi Aota, seorang ahli tulang yang mengundangnya secara khusus ke
> Yokohama City University. 
> 
> Saat gempa terjadi, katanya kepada Singgalang, kemarin, ia sedang di lantai
> delapan rumah sakit Yokohama dan saat itu sekitar pukul 3 sore.
> "Tiba-tiba saya terhuyung, saya tanya gempakah?" Orang-orang Jepang itu
> tersenyum saja. 
> "Kini bukan hanya saya yang terhuyung, tapi dokter-dokter Jepang itu juga.
> Namun mereka terlihat amat tenang. Tak ada yang komat-kamit, selain saya,"
> kata dia. Jangankan orang sehat, pasien rumah sakit saja, tidak panik.
> Begitu benarlah.
> Menurut anak Balanti, Padang ini, gempa besar terjadi berkali-kali. Tapi
> anehnya, tidak ada yang memekik-mekik, tidak ada yang berlarian. Semua
> tenang. Selain tenang, ada yang menyingkirkan kursi, menyusun barang-barang
> yang mudah jatuh.
> "Tentu saja saya tidak bisa menyimpan rasa panik, lantas saya disuruh tetap
> merapatkan diri ke dinding sambil memegang besi yang ada di sana."
> 
> Terdengar pengumuman lewat pelantang suara di interior. Dokter kita ini,
> tentu tak mengerti. Rupanya permintaan agar semua penghuni rumah sakit
> meninggalkan gedung.
> Semua turun dengan tenang. Bahkan sempat berfoto-foto. Sesampai di
> halamanrumah sakit, ia terkejut, sebab di sana sudah berkumpul Tim SAR dan
> tim medis dalam jumlah banyak dan sangat siap untuk bekerja. Gempa saja
> masih terasa, tapi tim penyelamat justru sudah siap.
> 
> Dokter yang pada Kamis pagi melakukan operasi tulang belakang di RS Siti
> Rahmah Padang itu, melayangkan pandangannya sekeliling. Orang-orang tidak
> panik, sesuatu yang mengherankan.
> Rahyus Salim yang bekerja di RSCM itu, tak lama setelah gempa kembali ke
> penginapnnya Yokohama Isezakicho Washington Hotel. Di hotel, seolah-olah tak
> terjadi apa-apa.
> Bahkan siang ini (Sabtu) ia akan memberi kuliah sesuai jadwal. Tak ada libur
> seusai gempa. Aktivitas tetap berjalan seperti biasa.
> 
> Heran
> Siaran breaking news tsunami Jepang di televisi memperlihatkan kepada kita,
> para pekerja di kantor NHK, memang tidak panik. Mereka terlihat santai saja.
> Cuma saja, mereka tidak berbicara apalagi berteriak-teriak, atau
> memekik-mekik.
> Gempa bumi kuat telah mengguncang lepas pantai Jepang pada Jumat, Gempa
> besar yang menghantam lepas pantai Jepang itu berkekuatan 8,9 skala Richter,
> menurut Survei Geologi AS meralat penjelasan sebelumnya yang menyatakan
> gempa tersebut berkekuatan 7.9 SR. (khairul jasmi/*)
> 
> http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=4419


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet

RE: [R@ntau-Net] Dokter Rahyus Salim dari Jepang

2011-03-11 Terurut Topik Nofendri T. Lare
Kesaksian Urang Awak Saat Gempa Jepang

Padang Ekspres  Berita Peristiwa  Sabtu, 12/03/2011 - 09:54 WIB  Romi
Delfiano

GEMPA dahsyat 8,9 skala ricther melanda Kota Onahama, Fukushima, Jepang
sekitar pu¬kul 14.46 waktu setempat menghadirkan pengalaman paling berkesan
bagi urang awak yang kebetulan merasakan gempa tersebut yakni dr Rahyussalim
SpOT K-Spine dan dr Rizki Edmi Edison. 

Dr Rahyussalim yang juga alumni SMA 3 Padang 1989 ini menceritakan, tepat
sekitar pukul 09.00 waktu setempat, ia sampai di Bandara Narita, Tokyo,
Jepang. Waktu itu beliau dijemput staf dr Aota, ahli tulang belakang
Yokohama City University Hospital (YCUH). Menggunakan mobil, mereka menuju
YCUH menempuh waktu dua jam. 

"Setelah berbasi-basi subanta (sebentar, red), saling berkenalan. Kami lalu
makan siang, seterusnya baru kuliliang maliek (keliling melihat, red) pasien
di lantai delapan,"  kata Rahyussalim, dokter ahli tulang belakang saat ini
bekerja di RS Fatmawati Jakarta melalui black berry messenger (BBM)-nya. 

Nah, tambah Salim, begitu panggilannya, ketika itulah terjadi gempa (sekitar
pukul 14.46, red). Sebelumnya gempa besar terjadi, diawali gempa kecil.
Namun, lama kelamaan guncangan gempa semakin kuat.

"Raso kalari awak sorang. Tapi dicaliak dr Aota santai se nyo. It is Ok. Ok
ka ok se kecek. Wakatu itu"nan khawatir ambo se nyo. Namun nan perawat,
petugas lain, nampak e menyiapkan jalan evakuasi... Pasien juo tanang (Rasa
mau lari saya sendiri. Tapi dilihat Dr Aota santai saja. Semua baik-baik
saja, katanya. Waktu itu yang khawatir saya saja. Namun, perawat, petugas
lain, nampak menyiapkan jalan evakuasi. Pasien juga tenang, red)," kata
Salim rang Belanti, Padang.

 Setelah ada pemberitahuan, menurutnya, dia disuruh mengikuti Aota menuju
jalan evakuasi. "Bajalan capek sarupo urang Japang bajalan capek (Berjalan
cepat seperti orang Jepang berjalan cepat, red)," katanya. Dalam ruangan
itu, diperkirakan berisi 30 orang. 

Waktu evakuasi, menurut Rahyus, terlihat mereka yang sehat saja dievakuasi.
Sedangkan pasien diawasi dan diamankan. Terlihat ada sistem analisis kapan
harus meninggalkan gedung tiap orang. Sebab, mereka tidak berlari
secepat-cepatnya. Evakuasi sendiri berjalan 20 menit. 

"Kita tetap mengamati jalan dan ancaman. Sambil menunggu informasi pengarah.
Sesampai di bawah, kami menunggu informasi selanjutnya, apa gedung boleh
lagi. Tak ada yang pulang. Tim yang mungkin relawan siap-siap dengan
peralatannya," katanya, kebetulan diundang mengisi kuliah di YCUH.

Usai gempa, tambahnya, aliran listrik di RS Yokohama tidak pernah padam,
begitu juga Blackberry. Sedangkan jaringan SLI tidak bisa, namun Skype
(perangkat lunak yang membuat penggunanya bisa melakukan panggilan telepon
dari komputernya, red). 

"Telepon lokal sempat mati sebenatar. Listrik Kota Yokohama sempat mati
sekitar 1 jam. Transportasi umum sempat stop pula sebentar. Pukul 18.00 udah
bisa lagi," jelasnya.  

Pengalaman berharga juga dirasakan dr Rizki Edmi Edison, tak lain anak atase
pendidikan dan kebudayaan KBRI Tokyo di Jepang. Alumni Fakultas Kedokteran
Unand ini ketika gempa menguncang berada di Jichi Medical University
Hospital (JMUH) Tokyo, Jepang.

"Ane di rs bro (Saya di rumah sakit kawan, red). Awalnya tenang-tenang, tapi
setelah ada peringatan baru keluar deh. Perawat tak ada yang lari, tetap
berjaga di samping pasien. Dokter juga tetap tinggal di gedung," kata Edmi,
begitu panggilan akrabnya.

Beberapa detik sebelum gempa, kata Edmi sekarang melanjutkan kuliah di JMUH,
ada peringatan. Begitu juga setelah gempa. Mereka tidak boleh menggunakan
lift ketika evakuasi. Tak ada kegaduhan, tapi semuanya sudah tahu apa yang
akan dilakukan masing-masing. (rdo)

[ Red/Revdi Iwan Syahputra ]
http://padang-today.com/?mod=berita&today=detil&id=26232

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/