Fw: Re: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk

2011-04-11 Terurut Topik sjamsir_sjarif
Oh Mantun... disangko kok nan 12 tu tahun NRPno. 
Iyo, Rantau kami di baliak bumi; 
lah tabaliak idong, 
kaki kateh kapalo ka bawah :)
Hah hah hah hah ...
NS :)

--- In [email protected], Mochtar Naim  wrote:
>
> 
> Pak Hambociek,
>  
> Indak. Indak kaliru doh. Di nagari kami kini lah tgl 12 bulan 04 tahun 11. 
> Di nagari Apak kan salalu katinggalan sahari. Dan bahkan suko manulihkannyo 
> tabaliak-baliak. Kini di sinan kan masih tgl 110411.
>  
> Mari kito bagalak tabahak-bahak basamo-samo.
>  
> MNaim
> 120411
> 
> --- On Mon, 4/11/11, sjamsir_sjarif  wrote:
> 
> 
> From: sjamsir_sjarif 
> Subject: Re: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan 
> Penduduk
> To: [email protected]
> Date: Monday, April 11, 2011, 5:46 PM
> 
> 
> Apakah NRP atau NIP Pak NM di bawah nama keliru typo Pak MN?
> 
> Tatulih:
> > MN
> > 120411
> 
> Mungkin mukasuiknyo:
> > MN
> > 110411
> ndak? ... 
> 
> Salam,
> -- NS :)
> 
> 
> --- In [email protected], Mochtar Naim  wrote:
> >
> > Sdr YB dkk,
> > Assww,
> >  
> >  Hidup ini tidak liar. Tidak bagai binatang di rimba. Hidup ini ada 
> > sivilisasinya. Ada tatanan. Ada norma2 adat dan agamanya. Untuk kita hidup 
> > di zaman sekarang ini semua ini sudah tersedia dan baku. Tinggal kita 
> > melaksanakannya. Mau atau tidak. 
> >  Bahwa ada kecenderungan yang muda2 ndak mau patuh pada norma2 yang 
> > telah ada itu, tentu kita lihat dulu, apa ini penyebabnya. Apa bukan karena 
> > kelalaian dari para orang tua untuk mendidik anak2 mrk hidup berdisiplin, 
> > teratur dan bersasaran. Apa karena bukan hanya ayah tapi juga ibu juga 
> > turut kasak-kusuk cari tambahan rezeki sehingga seharian suntuk 
> > meninggalkan anak2 di rumah dengan hidup separoh liar, sehingga akhirnya 
> > mereka dikendalikan oleh budaya2 remote control melalui televisi, games, 
> > internet, dsb. 
> >  Ndak bisakah kita hidup berhemat dengan tidak menyuruh isteri kerja di 
> > luar rumah seharian suntuk, tapi memastikan yang anak terpelihara baik oleh 
> > ibu sampai anak2 sudah bisa mengelolakan diri sendiri. Atau menciptakan 
> > sistem sekolah yang anak2 belajar dan bermain di sekolah sampai sore, 
> > seperti di negara2 maju itu. Dan menjadikan sekolah bukan sebagai industri 
> > sumber pencetakan uang. Tidak bisakah kita meniru sekolah2 di sementara 
> > negara2 Islam yang sekolah itu gratis dari TK ke PT. Itu kan hanya masalah 
> > manajemen uang keluar-masuk secara makro bernegara. Dst, Dst.
> >  
> > Wass,
> >  
> > MN
> > 120411


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


RE: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk

2011-04-11 Terurut Topik Dasriel Noeha
Saya kelihatannya sependapat dengan pak MN dalam pembahsana sikap keluarga 
Muslim ini.
 
Karena memang sekarang kita sudah jauh dari Cara Hidup seperti yang dianjurkan 
oleh Nabi Muhammad SAW.
 
- Kita lebih memilih hidup konsumtif. 
Sedangkan nabi menganjurkan hidup sejahtera, iman, tawakkal/berserah diri, 
berjuang/abdillah. Seperti nabi menganjurkan Makan lah dan Berhenti Sebelum 
Kenyang, 1/3 buat isi perut, 1/3 buat keimanan, 1/3 lagi kosongkan buat 
kesehatan tubuh.
Nabi sendiri mencontohkan, dia mencintai orang miskin dan banyak sedekah, 
sehingga Beliau meninggal dalam keadaan tidak punya harta, baju besinya 
tergadai ke seorang yahudi.
 
_ Rasul berpuasa hanya dengan makan seadanya. Karena puasa adalah MENAHAN, 
Makan, Nafsu, Keinginan. Beliau makan sahur hanya dengan sepotong Roti Dingin, 
karena hanya itu yang dipunyai isterinya Aisyah RA. Beliau berbuka dengan 3 
biji kurma.
Sedangkan kita berbuka dengan 3 piring kolak, 3 piring Nasi lengkap dengan lauk 
pauk yang mewah, 3 gelas es cendol.
Kita makan sahur dengan gulai ikan, rendang daging, opor ayam dan kanan 
enak-enak lainnya.
Kita ber-Lebaran dengan pakain baru dan harum-haruman, Halal bil Halal dengan 
makanan berlimpah ruah.
Sementara kaum fakir miskin dengan pakain compang camping menengadahkan tangan 
di depan mesjid kita, di depan rumah kita, di jalan-jalan kita.
Sementara Rasul berjuang untuk menghapuskan perbudakan, menghabiskan 
kemiskinan, dengan menganjurkan umat Islam banyak bersedekah, infaq, Zakat. 
Bajunya satu-satunya yang baru ia beli di pasar Medinah Ia berikan karena ada 
kaum peminta yang bertemu dijalan tidak punya baju.
 
- Kita lebih memilih hidup enak, dengan banyaknya waktu terbuang di depan TV, 
games, ngobrol dan dugem, dan membuang waktu percuma.
Sedangkan Nabi lebih banyak hidupnya berjuang, Beliau perang 33 x dalam hidupya 
23 tahun sebagai Rasul Utusan Allah. 
Kita lebih senang berleha-leha.
Makanya hidup kita tidak tahan banting, cepat putus asa, dan mudah jatuh.
 
Kita jauh dari kehidupan yang dianjurkan oleh Agama Islam yang kita anut?
 
Agaknya kita setuju juga dengan argumen ini, kalau kita renungkan beberapa 
thesis kehidupan yang kita jalani sehari-hari, pada saat ini.
 
Agaknya benar juga seperti kata Sinetron di SCTV "kita hanya Islam KTP",
 
Apakah kehidupan seperti ini akan berlangsung terus?
Masing-masing kita pasti bisa menjawabnya.
 
wassalam,
dasriel

--- Pada Sen, 11/4/11, Mochtar Naim  menulis:


Dari: Mochtar Naim 
Judul: RE: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan 
Penduduk
Kepada: "[email protected]" , 
"Dr.Saafroedin BAHAR" , "[email protected]" 
, "[email protected]" 
, "[email protected]" 
, [email protected]
Cc: "Mochtar Naim" 
Tanggal: Senin, 11 April, 2011, 8:35 PM







Sdr YB dkk,
Assww,
 
 Hidup ini tidak liar. Tidak bagai binatang di rimba. Hidup ini ada 
sivilisasinya. Ada tatanan. Ada norma2 adat dan agamanya. Untuk kita hidup di 
zaman sekarang ini semua ini sudah tersedia dan baku. Tinggal kita 
melaksanakannya. Mau atau tidak. 
 Bahwa ada kecenderungan yang muda2 ndak mau patuh pada norma2 yang telah 
ada itu, tentu kita lihat dulu, apa ini penyebabnya. Apa bukan karena kelalaian 
dari para orang tua untuk mendidik anak2 mrk hidup berdisiplin, teratur dan 
bersasaran. Apa karena bukan hanya ayah tapi juga ibu juga turut kasak-kusuk 
cari tambahan rezeki sehingga seharian suntuk meninggalkan anak2 di rumah 
dengan hidup separoh liar, sehingga akhirnya mereka dikendalikan oleh budaya2 
remote control melalui televisi, games, internet, dsb. 
 Ndak bisakah kita hidup berhemat dengan tidak menyuruh isteri kerja di 
luar rumah seharian suntuk, tapi memastikan yang anak terpelihara baik oleh ibu 
sampai anak2 sudah bisa mengelolakan diri sendiri. Atau menciptakan sistem 
sekolah yang anak2 belajar dan bermain di sekolah sampai sore, seperti di 
negara2 maju itu. Dan menjadikan sekolah bukan sebagai industri sumber 
pencetakan uang. Tidak bisakah kita meniru sekolah2 di sementara negara2 Islam 
yang sekolah itu gratis dari TK ke PT. Itu kan hanya masalah manajemen uang 
keluar-masuk secara makro bernegara. Dst, Dst.
 
Wass,
 
MN
120411
 
 
 
 
 

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama

Fw: Re: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk

2011-04-11 Terurut Topik Mochtar Naim

Pak Hambociek,
 
Indak. Indak kaliru doh. Di nagari kami kini lah tgl 12 bulan 04 tahun 11. 
Di nagari Apak kan salalu katinggalan sahari. Dan bahkan suko manulihkannyo 
tabaliak-baliak. Kini di sinan kan masih tgl 110411.
 
Mari kito bagalak tabahak-bahak basamo-samo.
 
MNaim
120411

--- On Mon, 4/11/11, sjamsir_sjarif  wrote:


From: sjamsir_sjarif 
Subject: Re: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan 
Penduduk
To: [email protected]
Date: Monday, April 11, 2011, 5:46 PM


Apakah NRP atau NIP Pak NM di bawah nama keliru typo Pak MN?

Tatulih:
> MN
> 120411

Mungkin mukasuiknyo:
> MN
> 110411
ndak? ... 

Salam,
-- NS :)


--- In [email protected], Mochtar Naim  wrote:
>
> Sdr YB dkk,
> Assww,
>  
>  Hidup ini tidak liar. Tidak bagai binatang di rimba. Hidup ini ada 
> sivilisasinya. Ada tatanan. Ada norma2 adat dan agamanya. Untuk kita hidup di 
> zaman sekarang ini semua ini sudah tersedia dan baku. Tinggal kita 
> melaksanakannya. Mau atau tidak. 
>  Bahwa ada kecenderungan yang muda2 ndak mau patuh pada norma2 yang telah 
> ada itu, tentu kita lihat dulu, apa ini penyebabnya. Apa bukan karena 
> kelalaian dari para orang tua untuk mendidik anak2 mrk hidup berdisiplin, 
> teratur dan bersasaran. Apa karena bukan hanya ayah tapi juga ibu juga turut 
> kasak-kusuk cari tambahan rezeki sehingga seharian suntuk meninggalkan anak2 
> di rumah dengan hidup separoh liar, sehingga akhirnya mereka dikendalikan 
> oleh budaya2 remote control melalui televisi, games, internet, dsb. 
>  Ndak bisakah kita hidup berhemat dengan tidak menyuruh isteri kerja di 
> luar rumah seharian suntuk, tapi memastikan yang anak terpelihara baik oleh 
> ibu sampai anak2 sudah bisa mengelolakan diri sendiri. Atau menciptakan 
> sistem sekolah yang anak2 belajar dan bermain di sekolah sampai sore, seperti 
> di negara2 maju itu. Dan menjadikan sekolah bukan sebagai industri sumber 
> pencetakan uang. Tidak bisakah kita meniru sekolah2 di sementara negara2 
> Islam yang sekolah itu gratis dari TK ke PT. Itu kan hanya masalah manajemen 
> uang keluar-masuk secara makro bernegara. Dst, Dst.
>  
> Wass,
>  
> MN
> 120411


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


Re: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk

2011-04-11 Terurut Topik sjamsir_sjarif
Apakah NRP atau NIP Pak NM di bawah nama keliru typo Pak MN?

Tatulih:
> MN
> 120411

Mungkin mukasuiknyo:
> MN
> 110411
ndak? ... 

Salam,
-- NS :)


--- In [email protected], Mochtar Naim  wrote:
>
> Sdr YB dkk,
> Assww,
>  
>  Hidup ini tidak liar. Tidak bagai binatang di rimba. Hidup ini ada 
> sivilisasinya. Ada tatanan. Ada norma2 adat dan agamanya. Untuk kita hidup di 
> zaman sekarang ini semua ini sudah tersedia dan baku. Tinggal kita 
> melaksanakannya. Mau atau tidak. 
>  Bahwa ada kecenderungan yang muda2 ndak mau patuh pada norma2 yang telah 
> ada itu, tentu kita lihat dulu, apa ini penyebabnya. Apa bukan karena 
> kelalaian dari para orang tua untuk mendidik anak2 mrk hidup berdisiplin, 
> teratur dan bersasaran. Apa karena bukan hanya ayah tapi juga ibu juga turut 
> kasak-kusuk cari tambahan rezeki sehingga seharian suntuk meninggalkan anak2 
> di rumah dengan hidup separoh liar, sehingga akhirnya mereka dikendalikan 
> oleh budaya2 remote control melalui televisi, games, internet, dsb. 
>  Ndak bisakah kita hidup berhemat dengan tidak menyuruh isteri kerja di 
> luar rumah seharian suntuk, tapi memastikan yang anak terpelihara baik oleh 
> ibu sampai anak2 sudah bisa mengelolakan diri sendiri. Atau menciptakan 
> sistem sekolah yang anak2 belajar dan bermain di sekolah sampai sore, seperti 
> di negara2 maju itu. Dan menjadikan sekolah bukan sebagai industri sumber 
> pencetakan uang. Tidak bisakah kita meniru sekolah2 di sementara negara2 
> Islam yang sekolah itu gratis dari TK ke PT. Itu kan hanya masalah manajemen 
> uang keluar-masuk secara makro bernegara. Dst, Dst.
>  
> Wass,
>  
> MN
> 120411


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


RE: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk

2011-04-11 Terurut Topik Mochtar Naim
Sdr YB dkk,
Assww,
 
 Hidup ini tidak liar. Tidak bagai binatang di rimba. Hidup ini ada 
sivilisasinya. Ada tatanan. Ada norma2 adat dan agamanya. Untuk kita hidup di 
zaman sekarang ini semua ini sudah tersedia dan baku. Tinggal kita 
melaksanakannya. Mau atau tidak. 
 Bahwa ada kecenderungan yang muda2 ndak mau patuh pada norma2 yang telah 
ada itu, tentu kita lihat dulu, apa ini penyebabnya. Apa bukan karena kelalaian 
dari para orang tua untuk mendidik anak2 mrk hidup berdisiplin, teratur dan 
bersasaran. Apa karena bukan hanya ayah tapi juga ibu juga turut kasak-kusuk 
cari tambahan rezeki sehingga seharian suntuk meninggalkan anak2 di rumah 
dengan hidup separoh liar, sehingga akhirnya mereka dikendalikan oleh budaya2 
remote control melalui televisi, games, internet, dsb. 
 Ndak bisakah kita hidup berhemat dengan tidak menyuruh isteri kerja di 
luar rumah seharian suntuk, tapi memastikan yang anak terpelihara baik oleh ibu 
sampai anak2 sudah bisa mengelolakan diri sendiri. Atau menciptakan sistem 
sekolah yang anak2 belajar dan bermain di sekolah sampai sore, seperti di 
negara2 maju itu. Dan menjadikan sekolah bukan sebagai industri sumber 
pencetakan uang. Tidak bisakah kita meniru sekolah2 di sementara negara2 Islam 
yang sekolah itu gratis dari TK ke PT. Itu kan hanya masalah manajemen uang 
keluar-masuk secara makro bernegara. Dst, Dst.
 
Wass,
 
MN
120411
 
 
 
 
 


--- On Mon, 4/11/11, Joesrinal  wrote:


From: Joesrinal 
Subject: RE: [R@ntau-Net] Bls MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk
To: "[email protected]" , "Dr.Saafroedin 
BAHAR" , "[email protected]" , 
"[email protected]" , 
"[email protected]" , "[email protected]" 

Cc: "Mochtar Naim" 
Date: Monday, April 11, 2011, 6:26 AM


P.MN, baa caro mambantuak nan mudo2 ko agr mrka sadar,mungkin ado caro untuak 
disiplin diri sendiri kin banyak nan indak disiplin..akar dr ksadaran 
mrka...ndak baitu pak MN.  YB St.Bagindo
-Original Message-
From: Mochtar Naim
Sent:  04/04/2011, 2:00  AM
To: [email protected]; Dr.Saafroedin BAHAR; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Cc: Mochtar Naim
Subject: Re: [R@ntau-Net] Bls MN: Papier Mache dan Ledakan Penduduk



Pak Saf dkk di palanta ko,

     Masalah peningkatan penduduk dengan meningkatkan upaya pengadaan pangan, 
itu ya. Tentu saja kita ndak mau tiap kali akan dihadapkan pada masalah honger 
oedeem, malnutrition, kelaparan massal, gagal panen, dsb. Tapi tidakkah kita 
juga harus kaitkan dengan ketimpangan struktural yang lebih mendasar yang 
terjadi di negeri ini, yang sekarang ini masih saja berupa perpetuasi dari 
sistem kolonial berkelanjutan, khususnya sejak Orde Baru ke Reformasi sekarang 
ini. 
     Masalah utama kita adalah masalah struktural di mana secara ekonomi dan 
politikpun kita masih belum merdeka dan masih terjajah. Ada kekuatan eksternal 
yang bersifat multinasional yang mengendalikan kita di samping kekuatan 
internal yang menguasai mekanisme ekonomi kita itu sendiri sejak dari hulu 
sampai ke muara. Terus terang saja, kekuatan internal itu adalah berupa 
kolaborasi antara penguasa politik yang feodal dan berorientasi sentripetal 
(mambangkuang ke diri sendiri) dari bangsa sendiri dengan penguasa ekonomi yang 
rata-rata adalah para konglomerat non-pri Cina. 
     Kita sekarang ini hanya selangkah di belakang Filipina, dan dua langkah di 
belakang Singapura. Jika di Singapura keseluruhan sistem sudah mereka kuasai 
sehingga Singapura telah menjadi bahagian yang integral dari the Chinese Dragon 
Emporium di Asia Timur dan Tenggara ini, di Filipina  penduduk minoritas yang 
adalah the Chinese itu telah memasuki keseluruhan sistem -- jadi tidak hanya 
ekonomi --  sementara penduduk mayoritas pribumi yang Melayu telah menjadi 
warga kelas dua di hampir semua bidang dan nyaris tersingkir.
     Dengan sekarang ini di Indonesia di mana warga non-pri Cina telah 
disamakan hak konstitusionalnya dengan warga pribumi, mereka telah menerobos 
masuk ke bidang-bidang di luar ekonomi, walau belum menguasai seperti di sektor 
ekonomi, tetapi telah ikut campur tangan dan ikut mengendalikan apa2 dari balik 
layar. 
     Kolaborasi segi tiga antara para penguasa politik pribumi yang 
feodal-sentripetal dengan pola J itu dengan para penguasa ekonomi The Chinese 
dan dengan the multinational corporations yang di belakangnya adalah negara2 
kapitalis  adi kuasa Amerika dan Eropah, yang secara struktural telah menguasai 
dan mengendalikan ekonomi Indonesia ini. Karenanya Indonesia tinggal selangkah 
di belakang Fipilina dan dua langkah di belakang Singapura.
     Lain dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos dan Kambodia, yang sadar 
bahwa secara struktural tadinya adalah juga sama atau mirip dengan Filipina, 
tapi di Malaysia muncul tokoh-tokoh politik bumiputera yang menghendaki lain. 
Mereka mau Malaysia adalah negeri Melayu dan Islam. Maka semua funds and forces 
dikerahkan untuk menci