Re: [R@ntau-Net] Jalan Raya Payakumbuh
"Keburu Japang tibo"? Japang tibo tahun 1941-42. Koretapi Payakumbuah Limbanang nan beraksi salamo 12 tahun 3 bulan tu ditutuik dengan perjalanan terakhir tanggal 30 September 1933 -- Jauah Sabalun Japang tibo ... -- MakNgah On Monday, December 28, 2015 at 8:47:03 PM UTC-8, Maturidi Donsan wrote: > > > Ambo raso lai kataruih ka manggani Tan Lehman, kaburu Japang tibo. > > Di Talang, Solok, tahun 1946- 52 ambo masih basuo tonggak -tonggak basi > tertancap ke tanah sedalam 60 cmu, kuran lebar 25 cm panjang 170 cm > (ketahuan ada yang digali), manuruik rang gaek ambo, iko rencana jalan > kuretapi sampai kateh gunuang. Solok ke Talang sampai ke Alahan Panjang dst. > > Ambo paratikan memang pancang basi tu berderet sepanjang sawah jarak > 500 - 1000 m kiro-kiro sarupo kelok sambilan. > > Iko ambo kiro indak dari Solok Ka Talang- Alahanpanjang sajo,. mungkin jo > ado di daerah lain. > > Kini mungkin indak ado lai, diambiak urang, tak ado larangan/perlindungan > dari pemerintah, pada hal itu sudah melalui survey oleh konsultan teknik di > Negeri Belanda tahun 1800-san. > > Sekarang kalau mau bikin jalan KA dengan arah yang sama waktu Belanda itu, > katanya memakan baiaya konsultan 1 M /km > > > > > Maturidi > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Re: [R@ntau-Net] Jalan Raya Payakumbuh
Ambo raso lai kataruih ka manggani Tan Lehman, kaburu Japang tibo. Di Talang, Solok, tahun 1946- 52 ambo masih basuo tonggak -tonggak basi tertancap ke tanah sedalam 60 cmu, kuran lebar 25 cm panjang 170 cm (ketahuan ada yang digali), manuruik rang gaek ambo, iko rencana jalan kuretapi sampai kateh gunuang. Solok ke Talang sampai ke Alahan Panjang dst. Ambo paratikan memang pancang basi tu berderet sepanjang sawah jarak 500 - 1000 m kiro-kiro sarupo kelok sambilan. Iko ambo kiro indak dari Solok Ka Talang- Alahanpanjang sajo,. mungkin jo ado di daerah lain. Kini mungkin indak ado lai, diambiak urang, tak ado larangan/perlindungan dari pemerintah, pada hal itu sudah melalui survey oleh konsultan teknik di Negeri Belanda tahun 1800-san. Sekarang kalau mau bikin jalan KA dengan arah yang sama waktu Belanda itu, katanya memakan baiaya konsultan 1 M /km Maturidi -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Re: [R@ntau-Net] Jalan Raya Payakumbuh
Rasonyo jauah lo lai dari Limbanang ka Mangani daripado Limbanang ke Pikumbuah ndak yoo..? Manga ndak langsung se dari Pikumbuah ka Mangani dibuek Maskapainyo.. Ndak talok agaknyo Kereta Api tu naiak ka Mangani.. Sampai kini pun masih ado nan mangolah ameh dari Mangani tu.. * Wassalam, Than Lehman/53+/Agam Duri *dikirim jo hape android* Sjamsir Sjarif wrote: >Jalan Kereta Api Payakumbuh - Limbanang. >Dari Sumber Parintang-rintang oleh Nalfira Pamenan kito baco carito dinbawah >ko. >-- MakNgah > > > >Nalfira Pamenan published a note. >February 24, 2014 at 1:16pm · >KERETA API PAYAKUMBUH-LIMBANANG, JALUR HITAM BERTATAHKAN EMAS DAN PERAK MANGANI >PARINTANG-RINTANG: Hari baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matahari belumlah >terlalu tinggi. Cuaca pagi itu tidak terlalu panas. Di sebuah ruangan di >stasiun overweg Payakumbuh, seorang pria Belanda, dengan topi bulat berwarna >putih selaras dengan baju pantolannya tampak gelisah. Beberapa kali dia >terlihat hilir mudik di dalam ruangan utama stasiun itu. Sesekali asap pipa >cangklong yang selalu melekat dibibirnya tampak mengepul deras, persis seperti >asap kereta api yang sedang ditunggunya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, >tampak seorang pria Tionghoa, dengan kumis yang dikucir bercakap-cakap dengan >istrinya. Wajahnya pun terlihat tengang, walaupun demikian lebih rileks dari >pria Belanda tadi. > >Tiba-tiba, pria Belanda, yang oleh teman-temannya dipanggil Meneer Haan, >menghampiri petugas komunikasi Stasiun Overweg Payakumbuh. Sambil setengah >berbisik dia meminta sang operator untuk menghubungi Stasion Aur Tajungkang di >Fort De Kock guna memastikan apakah kereta yang ditumpangi Resident Sumatra’s >Weskust sudah berangkat. Segera saja petugas itu memutar Fk 14, nomor telpon >Stasion Fort De Kock. Dari kejauhan terdengar jawaban bahwasanya rombongan >resident masih berada di Hotel Centrum. Karena tidak sabaran pria itu lalu >meminta izin pada petugas untuk menelpon ke Hotel Centrum. Segera diputarnya >nomor FK 11. Dari seberang terdengar jawaban bahwa rombongan baru saja >berangkat menuju stasion Aur Tajungkang. Wajah pria itu terlihat geram. Dia >khawatir acara yang sedang dirancangya itu tidak akan terlaksana tepat waktu. > >Dibalik kegelisahannya itu, Meneer Haan, lengkapnya Willem de Haan, terhanyut >dan melayang dalam pikirannya. Terbayang keuntungan besar yang akan diperoleh >perusahaannya dengan dioperasikannya jalur kereta api Payakumbuh-Limbanang >yang terdiri dari sembilan stasion itu. Biaya angkut emas dan perak dari hasil >tambang di Mangani tentu akan semakin murah. Biaya operasional perusahaan >tempatnya bekerja, Mijnbouw Maatschappij Aequator, tentu akan semakin kecil. >Sebagai general manajer yang diangkat sejak tahun 1919 pada Mijnbouw >Maatschappij Aequator atau pertambangan Mangani dia tentu sangat >berkepentingan dengan suksesnya operasi Kereta Api Payakumbuh-Limbanang ini. > >Willem de Haan, (mungkin) sebagai seorang insinyur pertambangan, sudah dua >tahun diangkat sebagai general manajer pada saat itu. Perusahaan tambang >Mijnbouw Maatschappij Aequator Mangani yang ditemukan pada tahun 1907 >merupakan penghasil emas yang sangat penting di Barat dan Utara Pulau >Sumatera. Dalam perkembangannya, wilayah Mangani merupakan kawasan khusus >pertambangan yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Selain dari >fasilitas toko dan barang kebutuhan lainnya, di sana juga terdapat sebuah >rumah sakit mini. Dokter yang bertugas di sana pada kurun 1914-1915 di >datangkan dari Austria. Mangani merupakan pesona berkilau di sepanjang equator >(khatulistiwa) yang menghadirkan emas dan perak. > >Atas usulan Willem de Haan (mungkin) dan atas desakan dari pemegang saham >Mijnbouw Maatschappij Aequator pada pemerintah hindia Belandalah, jalur kereta >api itu dibuka. Sebagian besar biaya pembangunan rel kereta api sepanjang 20 >km itu (mungkin) diperoleh dari perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij >Aequator ini. > >Tidak hanya untuk mengangkut hasil tambang, jalur kereta itu juga >diproyeksikan untuk mengangkut seluruh perlengkapan dan kebutuhan hidup yang >di datangkan dengan kapal dari Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur). Suplier >kebutuhan tesebut adalah Firma milik pria Tionghoa yang juga berada di dalam >ruangan tunggu stasion overweg Payakumbuh itu. > >Di sudut lain, pria tionghoa yang tadi berbincang-bincang dengan istrinya >tampak ditemani oleh dua orang tionghoa lainnya. Pria itu adalah Goan Tjoan Ge >pemilik Firma Goan Soen Hin. Dua temannya adalah Tjoa Kong Bie pemilik Tjoa SP >perusahaan tembakau dan gambir terbesar di Payakumbuh dan Tjoei Lay Njo >pemilik Firma Tjong Hin & Co. > >Sebagai orang Tionghoa, tiga orang tersebut memang tidak mendapatkan bagian >dari hasil tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator tetapi mereka mendapatkan >keuntungan penjualan segala kebutuhan hidup pada kawasan pertambangan di >Mangani. Disamping itu biaya angkut tembakau dari daerah Baruah Gunu
Re: [R@ntau-Net] Jalan Raya Payakumbuh
Jalan Kereta Api Payakumbuh - Limbanang. Dari Sumber Parintang-rintang oleh Nalfira Pamenan kito baco carito dinbawah ko. -- MakNgah Nalfira Pamenan published a note. February 24, 2014 at 1:16pm · KERETA API PAYAKUMBUH-LIMBANANG, JALUR HITAM BERTATAHKAN EMAS DAN PERAK MANGANI PARINTANG-RINTANG: Hari baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matahari belumlah terlalu tinggi. Cuaca pagi itu tidak terlalu panas. Di sebuah ruangan di stasiun overweg Payakumbuh, seorang pria Belanda, dengan topi bulat berwarna putih selaras dengan baju pantolannya tampak gelisah. Beberapa kali dia terlihat hilir mudik di dalam ruangan utama stasiun itu. Sesekali asap pipa cangklong yang selalu melekat dibibirnya tampak mengepul deras, persis seperti asap kereta api yang sedang ditunggunya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak seorang pria Tionghoa, dengan kumis yang dikucir bercakap-cakap dengan istrinya. Wajahnya pun terlihat tengang, walaupun demikian lebih rileks dari pria Belanda tadi. Tiba-tiba, pria Belanda, yang oleh teman-temannya dipanggil Meneer Haan, menghampiri petugas komunikasi Stasiun Overweg Payakumbuh. Sambil setengah berbisik dia meminta sang operator untuk menghubungi Stasion Aur Tajungkang di Fort De Kock guna memastikan apakah kereta yang ditumpangi Resident Sumatra’s Weskust sudah berangkat. Segera saja petugas itu memutar Fk 14, nomor telpon Stasion Fort De Kock. Dari kejauhan terdengar jawaban bahwasanya rombongan resident masih berada di Hotel Centrum. Karena tidak sabaran pria itu lalu meminta izin pada petugas untuk menelpon ke Hotel Centrum. Segera diputarnya nomor FK 11. Dari seberang terdengar jawaban bahwa rombongan baru saja berangkat menuju stasion Aur Tajungkang. Wajah pria itu terlihat geram. Dia khawatir acara yang sedang dirancangya itu tidak akan terlaksana tepat waktu. Dibalik kegelisahannya itu, Meneer Haan, lengkapnya Willem de Haan, terhanyut dan melayang dalam pikirannya. Terbayang keuntungan besar yang akan diperoleh perusahaannya dengan dioperasikannya jalur kereta api Payakumbuh-Limbanang yang terdiri dari sembilan stasion itu. Biaya angkut emas dan perak dari hasil tambang di Mangani tentu akan semakin murah. Biaya operasional perusahaan tempatnya bekerja, Mijnbouw Maatschappij Aequator, tentu akan semakin kecil. Sebagai general manajer yang diangkat sejak tahun 1919 pada Mijnbouw Maatschappij Aequator atau pertambangan Mangani dia tentu sangat berkepentingan dengan suksesnya operasi Kereta Api Payakumbuh-Limbanang ini. Willem de Haan, (mungkin) sebagai seorang insinyur pertambangan, sudah dua tahun diangkat sebagai general manajer pada saat itu. Perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator Mangani yang ditemukan pada tahun 1907 merupakan penghasil emas yang sangat penting di Barat dan Utara Pulau Sumatera. Dalam perkembangannya, wilayah Mangani merupakan kawasan khusus pertambangan yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Selain dari fasilitas toko dan barang kebutuhan lainnya, di sana juga terdapat sebuah rumah sakit mini. Dokter yang bertugas di sana pada kurun 1914-1915 di datangkan dari Austria. Mangani merupakan pesona berkilau di sepanjang equator (khatulistiwa) yang menghadirkan emas dan perak. Atas usulan Willem de Haan (mungkin) dan atas desakan dari pemegang saham Mijnbouw Maatschappij Aequator pada pemerintah hindia Belandalah, jalur kereta api itu dibuka. Sebagian besar biaya pembangunan rel kereta api sepanjang 20 km itu (mungkin) diperoleh dari perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator ini. Tidak hanya untuk mengangkut hasil tambang, jalur kereta itu juga diproyeksikan untuk mengangkut seluruh perlengkapan dan kebutuhan hidup yang di datangkan dengan kapal dari Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur). Suplier kebutuhan tesebut adalah Firma milik pria Tionghoa yang juga berada di dalam ruangan tunggu stasion overweg Payakumbuh itu. Di sudut lain, pria tionghoa yang tadi berbincang-bincang dengan istrinya tampak ditemani oleh dua orang tionghoa lainnya. Pria itu adalah Goan Tjoan Ge pemilik Firma Goan Soen Hin. Dua temannya adalah Tjoa Kong Bie pemilik Tjoa SP perusahaan tembakau dan gambir terbesar di Payakumbuh dan Tjoei Lay Njo pemilik Firma Tjong Hin & Co. Sebagai orang Tionghoa, tiga orang tersebut memang tidak mendapatkan bagian dari hasil tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator tetapi mereka mendapatkan keuntungan penjualan segala kebutuhan hidup pada kawasan pertambangan di Mangani. Disamping itu biaya angkut tembakau dari daerah Baruah Gunung, Banja Loweh dan daerah sekitarnya yang mereka usahakan juga akan semakin kecil. Dengan demikian ada keuntungan timbal balik yang akan mereka peroleh. Hari itu adalah hari Minggu, tanggal 19 Juni tahun 1921. Hari itu merupakan hari keramaian (Pasar) di Payakumbuh. Pasar Syarikat beberapa nagari di afdelling Lima Puluh Kota sangat ramai pada hari itu. Tidak seperti biasanya, bendera merah putih biru berkibar dimana-mana. Resident Sumat
Re: [R@ntau-Net] Jalan Raya Payakumbuh
Jalan Kereta Api Limbanang - Payakumbuh. Sekelumit Cuplikan yang Menarik. -- MakNgah 1.06.2012 Payakumbuh Menuju Kota Amnesia di Sumatera Dalam sebuah makalah/buku/e-book yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, dinyatakan sebuah statement tentang “Kota Gila”. Sebuah kota akan berkembang menuju Kota Gila, apabila kota tersebut tumbuh berkembang dengan menghancurkan semua bangunan kuno bersejarah yang menjadi penanda eksistensi kota. Akibatnya memori warga kota akan romantisme masa lalu yang ditunjukan oleh bangunan bangunan tua terkubur dengan hadirnya bangunan fisik baru dengan bungkus modernisasi. Keadaan ini tak ubahnya manusia yang kehilangan ingatannya akan memori masa lalu alias amnesia bin gila. Gelagat Payakumbuh menuju kota amnesia sudah terbaca dari arah perkembangan kota beberapa tahun terakhir. Beberapa monumen penting yang menjadi tonggak bagi berdirinya kota ini satu persatu lenyap ditelan modernisasi. Kita tidak lagi ingat gedung pertama yang yang menjadi saksi berdirinya Kota Payakumbuh di jalan Soetan Oesman. Beberapa tahun lalu Kantor Balai Kota Lama yang berada di Jalan Soedirman yang membawa banyak memori bagi warga kota sudah berubah wajah menjadi sebuah mall. Memori warga mengiang kepada kekuatan “people power” yang mampu menjatuhkan pemimpin yang durhaka laksana terjadi di Philipina. Hebatnya inilah “people power” pertama di Indonesia. Geliat kamufase wajah kota ini tidak berhenti di sini. Urat nadi transportasi kota yang sempat diwarnai dengan sistem tansportasi massal yang cepat, aman dan nyaman yang menjadi utopia para perencana seperti kereta api kini tinggal kenangan. Jalan kereta api yang menjadi saksi kerakusan penjajah Belanda akan sumber daya alam telah lama terbengkalai dan terpinggirkan. Hebatnya lagi satu persatu aset yang ada lenyap tanpa meninggalkan jejak. Bangunan tersisa dari Stasiun Kereta Api yang bersejarah di Jl. Soekarno Hatta seperti tidak mendapat perhatian dari instansi terkait. Lahan-lahan ex emplacement yang dulu menjadi kandang kereta api pun telah berubah enjadi ruko-ruko yang berdiri angkuh. Anak muda sekarang mungkin tidak akan menyadari kalau kakek buyut mereka dulu punya romantisme naik kereta api dari Limbanang ke Payakumbuh dengan membawa berkarung-karung hasil alam seperti kopi, cengkeh, pala, kelapa. Geliat kamuflase wajah kota masih terus akan berlanjut. Sebentar lagi Lapangan Kapten Tantawi (ada yang menyebut Lapangan Poliko) akan berubah menjadi hutan beton yang tak tersentuh masyarakat awam. Lapangan Poliko tidak akan lagi menjadi sebuah ruang terbuka bagi warga kota untuk sekedar berinteraksi, berolahraga dan bercengkerama (tidak termasuk bermesum ria tentunya). Tentunya kita masih terus akan menghitung tonggak tonggak tua kota mana lagi yang akan roboh? Ex kantor bupati lama, perumahan di kampung cina atau yang lainnya. Menjadi sebuah ironi akan apa yang terjadi dihadapan kita dibandingkan dengan perkembangan di kota tetangga (i.e. Sawahlunto). Seakan bertolak belakang (kedepan dan ke belangkang) akan apa yang ada dan terjadi disana. Penghargaan akan aset aset tua seperti menjadi prioritas bagi warganya dan tentunya pemerintah setempat. Bukan karena akan ada pilkada atau even sejenisnya. Sekali kali pemimpin di Payakumbuh juga harus main ke kota lama di Semarang tentunya. Ah ... memang benar bak kata pepatah, rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau ... (*_*) www.maszoom.blogspot.com dari kementerian PU dan beberapa sumber lain Zoomrody Maszoom di 10.50 Berbagi -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Re: [R@ntau-Net] Jalan Raya Payakumbuh
No 2 dari kiri ko, awak ko mak Ngah. Barulang ka Pyk sakola. Katu itu oto mungkin alun rami. Ambo ingek tahun 53-53, PNS dari Talang ka Solok barulang tiok hari. Bis lewat di Talang dari Padang menuju Solok, jam 9 pagi ciek, bekolo sore jam 4-5 dari Solok ke Padang. Kini ado kemajuan dalam transportasi,cuma kurang tapek sasaran. Harusnyo Kereta Api nan dipabanyak. bisa hemat bahan bakar. Namun mulai dari ORBA lobi-lobi taipan untuak memasukkan roda 4, mengalahkan ide membangun jalan KA Mudah-mudahan 2015 kateh bisa KA ko digiatkan setelah ngos-ngosan dengan BB. Nampaknyo lobi taipan masuak jo, dibantunyo bangun KA tapi loloskan pulo jalan TOL agar roda 4 bisa masuak. Jalan tol ko sabanayo, maabihan tabunagn rakyat, manyuruah rakyat barutang. Kalao tol jadi , satiok urang ingin bali kudo untuak dipacu di Tol. Maturidi -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
