Fwd: Pepera & Theys … Re: [R@ntau-Net] prri 1950an atau 1960an
Yamini. Terdakwa Kapten Inf. Rinardo dan Sersan Satu Asrial dihukum tiga tahun penjara, sementara terdakwa Sersan Satu Lourensius diganjar dua tahun penjara. Bertahun-tahun kemudian, pemerintah masih lupa, pembunuhan yang terjadi 13 tahun lalu bukan hanya menghilangkan nyawa Pemimpin Besar Papua, Theys Eluay saja. Aristoteles Masoka yang saat itu berusia 23 tahun dan menjadi sopir untuk Pemimpin Besar Papua ini, juga hilang sejak saat itu dan tak diketahui keberadaanya hingga sekarang. Kelompok masyarakat sipil yang melakukan investigasi kasus pembunuhan almarhum Theys Eluay ini berhasil menemukan saksi yang kemudian mengaku membawa Aristoteles Masoka ke Markas Satgas Tribuana Kopassus di Hanurata-Hamadi. Saksi ini mengaku berada di sekitar Perumahan PEMDA I Entrop-Jayapura, saat aksi penculikan terhadap Theys Hiyo Eluay terjadi. Menurut saksi ini, mereka melihat sebuah mobil kijang berwarna gelap menghadang sebuah mobil kijang yang juga berwarna gelap yang kemudian diketahui milik Theys Eluay. Dari mobil yang menghadang, dua orang turun lalu memukul Aristoteles kemudian mencoba menariknya keluar pintu. Dua orang ini berhasil merebut mobil yang ditumpangi oleh Theys Eluay. Mobil ini kemudian melaju dan berhenti sekitar 50 meter dari tempat kejadian. Tubuh Aristoteles terlempar keluar mobil. Aristoteles berlari dan minta tolong kepada saksi. Saksi kemudian membawa Aritoteles ke Markas Satgas Tribuana Kopassus di Hanurata-Hamadi atas permintaan Aristoteles. Aristoteles diturunkan sekitar lima meter dari markas Kopassus ini. Inilah informasi terakhir yang diketahui tentang Aristoteles Masoka. Meskipun dalam invetigasi yang dilakukan kelompok masyarakat sipil ini, disebutkan pula ada seorang saksi lain yang hadir dalam sebuah acara di markas Kopassus ini – yang juga dihadiri oleh almarhum Theys Eluay sebelum ia dibunuh – melihat seseorang masuk ke dalam ruangan acara dirangkul dua orang dari arah pintu masuk. Hingga saat ini, keberadaan Aristoteles Masoka masih menjadi misteri. Bila investigasi pembunuhan Theys Eluay berakhir dengan dihukumnya tujuh orang anggota Kopassus di pengadilan militer, hilangnya Aristoteles Masoka – yang mestinya bisa menjadi saksi kunci dalam pengadilan pembunuhan Theys tersebut – belum pernah diselidiki. Sementara, di lain pihak, para perwira yang dipidana karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap tokoh adat Papua Theys Hiyo Eluay pada 2001, ternyata terus mendapatkan promosi jabatan. Made Supriatna, seorang peneliti dan wartawan lepas menulis di situs indoprogress.com, Hartomo (Akmil 1986) yang saat pembunuhan terjadi berpangkat Letkol, sekarang sudah menyandang pangkat brigadir jenderal dan menjabat sebagai Komandan Pusat Intel Angkatan Darat (Danpusintelad). Terdakwa lain, Mayor TNI Donny Hutabarat (Akmil 1990), sempat menjabat sebagai Komandan Kodim 0201/BS di Medan, dan sekarang menjabat sebagai Waasintel Kasdam Kodam I/Bukit Barisan. Sementara, Kapten Inf. Agus Supriyanto (Akmil 1991), yang juga terlibat dalam pembunuhan itu, sempat menduduki jabatan sebagai komandan Batalion 303/Kostrad. Perwira terakhir yang terlibat dalam pembunuhan Theys adalah Lettu Inf. Rionardo (Akmil 1994). Sekarang dia diketahui menjabat sebagai Paban II Srenad di Mabes TNI-AD. *Kami tak pernah lupa! -- Pesan terusan -- Dari: Akmal Nasery Basral Tanggal: 29 Mei 2015 09.42 Subjek: Pepera & Theys … Re: [R@ntau-Net] prri 1950an atau 1960an Kepada: "[email protected]" Nyit Sungut n.a.h, menikung seketat dari tema PRRI, mungkin Nyit Sungut masih teringat-ingat jua kah satu peristiwa nasional di ujung era 60-an yang terjadi di ujung timur Indonesia? Peristiwa Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Apa yang Nyit Sungut ingat dari peristiwa itu? Kalau ambo setiap teringat Pepera, biasanya melintas jua selintas ingatan tentang Theys Hiyo Eluay, mantan Ketua Dewan Presidium Papua. Kebetulan beberapa tahun silam ambo pernah riset agak dalam soal Pepera ini dengan mengunjungi sejumlah tempat. Dari Jayapura, Abepura, Manokwari, Kaimana, sampai Merauke. Banyak kisah mengharukan juga dari saudara-saudara kita di bagian timur itu. Tetapi salah satu yang paling berkesan bagi ambo adalah kisah tentang Theys.disia-siakannya: bergabung dengan Golkar menjelang Pemilu 1977. Pada 29 Mei 2015 03.19, Sjamsir Sjarif menulis: > Oh... Alangkah pendeknya Ingatan Masyarakat! > Kecewanya, Angku Mochtar Naim sendiri sebagai seorang Pakar Ilmu > Masyarakat kawakan, malahan tidak ingat lagi Peristiwa Sejarah yang terjadi > kemarin itu -- pada hal masih dalam masa hidupnya sendiri > > Salam, > -- Sjamsir Sjarif > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > === > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoder
Re: Pepera & Theys … Re: [R@ntau-Net] prri 1950an atau 1960an
Nakan ANB, Nyit Sungut (NS) n.a.h Maaf ANB dan NS kalau buliah ambo sato saketek: Ambopun sabananyo maharokan jawaban NS taradok 2 pertanyaan ANB tsb. Tapi kok jawaban NS sarupo itu (disqiualified), terkesan keberatan atau mengelak. Apa gerangan, kalau ini dibeberkan, apa akan menganggu kenyamanan NS Karena NS jam terbangnya cukup banyak, tantu penerus tamasuak ambo sandiri maharokan NS bercerita banyak untuk cermin bagi penerus Minang. Sakitu maaf NS, Wass, Maturidi -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Pepera & Theys … Re: [R@ntau-Net] prri 1950an atau 1960an
Angku Akmal yang Budiman, Saya kira Nyit Sungut akan menyatakan disqualified untuk mengomentari Subject Angku ANB. Tahun 1969 itu Nyit Sungut sudah 3 tahun jauh di LN dan tidak ada kabar-kabar srperti itu sampai padanya. Sebaiknnya Angku ANB arahkan pertanyaan itu kembali kepada Pakar Ilmu Kemasyarakatan kita di Lapau, Angku Mochtar Naim. Salam, -- Sjamsir Sjarif -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Pepera & Theys … Re: [R@ntau-Net] prri 1950an atau 1960an
Nyit Sungut n.a.h, menikung seketat dari tema PRRI, mungkin Nyit Sungut masih teringat-ingat jua kah satu peristiwa nasional di ujung era 60-an yang terjadi di ujung timur Indonesia? Peristiwa Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Apa yang Nyit Sungut ingat dari peristiwa itu? Kalau ambo setiap teringat Pepera, biasanya melintas jua selintas ingatan tentang Theys Hiyo Eluay, mantan Ketua Dewan Presidium Papua. Kebetulan beberapa tahun silam ambo pernah riset agak dalam soal Pepera ini dengan mengunjungi sejumlah tempat. Dari Jayapura, Abepura, Manokwari, Kaimana, sampai Merauke. Banyak kisah mengharukan juga dari saudara-saudara kita di bagian timur itu. Tetapi salah satu yang paling berkesan bagi ambo adalah kisah tentang Theys. Ketika Pepera berlangsung di 8 kota di Papua (Bung Karno menamakannya IRIAN = Ini Republik Indonesia Anti Nederland), Theys termasuk salah seorang yang terpilih mewakili rakyat kota Jayapura. Pilihannya tegas dan jelas: bergabung dengan Indonesia. Tak sudi dia bergabung dengan Belanda. Lalu datanglah era 70-an, dan Theys yang awalnya bergabung dengan Partai Kristen Indonesia dengan jeli melihat sebuah peluang istimewa yang tak disia-siakannya: bergabung dengan Golkar menjelang Pemilu 1977. Pilihannya benar. Dia terpilih menjadi anggota DPRD I Irian Jaya. Jabatan yang disandangnya selama tiga periode/pemilu (1977, 1982, 1987). Pada pemilu 1992, Golkar tak mencalonkannya lagi. Maka sikapnya pun berubah. Theys mulai kritis terhadap Jakarta, bersuara keras, sampai mengecam dengan kata-kata yang tak pernah dia ucapkan terhadap Jakarta dan pemerintah dalam lebih dari dua dasawarsa sebelumnya. Sifat primordial Theys muncul, dia kumpulkan kepala suku-kepala suku Papua. Total yang terkumpul mewakili 250 suku. Maka dibentuklah Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dengan Theys, tentu saja, terpilih sebagai Ketua LMA. Tetapi gelar itu belum cukup bagi Theys yang menobatkan diri menjadi Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka. Jika sebelumnya dia hanya mengkritik Jakarta, kali ini tuntutannya meningkat: Irian harus diberi otonomi khusus. Tahun-tahun menjelang pergantian milenium kemudian menjadi saksi bagaimana eskalasi kekuatan Theys yang berpusat di Abepura kian gemar mempertontonkan diri melawan Jakarta. Saat Gus Dur menjadi presiden, Gus Dur mengabulkan tuntutan otsus itu dan mendirikan Presidium Dewan Papua (PDP) dengan Theys ditunjuk sebagai ketua. Cukupkah hal itu bagi Theys? Tentu saja tidak. Muncul lagi keinginannya yang lain: Papua harus melepaskan diri dari Indonesia, menambah barisan faksi-faksi milisi dan kelompok masyarakat Papua yang dulu -- uniknya -- justru menjadi musuh politiknya. Bagaimana tidak. Theys yang dulu berjuang sebagai motor agar tanah tumpah darahnya bergabung dengan Indonesia, kini justru menjadi motor utama dari kelompok yang ingin membebaskan diri dari nusantara. Keinginan Theys ini di mata sebagian kalangan masyarakat Papua yang mengidamkan tegaknya primordialisme dan etnosentrisme, tentu saja mendapat dukungan penuh. Khususnya dari suku-suku yang bermukim di pegunungan dan umumnya beragama Nasrani. Sebagai provinsi yang secara umum diasosiasikan sebagai kantong umat Nasrani, berbagai perbedaan dengan kebanyakan suku lain di Indonesia Barat, mulai dari perbedaan fisiologis, perbedaan ras, sampai perbedaan agama dan dominasi orang-orang Indonesia Barat, khususnya Jawa, kekayaan alam yang selalu dieksploitasi oleh Jakarta, dsb, dsb, menjadi justifikasi yang sah. Apalagi jarak mereka dengan ibu kota negara beribu-ribu kilometer pula jauhnya. Semakin lengkaplah alasan untuk memisahkan diri. Maka gerakan OPM dan berbagai variannya kembali marak di awal 2000-an, melakukan demo hampir setiap hari. Bahkan bagi yang pernah ke Papua, rute bandara Sentani menuju Jayapura yang harus melalui Abepura, markas Theys, menjadi jalur yang menegangkan, termasuk bagi penduduk sendiri. Apalagi bagi orang luar. Situasi menjadi menakutkan. Lalu persis pada Hari Pahlawan 10 November 2001, Theys diculik dan tak lama kemudian ditemukan terbunuh di dalam mobilnya. Tetapi hal ini tak akan kita bicarakan, karena sudah merupakan topik tersendiri. Yang menjadi pertanyaan ambo Nyit Sungut: 1. Bagaimana kita bisa memahami perubahan sikap dan orientasi kebangsaan seseorang yang dulu begitu mati-matian berjuang agar negerinya menjadi bagian dari Indonesia, tapi kemudian setelah -- dari yang terlihat zahirnya -- jabatannya selama tiga dekade di pemerintahan lepas dari tangan, mendadak sikapnya berubah 180 derajat? Sekiranya pada pemilu 1992, Theys tetap bercokol di institusi pemerintahan, akankah dia tetap balik badan? Atau dia akan tetap membela Indonesia sampai akhir hayatnya? 2. Tersebab pengalaman Nyit Sungut yang banyak, dan jam terbang yang tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri dengan menyaksikan dan mengalami bermacam ragam peristiwa politik, pertanyaan ambo berikutnya adalah apakah pola perubahan sikap politik Theys dari seorang pendukung nasionalisme menjadi motor primordial
RE: [R@ntau-Net] PRRI
Bundo, Tambuah banyak Bundo.. Berarti Bundo alah nyumbang 3 tulisan bentuk syair Iyo kan Mak AI? Wassalam Rina From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Hayatun Nismah Rumzy Sent: Friday, July 13, 2012 10:02 AM To: [email protected] Cc: Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI Tahanan Politik Umum (TPU) dizaman Orde Lama TPU dizaman Orla Nama lain untuk penjara Disanalah dimasukkan mereka Para pembangkang terhadap negara Selusin manusia menghuni kamar tiga kali tiga Badan kami berhimpitan didalamnya Disiang hari panasnya seperti neraka Malamnya nyamuk yang menghibur kita Disiang hari diberi kelonggaran Keluar sel mencari tambahan makan Kemana saja terserah komandan Yang seringnya kedalam hutan Kayu ditebang dan dikumpulkan Dijual untuk pembakaran Diantar truk dan disebarkan Sorenya dijemput dan dipulangkan Kerongkongan kering tak tertahankan Mendekatlah kami kesebuah perumahan Jangankan minum yang disuguhkan Penghuninya berlarian pada ketakutan Sorenya kami mendapatkan bagian Untuk beli rokok sudah lumayan Beli jajanan penambah makanan Sebagian besar uangnya pada komandan Pengalaman lain yang tak terlupakan Cuaca panas yang tak tertahankan Menyiram atap rumah kami dikaryakan Supaya penghuninya menjadi kesenangan Pada suatu malam kami dikejutkan Seseorang mendapatkan pukulan dan hantaman Kursi-kursi sampai hancur bersepihan Mengakibatkan korban menjadi pingsan Kedalam sel kami korban tersebut dilemparkan Kami kaget tak tahu apa yang akan dikerjakan Kalang kabut dan berembuklah semua tahanan Mencari akal untuk penyelamatan Cincin korban menjadi picak Jari korban menjadi bengkak Aliran darahnya menjadi rusak Membusuk kalau tak cepat bertindak Paku kecil menjadi berguna Diketok dan diolah menjadi alat prima Semalaman kami semuanya bekerja Menggergaji cincin supaya terpotong dua Cerita tak habis disitu saja Walaupun jari selamat menjadi sempurna Pukulan kepala yang diderita Menyebabkan berobah akal sampai akhir hayatnya Banyak nyawa berakhir disana Dijemput malam atau dipinjam sementara Jadi fungsinya hampir sama TPU Sekarang dan TPU zaman Orla TPU sekarang Tempat Pemakaman Umum kepanjangannya. Wallahu alam bissawab Seperti diceritakan oleh seorang penghuni TPU di Pekanbaru Hayatun Nismah Rumzy 25 Maret 2011 -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI
Tahanan Politik Umum (TPU) dizaman Orde Lama TPU dizaman Orla Nama lain untuk penjara Disanalah dimasukkan mereka Para pembangkang terhadap negara Selusin manusia menghuni kamar tiga kali tiga Badan kami berhimpitan didalamnya Disiang hari panasnya seperti neraka Malamnya nyamuk yang menghibur kita Disiang hari diberi kelonggaran Keluar sel mencari tambahan makan Kemana saja terserah komandan Yang seringnya kedalam hutan Kayu ditebang dan dikumpulkan Dijual untuk pembakaran Diantar truk dan disebarkan Sorenya dijemput dan dipulangkan Kerongkongan kering tak tertahankan Mendekatlah kami kesebuah perumahan Jangankan minum yang disuguhkan Penghuninya berlarian pada ketakutan Sorenya kami mendapatkan bagian Untuk beli rokok sudah lumayan Beli jajanan penambah makanan Sebagian besar uangnya pada komandan Pengalaman lain yang tak terlupakan Cuaca panas yang tak tertahankan Menyiram atap rumah kami dikaryakan Supaya penghuninya menjadi kesenangan Pada suatu malam kami dikejutkan Seseorang mendapatkan pukulan dan hantaman Kursi-kursi sampai hancur bersepihan Mengakibatkan korban menjadi pingsan Kedalam sel kami korban tersebut dilemparkan Kami kaget tak tahu apa yang akan dikerjakan Kalang kabut dan berembuklah semua tahanan Mencari akal untuk penyelamatan Cincin korban menjadi picak Jari korban menjadi bengkak Aliran darahnya menjadi rusak Membusuk kalau tak cepat bertindak Paku kecil menjadi berguna Diketok dan diolah menjadi alat prima Semalaman kami semuanya bekerja Menggergaji cincin supaya terpotong dua Cerita tak habis disitu saja Walaupun jari selamat menjadi sempurna Pukulan kepala yang diderita Menyebabkan berobah akal sampai akhir hayatnya Banyak nyawa berakhir disana Dijemput malam atau dipinjam sementara Jadi fungsinya hampir sama TPU Sekarang dan TPU zaman Orla TPU sekarang Tempat Pemakaman Umum kepanjangannya. Wallahu alam bissawab Seperti diceritakan oleh seorang penghuni TPU di Pekanbaru Hayatun Nismah Rumzy 25 Maret 2011 @Hayatun Nismah Rumzy# On Jul 13, 2012, at 9:07, "Rina Permadi" wrote: > Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, > > > > Ambo mandanga carito dari Papa yang dicaritoan dek Alm Buya Munir Zakaria > beberapo hari sabalum baliau maningga. Kebetulan ado penataran petugas waqaf > di Bukittinggi, jadi Buya maampia ka tampek tu, duduak dakek Papa. Ota ka ota > sampai ka carito PRRI. Kato Buya, waktu manyarah di Tantaman Pak Natsir ampia > dieksekusi ditampek sebab ado datang parentah dari ateh baso kalo Pak Natsir > tibo sabalum jam 4 langsuang tembak di tampek tapi kalo lewat jam 4 biakan > sajo. Ruponyo Apak ko tibo lewat pukua 4 patang ari tun sahinggo indak > dieksekusi. > > Dari maa Apak tau,” tanyo Papa > > Dari tantara pusek nan manyambuik liau di Tantaman, tantara tun sabalun no > pangawal liau ukatu di Jogja sari. > > “Ampia badarah tangan kami manyambuik Apak kutiko di Tantaman tu Pak,” mantun > nyo no ka den,” kato Buya ka Papa. > > > > Jadi berita ko jadi tando tanyo dek ambo > > Baa mako mode tu bunyi parentah > > Sia nan kiro2 maagiah parentah > > Apokah samo urangnyo jo nan mamarentahan mambunuah Kol Dahlan Djambek nan > ditembak subuah di Lariang, padohal baliau ko manuruik A Kahin nio disidang > di pengadilan minta diadili secara adil kalo iyo baliau ko salah? > > Mungkin Pak Saaf atau Buya HMA bisa mambari pencerahan ka kami2 nan mudo nan > minaik jo sijarah urangtuo2 kami ko. > > Atau masih harus dikulambukan? > > > > Wassalam > > Rina, 34, Batam -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI Syafruddin, Reformasi Kelewat Dini
Dunsanak di palanta nan ambo hormati. Makalah lengkap tulisan DR. Mestika Zed tentang Mr. Sjafrudin Prawiranegara ini, silakan dilihat di http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=118 Salam Abraham Ilyas lk. 65th. www.nagari.org -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI : suyair nan cocok dimasuak'an
Syair tentang riak galombang PRRI lawan Pusek di Nagari Tanjuang nan ditulih dalam syair nan dimuek di siko: http://td73.nagari.or.id/tanjungprri.php raso e sangaik sasuai dimuek dalam buku tentang PRRI nan sedang direncanakan. Salam, Suryadi -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Lagi dikerjakan dan sebagian sudah dikirim ke Andiko T k u Jepe Wass Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -Original Message- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 13:39:54 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Sip Pak Dasriel..Go on Saya tunggu tulisan, karya dan cerita Pak Dasriel Mungkin seputar legenda, hikayat lembah anai jaman Pak Dasriel kanak2 dulu seperti "Harimau" itu Atau kisah2 ringan dan lucu bagaimana seorang Dasriel anak2 maampok jo batu "urang siak2 jadi-jadian" yang datang ka lapau neneknya he he Atau sebuah fiksi PRRI di seputar lembah anai saya pikir itu jalan atau urat nadi transportasi yang sangat penting pada jamannya di ranah kita, pedati, oto bus dan Mak Itam tentu ini menjadi tempat yang paling strategis pada masa itu buat kedua belah pihak para pejuang PRRI dan Tentara Pusat Seperti fiksi dari cerita Mama tentang sebuah al kisah Tentara Pusat yang memeriksa sunek..sunek e surat-surat si Ahong yang sedang diatas oto bus dari Bukit Tinggi ke Padang tsb dihentikan oleh tentara pusat selepas lembah anai menjelang kayu tanam kampung Pak Dasril itu he he he Salam-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: "Dasriel A Noeha" Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 12:23:08 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe go ahead Saya bukan bela Ifah, tapi saya sepaham dengan Ifah, kita termasuk golong "pasti" yang menikmati "art" Tell the writer to keep continue Dasriel Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -Original Message- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 12:07:33 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Ni Iffah Kalau begitu mungkin pendekatan kita berbeda dalam membaca, memahami puisi yang no name yang di amanahkan ke Andiko ini Saya tidak risau atau sangat jauh dari risau Jika ada sebuah pertanyaan "Uni Ifah ingin nggak membaca atau menikmati lanjutan puisi/syair yang bagus dan indah itu" Jika pertanyaan itu diajukan ke saya maka saya akan menjawab "Ya saya ingin seseorang ini (no name)" melanjutkannya karena itu baru sepenggal kisah hidupnya di jaman PRRI tersebut saya pikir banyak lagi yang akan dia ungkapkan terutama dari sisi kemanusiaan Untuk itu kita tunggu apakah seseorang (no name) ini akan melanjutkan kisahnya atau cukup sampai disini Wass-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 18:40:40 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu dirisaukan amat. wass. Hanifah On 3/4/11, [email protected] wrote: > Uni Iffah > > Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko > agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN > > Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan > "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus > tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya > > Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya > tersebut dititipkan ke Andiko > > Was - Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Entah mengapa > Hatiku berkata > Sang pujangga > Yang tak ingin disebut nama > Adalah seorang Bunda > > Hayatun Nismah namanya > > Wass > > > Han ifah > > > > > Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > >> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >> >> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >> Sebingkah syairmu telah kubaca >> Kisah nyata dalam kembara >> Sebagian kenangan Dunia Fana >> >> Bukittinggi sebelum PRRI >> Secabik kenangan telah kusoroti >> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >> Pemboman RRI memisah diri >> >> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >> Jauh di sana di tempat aman >> Di tengah jepitan Bukit Barisan >> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >> Suasana indah tak terlupakan >> >>
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Sip Pak Dasriel..Go on Saya tunggu tulisan, karya dan cerita Pak Dasriel Mungkin seputar legenda, hikayat lembah anai jaman Pak Dasriel kanak2 dulu seperti "Harimau" itu Atau kisah2 ringan dan lucu bagaimana seorang Dasriel anak2 maampok jo batu "urang siak2 jadi-jadian" yang datang ka lapau neneknya he he Atau sebuah fiksi PRRI di seputar lembah anai saya pikir itu jalan atau urat nadi transportasi yang sangat penting pada jamannya di ranah kita, pedati, oto bus dan Mak Itam tentu ini menjadi tempat yang paling strategis pada masa itu buat kedua belah pihak para pejuang PRRI dan Tentara Pusat Seperti fiksi dari cerita Mama tentang sebuah al kisah Tentara Pusat yang memeriksa sunek..sunek e surat-surat si Ahong yang sedang diatas oto bus dari Bukit Tinggi ke Padang tsb dihentikan oleh tentara pusat selepas lembah anai menjelang kayu tanam kampung Pak Dasril itu he he he Salam-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: "Dasriel A Noeha" Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 12:23:08 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe go ahead Saya bukan bela Ifah, tapi saya sepaham dengan Ifah, kita termasuk golong "pasti" yang menikmati "art" Tell the writer to keep continue Dasriel Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -Original Message- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 12:07:33 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Ni Iffah Kalau begitu mungkin pendekatan kita berbeda dalam membaca, memahami puisi yang no name yang di amanahkan ke Andiko ini Saya tidak risau atau sangat jauh dari risau Jika ada sebuah pertanyaan "Uni Ifah ingin nggak membaca atau menikmati lanjutan puisi/syair yang bagus dan indah itu" Jika pertanyaan itu diajukan ke saya maka saya akan menjawab "Ya saya ingin seseorang ini (no name)" melanjutkannya karena itu baru sepenggal kisah hidupnya di jaman PRRI tersebut saya pikir banyak lagi yang akan dia ungkapkan terutama dari sisi kemanusiaan Untuk itu kita tunggu apakah seseorang (no name) ini akan melanjutkan kisahnya atau cukup sampai disini Wass-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 18:40:40 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu dirisaukan amat. wass. Hanifah On 3/4/11, [email protected] wrote: > Uni Iffah > > Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko > agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN > > Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan > "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus > tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya > > Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya > tersebut dititipkan ke Andiko > > Was - Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Entah mengapa > Hatiku berkata > Sang pujangga > Yang tak ingin disebut nama > Adalah seorang Bunda > > Hayatun Nismah namanya > > Wass > > > Han ifah > > > > > Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > >> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >> >> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >> Sebingkah syairmu telah kubaca >> Kisah nyata dalam kembara >> Sebagian kenangan Dunia Fana >> >> Bukittinggi sebelum PRRI >> Secabik kenangan telah kusoroti >> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >> Pemboman RRI memisah diri >> >> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >> Jauh di sana di tempat aman >> Di tengah jepitan Bukit Barisan >> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >> Suasana indah tak terlupakan >> >> Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa >> Kedamaian hati kita dirancah bencana >> Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara >> Kurasakan sendiri dalam kembara >> >> Kisah nyatamu Hai Teman >> Kisah Hayatunmu tak terlupakan >> Enam dekade kausimpan sendirian >> Kaurawat cermat dalam kenangan >>
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Ya, Jepe benar. Sudut pandang kita beda. Wass On 3/4/11, [email protected] wrote: > Ni Iffah > > Kalau begitu mungkin pendekatan kita berbeda dalam membaca, memahami puisi > yang no name yang di amanahkan ke Andiko ini > > > Saya tidak risau atau sangat jauh dari risau > > Jika ada sebuah pertanyaan > > "Uni Ifah ingin nggak membaca atau menikmati lanjutan puisi/syair yang > bagus dan indah itu" > > Jika pertanyaan itu diajukan ke saya maka saya akan menjawab "Ya saya ingin > seseorang ini (no name)" melanjutkannya karena itu baru sepenggal kisah > hidupnya di jaman PRRI tersebut saya pikir banyak lagi yang akan dia > ungkapkan terutama dari sisi kemanusiaan > > Untuk itu kita tunggu apakah seseorang (no name) ini akan melanjutkan > kisahnya atau cukup sampai disini > > Wass-Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 18:40:40 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan > itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh > matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu > dirisaukan amat. wass. Hanifah > > On 3/4/11, [email protected] wrote: >> Uni Iffah >> >> Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko >> agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN >> >> Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang >> digoreskan >> "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang >> bagus >> tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya >> >> Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya >> tersebut dititipkan ke Andiko >> >> Was - Jepe >> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone >> >> -Original Message- >> From: Hanifah Damanhuri >> Sender: [email protected] >> Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 >> To: >> Reply-To: [email protected] >> Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan >> >> Entah mengapa >> Hatiku berkata >> Sang pujangga >> Yang tak ingin disebut nama >> Adalah seorang Bunda >> >> Hayatun Nismah namanya >> >> Wass >> >> >> Han ifah >> >> >> >> >> Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: >> >>> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >>> >>> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >>> Sebingkah syairmu telah kubaca >>> Kisah nyata dalam kembara >>> Sebagian kenangan Dunia Fana >>> >>> Bukittinggi sebelum PRRI >>> Secabik kenangan telah kusoroti >>> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >>> Pemboman RRI memisah diri >>> >>> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >>> Jauh di sana di tempat aman >>> Di tengah jepitan Bukit Barisan >>> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >>> Suasana indah tak terlupakan >>> >>> Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa >>> Kedamaian hati kita dirancah bencana >>> Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara >>> Kurasakan sendiri dalam kembara >>> >>> Kisah nyatamu Hai Teman >>> Kisah Hayatunmu tak terlupakan >>> Enam dekade kausimpan sendirian >>> Kaurawat cermat dalam kenangan >>> >>> Kisah hidup nan bak kian >>> Bervariasi di antara teman >>> Seantero Kampung Halaman >>> Manjadi saksi tak terlupakan >>> >>> Syairmu baru bermula >>> Pembuka kata suka dan duka >>> Kisah Perang Saudara penuh durka >>> Bahan Sejarah perlu dibuka >>> >>> Uniknya pengalamanmu >>> Mulai kautuliskan Oh Teman >>> Pahit dukasuka di segala penjuru >>> Untuk dikenang Angkatan Kemudian >>> >>> Salam, >>> Sjamsir Sjarif >>> Sanra Cruz, California, March 3, 2011 >>> >>> >>> --- In [email protected], andiko wrote: >>> > >>> > Sanak Palanta >>> > >>> > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan >>> berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. >>> Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan >>> nama >>> beliau sebagai pengarang sya'ir
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Jepe go ahead Saya bukan bela Ifah, tapi saya sepaham dengan Ifah, kita termasuk golong "pasti" yang menikmati "art" Tell the writer to keep continue Dasriel Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -Original Message- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 12:07:33 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Ni Iffah Kalau begitu mungkin pendekatan kita berbeda dalam membaca, memahami puisi yang no name yang di amanahkan ke Andiko ini Saya tidak risau atau sangat jauh dari risau Jika ada sebuah pertanyaan "Uni Ifah ingin nggak membaca atau menikmati lanjutan puisi/syair yang bagus dan indah itu" Jika pertanyaan itu diajukan ke saya maka saya akan menjawab "Ya saya ingin seseorang ini (no name)" melanjutkannya karena itu baru sepenggal kisah hidupnya di jaman PRRI tersebut saya pikir banyak lagi yang akan dia ungkapkan terutama dari sisi kemanusiaan Untuk itu kita tunggu apakah seseorang (no name) ini akan melanjutkan kisahnya atau cukup sampai disini Wass-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 18:40:40 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu dirisaukan amat. wass. Hanifah On 3/4/11, [email protected] wrote: > Uni Iffah > > Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko > agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN > > Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan > "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus > tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya > > Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya > tersebut dititipkan ke Andiko > > Was - Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Entah mengapa > Hatiku berkata > Sang pujangga > Yang tak ingin disebut nama > Adalah seorang Bunda > > Hayatun Nismah namanya > > Wass > > > Han ifah > > > > > Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > >> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >> >> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >> Sebingkah syairmu telah kubaca >> Kisah nyata dalam kembara >> Sebagian kenangan Dunia Fana >> >> Bukittinggi sebelum PRRI >> Secabik kenangan telah kusoroti >> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >> Pemboman RRI memisah diri >> >> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >> Jauh di sana di tempat aman >> Di tengah jepitan Bukit Barisan >> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >> Suasana indah tak terlupakan >> >> Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa >> Kedamaian hati kita dirancah bencana >> Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara >> Kurasakan sendiri dalam kembara >> >> Kisah nyatamu Hai Teman >> Kisah Hayatunmu tak terlupakan >> Enam dekade kausimpan sendirian >> Kaurawat cermat dalam kenangan >> >> Kisah hidup nan bak kian >> Bervariasi di antara teman >> Seantero Kampung Halaman >> Manjadi saksi tak terlupakan >> >> Syairmu baru bermula >> Pembuka kata suka dan duka >> Kisah Perang Saudara penuh durka >> Bahan Sejarah perlu dibuka >> >> Uniknya pengalamanmu >> Mulai kautuliskan Oh Teman >> Pahit dukasuka di segala penjuru >> Untuk dikenang Angkatan Kemudian >> >> Salam, >> Sjamsir Sjarif >> Sanra Cruz, California, March 3, 2011 >> >> >> --- In [email protected], andiko wrote: >> > >> > Sanak Palanta >> > >> > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan >> berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. >> Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan >> nama >> beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama >> dan >> bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan >> kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan &
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Ni Iffah Kalau begitu mungkin pendekatan kita berbeda dalam membaca, memahami puisi yang no name yang di amanahkan ke Andiko ini Saya tidak risau atau sangat jauh dari risau Jika ada sebuah pertanyaan "Uni Ifah ingin nggak membaca atau menikmati lanjutan puisi/syair yang bagus dan indah itu" Jika pertanyaan itu diajukan ke saya maka saya akan menjawab "Ya saya ingin seseorang ini (no name)" melanjutkannya karena itu baru sepenggal kisah hidupnya di jaman PRRI tersebut saya pikir banyak lagi yang akan dia ungkapkan terutama dari sisi kemanusiaan Untuk itu kita tunggu apakah seseorang (no name) ini akan melanjutkan kisahnya atau cukup sampai disini Wass-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 18:40:40 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu dirisaukan amat. wass. Hanifah On 3/4/11, [email protected] wrote: > Uni Iffah > > Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko > agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN > > Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan > "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus > tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya > > Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya > tersebut dititipkan ke Andiko > > Was - Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Entah mengapa > Hatiku berkata > Sang pujangga > Yang tak ingin disebut nama > Adalah seorang Bunda > > Hayatun Nismah namanya > > Wass > > > Han ifah > > > > > Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > >> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >> >> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >> Sebingkah syairmu telah kubaca >> Kisah nyata dalam kembara >> Sebagian kenangan Dunia Fana >> >> Bukittinggi sebelum PRRI >> Secabik kenangan telah kusoroti >> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >> Pemboman RRI memisah diri >> >> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >> Jauh di sana di tempat aman >> Di tengah jepitan Bukit Barisan >> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >> Suasana indah tak terlupakan >> >> Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa >> Kedamaian hati kita dirancah bencana >> Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara >> Kurasakan sendiri dalam kembara >> >> Kisah nyatamu Hai Teman >> Kisah Hayatunmu tak terlupakan >> Enam dekade kausimpan sendirian >> Kaurawat cermat dalam kenangan >> >> Kisah hidup nan bak kian >> Bervariasi di antara teman >> Seantero Kampung Halaman >> Manjadi saksi tak terlupakan >> >> Syairmu baru bermula >> Pembuka kata suka dan duka >> Kisah Perang Saudara penuh durka >> Bahan Sejarah perlu dibuka >> >> Uniknya pengalamanmu >> Mulai kautuliskan Oh Teman >> Pahit dukasuka di segala penjuru >> Untuk dikenang Angkatan Kemudian >> >> Salam, >> Sjamsir Sjarif >> Sanra Cruz, California, March 3, 2011 >> >> >> --- In [email protected], andiko wrote: >> > >> > Sanak Palanta >> > >> > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan >> berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. >> Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan >> nama >> beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama >> dan >> bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan >> kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan >> telah >> sukses meniti ombak kehidupan. >> > >> > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di >> sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. >> > >> > Salam >> > >> > andiko >> > >> >_ >> > >> > PRRI - Sepenggal kenangan >> > >> >
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Ya jawaban yang simpatik dari Ifah, Sesuai dari yang saya baca dari Ifah, menunjukan dia seorang mathematicism yang selalu want to be exact Sedangkan "seni", tulisan termasuk didalamnya adalah art yang kadang "keluar" dari konsep angka exact Pendekatan matematis antara dua penomena "angka" dan "art" apa yang mathematician mengenal dengan non-parametric concept, seperti bagaimana kita memahami indahnya bintang dilangit pada malam yang kelam, hati kita berkata indah, tapi akal kita pingin menghitung berapakah jumlahnya? Ifah was right, but those one whom write the poem was also right Keep smiling Wass, Dasriel Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 18:40:40 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu dirisaukan amat. wass. Hanifah On 3/4/11, [email protected] wrote: > Uni Iffah > > Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko > agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN > > Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan > "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus > tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya > > Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya > tersebut dititipkan ke Andiko > > Was - Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Entah mengapa > Hatiku berkata > Sang pujangga > Yang tak ingin disebut nama > Adalah seorang Bunda > > Hayatun Nismah namanya > > Wass > > > Han ifah > > > > > Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > >> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >> >> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >> Sebingkah syairmu telah kubaca >> Kisah nyata dalam kembara >> Sebagian kenangan Dunia Fana >> >> Bukittinggi sebelum PRRI >> Secabik kenangan telah kusoroti >> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >> Pemboman RRI memisah diri >> >> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >> Jauh di sana di tempat aman >> Di tengah jepitan Bukit Barisan >> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >> Suasana indah tak terlupakan >> >> Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa >> Kedamaian hati kita dirancah bencana >> Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara >> Kurasakan sendiri dalam kembara >> >> Kisah nyatamu Hai Teman >> Kisah Hayatunmu tak terlupakan >> Enam dekade kausimpan sendirian >> Kaurawat cermat dalam kenangan >> >> Kisah hidup nan bak kian >> Bervariasi di antara teman >> Seantero Kampung Halaman >> Manjadi saksi tak terlupakan >> >> Syairmu baru bermula >> Pembuka kata suka dan duka >> Kisah Perang Saudara penuh durka >> Bahan Sejarah perlu dibuka >> >> Uniknya pengalamanmu >> Mulai kautuliskan Oh Teman >> Pahit dukasuka di segala penjuru >> Untuk dikenang Angkatan Kemudian >> >> Salam, >> Sjamsir Sjarif >> Sanra Cruz, California, March 3, 2011 >> >> >> --- In [email protected], andiko wrote: >> > >> > Sanak Palanta >> > >> > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan >> berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. >> Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan >> nama >> beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama >> dan >> bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan >> kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan >> telah >> sukses meniti ombak kehidupan. >> > >> > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di >> sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. >> > >> > Salam >> > >> > andiko >> > >> >_ >> > >> > PRRI - Sepenggal kenangan >> > >> > Bismilahirrahmanir Rahim
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Jepe, mungkin krn uni suka matematika. Merasa tertantang untuk tau dan itu insting uni saja yg uni postingkan dan tak perlu jawaban. Pengaruh matematika jg yg membuat tulisan uni sulit untuk indah. Tak perlu dirisaukan amat. wass. Hanifah On 3/4/11, [email protected] wrote: > Uni Iffah > > Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko > agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN > > Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan > "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus > tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya > > Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya > tersebut dititipkan ke Andiko > > Was - Jepe > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -Original Message- > From: Hanifah Damanhuri > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 > To: > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Entah mengapa > Hatiku berkata > Sang pujangga > Yang tak ingin disebut nama > Adalah seorang Bunda > > Hayatun Nismah namanya > > Wass > > > Han ifah > > > > > Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > >> SEPENGGAL KENANGAN TEMAN >> >> Oh Penyandang Nyawa Tersisa >> Sebingkah syairmu telah kubaca >> Kisah nyata dalam kembara >> Sebagian kenangan Dunia Fana >> >> Bukittinggi sebelum PRRI >> Secabik kenangan telah kusoroti >> Lingkungan indah tepatmu mengabdi >> Pemboman RRI memisah diri >> >> Kepulanganmu ke Kampung Halaman >> Jauh di sana di tempat aman >> Di tengah jepitan Bukit Barisan >> Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan >> Suasana indah tak terlupakan >> >> Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa >> Kedamaian hati kita dirancah bencana >> Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara >> Kurasakan sendiri dalam kembara >> >> Kisah nyatamu Hai Teman >> Kisah Hayatunmu tak terlupakan >> Enam dekade kausimpan sendirian >> Kaurawat cermat dalam kenangan >> >> Kisah hidup nan bak kian >> Bervariasi di antara teman >> Seantero Kampung Halaman >> Manjadi saksi tak terlupakan >> >> Syairmu baru bermula >> Pembuka kata suka dan duka >> Kisah Perang Saudara penuh durka >> Bahan Sejarah perlu dibuka >> >> Uniknya pengalamanmu >> Mulai kautuliskan Oh Teman >> Pahit dukasuka di segala penjuru >> Untuk dikenang Angkatan Kemudian >> >> Salam, >> Sjamsir Sjarif >> Sanra Cruz, California, March 3, 2011 >> >> >> --- In [email protected], andiko wrote: >> > >> > Sanak Palanta >> > >> > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan >> berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. >> Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan >> nama >> beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama >> dan >> bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan >> kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan >> telah >> sukses meniti ombak kehidupan. >> > >> > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di >> sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. >> > >> > Salam >> > >> > andiko >> > >> > _ >> > >> > PRRI - Sepenggal kenangan >> > >> > Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata >> > Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa >> > Walaupun kami nyawa yang yang tersisa >> > Masih dapat menceritakan kissah nyata >> > Selama empat tahun mengembara >> > Dibawah dentuman mortir dan bazooka >> > >> > Kisah bermula di Bukittinggi >> > Cita-cita kami demikian tinggi >> > Jalur pendidikan kami geluti >> > Ingin memajukan negeri tercinta ini >> > Menjadi guru kami mengabdi >> > Mendidik putra putri negeri ini >> > >> > Bukittinggi yang indah kami nikmati >> > Asrama putra dan asrama putri >> > Jalan Panorama dan Jalan Nawawi >> > Panorama-Birugo setiap hari >> > Pulang pergi berjalan kaki >> > Pecal Sikai kami nikmati >> > >> > Penuh canda dan ketawa >> > Anak-anak muda dari berbagai agama >> >
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Uni Iffah Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya tersebut dititipkan ke Andiko Was - Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Entah mengapa Hatiku berkata Sang pujangga Yang tak ingin disebut nama Adalah seorang Bunda Hayatun Nismah namanya Wass Han ifah Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > SEPENGGAL KENANGAN TEMAN > > Oh Penyandang Nyawa Tersisa > Sebingkah syairmu telah kubaca > Kisah nyata dalam kembara > Sebagian kenangan Dunia Fana > > Bukittinggi sebelum PRRI > Secabik kenangan telah kusoroti > Lingkungan indah tepatmu mengabdi > Pemboman RRI memisah diri > > Kepulanganmu ke Kampung Halaman > Jauh di sana di tempat aman > Di tengah jepitan Bukit Barisan > Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan > Suasana indah tak terlupakan > > Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa > Kedamaian hati kita dirancah bencana > Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara > Kurasakan sendiri dalam kembara > > Kisah nyatamu Hai Teman > Kisah Hayatunmu tak terlupakan > Enam dekade kausimpan sendirian > Kaurawat cermat dalam kenangan > > Kisah hidup nan bak kian > Bervariasi di antara teman > Seantero Kampung Halaman > Manjadi saksi tak terlupakan > > Syairmu baru bermula > Pembuka kata suka dan duka > Kisah Perang Saudara penuh durka > Bahan Sejarah perlu dibuka > > Uniknya pengalamanmu > Mulai kautuliskan Oh Teman > Pahit dukasuka di segala penjuru > Untuk dikenang Angkatan Kemudian > > Salam, > Sjamsir Sjarif > Sanra Cruz, California, March 3, 2011 > > > --- In [email protected], andiko wrote: > > > > Sanak Palanta > > > > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan > berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. > Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama > beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan > bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan > kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah > sukses meniti ombak kehidupan. > > > > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di > sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. > > > > Salam > > > > andiko > > > > _ > > > > PRRI - Sepenggal kenangan > > > > Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata > > Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa > > Walaupun kami nyawa yang yang tersisa > > Masih dapat menceritakan kissah nyata > > Selama empat tahun mengembara > > Dibawah dentuman mortir dan bazooka > > > > Kisah bermula di Bukittinggi > > Cita-cita kami demikian tinggi > > Jalur pendidikan kami geluti > > Ingin memajukan negeri tercinta ini > > Menjadi guru kami mengabdi > > Mendidik putra putri negeri ini > > > > Bukittinggi yang indah kami nikmati > > Asrama putra dan asrama putri > > Jalan Panorama dan Jalan Nawawi > > Panorama-Birugo setiap hari > > Pulang pergi berjalan kaki > > Pecal Sikai kami nikmati > > > > Penuh canda dan ketawa > > Anak-anak muda dari berbagai agama > > Di aula bekas Sekolah Raja > > Kami memanfaatkan segala sarana > > Menggunakan alat peraga yang masih langka > > Berkat bantuan negara adikuasa > > > > Ada bisokop Rex dan Erie > > Malam Minggu hiburan kami > > Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai > > Kota Gadang kami kunjungi > > Menutup Hari Raya pemuda pemudi > > Seolah-olah dunia ini milik kami > > > > Bagaikan petir ditengah hari > > Jarum jam tiba-tiba berhendti > > Pesawat APRI menembaki Bukittinggi > > Sasaran utama adalah RRI > > Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari > > Semuanya pontang panting pada berlari > > > > Hanya dengan kain yang lekat dibadan > > Aku menuju kampung halaman > > Selamat tinggal kota kenangan > > Tempat yang tak pernah kulupakan > > Tempat ber
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Uni Iffah Setahu saya syair (no name) yang dimaksud telah diamanahkan kepada Andiko agar tidak menyebutkan nama penulisnya untuk ditampilkan di palanta RN Menurut saya sebaiknya kita nikmati, baca saja sebuah kisah yang digoreskan "ketika hati" seseorang berbicara dan menjadi sebuah syair/puisi yang bagus tanpa kita coba2 menebak, mengira-ngira atau menentukan siapa penulisnya Tentu ada alasan seseorang jika dia menyembunyikan namanya dan karyanya tersebut dititipkan ke Andiko Wass-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: Hanifah Damanhuri Sender: [email protected] Date: Fri, 4 Mar 2011 08:49:54 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Entah mengapa Hatiku berkata Sang pujangga Yang tak ingin disebut nama Adalah seorang Bunda Hayatun Nismah namanya Wass Han ifah Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > SEPENGGAL KENANGAN TEMAN > > Oh Penyandang Nyawa Tersisa > Sebingkah syairmu telah kubaca > Kisah nyata dalam kembara > Sebagian kenangan Dunia Fana > > Bukittinggi sebelum PRRI > Secabik kenangan telah kusoroti > Lingkungan indah tepatmu mengabdi > Pemboman RRI memisah diri > > Kepulanganmu ke Kampung Halaman > Jauh di sana di tempat aman > Di tengah jepitan Bukit Barisan > Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan > Suasana indah tak terlupakan > > Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa > Kedamaian hati kita dirancah bencana > Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara > Kurasakan sendiri dalam kembara > > Kisah nyatamu Hai Teman > Kisah Hayatunmu tak terlupakan > Enam dekade kausimpan sendirian > Kaurawat cermat dalam kenangan > > Kisah hidup nan bak kian > Bervariasi di antara teman > Seantero Kampung Halaman > Manjadi saksi tak terlupakan > > Syairmu baru bermula > Pembuka kata suka dan duka > Kisah Perang Saudara penuh durka > Bahan Sejarah perlu dibuka > > Uniknya pengalamanmu > Mulai kautuliskan Oh Teman > Pahit dukasuka di segala penjuru > Untuk dikenang Angkatan Kemudian > > Salam, > Sjamsir Sjarif > Sanra Cruz, California, March 3, 2011 > > > --- In [email protected], andiko wrote: > > > > Sanak Palanta > > > > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan > berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. > Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama > beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan > bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan > kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah > sukses meniti ombak kehidupan. > > > > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di > sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. > > > > Salam > > > > andiko > > > > _ > > > > PRRI - Sepenggal kenangan > > > > Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata > > Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa > > Walaupun kami nyawa yang yang tersisa > > Masih dapat menceritakan kissah nyata > > Selama empat tahun mengembara > > Dibawah dentuman mortir dan bazooka > > > > Kisah bermula di Bukittinggi > > Cita-cita kami demikian tinggi > > Jalur pendidikan kami geluti > > Ingin memajukan negeri tercinta ini > > Menjadi guru kami mengabdi > > Mendidik putra putri negeri ini > > > > Bukittinggi yang indah kami nikmati > > Asrama putra dan asrama putri > > Jalan Panorama dan Jalan Nawawi > > Panorama-Birugo setiap hari > > Pulang pergi berjalan kaki > > Pecal Sikai kami nikmati > > > > Penuh canda dan ketawa > > Anak-anak muda dari berbagai agama > > Di aula bekas Sekolah Raja > > Kami memanfaatkan segala sarana > > Menggunakan alat peraga yang masih langka > > Berkat bantuan negara adikuasa > > > > Ada bisokop Rex dan Erie > > Malam Minggu hiburan kami > > Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai > > Kota Gadang kami kunjungi > > Menutup Hari Raya pemuda pemudi > > Seolah-olah dunia ini milik kami > > > > Bagaikan petir ditengah hari > > Jarum jam tiba-tiba berhendti > > Pesawat APRI menembaki Bukittinggi > > Sasaran utama adalah RRI > > Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari > > Semuanya pontang panting pada berlari > > > > Hanya dengan kain yang lekat dibadan > > Aku menuju kampung halaman > > Selamat tinggal kota kenangan > > Tempat yang tak pernah kulupakan > > Tempat ber
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Entah mengapa Hatiku berkata Sang pujangga Yang tak ingin disebut nama Adalah seorang Bunda Hayatun Nismah namanya Wass Han ifah Pada 3 Maret 2011 21:15, sjamsir_sjarif menulis: > SEPENGGAL KENANGAN TEMAN > > Oh Penyandang Nyawa Tersisa > Sebingkah syairmu telah kubaca > Kisah nyata dalam kembara > Sebagian kenangan Dunia Fana > > Bukittinggi sebelum PRRI > Secabik kenangan telah kusoroti > Lingkungan indah tepatmu mengabdi > Pemboman RRI memisah diri > > Kepulanganmu ke Kampung Halaman > Jauh di sana di tempat aman > Di tengah jepitan Bukit Barisan > Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan > Suasana indah tak terlupakan > > Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa > Kedamaian hati kita dirancah bencana > Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara > Kurasakan sendiri dalam kembara > > Kisah nyatamu Hai Teman > Kisah Hayatunmu tak terlupakan > Enam dekade kausimpan sendirian > Kaurawat cermat dalam kenangan > > Kisah hidup nan bak kian > Bervariasi di antara teman > Seantero Kampung Halaman > Manjadi saksi tak terlupakan > > Syairmu baru bermula > Pembuka kata suka dan duka > Kisah Perang Saudara penuh durka > Bahan Sejarah perlu dibuka > > Uniknya pengalamanmu > Mulai kautuliskan Oh Teman > Pahit dukasuka di segala penjuru > Untuk dikenang Angkatan Kemudian > > Salam, > Sjamsir Sjarif > Sanra Cruz, California, March 3, 2011 > > > --- In [email protected], andiko wrote: > > > > Sanak Palanta > > > > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan > berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. > Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama > beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan > bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan > kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah > sukses meniti ombak kehidupan. > > > > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di > sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. > > > > Salam > > > > andiko > > > > _ > > > > PRRI - Sepenggal kenangan > > > > Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata > > Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa > > Walaupun kami nyawa yang yang tersisa > > Masih dapat menceritakan kissah nyata > > Selama empat tahun mengembara > > Dibawah dentuman mortir dan bazooka > > > > Kisah bermula di Bukittinggi > > Cita-cita kami demikian tinggi > > Jalur pendidikan kami geluti > > Ingin memajukan negeri tercinta ini > > Menjadi guru kami mengabdi > > Mendidik putra putri negeri ini > > > > Bukittinggi yang indah kami nikmati > > Asrama putra dan asrama putri > > Jalan Panorama dan Jalan Nawawi > > Panorama-Birugo setiap hari > > Pulang pergi berjalan kaki > > Pecal Sikai kami nikmati > > > > Penuh canda dan ketawa > > Anak-anak muda dari berbagai agama > > Di aula bekas Sekolah Raja > > Kami memanfaatkan segala sarana > > Menggunakan alat peraga yang masih langka > > Berkat bantuan negara adikuasa > > > > Ada bisokop Rex dan Erie > > Malam Minggu hiburan kami > > Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai > > Kota Gadang kami kunjungi > > Menutup Hari Raya pemuda pemudi > > Seolah-olah dunia ini milik kami > > > > Bagaikan petir ditengah hari > > Jarum jam tiba-tiba berhendti > > Pesawat APRI menembaki Bukittinggi > > Sasaran utama adalah RRI > > Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari > > Semuanya pontang panting pada berlari > > > > Hanya dengan kain yang lekat dibadan > > Aku menuju kampung halaman > > Selamat tinggal kota kenangan > > Tempat yang tak pernah kulupakan > > Tempat bermula merajut harapan > > Merencanakan kebahagiaan masa depan > > > > Mimpiku buyar untuk selamanya > > Gagallah semua yang telah direncana > > Keadaan tak kan pernah seperti sediakala > > 4 tahun aku mengembara > > Menjelajahi hutan pulau Sumatra > > Kuperoleh pengalaman tiada tara > > > > Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga > > Banyak yang mati tersia-sia > > Kusaksikan juga kekejaman manusia > > Pengalaman hidup didalam penjara > > Kalau diingat pengalaman lama > > Membuat sesak rasanya dada > > > > Untuk pertama cukuplah sebegini > > Kususun sepuluh jari > > Kalau ada yang tak berkenan dihati > > Mohon maafkan badan hamba ini > > Supaya tak memberatkan diakhirat nanti > > Dengan salam aku sudahi > > > > Jakarta awal Maret 2010 > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > === > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/
RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan: nan manunjuak peta
Mak Ngah, Lah mbo liek gambar duo tukang tunjuak peta nan mangawani Kolonel A. Yani dalam operasi penumpasan PRRI tu. Salam, Suryadi --- Pada Kam, 3/3/11, rinapermadi menulis: Dari: rinapermadi Judul: RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 3 Maret, 2011, 4:35 PM -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
SEPENGGAL KENANGAN TEMAN Oh Penyandang Nyawa Tersisa Sebingkah syairmu telah kubaca Kisah nyata dalam kembara Sebagian kenangan Dunia Fana Bukittinggi sebelum PRRI Secabik kenangan telah kusoroti Lingkungan indah tepatmu mengabdi Pemboman RRI memisah diri Kepulanganmu ke Kampung Halaman Jauh di sana di tempat aman Di tengah jepitan Bukit Barisan Lingkung kasih ayahbunda kerabat tolan Suasana indah tak terlupakan Namun, Hai Penyandang Nyawa Tersisa Kedamaian hati kita dirancah bencana Kejamnya rentetan kisah Perang Saudara Kurasakan sendiri dalam kembara Kisah nyatamu Hai Teman Kisah Hayatunmu tak terlupakan Enam dekade kausimpan sendirian Kaurawat cermat dalam kenangan Kisah hidup nan bak kian Bervariasi di antara teman Seantero Kampung Halaman Manjadi saksi tak terlupakan Syairmu baru bermula Pembuka kata suka dan duka Kisah Perang Saudara penuh durka Bahan Sejarah perlu dibuka Uniknya pengalamanmu Mulai kautuliskan Oh Teman Pahit dukasuka di segala penjuru Untuk dikenang Angkatan Kemudian Salam, Sjamsir Sjarif Sanra Cruz, California, March 3, 2011 --- In [email protected], andiko wrote: > > Sanak Palanta > > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk > sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan > tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau > sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan > yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan > hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses > meniti ombak kehidupan. > > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di > sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. > > Salam > > andiko > > _ > > PRRI - Sepenggal kenangan > > Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata > Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa > Walaupun kami nyawa yang yang tersisa > Masih dapat menceritakan kissah nyata > Selama empat tahun mengembara > Dibawah dentuman mortir dan bazooka > > Kisah bermula di Bukittinggi > Cita-cita kami demikian tinggi > Jalur pendidikan kami geluti > Ingin memajukan negeri tercinta ini > Menjadi guru kami mengabdi > Mendidik putra putri negeri ini > > Bukittinggi yang indah kami nikmati > Asrama putra dan asrama putri > Jalan Panorama dan Jalan Nawawi > Panorama-Birugo setiap hari > Pulang pergi berjalan kaki > Pecal Sikai kami nikmati > > Penuh canda dan ketawa > Anak-anak muda dari berbagai agama > Di aula bekas Sekolah Raja > Kami memanfaatkan segala sarana > Menggunakan alat peraga yang masih langka > Berkat bantuan negara adikuasa > > Ada bisokop Rex dan Erie > Malam Minggu hiburan kami > Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai > Kota Gadang kami kunjungi > Menutup Hari Raya pemuda pemudi > Seolah-olah dunia ini milik kami > > Bagaikan petir ditengah hari > Jarum jam tiba-tiba berhendti > Pesawat APRI menembaki Bukittinggi > Sasaran utama adalah RRI > Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari > Semuanya pontang panting pada berlari > > Hanya dengan kain yang lekat dibadan > Aku menuju kampung halaman > Selamat tinggal kota kenangan > Tempat yang tak pernah kulupakan > Tempat bermula merajut harapan > Merencanakan kebahagiaan masa depan > > Mimpiku buyar untuk selamanya > Gagallah semua yang telah direncana > Keadaan tak kan pernah seperti sediakala > 4 tahun aku mengembara > Menjelajahi hutan pulau Sumatra > Kuperoleh pengalaman tiada tara > > Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga > Banyak yang mati tersia-sia > Kusaksikan juga kekejaman manusia > Pengalaman hidup didalam penjara > Kalau diingat pengalaman lama > Membuat sesak rasanya dada > > Untuk pertama cukuplah sebegini > Kususun sepuluh jari > Kalau ada yang tak berkenan dihati > Mohon maafkan badan hamba ini > Supaya tak memberatkan diakhirat nanti > Dengan salam aku sudahi > > Jakarta awal Maret 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Walau ini tulisan pertama Tetapi penulisnya mengerti sekali tentang syair Hampir aku menebak ini Bunda Nismah .. Ternyata bukan Walau ini tulisan pertama Aku yakin penulisnya hobbi baca sastra Jangan-jangan jagoan petatah dan petitih Tak mungkin sembarangan orang Salam Hanifah Pada 2 Maret 2011 18:38, andiko menulis: > Sanak Palanta > > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan > berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. > Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama > beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan > bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan > kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah > sukses meniti ombak kehidupan. > > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di > sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. > > Salam > > andiko > > _ > > PRRI - Sepenggal kenangan > > Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata > Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa > Walaupun kami nyawa yang yang tersisa > Masih dapat menceritakan kissah nyata > Selama empat tahun mengembara > Dibawah dentuman mortir dan bazooka > > Kisah bermula di Bukittinggi > Cita-cita kami demikian tinggi > Jalur pendidikan kami geluti > Ingin memajukan negeri tercinta ini > Menjadi guru kami mengabdi > Mendidik putra putri negeri ini > > Bukittinggi yang indah kami nikmati > Asrama putra dan asrama putri > Jalan Panorama dan Jalan Nawawi > Panorama-Birugo setiap hari > Pulang pergi berjalan kaki > Pecal Sikai kami nikmati > > Penuh canda dan ketawa > Anak-anak muda dari berbagai agama > Di aula bekas Sekolah Raja > Kami memanfaatkan segala sarana > Menggunakan alat peraga yang masih langka > Berkat bantuan negara adikuasa > > Ada bisokop Rex dan Erie > Malam Minggu hiburan kami > Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai > Kota Gadang kami kunjungi > Menutup Hari Raya pemuda pemudi > Seolah-olah dunia ini milik kami > > Bagaikan petir ditengah hari > Jarum jam tiba-tiba berhendti > Pesawat APRI menembaki Bukittinggi > Sasaran utama adalah RRI > Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari > Semuanya pontang panting pada berlari > > Hanya dengan kain yang lekat dibadan > Aku menuju kampung halaman > Selamat tinggal kota kenangan > Tempat yang tak pernah kulupakan > Tempat bermula merajut harapan > Merencanakan kebahagiaan masa depan > > Mimpiku buyar untuk selamanya > Gagallah semua yang telah direncana > Keadaan tak kan pernah seperti sediakala > 4 tahun aku mengembara > Menjelajahi hutan pulau Sumatra > Kuperoleh pengalaman tiada tara > > Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga > Banyak yang mati tersia-sia > Kusaksikan juga kekejaman manusia > Pengalaman hidup didalam penjara > Kalau diingat pengalaman lama > Membuat sesak rasanya dada > > Untuk pertama cukuplah sebegini > Kususun sepuluh jari > Kalau ada yang tak berkenan dihati > Mohon maafkan badan hamba ini > Supaya tak memberatkan diakhirat nanti > Dengan salam aku sudahi > > Jakarta awal Maret 2010 > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > === > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > === > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. ==
RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Hai...hai...Rina manis yang Rina susun juga puitis banget , susunan kata2nya Uni suka, Sepenggal Kenangan yang ditulis seseorang yang begitu rendah hati ,serasa kita ikut dalam perjalanan hidupnya , semoga beliau tetap prima dan sehat sehingga kita bisa mengikuti perjalanan hidupnya melalui tulisan- tulisan yang selalu kita tunggu melalui Bung Andiko. Wassalam DewiMutiara. --- On Thu, 3/3/11, rinapermadi wrote: From: rinapermadi Subject: RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan To: [email protected] Date: Thursday, March 3, 2011, 4:37 AM It was so so so KEREN Ditunggu dengan segenap kesabaran yang dipunya Lanjutan mutiara kisah menyemai waktu Penuh butiran airmata kenangan purna Kan kutuai buliran magis-magis haru itu.. Salam hormat hai Sang Pahlawan hati Usah dikau ragu dengan memorimu Sakit, manis, pilu, sedan dan lirih hati Kan menjadi kenangan mulia di hatiku Hai Sang Pendekar Misterius Baktimu mengukir batu-batu sungai purba Membenam di aliran hati tegerus arus Tersurat jelas disisi persada jiwa Wassalam Rina -Original Message- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of andiko Sent: Wednesday, March 02, 2011 6:39 PM To: rantaunet Subject: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Sanak Palanta Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses meniti ombak kehidupan. Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. Salam andiko _ PRRI - Sepenggal kenangan Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa Walaupun kami nyawa yang yang tersisa Masih dapat menceritakan kissah nyata Selama empat tahun mengembara Dibawah dentuman mortir dan bazooka Kisah bermula di Bukittinggi Cita-cita kami demikian tinggi Jalur pendidikan kami geluti Ingin memajukan negeri tercinta ini Menjadi guru kami mengabdi Mendidik putra putri negeri ini Bukittinggi yang indah kami nikmati Asrama putra dan asrama putri Jalan Panorama dan Jalan Nawawi Panorama-Birugo setiap hari Pulang pergi berjalan kaki Pecal Sikai kami nikmati Penuh canda dan ketawa Anak-anak muda dari berbagai agama Di aula bekas Sekolah Raja Kami memanfaatkan segala sarana Menggunakan alat peraga yang masih langka Berkat bantuan negara adikuasa Ada bisokop Rex dan Erie Malam Minggu hiburan kami Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai Kota Gadang kami kunjungi Menutup Hari Raya pemuda pemudi Seolah-olah dunia ini milik kami Bagaikan petir ditengah hari Jarum jam tiba-tiba berhendti Pesawat APRI menembaki Bukittinggi Sasaran utama adalah RRI Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari Semuanya pontang panting pada berlari Hanya dengan kain yang lekat dibadan Aku menuju kampung halaman Selamat tinggal kota kenangan Tempat yang tak pernah kulupakan Tempat bermula merajut harapan Merencanakan kebahagiaan masa depan Mimpiku buyar untuk selamanya Gagallah semua yang telah direncana Keadaan tak kan pernah seperti sediakala 4 tahun aku mengembara Menjelajahi hutan pulau Sumatra Kuperoleh pengalaman tiada tara Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga Banyak yang mati tersia-sia Kusaksikan juga kekejaman manusia Pengalaman hidup didalam penjara Kalau diingat pengalaman lama Membuat sesak rasanya dada Untuk pertama cukuplah sebegini Kususun sepuluh jari Kalau ada yang tak berkenan dihati Mohon maafkan badan hamba ini Supaya tak memberatkan diakhirat nanti Dengan salam aku sudahi Jakarta awal Maret 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . *
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Mantap un agia tarui hehehehhehee.. yo cocok uni jo da Andiko hahahha basobok di Batam bisou sembah manyambah pantun uni jo uda ma... Renny,Bintara From: rinapermadi To: [email protected] Sent: Thu, March 3, 2011 4:35:58 PM Subject: RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Duhai Mamak ambo Sang Paga Nagari Di lingkuang Ranah Bundo tacinto Usah Mamak talampau mamuji Denai nan ketek hanyo baraja sajo Bait syair ambo lagukan di hati Bukan untuak manyauak puja jo puji Ambo ikhlas untuak anak kunci Kunci pambukak hati Sang Pejuang Suci Wassalam Rina -Original Message- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of [email protected] Sent: Thursday, March 03, 2011 1:12 PM To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Rina sudah seperti pujangga lebanon kenamaan Khalil Gibran dengan goresan serta pemilihan kata2 yang "magis" Lanjutkan dan terus berkarya, menulis, puisi dan karya sastra itu akan selalu mengasah kepekaan hati terutama sisi2 kemanusiaannya -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Rina sudah seperti pujangga lebanon kenamaan Khalil Gibran dengan goresan serta pemilihan kata2 yang "magis" Lanjutkan dan terus berkarya, menulis, puisi dan karya sastra itu akan selalu mengasah kepekaan hati terutama sisi2 kemanusiaannya Salam Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -Original Message- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Thu, 3 Mar 2011 06:01:04 To: Reply-To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Rancak bana ungkapan Rina,Ambo dapek marasokan. Wassalam Hilman Mahyuddin, MD -Original Message- From: "rinapermadi" Sender: [email protected] Date: Thu, 3 Mar 2011 11:37:05 To: Reply-To: [email protected] Subject: RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan It was so so so KEREN Ditunggu dengan segenap kesabaran yang dipunya Lanjutan mutiara kisah menyemai waktu Penuh butiran airmata kenangan purna Kan kutuai buliran magis-magis haru itu.. Salam hormat hai Sang Pahlawan hati Usah dikau ragu dengan memorimu Sakit, manis, pilu, sedan dan lirih hati Kan menjadi kenangan mulia di hatiku Hai Sang Pendekar Misterius Baktimu mengukir batu-batu sungai purba Membenam di aliran hati tegerus arus Tersurat jelas disisi persada jiwa Wassalam Rina -Original Message- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of andiko Sent: Wednesday, March 02, 2011 6:39 PM To: rantaunet Subject: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Sanak Palanta Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses meniti ombak kehidupan. Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. Salam andiko _ PRRI - Sepenggal kenangan Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa Walaupun kami nyawa yang yang tersisa Masih dapat menceritakan kissah nyata Selama empat tahun mengembara Dibawah dentuman mortir dan bazooka Kisah bermula di Bukittinggi Cita-cita kami demikian tinggi Jalur pendidikan kami geluti Ingin memajukan negeri tercinta ini Menjadi guru kami mengabdi Mendidik putra putri negeri ini Bukittinggi yang indah kami nikmati Asrama putra dan asrama putri Jalan Panorama dan Jalan Nawawi Panorama-Birugo setiap hari Pulang pergi berjalan kaki Pecal Sikai kami nikmati Penuh canda dan ketawa Anak-anak muda dari berbagai agama Di aula bekas Sekolah Raja Kami memanfaatkan segala sarana Menggunakan alat peraga yang masih langka Berkat bantuan negara adikuasa Ada bisokop Rex dan Erie Malam Minggu hiburan kami Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai Kota Gadang kami kunjungi Menutup Hari Raya pemuda pemudi Seolah-olah dunia ini milik kami Bagaikan petir ditengah hari Jarum jam tiba-tiba berhendti Pesawat APRI menembaki Bukittinggi Sasaran utama adalah RRI Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari Semuanya pontang panting pada berlari Hanya dengan kain yang lekat dibadan Aku menuju kampung halaman Selamat tinggal kota kenangan Tempat yang tak pernah kulupakan Tempat bermula merajut harapan Merencanakan kebahagiaan masa depan Mimpiku buyar untuk selamanya Gagallah semua yang telah direncana Keadaan tak kan pernah seperti sediakala 4 tahun aku mengembara Menjelajahi hutan pulau Sumatra Kuperoleh pengalaman tiada tara Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga Banyak yang mati tersia-sia Kusaksikan juga kekejaman manusia Pengalaman hidup didalam penjara Kalau diingat pengalaman lama Membuat sesak rasanya dada Untuk pertama cukuplah sebegini Kususun sepuluh jari Kalau ada yang tak berkenan dihati Mohon maafkan badan hamba ini Supaya tak memberatkan diakhirat nanti Dengan salam aku sudahi Jakarta awal Maret 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Rancak bana ungkapan Rina,Ambo dapek marasokan. Wassalam Hilman Mahyuddin, MD -Original Message- From: "rinapermadi" Sender: [email protected] Date: Thu, 3 Mar 2011 11:37:05 To: Reply-To: [email protected] Subject: RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan It was so so so KEREN Ditunggu dengan segenap kesabaran yang dipunya Lanjutan mutiara kisah menyemai waktu Penuh butiran airmata kenangan purna Kan kutuai buliran magis-magis haru itu.. Salam hormat hai Sang Pahlawan hati Usah dikau ragu dengan memorimu Sakit, manis, pilu, sedan dan lirih hati Kan menjadi kenangan mulia di hatiku Hai Sang Pendekar Misterius Baktimu mengukir batu-batu sungai purba Membenam di aliran hati tegerus arus Tersurat jelas disisi persada jiwa Wassalam Rina -Original Message- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of andiko Sent: Wednesday, March 02, 2011 6:39 PM To: rantaunet Subject: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Sanak Palanta Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses meniti ombak kehidupan. Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. Salam andiko _ PRRI - Sepenggal kenangan Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa Walaupun kami nyawa yang yang tersisa Masih dapat menceritakan kissah nyata Selama empat tahun mengembara Dibawah dentuman mortir dan bazooka Kisah bermula di Bukittinggi Cita-cita kami demikian tinggi Jalur pendidikan kami geluti Ingin memajukan negeri tercinta ini Menjadi guru kami mengabdi Mendidik putra putri negeri ini Bukittinggi yang indah kami nikmati Asrama putra dan asrama putri Jalan Panorama dan Jalan Nawawi Panorama-Birugo setiap hari Pulang pergi berjalan kaki Pecal Sikai kami nikmati Penuh canda dan ketawa Anak-anak muda dari berbagai agama Di aula bekas Sekolah Raja Kami memanfaatkan segala sarana Menggunakan alat peraga yang masih langka Berkat bantuan negara adikuasa Ada bisokop Rex dan Erie Malam Minggu hiburan kami Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai Kota Gadang kami kunjungi Menutup Hari Raya pemuda pemudi Seolah-olah dunia ini milik kami Bagaikan petir ditengah hari Jarum jam tiba-tiba berhendti Pesawat APRI menembaki Bukittinggi Sasaran utama adalah RRI Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari Semuanya pontang panting pada berlari Hanya dengan kain yang lekat dibadan Aku menuju kampung halaman Selamat tinggal kota kenangan Tempat yang tak pernah kulupakan Tempat bermula merajut harapan Merencanakan kebahagiaan masa depan Mimpiku buyar untuk selamanya Gagallah semua yang telah direncana Keadaan tak kan pernah seperti sediakala 4 tahun aku mengembara Menjelajahi hutan pulau Sumatra Kuperoleh pengalaman tiada tara Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga Banyak yang mati tersia-sia Kusaksikan juga kekejaman manusia Pengalaman hidup didalam penjara Kalau diingat pengalaman lama Membuat sesak rasanya dada Untuk pertama cukuplah sebegini Kususun sepuluh jari Kalau ada yang tak berkenan dihati Mohon maafkan badan hamba ini Supaya tak memberatkan diakhirat nanti Dengan salam aku sudahi Jakarta awal Maret 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTU
RE: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
It was so so so KEREN Ditunggu dengan segenap kesabaran yang dipunya Lanjutan mutiara kisah menyemai waktu Penuh butiran airmata kenangan purna Kan kutuai buliran magis-magis haru itu.. Salam hormat hai Sang Pahlawan hati Usah dikau ragu dengan memorimu Sakit, manis, pilu, sedan dan lirih hati Kan menjadi kenangan mulia di hatiku Hai Sang Pendekar Misterius Baktimu mengukir batu-batu sungai purba Membenam di aliran hati tegerus arus Tersurat jelas disisi persada jiwa Wassalam Rina -Original Message- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of andiko Sent: Wednesday, March 02, 2011 6:39 PM To: rantaunet Subject: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Sanak Palanta Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses meniti ombak kehidupan. Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. Salam andiko _ PRRI - Sepenggal kenangan Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa Walaupun kami nyawa yang yang tersisa Masih dapat menceritakan kissah nyata Selama empat tahun mengembara Dibawah dentuman mortir dan bazooka Kisah bermula di Bukittinggi Cita-cita kami demikian tinggi Jalur pendidikan kami geluti Ingin memajukan negeri tercinta ini Menjadi guru kami mengabdi Mendidik putra putri negeri ini Bukittinggi yang indah kami nikmati Asrama putra dan asrama putri Jalan Panorama dan Jalan Nawawi Panorama-Birugo setiap hari Pulang pergi berjalan kaki Pecal Sikai kami nikmati Penuh canda dan ketawa Anak-anak muda dari berbagai agama Di aula bekas Sekolah Raja Kami memanfaatkan segala sarana Menggunakan alat peraga yang masih langka Berkat bantuan negara adikuasa Ada bisokop Rex dan Erie Malam Minggu hiburan kami Panorama Baru, Benteng, dan Ngarai Kota Gadang kami kunjungi Menutup Hari Raya pemuda pemudi Seolah-olah dunia ini milik kami Bagaikan petir ditengah hari Jarum jam tiba-tiba berhendti Pesawat APRI menembaki Bukittinggi Sasaran utama adalah RRI Tanggal yang tak terlupakan dibulan Pebuari Semuanya pontang panting pada berlari Hanya dengan kain yang lekat dibadan Aku menuju kampung halaman Selamat tinggal kota kenangan Tempat yang tak pernah kulupakan Tempat bermula merajut harapan Merencanakan kebahagiaan masa depan Mimpiku buyar untuk selamanya Gagallah semua yang telah direncana Keadaan tak kan pernah seperti sediakala 4 tahun aku mengembara Menjelajahi hutan pulau Sumatra Kuperoleh pengalaman tiada tara Kumenyaksikan nyawa yang tak berharga Banyak yang mati tersia-sia Kusaksikan juga kekejaman manusia Pengalaman hidup didalam penjara Kalau diingat pengalaman lama Membuat sesak rasanya dada Untuk pertama cukuplah sebegini Kususun sepuluh jari Kalau ada yang tak berkenan dihati Mohon maafkan badan hamba ini Supaya tak memberatkan diakhirat nanti Dengan salam aku sudahi Jakarta awal Maret 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Oops, sasudah ambo caliak postiang sabanta ko tnayato ado salah ketik: Santa Cruz, California, March 2, 2022 Mudah-mudahan elok juo pangana tahun 2022 sabaleh tahun nan ka datang tu. Di bawah ko ambo peloki, manjadi Santa Cruz, California, March 2, 2011 Jadi ko ka mangutip, pakai nan iko bukan postiang nan sabalunnyo, karano ambo pagunokan juo untuak mampeloki typos dalam postiang sabalunnyo. Salam, --Nyiak Sungui == Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan BUKITTINGGI 1955-58 -- SEPENGGAL KENANGAN Pical "Si Kai", baitu tulisanno nan dipakai dahulu katu Si Kai masih gadih mudo. Kini ambo caliak tulisanno "Pical Sikai" karano nan Si Kai tu lah maningga dan anak cucu mareka indak namuah manyabuik Si sajo ka nenek mereka almarhumah. Jadi basarangkaian sin Sikai tu sabagai namo nan dipatenkan. Mungkin pical Si Kai tu lah ado sajak muloi 1952 mungkin sabalunno sasudah nagari aman salasai agresi ka duo. Tahun 1955 ambo Guru ST-2 di Lambau samo jo angkatan Guru-guru muda sebagai new harvest Pendidikan Guru di Sumatera Barat dari Tigo Penjuru, SGA-Negeri Padangpanjang, Padang, dan Payakumbuh. Ambo dari Payokumbuah, angkatan kami tammat 1955, 71 urang tersebar di Sumatera Barat, dan ado nan pai ka Indonesia Bagian Timur atas permintaan. Alumni kami dari SGA-Negeri Payakumbuh, tamasuak kolompok ketat nan sering bakorespondensi sajak kami maniggakan Payoumbuah, 1955, lah 6 dekade samoai kini. Kehendah Allah dipatuhi, 38% alah mandahului kami, sadang nan tingga lah agak gaek-gaek pulo. Para Guru New Harvest 1950an ko marupokan tenaga Penggerak Pendidikan di Sumatera Barat nan menyumbangkan hasil pendidikan angkatan baru di dekade-dekade sesudahnyo. Istimewa di Payakumbuh, karano banyak anak-anak SMP Payakumbuah jo Dangung-dangung dan Muallimin bagai, ditampuang di SGA, setammat SGA mereka mengisi SMP-SMP-SGB baru di Payokumbuah dan sekitarnyo: Paayokumbuah, Aia Tabik, Gadut Pakan Robaa, Dangung-dangung, Kototinggi. Para intellektual dari Limopuluah nan tersebar di Indonesia kini dalam puncak masa jayanya, atau lah hampia-hampia pansiun pulo adolah sebagian besar Anak Didik Guru-guru New Harvest ko. Di Bukittinggi, kami dari angkatan tammatan 1955 baik dari Padangpanjang, Padang, Payakumbuah merupakan kelompok baru membangun persahabatan. Pical Si Kai di Panorama, tampek kami baragan basuo, dan bapomle; satidak-tidaknyo ado duo pasang nan akahirnyo jadi suami isteri yang bahagia. Gedung Rex pun manjadi tampek hiburan kami mudo-mudo. Kalau ambo ka Rex, walaupun urang basasak basilingkik mambali kuricih, kadang-kadang lantak balantak, ambo salalu mandapek tampek nan rancak. Murik-murik ambo dari ST-2 (nan terkenal bagak-bagak) banyak nan mancatut kuricih di pangguang-pangguang, terutama di Rex tu. Sekali gus merekapun marupokan body guards tidak resmi. Ambo sabana aman manonton filem di sinan. Gedung Sovia lah dipakai sajak tahun 1955-58 tu. Ambo tingga di Jalan Kayu Ramang, babarapo langkah dari Sovia tu, dakek Pengadilahn dan Gedung B-I Sejarah Bukittinggi di samping Istana Bung Hatta. Ambo tingga sabalah rumah dari Mak Uniang, pemilik Sovia tu. Juo sabalah dari Family Foto Studio, dengan Oom Yunus pemiliknyo, dakek jo ambo. Praktis tampek tu di ambo, karano sebagai guru ST-2 di Lambau, ambo mahasiswa B-I Sejarah di Bukittinggi. Sadangkan kawan-kawan Guru seangkatan manjadi Mahasiswa B-I Bahaso Inggiris nan wakaut itu masih disabuik STC. Kadai "Martabak Si Kaka" di Kampuang Cino adolah tampek kami mancirupuih kalau di Pasa. Katu pulang patang (awal 2011)ko ambo masih talok mancirupuih ka "Martabak Kaka" tu (indak pulo pakai Si lai, tapi Kaka sajo. Ambo kecekan ka rang mudo nan mamasak tu, ambo kenal jo kakeknyo, inyo tacongak. Ambo katokan settingnyo saroman saisuak juo. Tapi inyo mangaku, mungkin rasonyo balain Pak, karano tagantuang ka tukang masaknyo. Kakek ambo sabana santiang mambuek Martabak ko sahinggo martabak ko dikenlal Urang sabagai "Martabak Si Kaka". Salam, -- Nyiak Sunguik Sjamsir Sjarif Santa Cruz, California, March 2, 2011 --- In [email protected] <mailto:[email protected]> , Muhammad Dafiq Saib wrote: > > Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu > > Rancak > > Namo panggung tu Rex jo Irian di tahun 60an. Rex kudian baganti namo jadi Eri > (jadi Rex jo Eri itu-itu juo). Ambo indak tahu apokoh Irian tu namo baru katiko > itu. Kudian bana, alah agak lamo baganti namo jadi Gloria. Tahun 60an tu > batambah pangguang ciek lai. Namono Sovia. > > > Dan taun 58an ambo raso alun ado pical si Kai. Atau ambo salah?? > > > Wassalamu'alaikum, > > Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam > Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi > Lahir : Zulqaidah 1370H, > Jatibening - Bekasi > > > From: andiko > To: rantaunet mailto:[email protected]> >
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
BUKITTINGGI 1955-58 -- SEPENGGAL KENANGAN Pical "Si Kai", baitulisan dahulu katu Si Kai masih gadih mudo. Kini ambo caliak tulisanno "Pical Sikai" karano nan Si Kai tu lah maningga dan anak cucu mareka indak namuah manyabui Si sajo ka nenek mereka almarhumah. Jadi basarangkaian sin Sikai tu sabagai namo nan dipatenkan. Mungkin pical Si Kai tu lah ado sajak muloi 1952 mungkin sabalunno sasudah nagari aman salasai agresi ka duo. Tahun 1955 ambo Guru ST-2 di Lambau samo jo angkatan Guru-guru muda sebagai new harvest Pendidikan Guru di Sumatera Barat dari Tigo Penjuru, SGA-Negeri Padangpanjang, Padang, dan Payakumbuh. Ambo dari Payokumbuah, angkatan kami tammat 1955, 71 urang tersebar di Sumatera Barat, dan ado nan pai ka Indonesia Bagian Timur atas permintaan. Alumni kami dari SGA-Negeri Payakumbuh, tamasuak kolompok ketat nan sering bakorespondensi sajak kami maniggakan Payoumbuah, 1955, lah 6 dekade samoai kini. Kehendah Allah dipatuhi, 38% alah mandahului kami, sadang nan tingga lah agak gaek-gaek pulo. Para Guru New Harvest 1950an ko marupokan tenaga Penggerak Pendidikan di Sumatera Barat nan menyumbangkan hasil pendidikan angkatan baru di dekade-dekade sesudahnyo. Istimewa di Payakumbuh, karano banyak anak-anak SMP Payakumbuah jo Dangung-dangung dan Muallimin bagai, ditampuang di SGA, setammat SGA mereka mengisi SMP-SMP-SGB baru di Payokumbuah dan sekitarnyo: Paayokumbuah, Aia Tabik, Gadut Pakan Robaa, Dangung-dangung, Kototinggi. Para intellektual dari Limopuluah nan tersebar di Indonesia kini dalam puncak masa jayanya, atau lah hampia-hampia pansiun pulo adolah sebagian besar anak didik Guru-guru New Harvest ko. Di Bukittinggi, kami dari angkatan tammatan 1955 baik dari Padangpanjang, Padang, Payakumbuah merupakan kelompok baru membangun persahabatan. Pical Si Kai di Panorama, tampek kami baragan basuo, dan bapomle; satidak-tidaknyo ado duo pasang nan akahirnyo jadi suami isteri yang bahagia. Gedung Rex pun manjadi tampek hiburan kami mudo-mudo. Kalau ambo ka Rex, walaupun urang basasak basilingkik mambali kuricih, kadang-kadang lantak balantak, ambo salalu mandapek tampek nan rancak. Murik-murik ambo dari ST-2 (nan terkenal bagak-bagak) banyak nan mancatut kuricih di pangguang-pangguang, terutama di Rex tu. Sekali gus merekapun marupokan body guards tidak resmi. Ambo sabana aman manonton filem di sinan. Gedung Sovia lah dipakai sajak tahun 1955-58 tu. Ambo tingga di Jalan Kayu Ramang, babarapo langkah dari Sovia tu, dakek Pengadilahn dan Gedung B-I Sejarah Bukittinggi di samping Istana Bung Hatta. Ambo tingga sabalah rumah dari Mak Uniang, pemilik Sovia tu. Juo sabalah dari Family Foto Studio, dengan Oom Yunus pemiliknyo, dakek jo ambo. Praktis tamoek tu di ambo, karano sebagai guru ST-2 di Lambau, ambo mahasiswa B-I Sejarah di Bukittinggi. Sadangkan kawan-kawan Guru seangkatan manjadi Mahasiswa B-I Bahaso Inggiris nan wakaut itu masih disabuik STC. Kadai "Martabak Si Kaka" di Kampuang Cino adolah tampek kami mancirupuih kalau di Pasa. Katu pulang patang (awal 2011)ko ambo masih talok mancirupuih ka "Martabak Kaka" tu (indak pulo pakai Si lai, tapi Kaka sajo. Ambo kecekan ka rang mudo nan mamasak tu, ambo kenal jo kakeknyo, inyo tacongak. Ambo katokan settingnyo saroman saisuak juo. Tapi inyo mangaku, mungkin rasonyo balain Pak, karano tagantuang ka tukang masaknyo. Kakek ambo sabana santiang mambuek Martabak ko sahinggo martabak ko dikenlal Urang sabagai "Martabak Si Kaka". Salam, -- Nyiak Sunguik Sjamsir Sjarif Santa Cruz, California, March 2, 2022 --- In [email protected], Muhammad Dafiq Saib wrote: > > Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu > > Rancak > > Namo panggung tu Rex jo Irian di tahun 60an. Rex kudian baganti namo jadi Eri > (jadi Rex jo Eri itu-itu juo). Ambo indak tahu apokoh Irian tu namo baru > katiko > itu. Kudian bana, alah agak lamo baganti namo jadi Gloria. Tahun 60an tu > batambah pangguang ciek lai. Namono Sovia. > > > Dan taun 58an ambo raso alun ado pical si Kai. Atau ambo salah?? > > > Wassalamu'alaikum, > > Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam > Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi > Lahir : Zulqaidah 1370H, > Jatibening - Bekasi > > > From: andiko > To: rantaunet > Sent: Wed, March 2, 2011 6:38:57 PM > Subject: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan > > Sanak Palanta > > Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk > sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan > tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau > sebagai > pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan yang > terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan hidup > yang > telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses meniti ombak > kehidupan. > > Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko
Re: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Rancak Namo panggung tu Rex jo Irian di tahun 60an. Rex kudian baganti namo jadi Eri (jadi Rex jo Eri itu-itu juo). Ambo indak tahu apokoh Irian tu namo baru katiko itu. Kudian bana, alah agak lamo baganti namo jadi Gloria. Tahun 60an tu batambah pangguang ciek lai. Namono Sovia. Dan taun 58an ambo raso alun ado pical si Kai. Atau ambo salah?? Wassalamu'alaikum, Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi Lahir : Zulqaidah 1370H, Jatibening - Bekasi From: andiko To: rantaunet Sent: Wed, March 2, 2011 6:38:57 PM Subject: [R@ntau-Net] PRRI - Sepenggal kenangan Sanak Palanta Atas permintaan penulis yang juga pelaku sejarah, maka satu tulisan berbentuk sya'ir yang indah iko ambo lapeh ka palanta tampa nama penulis. Ada alasan tertentu yang menyebabkan beliau belum bersedia mencantumkan nama beliau sebagai pengarang sya'ir ini. Pesan beliau, yang ini baru pertama dan bukan yang terakhir. Setiap bait-bait dari kumpulan baris iko berisikan kenangan hidup yang telah menjadikan beliau tegar dalam kehidupan dan telah sukses meniti ombak kehidupan. Ambo berdo'a, si penulis syair di bawah iko, akan terus berproduksi di sela-sela waktu senggang baliau menikmati hari-hari. Salam andiko _ PRRI - Sepenggal kenangan Bismilahirrahmanir Rahim diawal kata Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa Walaupun kami nyawa yang yang tersisa Masih dapat menceritakan kissah nyata Selama empat tahun mengembara Dibawah dentuman mortir dan bazooka -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. === UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. === Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
