[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-21 Terurut Topik Budi Rahardjo
On 4/19/06, Ikhlasul Amal [EMAIL PROTECTED] wrote:

 Hehehe... ekspor memang menggiurkan dengan resiko justru kekurangan
 untuk keperluan domestik. Seperti halnya kita menggebu dengan ekspor
 gas, sekarang pas diperlukan untuk pasokan pupuk dalam negeri, tidak
 cukup. Di beberapa tempat kondisi yang sama terjadi pada sumber daya
 alam: ikan yang bagus sudah diraup untuk ekspor, sisa di pasar lokal
 kualitas kedua. Seingat saya, kondisi seperti ini juga terjadi di
 Rumania sebelum Nicolae Ceauşescu tumbang.

Ada bedanya. Sumber daya alam (SDA) seperti gas, minyak, emas, kayu,
dll itu non-renewable dan tidak bisa balik lagi. Jadi kalau kita kirim
(ekspor) ke luar negeri, habis dia. Gak bakalan pulang lagi :(
Itulah sebabnya saya kurang sreg dengan pendekatan eksploitasi SDA.
Tapi ... kalau SDM, bisa dibuat dan kembali lagi. he he he.

Nyimpang sedikit. Salah satu alasan kenapa BHTV saya push adalah
karena dia mencoba untuk menyesuaikan pendapatan devisa dari hal
yang bukan eksploitasi SDA kita (minyak, kayu, dll.).


 Saya sendiri mendukung liberalisasi dalam hal tenaga kerja
 berketrampilan (skilled labor). Silakan saja pemain badminton kita
 bertebaran di negara orang, yang penting perjanjian kontrak dengan
 PBSI dibuat yang benar dan ditaati.

Betul.
Analoginya begini. Kalau di Indonesia ada yang jagoan sekali
bermain sepak bolanya, setaraf dengan Nistelrooy/Henry/Rooney/
Crespo/Drogba/Terry/dll, mengapa dia main di PSSI?
Titipkan dulu saja di liga Inggris/Italia/Spanyol.
Tapi kalau lagi world cup, dia tetap main di Indonesia/PSSI :)

Nah, kalau nanti sudah banyak jagoan bola Indonesia, baru kita
minta mereka mengembangkan liga Indonesia. Serahkan kepada mereka.

Jadi ingat sepak bola Indonesia jaman dahulu. Wah ... masih ingat
nama Abdul Kadir, Waskito, Ronny Patina...(lupa euy)
Dulu saya suka Persebaya, jadi ingetnya Abdul Kadir dan Waskito.
Sepak bola Indonesia jaman dulu rasanya hebat banget ya.
(Bagi yang tua-tua, he he he)



-- budi


[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-21 Terurut Topik Dicky Arinal
On 4/22/06, Budi Rahardjo [EMAIL PROTECTED] wrote:
Jadi ingat sepak bola Indonesia jaman dahulu. Wah ... masih ingatnama Abdul Kadir, Waskito, Ronny Patina...(lupa euy)Sorry OOT.. namanya Ronny Patinasarani ... :


[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-21 Terurut Topik m.c. ptrwn


Budi Rahardjo wrote:
 On 4/19/06, Ikhlasul Amal [EMAIL PROTECTED] wrote:

  Hehehe... ekspor memang menggiurkan dengan resiko justru kekurangan
  untuk keperluan domestik. Seperti halnya kita menggebu dengan ekspor
  gas, sekarang pas diperlukan untuk pasokan pupuk dalam negeri, tidak
  cukup. Di beberapa tempat kondisi yang sama terjadi pada sumber daya
  alam: ikan yang bagus sudah diraup untuk ekspor, sisa di pasar lokal
  kualitas kedua. Seingat saya, kondisi seperti ini juga terjadi di
  Rumania sebelum Nicolae Ceauºescu tumbang.

 Ada bedanya. Sumber daya alam (SDA) seperti gas, minyak, emas, kayu,
 dll itu non-renewable dan tidak bisa balik lagi. Jadi kalau kita kirim
 (ekspor) ke luar negeri, habis dia. Gak bakalan pulang lagi :(
 Itulah sebabnya saya kurang sreg dengan pendekatan eksploitasi SDA.
 Tapi ... kalau SDM, bisa dibuat dan kembali lagi. he he he.

kan ada istilah:

kalau harta benda bisa habis , tapi ilmu pengetahuan dan amal budi yg
baik kekal selamanya .

:-)



 Nyimpang sedikit. Salah satu alasan kenapa BHTV saya push adalah
 karena dia mencoba untuk menyesuaikan pendapatan devisa dari hal
 yang bukan eksploitasi SDA kita (minyak, kayu, dll.).


  Saya sendiri mendukung liberalisasi dalam hal tenaga kerja
  berketrampilan (skilled labor). Silakan saja pemain badminton kita
  bertebaran di negara orang, yang penting perjanjian kontrak dengan
  PBSI dibuat yang benar dan ditaati.

 Betul.
 Analoginya begini. Kalau di Indonesia ada yang jagoan sekali
 bermain sepak bolanya, setaraf dengan Nistelrooy/Henry/Rooney/
 Crespo/Drogba/Terry/dll, mengapa dia main di PSSI?
 Titipkan dulu saja di liga Inggris/Italia/Spanyol.
 Tapi kalau lagi world cup, dia tetap main di Indonesia/PSSI :)

enaknya kalau pak BSR yang ngomong, lebih mudah dimengerti orang lain,
thank you sir !

 Nah, kalau nanti sudah banyak jagoan bola Indonesia, baru kita
 minta mereka mengembangkan liga Indonesia. Serahkan kepada mereka.

 Jadi ingat sepak bola Indonesia jaman dahulu. Wah ... masih ingat
 nama Abdul Kadir, Waskito, Ronny Patina...(lupa euy)

Ronny Pattinasarani. sekarang bukanya  jadi komentator di tivi ?

 Dulu saya suka Persebaya, jadi ingetnya Abdul Kadir dan Waskito.
 Sepak bola Indonesia jaman dulu rasanya hebat banget ya.
 (Bagi yang tua-tua, he he he)

wah kalau jamanya saya kipernya masih ponirin mekka, ribut waidi dan
riki yakob. 

-mcp



[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-18 Terurut Topik Ikhlasul Amal
On 4/16/06, Budi Rahardjo [EMAIL PROTECTED] wrote:

 Ceritanya sekarang adalah bagaiman kita bisa mensuply
 kebutuhan  engineer di luar negeri dulu (titip engineers di sana).
 Ada permintaah 200 electronic engineers (untuk design IC,
 circuits, etc.) di Intel di Malaysia. (Penang dan Cyberjaya.)


Hehehe... ekspor memang menggiurkan dengan resiko justru kekurangan
untuk keperluan domestik. Seperti halnya kita menggebu dengan ekspor
gas, sekarang pas diperlukan untuk pasokan pupuk dalam negeri, tidak
cukup. Di beberapa tempat kondisi yang sama terjadi pada sumber daya
alam: ikan yang bagus sudah diraup untuk ekspor, sisa di pasar lokal
kualitas kedua. Seingat saya, kondisi seperti ini juga terjadi di
Rumania sebelum Nicolae Ceauşescu tumbang.

Saya sendiri mendukung liberalisasi dalam hal tenaga kerja
berketrampilan (skilled labor). Silakan saja pemain badminton kita
bertebaran di negara orang, yang penting perjanjian kontrak dengan
PBSI dibuat yang benar dan ditaati.

--
amal


[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-15 Terurut Topik Adjie

Ini juga jadi pertanyaan saya.Sebenarnya setelah kita yang di San Jose ini bertemu dengan Pak Armien
cs sekitar akhir tahun 2000, sempat terjadi pertemuan di Kedubes RI diSF yg dihadiri Pak Armien cs dan Pak Sehat dari Marvell dan masyrakatIndonesia (saya ikutan). Kabarnya setelah itu ada 'possible investment'
dari Marvell dan Atmel ke Indonesia.Tapi setelah itu, seperti biasa , tidak ada kabar kabarnya, saya sempattanyakan juga ke milis teknologia ini siapa tahu ada yang tahu statusupdatesnya, tapi gak ada jawaban. 

Padahal kalaupun ada investasi, jumlahnya masih tergolong peanuts ,
alias cuman500,000 s/d 1,000,000 usd saja jadi mengherankan kalaugagal.
hmmm kalau investasi sekecil ini aja masih gagal, berarti ada problem
yang sangat mendasar di Indonesia, saya sendiri ngga punya
gambaran seberapa ruwetnya problem disana, di tambah lagi
infrastructure yang memang jadi kendala. mungkin ada yang bisa share
seberapa kusutnya kah problem ini, tapi saya yakin sekusut-kusutnya
problem pasti selalu ada jalan keluarnya, yang jelas perlu memang
success story di Indo, karena begitu ada berhasil satu well yang lain
pasti ngikut.


Adjie


[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-15 Terurut Topik Budi Rahardjo

Tidak terjadi. Alasannya:
- pas mau dieksekusi ada layoff besar2an di US
- pas kejadian bom di Indonesia
Sehingga inisiatif yang sudah disiapkan gagal/batal/ditunda.

Bulan lalu ketemu dengan pak Danny lagi (dari Atmel,
mungkin beliau sudah mau pensiun?).
Ceritanya sekarang adalah bagaiman kita bisa mensuply
kebutuhan  engineer di luar negeri dulu (titip engineers di sana).
Ada permintaah 200 electronic engineers (untuk design IC,
circuits, etc.) di Intel di Malaysia. (Penang dan Cyberjaya.)

Ternyata sukar untuk mengisi supply ini ... :(

-- budi


[teknologia] Re: Atmel di Bandung?

2006-04-15 Terurut Topik m.c. ptrwn

Budi Rahardjo wrote:
 Tidak terjadi. Alasannya:
 - pas mau dieksekusi ada layoff besar2an di US
 - pas kejadian bom di Indonesia
 Sehingga inisiatif yang sudah disiapkan gagal/batal/ditunda.

 Bulan lalu ketemu dengan pak Danny lagi (dari Atmel,
 mungkin beliau sudah mau pensiun?).
 Ceritanya sekarang adalah bagaiman kita bisa mensuply
 kebutuhan  engineer di luar negeri dulu (titip engineers di sana).
 Ada permintaah 200 electronic engineers (untuk design IC,
 circuits, etc.) di Intel di Malaysia. (Penang dan Cyberjaya.)

 Ternyata sukar untuk mengisi supply ini ... :(

Masalah nitip engineer ini paling gampang kalau di tiap _sektor_ ada
mentor dan orang yang bisa melihat apakah engineer Indonesia cukup
qualified atau tidak dan sekalian menjembantani antara supply (sdm
Indonesia) dan demand disini. Misalnya, saya handle untuk orang2
networking, rekan lain yg di US handle untuk Applications(Java/C/Corba)
dan rekan lain handle IC misalnya.

Kalau dari case di bidang networking, kebanyakan yg dicari persh SV itu
kualias A+++ tapi mereka masih bisa consider engineer dengan kualitas A
atau B selama mereka berpotensi dan ada yang rekomendasi. Dari resume
yang saya dapatkan memang gak terlalu banyak yang qualified  di level A
(mungkin kurang dari 10%) tapi banyak sebenarnya yang punya potensi.

Masalahnya, kalau mereka skrg engineer kualitas C tapi tinggal di
India, tinggal masalah waktu saja mereka bakal jadi engineer kualitas A
karena didrill dan di-didik secara gratis oleh persh2 SV yang ada di
India , sedangkan di Indonesia itu tidak akan pernah terjadi karena
tidak ada yang exploit potensi mereka.

Cuman dalam kasus diatas dimana ada 200 open position untuk IC Engineer
di Indonesia dan tidak ada yang (berani?) apply, wah itu mah kesalahan
luar biasa.

-mcp



 
 -- budi