Refleksi : Kalau tidak lupa perempuan, maka tentunya harus ada banyak wanita di 
pucuk pimpinan baik pusat maupun daerah, tetapi kalau tidak ada  berarti tidak 
ingat. hehehe

http://www.antaranews.com/berita/1278305425/muhammadiyah-tidak-lupakan-perempuan

Muhammadiyah Tidak Lupakan Perempuan
Senin, 5 Juli 2010 11:50 WIB | Peristiwa | Umum | 
Yogyakarta (ANTARA News) - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir menyatakan, 
bahwa organisasi tersebut tidak melupakan peran perempuan di dalam pemilihan 
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, meskipun pada periode 2010-2015 tidak terdapat 
satu pun perempuan dalam calon anggota pimpinan pusat.

"Muhammadiyah sejak dulu selalu memegang teguh prinsip pemilihan secara 
demokratis," kata Haedar Nasir di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, tidak adanya satu pun perempuan dalam calon anggota tetap Pimpinan 
Pusat Muhammadiyah disebabkan adanya pemikiran bahwa perempuan sudah memiliki 
persyarikatan tersendiri di dalam Muhammadiyah yaitu Aisyiyah.

Selain itu, lanjut dia, kesibukan di dalam penyelenggaraan muktamar sehingga di 
dalam proses perjalanan pemilihan tidak ada satu pun perempuan yang terpilih.

"Saya sendiri sudah memilih perempuan saat pemilihan calon anggota tetap 
pimpinan pusat Muhammadiyah," katanya.

Ia menyatakan, meskipun tidak akan ada perempuan di dalam 13 anggota pimpinan 
pusat Muhammadiyah 2010-2015, namun masih akan ada peluang untuk memodifikasi 
anggota pimpinan tersebut, misalnya dengan menambah anggota perempuan atau 
melalui majelis-majelis yang dimiliki organisasi.

"Proses itu bisa dilakukan secara dialogis, tetapi memang keputusan yang 
diambil sangat tergantung dari kesepakatan 13 anggota pimpinan," katanya.

Secara garis besar, lanjut Haedar, seluruh anggota pimpinan pusat harus 
memiliki semangat untuk menjalankan tugas tersebut sebagai amanat agama 
sehingga perlu dikerjakan dengan ikhlas dan penuh komitmen.

Salah satu komitmennya adalah menjaga nilai-nilai Muhammadiyah dalam 
menjalankan dakwah dan tajdid serta menghindari terlibat langsung dengan 
politik praktis tetapi tetap berperan dalam politik kebangsaan.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Chamamah Soeratno 
menyatakan, perempuan tidak boleh berdiam diri dalam menerima nasibnya.

"Era sekarang adalah era kemajuan. Perempuan harus memiliki pandangan yang 
maju, cerdas dan kritis. Perempuan harus berani menyuarakan nasibnya. Perkara 
nanti hasilnya seperti apa, akan diserahkan sesuai situasi dan kondisi yang 
ada," katanya.

Ia menyatakan, tujuan utama yang ingin dicapai melalui penyuaraan hak perempuan 
adalah untuk memberikan pencerahan kepada seluruh masyarakat tentang peran 
penting perempuan di dalam pemberdayaan masyarakat.

"Jika diberi kesempatan, maka perempuan itu sebenarnya bisa. Untuk menduduki 
sebuah jabatan, tidak boleh pandang jenis kelamin tetapi melihat kapabilitas 
seseorang," katanya.

Chamamah menegaskan, kesadaran gender adalah parameter untuk menentukan apakah 
seseorang memiliki pikiran yang tajam, cerdas, kritis.
(E013/A024)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke