Lebaran vs Berhutang

"...........Dan jangalah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros; 
sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan......... " 
[QS Al Israa'; 17 :26-27]

Pada hari-hari terakhir Ramadhan, pusat perbelanjaan penuh sesak; bahkan 
obral tengah malam, dari Isya menjelang Sahurpun tetap ramai.
Jika perangkat makan masih layak, bisa dipakai mengapa mesti beli yang baru? 

Terkadang makna penting Idul Fitri terlupakan. Kita terjebak pada persoalan 
tradisi  dan ritus, 'balas dendam'. Setelah sebulan 'menderita, terkekang', 
maka tiba saatnya untuk bergembira ria. Yang biasanya membuat kita makin 
konsumtif, egois, kurang bersyukur. 
Makna, hikmah berpuasa untuk menahan diri, seolah terlupakan.
Yang berkecukupan berlebihan; boros.Yang kekurangan memaksakan diri.
Pada akhirnya jatuh ke persoalan meminjam, - Berhutang.

Dengan pola hidup efisien, sederhana seorang muslim tak perlu lagi berhutang.
Rasulullah SAW tidak menyukai seorang muslim berhutang. Karena berhutang 
adalah kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari.
Rasulullah SAW selalu memohon perlindungan kepada Allah dari berhutang. 
Di dalam solatnya Rasulullah sering berdoa :
" Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang."
Lalu ada orang bertanya kepadanya, " Wahai Rasulullah, engkau begitu banyak 
berlindung dari hutang?" 
Beliau menjawab, " Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka ia sering 
berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas menyalahinya." [ Bukhari]-[lm-29]

[dari berbagai sumber]
----------------------------------------------------------------------------
l.meilany
310810/21ramadhan1431h


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke