Adakah Tradisi bermaafan menjelang Ramadhan?                           
[Print]                           [E-mail]
Sep 21, 2006 at 02:26 PM
  [http://babinrohis.esdm.go.id/images/M_images/salaman.jpeg] Sahihkah
hadits bermaafan menjelang Ramadhan? Yang selalu dari Ramadhan ke
Ramadhan masalah ini sering sekali ditanyakan? Pernah didapatkan redaksi
hadits sebagai berikut

Do'a Malaikat Zibril Menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa
ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak
melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu
kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih
dahulu antara suami istri; * Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan
orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3
kali. (Tidak diketahui riwayatnya.)
Mari kita cermati salinan berikut ini.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata :
Amin, Amin, Amin"
Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian
mengucapkan Amin, Amin, Amin?" Beliau bersabda. "Artinya : Sesungguhnya
Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang
mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk
neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun
mengucapkan Amin...."
[Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan
Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya
terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari
beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan
hal.25-34 karya Ibnu Syahin]

Disalin dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, hal. 27-28,
Pustaka Al-Haura.

Yang lebih lengkap lagi disalinkan dari buku Birrul Walidain hal. 44-45
terbitan Darul Qalam
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar
kemudian berkata, "Amin, amin, amin".
Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya
Rasulullah?"
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat
Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut
nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!'
maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang
yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak
diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata :
'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi.
'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang
dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga
dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin".
[Hadits Riwayat Bazzar dalam Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153
dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah,
diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih
Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

Dengan demikian, hadist diatas tidak ada hubungan dengan keharusan
bermaafan sebelum puasa Ramadhan. Meminta maaf dan memaafkan seseorang
dapat dilakukan kapan saja, dan tidak ada tuntunan syari'at harus
dikumpulkan dulu dan menunggu sampai menjelang bulan Ramadhan.

Wallohu'alam bishowab.

sumber: BABINROHIS (Badan Pembina Kerohanian Islam)
<http://babinrohis.esdm.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=\
41&Itemid=43>
artikel serupa: Media Informasi Umat Islam
<http://mediaislam.myblogrepublika.com/tradisi-bermaafan-sebelum-puasa/>
juga ada di sini  <http://lifeuniversity.multiply.com/journal/item/26>
Bermaafan Sebelum Ramadhan
<http://lifeuniversity.multiply.com/journal/item/26/Bermaafan_Sebelum_Ra\
madhan>


Kirim email ke