Artikel As-sunnah
________________________________
Benarkah Tidurnya Orang yang Berpuasa adalah Ibadah?
Posted: 13 Aug 2010 12:44 AM PDT
Apakah benar tidur orang yang berpuasa itu berpahala? Apakah benar seperti itu?
Di bulan Ramadhan saat ini, kita sering mendengar ada sebagian da’i yang
menyampaikan bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah. Bahkan dikatakan
ini
adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dengan penyampaian
semacam ini, orang-orang pun akhirnya bermalas-malasan di bulan Ramadhan bahkan
mereka lebih senang tidur daripada melakukan amalan karena termotivasi dengan
hadits tersebut. Dalam tulisan yang singkat, kami akan mendudukkan permasalahan
ini karena ada yang salah kaprah dengan maksud yang disampaikan dalam hadits
tadi. Semoga Allah memudahkan dan menolong urusan setiap hamba-Nya dalam
kebaikan.
Derajat Hadits Sebenarnya
Hadits yang dimaksudkan,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ،
وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya
adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”
Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al
Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan
dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat
Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.
Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan
oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if
(lemah).
Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam
Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang
dho’if (lemah).
Tidur yang Bernilai Ibadah yang Sebenarnya
Setelah kita menyaksikan bahwa hadits yang mengatakan “tidur orang yang
berpuasa
adalah ibadah” termasuk hadits yang dho’if (lemah), sebenarnya maknanya bisa
kita bawa ke makna yang benar.
Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang
statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami istri) bisa
mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan
ibadah.
Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan,
أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب
عَلَيْهِ
“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan
wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan
mendapatkan balasan (ganjaran).”
Jadi tidur yang bernilai ibadah jika tidurnya adalah demikian.
Ibnu Rajab pun menerangkan hal yang sama, “Jika makan dan minum diniatkan untuk
menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka
seperti
inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat
dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur
seperti ini bernilai ibadah.” (Latho-if Al Ma’arif, 279-280)
Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya
malas-malasan
sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini
adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar
kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur
seperti inilah yang bernilai ibadah.
Jadi ingatlah “innamal a’malu bin niyaat”, setiap amalan tergantung dari
niatnya.
Semoga Allah menganugerahi setiap langkah kita di bulan Ramadhan penuh
keberkahan. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatnya, segala
kebaikan
menjadi sempurna. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa
shohbihi wa sallam, wal hamdu lillahi robbil ‘alamin.
Rujukan:
1. As Silsilah Adh Dho’ifah, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al
Ma’arif
Riyadh, Asy Syamilah
2. Latho-if Al Ma’arif fil Mawaasim Al ‘Aam minal Wazho-if, Ibnu Rajab Al
Hambali, Al Maktab Al Islamiy
3. Syarh Muslim, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy
Syamilah
4. http://www.dorar.net/enc/hadith/نوم الصائم /pt
***
Diselesaikan pada waktu ifthor, 2 Ramadhan 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com
You are subscribed to email updates from Artikel As-Sunnah
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered
by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610