Precedence: bulk
RADIO NEDERLAND, GEMA WARTA 17 DES. 1998:
CIA BAYAR DEMONSTRASI MAHASISWA LEWAT PERUSAHAAN BELANDA UNILEVER, KATA GUS DUR
Intro:
Ada mahasiswa-mahasiswa yang dibayar 300 ribu dollar oleh dinas
intelijens Amerika CIA, supaya terus menggenjot demonstrasi anti Habibie
dan menghujat Soeharto. Uang suap itu dibayar CIA melalui perusahaan
Belanda Unilever di Jakarta. Demikian Ketua Umum PBNU Abdurahman Wahid
alias Gus Dur kepada Radio Nederland.
Dari Hilversum kami menelpon Gus Dur di Ciganjur:
Radio Nederland [RN]: Pak Wahid, apakabar mantan presiden Soeharto?
Abdurahman Wahid [AW]: Lho, saya enggak tahu, kenapa?
RN: Sudah ketemu kan, Pak Wahid?
AW: Enggak kok!
RN: Tidak ketemu?
AW: Enggak!
RN: Tapi sebenarnya mengapa, andai kata bertemu apakah ada resikonya?
AW: Ya enggak tahu, tanya dia, kok tanya saya. Saya minta waktu untuk
ketemu.
RN: Minta waktu untuk ketemu?
AW: Ya, tapi belum ketemu.
RN: Tapi belum sempat ketemu sudah menjadi perbincangan orang. Ada yang
mengatakan itu seperti Nelson Mandela setelah bebas ketemu janda
arsitek apartheid. Tapi ada pula yang mengatakan, hal itu akan merugikan
perjuangan
reformasi karena melegitimasi Soeharto?
AW: Lho saya ini enggak ketemu.
RN: Tapi Pak Wahid katanya sedang memohon untuk bertemu?
AW: Lho ya nanti!
RN: Apa rencana pembicaraannya?
AW: Ya saya hanya mau membicarakan satu hal saja kok.
RN: Membicarakan apa?
AW: Membicarakan dengan Pak Harto, apakah boleh kita bertemu berempat.
Habibie, Pak Wiranto, Pak Harto, saya, gitu.
RN: Wah, empat tokoh ya. Jadi apa yang akan menjadi topik utama pembicaraan
empat tokoh ini?
AW: Ya persatuan nasional kita.
RN: Mengapa mantan presiden Soeharto harus disertakan untuk membicarakan
soal persatuan ini.
AW: Ya bukan rahasia, bahwa masih banyak yang ndengerin dia.
RN: Jadi menurut Pak Wahid kekuasaan Soeharto ini masih serius ya?
AW: Masih besar, ya.
RN: Tapi apa yang dapat disumbangkan oleh Soeharto?
AW: Kalau dia setuju, berarti orang-orang itu nanti kan dia kasih
tahu supaya berperilaku yang mengamankan secara nasional, gitu.
RN: Kira-kira orang-orang mana ini? Orang dari partai yang mana?
AW: Bukan partai, ya tentara, ya birokrasi, ya orang partai, ya
macem-macemlah, orang Golkar.
RN: Dalam rangka mengamankan keadaan ya?
AW: Ya betul, saya ngerinya itu kan nanti, kalau tidak terkendali,
keadaan menuju kepada revolusi, anda kan mengerti itu.
RN: Jadi ini seolah-olah Soeharto ikut bertanggung jawab ya, atas
rentetan ketidakamanan, kalau Pak Wahid minta dia ikut mengamankan?
AW: Enggak gitu, dia kan punya peranan penting.
RN: Rentetan dari Banyuwangi, sampai Semanggi, Ketapang, seberapa
jauh mantan presiden Soeharto bermain di situ.
AW: Semanggi itu jelas enggak, dia.
RN: Yang lain iya, ya?
AW: Saya enggak tahu yang lain.
RN: Ini bulan Ramadhan, para mahasiswa menyatakan akan melanjutkan
demonstrasi-demonstrasi, bagaimana tanggapan Pak Wahid?
AW: Ya silakan, asal yang sopan. Jangan ngaco semaunya sendiri, mau
seret orang tua ke pengadilan segala macem. Gombalnya kan di situ. Tahu
kalau Pak
Harto mau dibawa ke pengadilan oleh Habibie, kok mereka mereka masih nuntut
juga, demontrasi. Itu karena di belakangnya ada yang ndorong! Saya tahu.
Mahasiswa dibayarnya 300 ribu dolar oleh Unilever. Saya tahu itu, PT Belanda.
RN: Mengapa Unilever?
AW: CIA kan kasih duitnya lewat mana, mana, mana. Akhirnya lewat
Unilever kepada para pengorganisir demonstrasi mahasiswa itu, kan.
RN: Pak Wahid punya bahan-bahan bukti?
AW: Ya enggak ada, tapi saya tahu. Ya pokoknya saya tahu! Sama
juga pengetahuan orang bahwa CIA itu yang ngeluarin duit.
RN: Kenapa CIA harus mengeluarkan lewat suatu perusahaan Belanda?
AW: Lho, ya lewat ngalor ngidul supaya enggak ketahuan orang, kan.
RN: Demikian Ketua Umum PBNU Abdurahman Wahid.
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html