Precedence: bulk


DALAM PEMILU 1999 KOALISI PKB-PDI AKAN HADAPI GOLKAR-PAN

        SURABAYA (SiaR, 30/12/98), Pada Pemilu Juni 1999 mendatang akan muncul 2
kekuatan besar yang berkoalisi, antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan
PDI Perjuangan di satu sisi, dan di sisi lain Golkar serta Partai Amanat
Nasional (PAN). Inilah ramalan yang mencuat dalam acara talk-show "Menguak
Relasi Politik NU-Kekuasaan" di Hotel Sahid, Surabaya, awal pekan ini.

        Terjadinya koalisi dua kekuatan besar tersebut menjadi penegasan hampir
semua pembicara dan floor yang hadir, selain harapan mereka terhadap
kemungkinan terjadinya duet untuk jabatan Presiden dan Wakil Presiden atas
diri Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama KH Abdurrahman Wahid, serta Ketua Umum
PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

        Keyakinan tersebut antara lain diungkapkan Ketua Rabhital Ma'ahidil Islam
(RMI) Pusat, KH Yusuf Muhammad, Ketua PB NU KH Drs Tolkhah Hasan, pengamat
politik UNAIR Dr Daniel Sparinga, pengajar Universitas Muhammadiyah Malang
Mas'ud Said MM, pakar hukum UNAIR Prof Dr JE Sahetapy, guru besar UNAIR Prof
Dr Soetandyo Wignyosubroto, Ketua Syuriah PB NU KH Muchid Muzadi, serta
pengamat politik UNAIR Kacung Maridjan MA.

        Kacung Maridjan berkeyakinan dua koalisi besar itu akan terjadi, tapi
dirinya menambahkan peta politik sangat tergantung dari hasil pencapaian
jumlah suara pada Pemilu 1999 mendatang.

        "Sangat berbahaya jika koalisi PKB-PDI Perjuangan tidak mencapai lebih 50
persen suara. Kalau PKB-PDI mendapat 45 persen dan PAN-Golkar juga 45
persen, berarti harus ada partai koalisi yang mampu nomboki 10 persen.
Partai kuncinya justru PPP dan Partai Bulan Bintang (PBB)," urainya.

        Menurut Kacung, di sini lah letak bahayanya, karena baik PBB yang dipimpin
Yusril Ihza Mahendra maupun PPP yang dipimpin Hamzah Haz adalah orang-orang
yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan atau "status quo". 

        "Yusril kan bekas ghost-writer-nya (penulis naskah --red) Soeharto,
sedangkan Hamzah Haz anggota DPR produk Pemilu 1998 yang pro-Soeharto, dan
sekarang juga anggota Kabinetnya Habibie," katanya.

        Sedangkan mengapa PAN ditempatkan sebagai sekelompok dengan Golkar,
tidak ke PKB dan PDI Perjuangan, para pembicara menyebutkan adanya persoalan
ideologis dan kultural yang berbeda sepanjang sejarahnya antara NU dan
Muhammadiyah. Sementara Amien Rais justru "pernah" dekat dengan Habibie
ketika di ICMI.

        "Untuk menarik simpati pemilihnya, wajah Golkar nantinya adalah
wajah yang sangat anti-Soeharto. Itu kan persis apa yang dilakukan Amien
sekarang ini," ucap pakar hukum UNAIR Prof Dr JE Sahetapy.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke