Precedence: bulk
Pengantar:
Cerita pendek ini dipetik dan diterjemahkan dari buku
novel biografi Sergei Lazo, karya I.N. Emirov yang berjudul W
Ogne Revolutie (1958; "Dalam Api Revolusi"). Kapten Sergei
Lazo berasal dari Moldavia, seorang tokoh militer legendaris
dari jaman Revolusi Oktober 1917 dan perang saudara 1917-1920
di republik soviet yang muda itu.
Selamat membaca.-
(DSS, Penerjemah)
I.N. Emirov:
Mengawali Dinas
di Krasnoyarsk
(terjemahan Dini S. Setyowati)
PAGI yang terang tapi dingin membeku telah memasuki
Kranoyarsk. Matahari perlahan lahan menyingsing dari balik
pucuk pucuk pohon pinus yang hijau tua. Udara tenang dan
bening. Gunungan salju berkilau memutih. Bentuk bentuk dan
suasana seperti membeku. Hanya sekali waktu terdengar suara
langkah pejalan kaki sendirian memecah kesunyian yang
mencekam. Kemudian kembali menjadi sunyi senyap.
Sambil menunggu sleigh jemputan Lazo mondar mandir di
sepanjang pagar jalanan. Topi Kozak yang dipakainya ditarik
hingga menutupi dahinya. Suara salju berkerat kerit tipis
terinjak langkah langkah Lazo. Kebekuan terasa seperti
membakar.
Akhirnya datang juga sleigh itu. Kusir yang berubel ubel
dan berjubah kulit domba dengan gagahnya melompat turun,
sambil menyingkap kulit beruang yang menyelimuti tempat duduk.
Lazo segera duduk. Dan kuda berlari kencang, menarik sleigh
menuju ke tangsi. Salju mengalir dari balik derap derap tapal
kuda. Sleigh yang tua itu seperti menjerit jerit di atas
jalanan salju yang memadat.
Di depan sebuah bangunan tua mereka berhenti. Di halaman
depan serdadu serdadu kelihatan berlari lari - waktu senam
pagi.
Kesatuan di mana Lazo ditempatkan, tinggal di satu
kompleks yang terdiri dari beberapa rumah kediaman keluarga
serdadu. Gedung terbesar yang tampak tua bertembok rapuh
bertingkat dua merupakan kantor kesatuan. Bangunan yang lain,
sebelah kiri, separoh di bawah tanah, dapur kesatuan dan
gudang. Agak ke atas, barak barak dengan pelbed pelbed kayu.
Dankie Kapten Smirnov menyongsong Kapten Lazo dengan
ramah. Ketika diketahuinya Lazo berasal dari Moldavia ia agak
khawatir. Apakah akan kerasan ia di tengah tengah kebekuan
yang tak kenal ampun itu.
"Akh sudah biasa." Lazo berkata sambil menyungging tawa
di sudut bibirnya. "Tapi menyukainya memang belum." Tambahnya.
Sesudah berbasa-basi sebentar Smirnov menceritakan
situasi kompi yang dipimpinnya. Lazo mendengarnya dengan penuh
perhatian, dan langsung memutuskan hendak berkenalan dengan
para serdadu bawahannya. Dimintanya agar kompi itu disiapkan.
"Seorang pemimpin atau komandan harus mengenal setiap
serdadu di dalam pasukannya. Baik rupa maupun nama lengkap
masing masing." Katanya di hati. Tiba tiba ia teringat kata
kata seorang guru, ketika ia masih belajar di akademi militer.
Sekarang ia sudah berdiri di depan kompi, dan menyatakan
salam perkenalannya. Para serdadu menyambut pernyataan salam
itu dengan suara riuh rendah.
"Selamat pagi, Komandan. Siap!"
Lazo mengeluarkan daftar absen.
"Ivanov!" Serunya.
"Ada!"
"Nazarov!"
"Ada!"
"Kravcenko!"
Diam.
"Kravcenko?" Serunya sekali lagi.
"Telah mati beku di tempat tugas, Komandan." Smirnov
menjawab.
"Mati beku, bagaimana?"
"Ya. Begitulah. Pagi pagi dia ditemukan sudah kaku."
Lazo mengerutkan alisnya. Sejurus diam, kemudian ia
meneruskan mengabsen.
Sesudah pasukan dibubarkan untuk sarapan, Lazo singgah ke
kediaman Smirnov.
"Ini kan kejadian di luar batas?!" Katanya dengan suara
bergetar menahan marah.
"Ah gampang, Pak! Tinggal dicoret saja nama serdadu itu.
Lalu bubuhkan di atasnya nama baru. Habis perkara!" Kata
Smirnov tak acuh sambil mengepul ngepulkan asap rokok.
"Ya!" Sahut Lazo. "Tapi siapa dapat menjamin, hal itu
tidak akan terulang?" Katanya tidak mau mengalah. "Di tengah
kebekuan yang tajam seperti ini, dan serdadu serdadu bersepatu
usang dan sudah bolong bolong ...?"
Dalam suasana seperti itulah, pada tanggal 2 Januari
1917, masa dinas Sergei Georgevitsy Lazo dimulai di tangsi
Krasnoyarsk kawasan Siberia. Ia diangkat sebagai Dan Kie III
Yon IV pasukan cadangan di Krasnoyarsk.
Lama setelah hari pertama berlalu, serdadu yang berangsur
angsur membeku dan mati kaku itu masih terbayang di matanya:
Kaki dan tangannya yang semakin dingin ... kebekuan menusuk-
nusuk seluruh tubuh. Rasa sakit terasa mencekam, namun ia
tetap berdiri tegak tidak mau meninggalkan posnya. Sambil mati
perlahan-lahan, barangkali pikirannya berkata: "demi Tsar dan
Tanahair ...."
Tapi mungkin bisa juga lain yang terjadi. Barangkali di
hatinya mendidih perasaan benci yang menyumpahi Tsar dan
mengutuk Tuhan. Namun bagaimanapun ia toh tetap berdiri di
posnya. Ya. Bagaimana bisa tahu apa yang ada dalam pikiran
serdadu yang telah mati kaku itu?
Juga muncul di angan-angannya sosok Dan Kie yang gendut.
Matanya yang sipit karena lapisan lemak mengerdip-ngerdip:
"Jangan khawatir, komandan. Nanti kita ganti dengan
prajurit lain!"
"Betapa sinis!" Bisik Lazo menahan marah.
Tiap pagi ia datang ke tangsi untuk membangunkan serdadu
serdadu bawahannya. Dengan cermat diperiksanya kerapian
seragam mereka satu demi satu. Kemudian ia mulai mengajar.
Selain teknik menembak dan taktik perang, diberikan pelajaran
ilmu kemasyarakatan. Semuanya berjalan sesuai dengan jadwal.
Sikap para serdadu pada komandan baru ini sama seperti pada
para perwira yang lain. Asing dan berjarak. Tapi perasaan
enggan dan kurang percaya mereka pada Lazo yang seperti itu,
tak lama kemudian diganti dengan rasa hormat. Betapa tidak?
Dia tidak pernah memukul, tidak menghukum karena hal-hal
sepele. Lazo, komandan baru ini, hanya menuntut disiplin dan
kejujuran.
Setiap kali Lazo pergi ke tangsi, ia berangkat dengan
hati bersih dan terbuka. Ia selalu berusaha mengerti suasana
hati bawahan, pikiran dan rasa keputus-asaan mereka. Dan
dengan melalui perhatian yang diberikannya, ia mencoba untuk
meringankan beban mereka itu.
Suatu ketika ia sedang mengajar ilmu kemasyarakatan.
Serdadu-serdadu pun sudah siap mendengarkan pelajaran rutin
tentang susunan keluarga kerajaan, dan tentang etika prajurit
terhadap mereka yang berpangkat lebih tinggi. Tetapi betapa
terheran heran mereka. Kali ini Lazo bicara tentang sesuatu
yang sama sekali lain. Dengan berhati-hati ia membuka tema
tentang masalah perang. Sambil bercerita Lazo berusaha
menangkap daya terima para prajurit mengenai tema itu. Tampak
mereka bersikap bercadang. Sepertinya mereka semua berpikir:
apa maksud Komandan ini, dan ke arah mana dia mau bicara?
Selama itu belum pernah ada seorang pun yang dengan bebas
berani bicara tentang tema ini. Tapi berangsur-angsur
keheranan dan kecurigaan mereka semakin mencair. Timbul
keberanian mereka untuk berdiskusi. Tapi yang banyak tentu
saja pertanyaan.
Dalam pertanyaan-pertanyaan itu tersembunyi hasrat mereka
yang mendalam: Agar perang cepat berakhir, dan dengan demikian
cepat pula bisa pulang ke rumah. Anehnya, tidak ada satu orang
pun yang memperlihatkan kesediaannya untuk berperang demi
Tsar.
Selanjutnya Lazo mulai bercerita tentang sebab-musabab
perang yang sebenarnya. Dinasihatinya mereka, agar jangan
percaya bahwa perang dilakukan demi kesejahteraan rakyat.
Belakangan hari seorang prajurit bernama Nazarcuk, sesudah ia
menjadi Bolsyewik, mengenang: Ketika Lazo bicara tentang suatu
hal, yang untuk didengar pun terasa ngeri, saking asyiknya
lupa bahwa dirinya seorang perwira tentara Tsar. Maka ketika
tiba-tiba seperti tergugah dari keasyikannya, ia lalu berkata:
"Ayo, kita kembali bicara tentang ilmu kemasyarakatan!"
Ketika Lazo berangkat ke Krasnoyarsk, selama perjalanan
di atas kereta api, ia dilanda kekhawatiran sendiri. Apakah
akan kerasan ia di tempat terpencil, yang buta tuli segala
berita itu. Konon daerah ini bermusim dingin panjang, dengan
kebekuan yang keras kemeretak, dan pada malam hari serigala-
serigala mengintai di sepanjang jalan. Tapi setelah semakin
mendekati Krasnoyarsk, ternyata hatinya menjadi semakin
tenang. Pemandangan yang terbentang di hadapannya justru
tampak sangat indah. Kereta api meluncur di tengah-tengah
padang luas, yang diselimuti oleh salju putih bersih. Kadang-
kadang menyusup ke dalam terowongan gunung-gunung cadas, yang
puncak-puncaknya menjulang menopang langit. Atau, tiba-tiba,
seperti dikelilingi hutan belantara liar yang lebat. Pohon-
pohon pinus di hutan itu tampak berdiri tegak dengan
angkuhnya. Pelan-pelan pohon-pohon itu mengayun dahan-dahannya
yang diselimuti salju, seperti kaki-kaki beruang berbulu
putih.
Sejak kecil Lazo memang mencintai alam. Kalau suasana
hatinya tiba-tiba dilanda rasa murung, ia segera pergi
berjalan-jalan ke taman di dekat rumah, mendengarkan daun-daun
pepohonan yang saling berbisik. Tapi sekarang hatinya
tenggelam sama sekali dalam kekaguman pada alam Siberia yang
kaya dan beraneka.
Setiba di Krasnoyarsk Lazo segera menulis surat kepada
ibunya, tentang kesan-kesan pengalamannya di Siberia. Suatu
kawasan yang digunakan sebagai tempat pembuangan dan kerja
paksa, yang banyak dikisahkan dalam cerita-cerita rakyat dan
legenda-legenda yang menakutkan. Tiba-tiba sekarang kawasan
ini muncul di hadapannya dengan segala keanekaan keindahannya.
"Ibu, aku tidak menyesal berada di Siberia." Begitu Lazo
mengakhiri suratnya.
Di waktu-waktu senggang Lazo suka menjelajahi pedalaman
Kranoyarsk, mendaki gunung-gunung cadas yang tinggi dan
berbentuk aneh. Dia sudah sangat tidak sabar untuk berkenalan
dengan taiga.
"Rencanaku, kalau mendapat dua hari liburan, bisa pergi
ke taiga. Dan bersama dengan pemburu-pemburu setempat mencari
sarang beruang dan berburu rendir."
Tapi bukan saja alam Siberia yang beraneka ragam itu yang
menarik perhatian Lazo. Ia juga sangat tertarik pada riwayat
terjadinya "kawasan pembuangan" di situ, dan kehidupan serta
tradisi masyarakat setempat. Dengan penuh minat dipelajarinya
hikayat-hikayat tua yang mengisahkan tentang kelahiran dan
perkembangan masyarakat Siberia. Karena itu pula ia pun suka
mendengarkan cerita-cerita dari para pionir tentang asal-usul
ibukota Yenise. Dari cerita-cerita hikayat bisa diketahui,
bagaimana Siberia dikalahkan Moskow, dan kemudian ditundukkan
di bawah kekuasaannya.
Lazo juga membaca bagian-bagian hikayat yang menyeramkan:
tempat-tempat orang buangan melakukan rodi, orang-orang yang
bertahun-tahun diisolasi dalam sel-sel gelap pengap dan
lembab, tempat-tempat pembuangan dari Sentral Aleksandri yang
banyak dibaladakan oleh rakyat.
Berangsur-angsur Lazo mengenal penduduk setempat. Ia
merasa terkesan pada orang-orang pribumi Siberia. Dari luar
mereka tertutup, sepintas lalu seolah-olah pemurung, tapi di
dalam hati mereka bijaksana dan suka menolong sesama. Terutama
yang sangat menarik perhatian Lazo yaitu kehidupan para
tahanan politik, yang oleh Tsar berbondong-bondong dibuang dan
dimukimkan di daerah Siberia dan sekitarnya. Terbayang di
angan-angannya satu barisan panjang memenuhi pemandangan
sepanjang jalan. Bondongan orang-orang buangan yang melangkah
berat menyeret kaki mereka yang dirantai menuju tempat-tempat
pembuangan. Pemandangan demikian merupakan hal yang lumrah
belaka.
Dalam salah satu suratnya kepada Ibunya, dengan penuh
hormat dan cinta ditulisnya tentang orang-orang buangan
politik yang tak menampak. Mereka dengan diam-diam tetap
meneruskan tugas kegiatan-kegiatan kulturil, memberi
penerangan pada kaum tani, sambil mencari tokoh-tokoh berbakat
dari kalangan rakyat. Salah seorang yang berbakat seperti itu
secara kebetulan pernah ditemukan.
Pada suatu petang, dalam perjalanan pulang berburu, tiba-
tiba datang badai salju. Kusir sleigh yang membawanya, setiba
di suatu desa berkata:
"Tidak mungkin kita meneruskan perjalanan. Terpaksa kita
harus menginap di sini!" Berkata begitu sambil mengetuk pintu
sebuah rumah yang paling ujung di desa itu.
Tuan rumah, setelah mengetahui apa yang terjadi di luar,
menyilakan mereka masuk. Di dalam rumah terasa hangat oleh api
pemanas di tungku. Dekat tungku itu nyonya rumah duduk sambil
menenun. Satu-satunya alat penerang ruangan sebuah lampu
minyak yang sudah tua. Sinarnya menerangi wajah-wajah mereka.
Di bangku duduk seorang laki-laki muda sekitar 18 tahun,
berambut pirang dan agak kusut. Wajahnya yang biasa ditampar
angin Siberia kelihatan merah dan kasar. Tampaknya anak laki-
laki yang punya rumah. Sebuah buku tebal terbuka terletak di
hadapannya. Telunjuknya berhenti pada baris di mana ia
berhenti membaca, sementara matanya dengan pandangan berapi-
api menatap lawan bicaranya. Begitu Lazo muncul pembicaraan
mereka terputus. Dengan sigap pemuda itu menutup bukunya, dan
menyembunyikannya di bawah meja. Sambil minta maaf karena
merasa mengganggu, Lazo menyilakan mereka meneruskan
pembicaraan. Setelah membuka mantelnya Lazo ikut duduk di
bangku itu. Pembicaraan dan tanya jawab terjadi antara mereka.
Tentu saja Lazo banyak ditanya tentang perkembangan terakhir
di Moskow, dan juga tentang berita-berita yang disiarkan di
koran-koran.
Gaya bicara Lazo yang terbuka menimbulkan rasa simpati
pada mereka semua. Akhirnya percakapan menjadi sangat akrab
dan hidup, sehingga mereka pun menjadi berani menceritakan
pengalaman masing-masing. Pemuda itu menceritakan, tentang
berita-berita yang diperolehnya dari seorang buangan politik,
yang bekerja sebagai guru di Sekolah Dasar milik Gereja
setempat. Ia sering singgah ke rumah mereka untuk memberi
penerangan, dan mengajar pemuda yang dipandangnya sebagai anak
muda berbakat itu. Tapi wajah pemuda itu tetap kelihatan
seperti putus asa.
"Masa anak tani punya kesempatan masuk sekolah tinggi?"
Katanya mengeluh. "Percuma saja saya mengetuk pintu. Tidak
akan ada orang sudi membukanya."
Sejak kecil ia memang suka membaca. Segala sesuatu yang
bisa dibaca, sudah habis dibacanya. Cara berpikirnya selalu
kritis dan penuh hasrat bertanya. Karena itu guru dengan
senang hati selalu membawakan untuknya buku-buku dari
bibliotik. Dan pada hari senja ketika itu ia sedang membacakan
untuk kedua orangtuanya.
"Apa yang sedang Anda baca?" Tanya Lazo penuh minat.
Dengan pandangan bertanya pemuda itu berpaling pada gurunya.
Guru itu menjawabnya dengan isyarat tidak keberatan. Dan
pemuda itu memperlihatkan bukunya.
"Oh, Cernisevski: 'Harus Bagaimana?' ..." Sahut Lazo
sambil memperhatikan judul buku.
Sampai larut malam mereka duduk bercakap-cakap tanpa
merasa mengantuk. Seorang perwira tentara Tsar duduk bersama
seorang buangan politik, dan seorang pemuda anak petani.
Mereka bicara tentang perang, tentang impian Vera Pallovna
tokoh utama cerita karya Cernisevski, dan tentu saja tentang
susunan masyarakat masa depan.
Ketika pagi menyingsing badai pun telah reda. Kemudian
dengan hangat mereka saling mengucapkan kata-kata perpisahan.
Di sepanjang perjalanan Lazo sibuk dengan pikiran sendiri.
Makin jelas baginya, bahwa begitu banyak kekuatan segar dan
sehat, serta energi tak kunjung habis yang bersumber dari
tengah kehidupan rakyat biasa ...
***
DI ANTARA para perwira tentara Tsar itu pun terdapat pula
sumber kekuatan seperti itu. Di dalam kesatuan, dimana Lazo
berdinas, ada seorang perwira bernama Kapten Silin. Ia masuk
tentara ketika masih duduk di bangku kuliah, karena memenuhi
panggilan dinas militer. Belakangan ternyata ia mempunyai
pikiran yang sama seperti halnya Lazo. Di atas dasar itulah
akhirnya tumbuh dengan subur benih persahabatan di antara
kedua perwira ini.
Sore itu Laso mampir ke rumah Silin. Sahabat yang pintar
dan selalu penuh semangat. Kali ini pun begitu. Dengan hati
terbuka dan gembira disambutnya kedatangan Laso.
"Syukurlah! Kita punya kesempatan bertemu di luar
tangsi." Kata Silin ramah. Dengan wajah cerah ia menyilakan
Laso duduk di sebuah kursi tua dan reyot.
"Ya!" Sahut Laso. "Tapi sekarang seluruh Rusia sudah
menjadi tangsi. Bukan?!"
Istri Silin sambil menyiapkan teh berpaling. Ia
menimbrung bicara.
"Benar, tapi kalian tidak akan kukasih aba aba bersiap.
Jangan khawatir!" Katanya bergurau.
Beberapa gelas teh ditaruhnya, di sebelah setumpukan buku
tulis, di sebuah meja. Meja satu satunya di ruang yang
sederhana itu.
Istri Silin memang seorang guru. Mata Laso tertegun heran
menatapnya. Seorang perempuan kurus dan tampak seolah olah
rapuh itu. Sudah kira kira tiga tahun ia menjadi ibu guru, di
satu desa yang buta-tuli berita, serta jauh terpencil dari
segala fasilitas.
Silin dan istri tinggal di satu kamar, yang diatur
sederhana dan tampak miskin. Satu satunya hiasan yang melekat
di dinding, dua lukisan cat minyak hasil kreasi tuan rumah
sendiri. Sebuah lukisan pemandangan sifat alam Siberia yang
tak kenal ampun. Tidak terkesan di situ sapuan lukisan yang
berteknik tinggi. Tapi yang memantul daripadanya ialah
kekerasan dan tempaan hidup. Seakan akan Silin, si pelukis,
sedang melukiskan suasana Rusia ketika itu.
Sambil menghirup teh mereka bercakap-cakap. Yang menjadi
awal pembicaraan ialah masalah puisi. Silin membaca sebuah
sajak. Tema sajak ini tentang seorang serdadu Rusia, yang
sedang meregang maut. Menghadapi ajalnya.
Ketika hadiah bintang penghargaan dari Tsar, disematkan
di dadanya oleh seorang opsir atasannya, serdadu itu
menyambutnya sambil berbisik.
"Demi kesetiaanku pada Tsar dan Tanahair ..."
Dan ia pun mati.
"Siapa yang menulis syair itu?" Tanya Lazo.
"Ah, seorang serdadu mana bisa berpesan begitu? Tentu
saja saya yang menulis!" Kata Silin dengan mata sedikit nanar.
"Anda tahu? Itu saya tulis atas perintah pimpinan Akademi
Militer Irkutsk. Sesudah diperbanyak kami sebarkan dalam acara
Malam Perwira. Lumayan. Dapat 25 rubel setiap eksemplar.
Kebetulan ketika itu kami sedang serba kekurangan. Ya.
Meskipun saya sebenarnya ada pikiran lain ..."
Ia sekonyong-konyong berdiri. Entah mengapa.
Sesudah sejurus merenung, ia memulai lagi bersajak:
"Segala galanya kepatuhan kesabaran
yang sejak mula tertindas nasib
Kau panggul beban hidup yang berat
rakyatku tercinta yang bisu"
Silin membacanya dengan perlahan, penuh perasaan, penuh
ekspresi. Kata-kata sedih terdengar seperti batu jatuh di
tengah kegelapan yang sunyi.
"... di hari-hari ini jiwa dipacu prihatin
kau serahkan segalanya pada tanah air
kekuatan yang terbaik
kekuatan yang sedang berkembang
kau bawa ke medan berdarah ..."
Lazo mendengarkan dengan tajam. Selain suara Silin yang
sedih itu, segala yang disekitarnya menjadi tak lagi eksis.
Teh sudah lama menjadi dingin. Silin pun sudah lama
berhenti membaca. Tapi tak seorang juga berani memecah
kesunyian. Yang terdengar hanya bunyi jam dinding yang
berdetak.
"Kalau saja kita bisa membawa sajak ini ke tengah-tengah
rakyat ...", kata Lazo penuh angan-angan, "dan kalau saja
rakyat menangkap isinya, dan bersatu ... Maka tidak akan
tersisa satu batu pun dari benteng tirani itu!"
Silin tiba-tiba menoleh ke Lazo.
"Ayo! Teh kita sudah dingin ...!"
Sampai larut malam Lazo duduk di situ. Segan rasanya
untuk meninggalkan keluarga Silin yang baik hati. Memang tidak
menampak pada mereka kecukupan materi. Tapi kekayaan jiwa
terasa melimpah. Kekayaan semahal itu tak bisa selalu
ditemukan di sepanjang kehidupan.
Ketika Lazo pamit, Silin menghadiahi sebuah buku kumpulan
syair-syairnya. Beberapa baris kata kenangan ditulisnya di
atasnya:
"Dengan restu Tuhan
untuk Perwira Lazo
mengharap perubahan segera
Pengarang, 1917"
Hidup di tengah-tengah serdadu, dan merasai hubungannya
dengan penduduk setempat, Lazo menjadi yakin: perang sudah
membuat rakyat menjadi jemu dan jenuh. Suasana yang seperti
itu dia sendiri ikut merasainya. Tapi ia pun mengerti, bahwa
membenci perang saja tidak cukup. Juga tidak cukup dengan
membenci Tsar. Tapi harus bertindak. Karena itu ia berusaha
mencari hubungan dengan orang orang revolusioner. Ia membangun
kontak dengan kelompok kiri kaum sosial demokrat
internasional.
Mereka itu, para sosial demokrat kiri khususnya yang
internasionalis, sedang giat melancarkan propaganda yang luas
anti-rezim totaliter. Rezim Tsar Nikolai Romanov II. Di masa
Perang Dunia I mereka itu juga melancarkan propaganda anti-
perang. Ke dalam kelompok inilah akhirnya Lazo menggabungkan
diri.
Jauh di kemudian hari, ketika menjawab pertanyaan angket
organisasi, Lazo menulis: "Sebelum Revolusi Februari, satu
bulan lebih saya bekerja di dalam organisasi sosial demokrat
yang ilegal di Krasnoyarsk, yaitu di kalangan serdadu."
Lazo bergaul erat khususnya dengan Nikolai, seorang
perwira yang juga bertugas di batalyon yang sama. Nikolai
dibuang ke Siberia karena kegiatan revolusionernya.
Ketika perang pecah Tsar mengeluarkan peraturan, semua
orang buangan politik dimiliterisasi. Karena itu Nikolai
termasuk dalam Yon XV tentara cadangan di Siberia.
Nikolai seorang yang kaya dengan jiwa erudisi dan penuh
keyakinan kuat. Ia seorang lawan Tsar yang galak. Ia memiliki
bakat bergaya bicara indah, mampu menyatakan pikirannya dengan
terang, hidup dan mencitra.
Pertemuan dengan Nikolai itu berpengaruh besar pada
Sergei Lazo, dan menentukan langkah-langkah pertamanya di
dalam kegiatan praktek revolusioner. Tak lama sesudah memasuki
aktifitas ilegal sosial demokrat kiri, Lazo segera menjadi
anggota yang sangat aktif. Ia tinggal di rumah seorang kaya
bernama Kromov, tidak jauh dari tangsi. Menyewa satu kamar di
tingkat satu, dengan jendela menghadap ke jalan raya.
Pada siang hari kamar Lazo selalu kosong. Tapi setiap
malam penuh dengan sahabat-sahabatnya. Mereka orang-orang
muda, yang datang berkumpul untuk menyatukan pandangan mereka
tentang perkembangan situasi terakhir.
Mereka selalu terlibat dalam diskusi yang seru. Tentu
saja masalah perang selalu menjadi tema utama. Mencari
kesamaan faham dalam menilainya, dan selanjutnya mencari jalan
untuk menghentikannya. Banyak gagasan yang dikemukakan.
Melalui jalan diskusi banyak gagasan ditolak dan diganti
dengan gagasan baru - yang satu lebih berani dari yang lain,
yang lain lebih tegas dari yang satu. Tapi semuanya sama-sama
tidak bisa diwujudkan di dalam praktek, karena diskusi ini
tidak menemukan satu mata rantai utama: kebangkitan gerakan
revolusioner pemuda bersama massa rakyat yang paling
tertindas.(bersambung)***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html