Precedence: bulk


Pengantar:

      Cerita  pendek ini dipetik dan diterjemahkan  dari  buku
novel biografi Sergei Lazo, karya I.N. Emirov yang berjudul  W
Ogne  Revolutie  (1958; "Dalam Api Revolusi").  Kapten  Sergei
Lazo  berasal dari Moldavia, seorang tokoh militer  legendaris
dari  jaman Revolusi Oktober 1917 dan perang saudara 1917-1920
di republik soviet yang muda itu.

     Selamat membaca.-

(DSS, Penerjemah)


I.N. Emirov:
                           
                               
                        Mengawali Dinas
                        di Krasnoyarsk
                (terjemahan Dini S. Setyowati)



      PAGI  yang  terang  tapi dingin membeku  telah  memasuki
Kranoyarsk.  Matahari  perlahan lahan menyingsing  dari  balik
pucuk  pucuk  pohon  pinus yang hijau tua.  Udara  tenang  dan
bening.  Gunungan  salju berkilau memutih. Bentuk  bentuk  dan
suasana  seperti  membeku. Hanya sekali waktu terdengar  suara
langkah   pejalan  kaki  sendirian  memecah   kesunyian   yang
mencekam. Kemudian kembali menjadi sunyi senyap.
      Sambil  menunggu sleigh jemputan Lazo mondar  mandir  di
sepanjang  pagar  jalanan. Topi Kozak yang dipakainya  ditarik
hingga  menutupi  dahinya. Suara salju  berkerat  kerit  tipis
terinjak   langkah  langkah  Lazo.  Kebekuan  terasa   seperti
membakar.
      Akhirnya datang juga sleigh itu. Kusir yang berubel ubel
dan  berjubah  kulit  domba  dengan gagahnya  melompat  turun,
sambil menyingkap kulit beruang yang menyelimuti tempat duduk.
Lazo  segera  duduk. Dan kuda berlari kencang, menarik  sleigh
menuju ke tangsi. Salju mengalir dari balik derap derap  tapal
kuda.  Sleigh  yang  tua itu seperti menjerit  jerit  di  atas
jalanan salju yang memadat.
      Di depan sebuah bangunan tua mereka berhenti. Di halaman
depan  serdadu  serdadu kelihatan berlari lari -  waktu  senam
pagi.
      Kesatuan  di  mana  Lazo ditempatkan,  tinggal  di  satu
kompleks  yang  terdiri dari beberapa rumah kediaman  keluarga
serdadu.  Gedung  terbesar  yang tampak  tua  bertembok  rapuh
bertingkat dua merupakan kantor kesatuan. Bangunan yang  lain,
sebelah  kiri,  separoh  di bawah tanah,  dapur  kesatuan  dan
gudang. Agak ke atas, barak barak dengan pelbed pelbed kayu.
      Dankie  Kapten  Smirnov menyongsong Kapten  Lazo  dengan
ramah. Ketika diketahuinya Lazo berasal dari Moldavia ia  agak
khawatir.  Apakah  akan kerasan ia di tengah  tengah  kebekuan
yang tak kenal ampun itu.
      "Akh sudah biasa." Lazo berkata sambil menyungging  tawa
di sudut bibirnya. "Tapi menyukainya memang belum." Tambahnya.
       Sesudah   berbasa-basi  sebentar  Smirnov  menceritakan
situasi kompi yang dipimpinnya. Lazo mendengarnya dengan penuh
perhatian,  dan  langsung memutuskan hendak berkenalan  dengan
para serdadu bawahannya. Dimintanya agar kompi itu disiapkan.
      "Seorang  pemimpin atau komandan harus  mengenal  setiap
serdadu  di  dalam pasukannya. Baik rupa maupun  nama  lengkap
masing  masing." Katanya di hati. Tiba tiba ia  teringat  kata
kata seorang guru, ketika ia masih belajar di akademi militer.
      Sekarang ia sudah berdiri di depan kompi, dan menyatakan
salam  perkenalannya. Para serdadu menyambut pernyataan  salam
itu dengan suara riuh rendah.
     "Selamat pagi, Komandan. Siap!"
     Lazo mengeluarkan daftar absen.
     "Ivanov!" Serunya.
     "Ada!"
     "Nazarov!"
     "Ada!"
     "Kravcenko!"
     Diam.
     "Kravcenko?" Serunya sekali lagi.
      "Telah  mati  beku  di tempat tugas, Komandan."  Smirnov
menjawab.
     "Mati beku, bagaimana?"
     "Ya. Begitulah. Pagi pagi dia ditemukan sudah kaku."
      Lazo  mengerutkan  alisnya. Sejurus  diam,  kemudian  ia
meneruskan mengabsen.
     Sesudah pasukan dibubarkan untuk sarapan, Lazo singgah ke
kediaman Smirnov.
      "Ini  kan kejadian di luar batas?!" Katanya dengan suara
bergetar menahan marah.
      "Ah gampang, Pak! Tinggal dicoret saja nama serdadu itu.
Lalu  bubuhkan  di  atasnya nama baru.  Habis  perkara!"  Kata
Smirnov tak acuh sambil mengepul ngepulkan asap rokok.
      "Ya!"  Sahut Lazo. "Tapi siapa dapat menjamin,  hal  itu
tidak  akan terulang?" Katanya tidak mau mengalah. "Di  tengah
kebekuan yang tajam seperti ini, dan serdadu serdadu bersepatu
usang dan sudah bolong bolong ...?"

      Dalam  suasana  seperti itulah, pada tanggal  2  Januari
1917,  masa  dinas Sergei Georgevitsy Lazo dimulai  di  tangsi
Krasnoyarsk kawasan Siberia. Ia diangkat sebagai Dan  Kie  III
Yon IV pasukan cadangan di Krasnoyarsk.
     Lama setelah hari pertama berlalu, serdadu yang berangsur
angsur  membeku dan mati kaku itu masih terbayang di  matanya:
Kaki  dan  tangannya yang semakin dingin ... kebekuan menusuk-
nusuk  seluruh  tubuh. Rasa sakit terasa  mencekam,  namun  ia
tetap berdiri tegak tidak mau meninggalkan posnya. Sambil mati
perlahan-lahan, barangkali pikirannya berkata: "demi Tsar  dan
Tanahair ...."
      Tapi mungkin bisa juga lain yang terjadi. Barangkali  di
hatinya  mendidih  perasaan benci  yang  menyumpahi  Tsar  dan
mengutuk  Tuhan.  Namun bagaimanapun ia toh tetap  berdiri  di
posnya.  Ya.  Bagaimana bisa tahu apa yang ada  dalam  pikiran
serdadu yang telah mati kaku itu?
      Juga muncul di angan-angannya sosok Dan Kie yang gendut.
Matanya yang sipit karena lapisan lemak mengerdip-ngerdip:
      "Jangan  khawatir,  komandan. Nanti  kita  ganti  dengan
prajurit lain!"
     "Betapa sinis!" Bisik Lazo menahan marah.

      Tiap pagi ia datang ke tangsi untuk membangunkan serdadu
serdadu   bawahannya.  Dengan  cermat  diperiksanya   kerapian
seragam  mereka  satu demi satu. Kemudian ia  mulai  mengajar.
Selain  teknik menembak dan taktik perang, diberikan pelajaran
ilmu  kemasyarakatan. Semuanya berjalan sesuai dengan  jadwal.
Sikap  para  serdadu pada komandan baru ini sama seperti  pada
para  perwira  yang  lain. Asing dan berjarak.  Tapi  perasaan
enggan  dan kurang percaya mereka pada Lazo yang seperti  itu,
tak  lama  kemudian diganti dengan rasa hormat. Betapa  tidak?
Dia  tidak  pernah  memukul, tidak  menghukum  karena  hal-hal
sepele.  Lazo, komandan baru ini, hanya menuntut disiplin  dan
kejujuran.
      Setiap  kali  Lazo pergi ke tangsi, ia berangkat  dengan
hati  bersih dan terbuka. Ia selalu berusaha mengerti  suasana
hati  bawahan,  pikiran  dan  rasa keputus-asaan  mereka.  Dan
dengan  melalui perhatian yang diberikannya, ia mencoba  untuk
meringankan beban mereka itu.

      Suatu  ketika  ia  sedang mengajar ilmu  kemasyarakatan.
Serdadu-serdadu  pun sudah siap mendengarkan  pelajaran  rutin
tentang  susunan keluarga kerajaan, dan tentang etika prajurit
terhadap  mereka yang berpangkat lebih tinggi.  Tetapi  betapa
terheran  heran  mereka. Kali ini Lazo bicara tentang  sesuatu
yang  sama  sekali lain. Dengan berhati-hati ia  membuka  tema
tentang   masalah  perang.  Sambil  bercerita  Lazo   berusaha
menangkap daya terima para prajurit mengenai tema itu.  Tampak
mereka  bersikap bercadang. Sepertinya mereka semua  berpikir:
apa  maksud  Komandan ini, dan ke arah mana  dia  mau  bicara?
Selama  itu  belum  pernah ada seorang pun yang  dengan  bebas
berani   bicara   tentang  tema  ini.  Tapi   berangsur-angsur
keheranan  dan  kecurigaan  mereka  semakin  mencair.   Timbul
keberanian  mereka  untuk berdiskusi. Tapi yang  banyak  tentu
saja pertanyaan.
     Dalam pertanyaan-pertanyaan itu tersembunyi hasrat mereka
yang mendalam: Agar perang cepat berakhir, dan dengan demikian
cepat pula bisa pulang ke rumah. Anehnya, tidak ada satu orang
pun  yang  memperlihatkan kesediaannya  untuk  berperang  demi
Tsar.
      Selanjutnya  Lazo mulai bercerita tentang  sebab-musabab
perang  yang  sebenarnya. Dinasihatinya  mereka,  agar  jangan
percaya bahwa perang dilakukan demi kesejahteraan rakyat.
Belakangan hari seorang prajurit bernama Nazarcuk, sesudah  ia
menjadi Bolsyewik, mengenang: Ketika Lazo bicara tentang suatu
hal,  yang  untuk  didengar pun terasa ngeri, saking  asyiknya
lupa  bahwa dirinya seorang perwira tentara Tsar. Maka  ketika
tiba-tiba seperti tergugah dari keasyikannya, ia lalu berkata:
"Ayo, kita kembali bicara tentang ilmu kemasyarakatan!"

      Ketika  Lazo berangkat ke Krasnoyarsk, selama perjalanan
di  atas  kereta api, ia dilanda kekhawatiran sendiri.  Apakah
akan  kerasan  ia di tempat terpencil, yang buta  tuli  segala
berita  itu. Konon daerah ini bermusim dingin panjang,  dengan
kebekuan  yang keras kemeretak, dan pada malam hari  serigala-
serigala  mengintai di sepanjang jalan. Tapi  setelah  semakin
mendekati   Krasnoyarsk,  ternyata  hatinya  menjadi   semakin
tenang.  Pemandangan  yang  terbentang  di  hadapannya  justru
tampak  sangat  indah.  Kereta api meluncur  di  tengah-tengah
padang  luas, yang diselimuti oleh salju putih bersih. Kadang-
kadang menyusup ke dalam terowongan gunung-gunung cadas,  yang
puncak-puncaknya  menjulang menopang langit. Atau,  tiba-tiba,
seperti  dikelilingi hutan belantara liar yang  lebat.  Pohon-
pohon   pinus  di  hutan  itu  tampak  berdiri  tegak   dengan
angkuhnya. Pelan-pelan pohon-pohon itu mengayun dahan-dahannya
yang  diselimuti  salju,  seperti  kaki-kaki  beruang  berbulu
putih.
      Sejak  kecil  Lazo memang mencintai alam. Kalau  suasana
hatinya  tiba-tiba  dilanda  rasa  murung,  ia  segera   pergi
berjalan-jalan ke taman di dekat rumah, mendengarkan daun-daun
pepohonan   yang   saling  berbisik.  Tapi  sekarang   hatinya
tenggelam  sama sekali dalam kekaguman pada alam Siberia  yang
kaya dan beraneka.
      Setiba  di Krasnoyarsk Lazo segera menulis surat  kepada
ibunya,  tentang kesan-kesan pengalamannya di  Siberia.  Suatu
kawasan  yang  digunakan sebagai tempat pembuangan  dan  kerja
paksa,  yang banyak dikisahkan dalam cerita-cerita rakyat  dan
legenda-legenda  yang menakutkan. Tiba-tiba  sekarang  kawasan
ini muncul di hadapannya dengan segala keanekaan keindahannya.
      "Ibu, aku tidak menyesal berada di Siberia." Begitu Lazo
mengakhiri suratnya.
      Di  waktu-waktu senggang Lazo suka menjelajahi pedalaman
Kranoyarsk,  mendaki  gunung-gunung  cadas  yang  tinggi   dan
berbentuk  aneh. Dia sudah sangat tidak sabar untuk berkenalan
dengan taiga.
      "Rencanaku, kalau mendapat dua hari liburan, bisa  pergi
ke  taiga. Dan bersama dengan pemburu-pemburu setempat mencari
sarang beruang dan berburu rendir."
     Tapi bukan saja alam Siberia yang beraneka ragam itu yang
menarik  perhatian Lazo. Ia juga sangat tertarik pada  riwayat
terjadinya  "kawasan pembuangan" di situ, dan kehidupan  serta
tradisi  masyarakat setempat. Dengan penuh minat dipelajarinya
hikayat-hikayat  tua  yang mengisahkan tentang  kelahiran  dan
perkembangan masyarakat Siberia. Karena itu pula ia  pun  suka
mendengarkan cerita-cerita dari para pionir tentang  asal-usul
ibukota  Yenise.  Dari cerita-cerita hikayat  bisa  diketahui,
bagaimana  Siberia dikalahkan Moskow, dan kemudian ditundukkan
di bawah kekuasaannya.
     Lazo juga membaca bagian-bagian hikayat yang menyeramkan:
tempat-tempat  orang buangan melakukan rodi, orang-orang  yang
bertahun-tahun  diisolasi  dalam  sel-sel  gelap  pengap   dan
lembab, tempat-tempat pembuangan dari Sentral Aleksandri  yang
banyak dibaladakan oleh rakyat.
      Berangsur-angsur  Lazo mengenal  penduduk  setempat.  Ia
merasa  terkesan pada orang-orang pribumi Siberia.  Dari  luar
mereka  tertutup, sepintas lalu seolah-olah pemurung, tapi  di
dalam hati mereka bijaksana dan suka menolong sesama. Terutama
yang  sangat  menarik  perhatian  Lazo  yaitu  kehidupan  para
tahanan politik, yang oleh Tsar berbondong-bondong dibuang dan
dimukimkan  di  daerah  Siberia dan sekitarnya.  Terbayang  di
angan-angannya  satu  barisan  panjang  memenuhi   pemandangan
sepanjang  jalan. Bondongan orang-orang buangan yang melangkah
berat  menyeret kaki mereka yang dirantai menuju tempat-tempat
pembuangan.  Pemandangan demikian merupakan  hal  yang  lumrah
belaka.
      Dalam  salah  satu suratnya kepada Ibunya, dengan  penuh
hormat   dan  cinta  ditulisnya  tentang  orang-orang  buangan
politik  yang  tak  menampak. Mereka  dengan  diam-diam  tetap
meneruskan    tugas   kegiatan-kegiatan   kulturil,    memberi
penerangan pada kaum tani, sambil mencari tokoh-tokoh berbakat
dari kalangan rakyat. Salah seorang yang berbakat seperti  itu
secara kebetulan pernah ditemukan.
     Pada suatu petang, dalam perjalanan pulang berburu, tiba-
tiba  datang badai salju. Kusir sleigh yang membawanya, setiba
di suatu desa berkata:
      "Tidak mungkin kita meneruskan perjalanan. Terpaksa kita
harus  menginap di sini!" Berkata begitu sambil mengetuk pintu
sebuah rumah yang paling ujung di desa itu.
      Tuan rumah, setelah mengetahui apa yang terjadi di luar,
menyilakan mereka masuk. Di dalam rumah terasa hangat oleh api
pemanas di tungku. Dekat tungku itu nyonya rumah duduk  sambil
menenun.  Satu-satunya  alat  penerang  ruangan  sebuah  lampu
minyak yang sudah tua. Sinarnya menerangi wajah-wajah mereka.
      Di bangku duduk seorang laki-laki muda sekitar 18 tahun,
berambut  pirang dan agak kusut. Wajahnya yang biasa  ditampar
angin  Siberia kelihatan merah dan kasar. Tampaknya anak laki-
laki  yang punya rumah. Sebuah buku tebal terbuka terletak  di
hadapannya.  Telunjuknya  berhenti  pada  baris  di  mana   ia
berhenti  membaca, sementara matanya dengan pandangan  berapi-
api  menatap  lawan bicaranya. Begitu Lazo muncul  pembicaraan
mereka terputus. Dengan sigap pemuda itu menutup bukunya,  dan
menyembunyikannya  di  bawah meja. Sambil  minta  maaf  karena
merasa   mengganggu,   Lazo   menyilakan   mereka   meneruskan
pembicaraan.  Setelah membuka mantelnya  Lazo  ikut  duduk  di
bangku itu. Pembicaraan dan tanya jawab terjadi antara mereka.
Tentu  saja Lazo banyak ditanya tentang perkembangan  terakhir
di  Moskow,  dan juga tentang berita-berita yang disiarkan  di
koran-koran.
      Gaya  bicara Lazo yang terbuka menimbulkan rasa  simpati
pada  mereka  semua. Akhirnya percakapan menjadi sangat  akrab
dan  hidup,  sehingga  mereka pun menjadi berani  menceritakan
pengalaman  masing-masing.  Pemuda itu  menceritakan,  tentang
berita-berita yang diperolehnya dari seorang buangan  politik,
yang  bekerja  sebagai  guru  di Sekolah  Dasar  milik  Gereja
setempat.  Ia  sering  singgah ke rumah mereka  untuk  memberi
penerangan, dan mengajar pemuda yang dipandangnya sebagai anak
muda  berbakat  itu.  Tapi wajah pemuda  itu  tetap  kelihatan
seperti putus asa.
      "Masa  anak tani punya kesempatan masuk sekolah tinggi?"
Katanya  mengeluh.  "Percuma saja saya mengetuk  pintu.  Tidak
akan ada orang sudi membukanya."
      Sejak kecil ia memang suka membaca. Segala sesuatu  yang
bisa  dibaca,  sudah habis dibacanya. Cara berpikirnya  selalu
kritis  dan  penuh  hasrat bertanya. Karena  itu  guru  dengan
senang   hati   selalu  membawakan  untuknya  buku-buku   dari
bibliotik. Dan pada hari senja ketika itu ia sedang membacakan
untuk kedua orangtuanya.
      "Apa  yang  sedang Anda baca?" Tanya Lazo  penuh  minat.
Dengan  pandangan bertanya pemuda itu berpaling pada  gurunya.
Guru  itu  menjawabnya  dengan isyarat  tidak  keberatan.  Dan
pemuda itu memperlihatkan bukunya.
      "Oh,  Cernisevski: 'Harus Bagaimana?'  ..."  Sahut  Lazo
sambil memperhatikan judul buku.
      Sampai  larut  malam  mereka duduk bercakap-cakap  tanpa
merasa  mengantuk. Seorang perwira tentara Tsar duduk  bersama
seorang  buangan  politik,  dan seorang  pemuda  anak  petani.
Mereka  bicara  tentang perang, tentang impian  Vera  Pallovna
tokoh  utama cerita karya Cernisevski, dan tentu saja  tentang
susunan masyarakat masa depan.
      Ketika  pagi menyingsing badai pun telah reda.  Kemudian
dengan  hangat mereka saling mengucapkan kata-kata perpisahan.
Di  sepanjang  perjalanan Lazo sibuk dengan  pikiran  sendiri.
Makin  jelas baginya, bahwa begitu banyak kekuatan  segar  dan
sehat,  serta  energi  tak kunjung habis yang  bersumber  dari
tengah kehidupan rakyat biasa ...

                              ***


     DI ANTARA para perwira tentara Tsar itu pun terdapat pula
sumber  kekuatan seperti itu. Di dalam kesatuan,  dimana  Lazo
berdinas, ada seorang perwira bernama Kapten Silin.  Ia  masuk
tentara  ketika masih duduk di bangku kuliah, karena  memenuhi
panggilan  dinas  militer. Belakangan  ternyata  ia  mempunyai
pikiran  yang  sama seperti halnya Lazo. Di atas dasar  itulah
akhirnya  tumbuh  dengan  subur benih persahabatan  di  antara
kedua perwira ini.
      Sore itu Laso mampir ke rumah Silin. Sahabat yang pintar
dan  selalu  penuh semangat. Kali ini pun begitu. Dengan  hati
terbuka dan gembira disambutnya kedatangan Laso.
       "Syukurlah!  Kita  punya  kesempatan  bertemu  di  luar
tangsi."  Kata  Silin ramah. Dengan wajah cerah ia  menyilakan
Laso duduk di sebuah kursi tua dan reyot.
      "Ya!"  Sahut  Laso. "Tapi sekarang seluruh  Rusia  sudah
menjadi tangsi. Bukan?!"
       Istri   Silin  sambil  menyiapkan  teh  berpaling.   Ia
menimbrung bicara.
      "Benar,  tapi kalian tidak akan kukasih aba aba bersiap.
Jangan khawatir!" Katanya bergurau.
     Beberapa gelas teh ditaruhnya, di sebelah setumpukan buku
tulis,  di  sebuah  meja.  Meja satu  satunya  di  ruang  yang
sederhana itu.
     Istri Silin memang seorang guru. Mata Laso tertegun heran
menatapnya.  Seorang perempuan kurus dan  tampak  seolah  olah
rapuh itu. Sudah kira kira tiga tahun ia menjadi ibu guru,  di
satu  desa  yang  buta-tuli berita, serta jauh terpencil  dari
segala fasilitas.
      Silin  dan  istri  tinggal di satu  kamar,  yang  diatur
sederhana dan tampak miskin. Satu satunya hiasan yang  melekat
di  dinding,  dua lukisan cat minyak hasil kreasi  tuan  rumah
sendiri.  Sebuah lukisan pemandangan sifat alam  Siberia  yang
tak  kenal  ampun. Tidak terkesan di situ sapuan lukisan  yang
berteknik   tinggi.  Tapi  yang  memantul  daripadanya   ialah
kekerasan  dan tempaan hidup. Seakan akan Silin,  si  pelukis,
sedang melukiskan suasana Rusia ketika itu.
      Sambil menghirup teh mereka bercakap-cakap. Yang menjadi
awal  pembicaraan  ialah masalah puisi. Silin  membaca  sebuah
sajak.  Tema  sajak  ini tentang seorang serdadu  Rusia,  yang
sedang meregang maut. Menghadapi ajalnya.
      Ketika  hadiah bintang penghargaan dari Tsar, disematkan
di   dadanya   oleh  seorang  opsir  atasannya,  serdadu   itu
menyambutnya sambil berbisik.
     "Demi kesetiaanku pada Tsar dan Tanahair ..."
     Dan ia pun mati.
     "Siapa yang menulis syair itu?" Tanya Lazo.
      "Ah,  seorang  serdadu mana bisa berpesan begitu?  Tentu
saja saya yang menulis!" Kata Silin dengan mata sedikit nanar.
"Anda  tahu?  Itu  saya tulis atas perintah  pimpinan  Akademi
Militer Irkutsk. Sesudah diperbanyak kami sebarkan dalam acara
Malam  Perwira.  Lumayan.  Dapat 25  rubel  setiap  eksemplar.
Kebetulan  ketika  itu  kami  sedang  serba  kekurangan.   Ya.
Meskipun saya sebenarnya ada pikiran lain ..."
     Ia sekonyong-konyong berdiri. Entah mengapa.
     Sesudah sejurus merenung, ia memulai lagi bersajak:

     "Segala galanya kepatuhan kesabaran
     yang sejak mula tertindas nasib
     Kau panggul beban hidup yang berat
     rakyatku tercinta yang bisu"

      Silin membacanya dengan perlahan, penuh perasaan,  penuh
ekspresi.  Kata-kata  sedih terdengar seperti  batu  jatuh  di
tengah kegelapan yang sunyi.

     "... di hari-hari ini jiwa dipacu prihatin
     kau serahkan segalanya pada tanah air
     kekuatan yang terbaik
     kekuatan yang sedang berkembang
     kau bawa ke medan berdarah ..."

      Lazo mendengarkan dengan tajam. Selain suara Silin  yang
sedih itu, segala yang disekitarnya menjadi tak lagi eksis.
      Teh  sudah  lama menjadi dingin. Silin  pun  sudah  lama
berhenti  membaca.  Tapi  tak  seorang  juga  berani   memecah
kesunyian.  Yang  terdengar  hanya  bunyi  jam  dinding   yang
berdetak.
      "Kalau saja kita bisa membawa sajak ini ke tengah-tengah
rakyat  ...",  kata Lazo penuh angan-angan,  "dan  kalau  saja
rakyat  menangkap  isinya, dan bersatu  ...  Maka  tidak  akan
tersisa satu batu pun dari benteng tirani itu!"
     Silin tiba-tiba menoleh ke Lazo.
     "Ayo! Teh kita sudah dingin ...!"
      Sampai  larut  malam Lazo duduk di situ.  Segan  rasanya
untuk meninggalkan keluarga Silin yang baik hati. Memang tidak
menampak  pada  mereka kecukupan materi.  Tapi  kekayaan  jiwa
terasa   melimpah.  Kekayaan  semahal  itu  tak  bisa   selalu
ditemukan di sepanjang kehidupan.
     Ketika Lazo pamit, Silin menghadiahi sebuah buku kumpulan
syair-syairnya.  Beberapa baris kata  kenangan  ditulisnya  di
atasnya:
     "Dengan restu Tuhan
     untuk Perwira Lazo
     mengharap perubahan segera
               Pengarang, 1917"

      Hidup  di tengah-tengah serdadu, dan merasai hubungannya
dengan  penduduk  setempat, Lazo menjadi yakin:  perang  sudah
membuat  rakyat menjadi jemu dan jenuh. Suasana  yang  seperti
itu  dia sendiri ikut merasainya. Tapi ia pun mengerti,  bahwa
membenci  perang  saja tidak cukup. Juga  tidak  cukup  dengan
membenci  Tsar. Tapi harus bertindak. Karena itu  ia  berusaha
mencari hubungan dengan orang orang revolusioner. Ia membangun
kontak    dengan   kelompok   kiri   kaum   sosial    demokrat
internasional.
      Mereka  itu,  para sosial demokrat kiri  khususnya  yang
internasionalis, sedang giat melancarkan propaganda yang  luas
anti-rezim totaliter. Rezim Tsar Nikolai Romanov II.  Di  masa
Perang  Dunia  I mereka itu juga melancarkan propaganda  anti-
perang.  Ke  dalam kelompok inilah akhirnya Lazo menggabungkan
diri.
      Jauh di kemudian hari, ketika menjawab pertanyaan angket
organisasi,  Lazo  menulis: "Sebelum Revolusi  Februari,  satu
bulan  lebih saya bekerja di dalam organisasi sosial  demokrat
yang ilegal di Krasnoyarsk, yaitu di kalangan serdadu."
      Lazo  bergaul  erat  khususnya dengan  Nikolai,  seorang
perwira  yang  juga  bertugas di batalyon yang  sama.  Nikolai
dibuang ke Siberia karena kegiatan revolusionernya.
      Ketika  perang pecah Tsar mengeluarkan peraturan,  semua
orang  buangan  politik  dimiliterisasi.  Karena  itu  Nikolai
termasuk dalam Yon XV tentara cadangan di Siberia.
      Nikolai seorang yang kaya dengan jiwa erudisi dan  penuh
keyakinan kuat. Ia seorang lawan Tsar yang galak. Ia  memiliki
bakat bergaya bicara indah, mampu menyatakan pikirannya dengan
terang, hidup dan mencitra.
      Pertemuan  dengan  Nikolai itu  berpengaruh  besar  pada
Sergei  Lazo,  dan  menentukan langkah-langkah  pertamanya  di
dalam kegiatan praktek revolusioner. Tak lama sesudah memasuki
aktifitas  ilegal  sosial demokrat kiri, Lazo  segera  menjadi
anggota  yang  sangat aktif. Ia tinggal di rumah seorang  kaya
bernama Kromov, tidak jauh dari tangsi. Menyewa satu kamar  di
tingkat satu, dengan jendela menghadap ke jalan raya.
      Pada  siang  hari kamar Lazo selalu kosong. Tapi  setiap
malam  penuh  dengan  sahabat-sahabatnya.  Mereka  orang-orang
muda,  yang datang berkumpul untuk menyatukan pandangan mereka
tentang perkembangan situasi terakhir.
      Mereka  selalu terlibat dalam diskusi yang  seru.  Tentu
saja   masalah  perang  selalu  menjadi  tema  utama.  Mencari
kesamaan faham dalam menilainya, dan selanjutnya mencari jalan
untuk   menghentikannya.  Banyak  gagasan  yang   dikemukakan.
Melalui  jalan  diskusi  banyak gagasan  ditolak  dan  diganti
dengan  gagasan baru - yang satu lebih berani dari yang  lain,
yang  lain lebih tegas dari yang satu. Tapi semuanya sama-sama
tidak  bisa  diwujudkan di dalam praktek, karena  diskusi  ini
tidak  menemukan  satu mata rantai utama: kebangkitan  gerakan
revolusioner   pemuda  bersama  massa   rakyat   yang   paling
tertindas.(bersambung)***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke