Precedence: bulk


Hersri Setiawan:
                              
                       Surat Awal Tahun
                    untuk R. William Liddle
                      Tentang Desa Brosot
                               1


     Saudara Bill yang terhormat,

     Andaikata  pertemuan  kita,  di rumah  seorang  sobat  di
bilangan  Kemang Jakarta Selatan, kira-kira tiga  tahun  lalu,
tidak  hanya  bicara  sekitar Jakarta dan  lebih  khusus  lagi
Kraton  Cendana, barangkali surat kali ini tidak pernah  perlu
disusun.  Tapi  sebagai bekas Tapol Pulau  Buru,  aku, ijinkan
untuk  seterusnya  ber-"aku", terlanjur  menjadi  biasa  untuk
selalu   mensyukuri  setiap  keadaan.  Itu  artinya   menerima
kenyataan  sebagai kenyataan. Dalam hubungan surat ini  ialah,
keadaan  bahwa  nyatanya baru sekarang  lah  aku  datang  lagi
berhadapan  dengan Anda. Tapi ini kali aku tidak ingin  bicara
pada  Anda  dengan "kepalaku" saja, melainkan  dengan  segenap
"nama" alias "jeneng" alias subjek "kedirianku".

     Menyingkap watak "ora Jawa" orang Jawa  seperti menyiangi
"dichtung" sejarah
      Sikap  mensyukuri keadaan, setidaknya menurutku  sebagai
orang  [Indonesia yang berbudaya] Jawa, bukanlah sikap fatalis
dari  seorang  yang "pasrah bongkokan". Tapi sikap  accepteren
dari  orang  yang berhasrat menjadi realis di  bawah  semangat
pencerahan pandangan "aufklaerung". Sikap "semeleh",  kata  si
Jawa  (baca  dua "e" terakhir seperti pada "lengser").  "Neng-
Ning-Nung-Nang",  kata semboyan ke-10 Taman Siswa  rumusan  Ki
Hajar  Dewantara  (Taman  Siswa 30 Tahun  1922-1952;  hal.67).
Perhatikan  Sdr.  Bil,  bahwa  justru  kata  "neng"   tersebut
pertama.  "Meneng"  alias "meneb", atau "tenteram"  tapi  sama
sekali bukan lah "diam"!
     Tentang kejawaan Ki Hajar Dewantara, seperti juga tentang
keindonesiaannya,  tidak  ada  kiranya  satu  orang  pun  yang
sanggup  menyangsikannya. Ia sama sekali bukan seorang fatalis
yang  "nrimo  pandum"-nya  Sang Nasib!  Andaikata  demikian  -
andaikan  Ki  Hajar seorang fatalis - tidak  mungkin  lah  ia,
selama  pengasingannya di Negeri Belanda, bisa menulis  sebuah
artikel yang gagah berani: Als ik eens Nederlander was (1913).
Andaikata  demikian  Mas Marco Kartodikromo,  paman  Sukarmaji
Kartosuwiryo yang gembong DI-TII itu, pasti tidak akan  pernah
menjadi  Mas  Marco  Kartodikromo sebagai yang  sekarang  kita
kenal. Seorang muda kerempeng yang digerogoti malaria dan tbc,
namun  telah ikut memperkaya kosakata kamus perjuangan politik
bangsa  Indonesia dengan sepatah semboyan: "Rawe rawe  rantas,
malang  malang putung!" Andaikata tidak lahir Sang Jawa  Raden
Mas Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara, yang berani
menolak  sikap  dan  pandangan "nrimo ing pandum",  barangkali
sampai   sekarang   pun   syair  lagu   kaum   buruh   sedunia
"Internasionale"  itu,  tidak akan  pernah  mengenal  syairnya
dalam kata-kata Indonesia!
      Di  bawah  ini  syair  lagu "Internasionale"  terjemahan
seorang  tokoh  dari trio "Janget Tinatelon", Tiga  Setangkai,
(Suwardi  - Douwes Dekker - Cipto), dikutip dari Het  Indische
Volk  - Weekblad van de Indische Sociaal Democratische Partij;
No. 28, 1 Mei 1920, 3e Jaargang:


                      Sair Internasionaal

Lagoe De Internationale              Soewardi Suryaningrat



               Bangoenlah, bangsa jang terhina!
                    Bangoenlah, kamoe jang lapar!
               Kehendak jang moelia dalam doenia
                    Senantiasa tambah besar.
               Lenyaplah adat fikiran toea!
                    Hamba ra'iat, sadar, sadar
               Doenia telah berganti roepa.
                    Nafsoelah soedah tersebar!

     2 kali:

          Kawan-kawan, hai, ingatlah! Ajo madjoe berperang!
          Srikat internasionale jalah pertalian orang!
                              
                            ------

               Negri tindas, hoekoem berdjoesta.
                    Jang kaya teroes hidoep bersenang.
               Orang miskin terisap darahnja:
                    Ta' sekali berhak orang.
               Djangan soeka lagi terperintah!
                    Ingat akan persamaan!
               Wadjib dan hak tiada berpisah.
                    Hak wadjib haroes sepadan.

     2 kali:

          Kawan-kawan, hai ingatlah! Ajo madjoe berperang!
          Srikat internasionale jalah pertalian orang!

                             -----

               Penindas berfikiran sjaitan:
                    Selaloe meratjoen kita.
               Djangan bantoe lainnja kawan-kawan!
                    Hai, bersatoelah oesaha!
               Moesoeh kita mendidik pahlawan
                    Dalam golongan kita.
               Kepada jang brani melawan
                    Kita djatohkan sendjata!

     2 kali:

          Kawan-kawan,hai ingatlah!Ajo, madjoe berperang!
          Srikat internasionale jalah pertalian orang!

                              ***

      Saudara Bil,

      Mari kita kembali ke Brosot.
      Aku  pernah tinggal di desa Lendah, beradu batas  dengan
Brosot, boleh dibilang selama masa anak-anakku. Karena di desa
inilah tempat ayahku bekerja, sebagai guru SD di situ,  sampai
saat  meninggalnya  pada  tahun 1944. Dalam  bilangan  rentang
waktu  berarti selama kira-kira tiga belas tahun, yaitu  sejak
menjelang  bersekolah, sekitar umur lima tahun, sampai  ketika
tamat  SMA,  sekitar umur delapan belas tahun. Jadi  sepanjang
kira-kira tiga belas tahun. Dengan catatan, selama dalam  masa
enam  tahun  terakhir, yaitu semasa SMP  dan  SMA,  aku  lebih
banyak  di  kota (Jogya) ketimbang di desa. Karena pada  waktu
itu bahkan di Wates, ibukota kabupaten pun belum mempunyai SMP
dan SMA. Baru lah kelak di awal paroh kedua 50-an, berdiri  di
Wates  satu sekolah SMA swasta yang pertama, SMA "Diponegoro",
atas  prakarsa dan usaha kami - aku dan dua temanku:  K.  Sunu
Prawoto dan Syamsuddin.
      Selama  enam tahun masa SMP dan SMA itu, rata-rata  satu
kali saja setiap bulan aku menengok desa, karena di sana masih
tinggal  Ibuku  seorang diri. Berangkat dengan bersepeda  hari
Sabtu sore, menempuh jarak kira-kira 21 Km, dan kembali Minggu
petang.  Kecuali  selama "jaman dorsetut"  (lidah  desa  untuk
"doorstoot"),  ketika  hampir  satu  tahun  ibukota  RI  Yogya
diduduki "Anjing Nica", dan sekolah-sekolah republiken  tutup.
Aku  termasuk  orang-orang  yang  memenuhi  seruan  gerilyawan
Republiken:  mengosongkan kota. Pergi meninggalkan  kota,  dan
mengungsi ke desa-desa di daerah Republik.
      Sengaja kusebut "sekolah republiken" yang tutup,  karena
selama  "jaman  pendudukan" itu tentu  saja  Pemerintah  Nica,
sengaja  untuk menjawab kepungan blokade gerilyawan  Republik,
berusaha  agar kehidupan di dalam kota tetap berjalan  normal.
Pasar  Beringharjo (di Jalan Pecinan) dan Pasar  Kranggan  (di
Jalan Tugu), dihidupkan dengan ditopang peredaran "uang merah"
(sebutan  rakyat  untuk  uang Nica);  pemancar  radio  kembali
mengudara,  dan  sebagian  seniman Ketoprak  Mataram  berhasil
"direbutnya",  sehingga sejak itulah terjadi perpecahan  tajam
antara "sayap Cokrojiyo" yang "ko" dengan "sayap Rukiman" yang
"non-ko",  dan yang kelak diikuti dengan sikap golongan  "non-
ko" meninggalkan RRI dan mendirikan "Krida Mardi".
      Juga  dalam  hal persekolahan. Guru-guru  yang  bersedia
kerjasama  dipanggil  untuk  membuka  sekolah,  dan  selebaran
disiarkan  untuk  mencari murid. Maka  dibukalah  kembali  SMA
"Padmanaba"  (ketika  itu SMA bagian A  dan  B  masih  menjadi
satu), yang terletak di utara kolam renang "Umbang Tirto"  dan
lapangan sepakbola PSIM "Kridosono"). Demikian juga sekolahku,
SMP  I,  yang  terletak di depan RS "Onder de Bogen"  (sebutan
populer RS Katolik "Panti Rapih"), di ujung utara Jalan Terban
Taman. Konon F.X.M.Ondang Kepala Sekolah yang sok-blandis, dan
Nur Tugiman  guru  Bahasa Indonesia, karena pendiriannya  yang
"ko" itu,  pernah  diculik para pemuda dan dibawa ke  lapangan
tembak "Sekip" untuk dibunuh.

Mengungsi  bagiku  sesungguhnya bukan "mengungsi"  dalam  arti
kata  sebenarnya.  Memang ada perasaan mengungsi,  menghindari
musuh,  namun  pada kenyataaannya tak lain ialah:  kembali  ke
kampung  halaman  masa  kecil!  Kembali  ke  rumah  Ibu,  yang
ternyata  telah menjadi penuh sesak. Selain ada  dua  keluarga
sendiri:  keluarga  Ibu,  yaitu  kami  bersaudara  yang  belum
berkeluarga,  dan  keluarga kakak sulung  yang  sudah  beranak
satu,  berikut ibu mertua, ada lagi bersama kami tiga keluarga
pengungsi,  berikut para pembantu rumah tangga  masing-masing.
Aku   tidak   ingat  lagi,  bagaimana  kami  menggilir   waktu
penggunaan tungku dapur, kamar mandi dan kakus. Bagaimana kami
tak  merasa  saling terganggu mendengar suara  doa-doa  Kuran,
Injil  dan  Konghucu  (satu  dari  keluarga  pengungsi  adalah
keluarga "peranakan Tionghwa").
      Brosot di jaman dursetut itu, boleh dikata telah berubah
menjadi  kota  besar pertama dan utama RI,  yang  terletak  di
belakang garis pertempuran terdepan: sisi barat kota Kabupaten
Bantul.

      Brosot atau Brossot

      Biarlah  cerita  ini kumulai dari sejak "jaman  normal".
Dengan  "jaman  normal",  penduduk  desa  di  Jawa,  bermaksud
menunjuk  pada  suatu  kurun  waktu,  sebelum  "bangsa   Jawa"
mempunyai  saudara  tua Dai Nippon. Saudara  Tua  ini,  sambil
setiap saat mengobral ajakan gotong royong atau "tonari gumi",
juga terlalu dermawan dengan hadiah "semangat" - yang tak lain
berupa   tamparan  atau  pukulan  di  muka  "genjin-min"   bin
"inlander" yang "bakero" bin lembek semangat!
       Dengan   begitu  Jaman  Normal,  pendek   kata,   bukan
mempersoalkan "jaman merdeka" atau "jaman jajahan". Tapi jaman
ketika  kehidupan  belum  dilanda  Angin  Pancaroba,  sehingga
terhempas jatuh dalam kacau-balaunya "Jaman Edan".
     Di awal abad ke-19 dari jaman normal itu, "Afdeling Kulon
Progo",  yaitu  wilayah  Kasultanan Ngayogyakarta  Hadiningrat
yang  terhampar  di  sebelah barat aliran  Sungai  Progo  itu,
dibagi  dalam  dua bagian. Ini terjadi sejak "jaman  Raffles",
ketika  Sir  Thomas Stamford Raffles menjabat Letnan  Gubernur
untuk  Jawa dan Daerah Seberang (1811-16). Bagian yang  utara,
kira-kira  dua-pertiga seluruh luas, tetap di bawah  kekuasaan
pemerintah  Kesultanan  dengan  pejabat  tertinggi  berpangkat
bupati,  dan  berkedudukan  di  Sentolo.  Sedangkan  sepertiga
bagian  yang selatan, sampai ke Laut Selatan (dengan  demikian
sama-sama  berhak  atas  serambi Kedatuan  Nyai  Lara  Kidul),
dihadiahkan  kepada  Pangeran Notokusumo yang  berjasa  kepada
Inggris dan diwisuda sebagai Adipati Paku Alam I.
      Karenanya  wilayah  itu  selanjutnya  disebut  Kadipaten
Adikarta,   diperintah   pejabat   berpangkat   bupati    yang
berkedudukan di Wates, dan dibagi dalam empat kecamatan  (saat
itu: onder district): Wates, Temon, Panjatan dan Brosot.
      Brosot ketika itu, terkadang juga disebut Galur,  secara
administratif  merupakan wilayah setingkat kecamatan  (sebutan
waktu itu "asistenan"). Walaupun demikian "kota kecamatan" ini
merupakan kota terbesar kedua sesudah Wates. Sekitar 2 Km arah
baratdaya  Brosot,  terletak Desa Sewugalur (termasuk  wilayah
Kelurahan  Trayu) yang selain lebih ramai juga  lebih  "berbau
belanda",  jika  dibanding baik dengan  desa-desa  selebihnya,
maupun dengan Brosot sebagai ibukota wilayah sekalipun!
     Di Desa Sewugalur ada sebuah pabrik gula, satu-satunya di
seluruh wilayah Kadipaten Adikarta. (Saudara Bill tahu,  kapan
pabrik  gula ini mulai bekerja? Aku tidak tahu). Namun ijinkan
aku   memberanikan  diri  menduga:  Barangkali  inilah  bentuk
penjabaran  politik  pemerintah  kolonial  agar  Adipati  Paku
Alaman,  di  satu pihak, tetap loyal pada "Kangjeng Gubermen",
dan  di  lain  pihak, tetap bisa mandiri dari Kasultanan  yang
terkadang suka memberontak itu.
      Dengan  adanya pabrik gula itu, Desa Sewugalur mempunyai
alun-alun  yang asri, dikelilingi barang lima bangunan  gedung
bergaya  bangunan  Barat,  tempat kediaman  tuan-tuan  Belanda
pembesar  pabrik dan keluarga mereka. Pastilah tidak kebetulan
jika Pak Lurah Trayu, seorang raden mas yang berlatar belakang
pendidikan Belanda. Sehingga oleh karenanya, mampu  dan  tidak
kikuk  dia  untuk  duduk sejajar dengan para pembesar  pabrik.
Sungguh jauh ia jika dibanding dengan kebanyakan lurah desa di
jaman  itu, dan bahkan agaknya juga dengan Ndara Seten  Brosot
sendiri.
      Tentu  oleh adanya pabrik gula itu juga, maka  Sewugalur
menjadi  tempat  perhentian  terakhir  kereta  api  NIS  (Ned.
Indische Spoorwegmaatschappij). Itu pertama. Kedua, tak  lepas
dari   pengaruh  suasana  kebudayaan  yang  demikian   jugalah
kiranya, jika Sewugalur mampu menjadi pendukung bagi lahir dan
perkembangan Islam Muhammadiyah. Sehingga berdirilah di  sana,
entah  sejak kapan, sebuah pondok modern Madrasah Muhammadiyah
Darul  'Ulum.  Seorang penyair Angkatan 45 pernah  lahir  dari
masrasah  ini,  yaitu Raden Suradal Abdul Manan  yang  bernama
pena Mahatmanto.
      Inilah  salah  satu sajaknya, yang pernah  terbit  lebih
setengah abad lalu, namun rasanya belum kehilangan aktualitas:

                       Cakar atau Ekor?

                    Di mana batas?
                    .... semua hendak serba bebas ....
                    melanggar
                    meliar.

                    Bukankah setiap selalu hendak serba baru,
                    jadi menipu, memalsu?
                    serba aksi
                    jadi imitasi?
                    serba kuasa
                    jadi memperkosa?

                    Ah, hanya pun kiri,
                    kalau selalu hendak serba kiri,
                    paling ke kiri dari yang terkiri,
                    di sana sayap jadi cakar ...
                    Sebaliknya pun: kanan,
                    kalau serba paling terkanan,
                    di sana sayap jadi ekor ...

("Mimbar Indonesia", Th.I No.3; 6 Des. 1947)***

(BERSAMBUNG)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke