Precedence: bulk
PERNYATAAN XANANA SOAL OTONOMI TRANSISI
JAKARTA (MateBEAN, 16/1/99), Polemik seputar pernyataan Pemimpin
Perlawanan Timor Timur Xanana Gusmao, yang menyetujui 'otonomi transisi'
bagi Timor Timur, masih bergulir. Baik di kalangan aktivis pro-kemerdekaan
Timor Timur maupun aktivis pro-demokrasi Indonesia menilai pernyataan
Presiden CNRT itu agak atau bahkan sangat kontroversial.
Menyikapi kontroversi pendapat yang muncul di kalangan aktivis dan
masyarakat Timor Timur, pada akhir 1998 lalu Xanana Gusmao mengeluarkan
sebuah imbauan dalam bahasa Portugis kepada aktivis dan rakyat Timor Timur
untuk menjelasakan latar belakang pernyataannya tersebut.
Berikut adalah dokumen tersebut yang diterima dari Tim Talitakum.***
---------------------------------------
CNRT-FALINTIL
Imbauan akhir tahun
Companheiros da Luta! Compatriotas de Timor-Leste!
Kita akan memasuki Tahun yang Baru dalam perjuangan demi pembebasan
Tanah Air kita, Timor-Leste. 23 tahun Rakyat kita telah mengadaikan
energinya, keberaniannya yang kokoh dan determinasi serta hidupnya demi
ideal suci kemerdekaan nasional.
Karena penderitaan yang sangat panjang serta patriotisme yang dalam
dari rakyat kita itulah yang membuat bara perjuangan melawan invasi
memalukan dan pendudukan jahat militer Indonesia tetap bertahan.
Semenjak awal perang invasi, kita telah menyadari bahwa kita menghadapi
musuh yang sangat kuat, rejim diktatur/kolonialis Soeharto. Namun,
kesadaran akan ketidakseimbangan antara kita dan invasor Indonesia ini
tidak pernah membuat kita gentar sesaat pun, untuk terus berjuang demi
hak kita yang tak dapat disangkal bagi penentuan nasib sendiri serta
kemerdekaan nasional.
Banyak jenderal Indonesia telah pensiun, banyak yang lain telah dan
sedang dipromosikan atas harga darah rakyat kita, atas harga kejahatan
yang telah mereka lakukan di Timor-Leste.
Kita melewati tahun-tahun yang sangat berat, kita menghadapi
periode-periode yang sulit. Rasa sakit dan air mata, kematian dan
penderitaan hanya semakin memperkuat determinasi kita dalam perjuangan
serta keyakinan kita akan kemenangan.
1998 ditandai oleh suatu perubahan radikal dalam kehidupan
sosio-politik di Indonesia, dengan com repercusseo no nosso preprio
processo. Seluruh Indonesia teragitasi oleh sebuah gerakan sosial yang
luar biasa, mengoncangkan fondasi-fondasi Orde Baru yang represif dan
korup!
Di Timor-Leste, terulang sensasi bahwa sebuah momen dengan
harapan-harapan besar akan tiba. Sikap-sikap euforik membawa sebagian
dari kita kembali ke 24 tahun silam, sambil melupakan kondisi-kondisi
konjuntural 1998. Kesibukan kita telah mendapat dimensinya yang nyata,
tidak hanya oleh kenangan-kenangan yang terakumulasi dalam pikiran kita
tapi juga oleh visi akan masa depan yang sedang menanti kita. Suatu
pembauran kekhawatiran dan optimisme telah menguasai kita serta
memperingatkan kita akan semua kemungkinan yang dapat merubah proses
(perjuangan-pen.) kita kurang berkenan bagi semua.
Dan semakin kita menahan diri untuk menganalisis secara mendalam
perilaku sosial masyarakat Timor-Leste, kita semakin terbawa untuk
mempertimbangkan bahwa kita harus menghindari infantilisme politik
(politik kekanak-kanakan-penerj.) yang sangat berbahaya.
Selama 24 tahun, kita semua menuntut hak Timor-Leste untuk menentukan
nasib sendiri serta kemerdekaan nasional. Banyak strategi telah
dirancang, banyak ide telah dikembangkan, sejak pulangnya Portugal
dengan murni dan sederhana sampai rencana perdamaian CNRM serta sebuah
via ketiga, yang tak pernah melahirkan realitas.
Persetujuan atas rencana perdamaian CNRM (yang dikecam oleh via ke tiga;
via "otonomi terintegrasi") tidak didahului oleh sebuah studi yang
mendalam tentang butir-butir yang tercantum dalam rencana perdamaian
CNRM. Kini muncul keraguan atas persetujuan tentang usul otonomi. Kini
kita lebih mempermasalahkan soal jangka waktu daripada menganalisis
serta memahami proses kita.
Secara tiba-tiba kita dikejutkan oleh ledakan peristiwa-peristiwa di
Indonesia dan, dengan segera, kita mengisolasikan diri dari
kondisionalisme-kondisionalisme politik rejim yang masih berlangsung
tanpa merubah prinsip-prinsip dasar Orde Baru.
Kita tidak mencoba untuk mengerti, tidak mencoba untuk menemukan, tidak
mencoba untuk menganalisa semua aspek yang berhubungan dengan
usaha-usaha dan niat untuk menyelesaikan masalah. Kebanyakan hanya
berpikir tentang referendum, beberapa bahkan menuntut kemerdekaan
segera. Seakan-akan tidak ada lagi orang lain dari kita yang
menginginkan kemerdekaan, seakan-akan yang lain tidak lagi membela
referendum sebagai jalan yang lebih adil bagi penyelesaian.
Seakan-akan kita semua berjuang melawan Suharto (que nos teria pedido
beneficiar com a corrupteo) agar kita berbelok ke Habibie yang
menghadapi sebuah krisis ekonomi yang rawan yang telah menghempaskan
lebih dari 90 juta penduduk indonesia kedalam kemelaratan dan
mengakibatkan lebih dari duapuluhan juta pekerja kehilangan
pekerjaannya.
Sesudah 23 tahun peperangan pembebasan nasional, sangat disayangkan
orang-orang masih belum layak bagi pekerjaan berpikir, menganalisa agar
mengetahui secara mendalam proses kita.
Ada yang tidak setuju dengan ucapan 'adalah perlu mendidik secara
politik rakyat kita', sambil menegaskan bahwa Rakyat kita secara
politik telah siap dan buktinya adalah bahwa telah berjuang selama 23
tahun. Orang-orang ini mencampur-adukan hal, mencampurkan-adukan
patriotisme dengan kesadaran politik.
Ada yang sudah mulai sibuk dengan kekuasaan, sibuk dengan partainya dan
sudah meminta jaminan kondisi-kondisi politik bagi partainya. Karena
hanya melihat partai, mereka tidak mampu untuk melihat
kepentingan-kepentingan Tanah Air, kepentingan-kepentingan rakyat kita!
Kadang-kadang, mengartikan kata "kepentingan-kepentingan" sebagai
sinonim dari 'kerinduan akan kemerdekaan'. Tidak berhasil mengerti
lebih dari itu, tidak berhasil menemukan dimensi dari istilah
"kepentingan-kepentingan Negara".
Yang lain muncul sebagi palaku-pelaku utama 'ide-ide realistis' untuk
menutupi rasa malu karena merasa tak pernah melakukan apa-apa setelah
menerima banyak uang Suharto untuk menghambat proses pembebasan Tanah
Air. Orang-orang ini kini mengambil kesimpulan-kesimpulan yang
(luar)biasa bahwa ternyata kita hanya memberi mereka alasan, ketika
mereka tidak pernah membuktikan diri memiliki alasan apapun, untuk
mengakui invasi serta melakukan suatu perubahan 360o terhadap
ideologi-ideologi mereka yang paling revolusioner tahun 1974!
Kini, oportunisme tersebungi oleh protagonisme politik pauperrimo (yang
dilanda kemiskinan). Mbak Tutut pasti merasa malu karena telah memiliki
banyak teman yang mata duitan, yang bersedia membuat sambutan-sambutan
yang menyanjung rejim Soeharto dan Habibie.
Ternyata, momen sedang kita manfaatkan untuk membawa ke permukaan
ketidakmatangan politik yang masih ada dari sebagian besar, yang
menyebut diri politikus Timor-Leste, yang semestinya berkewajiban
memikirkan secara mendalam tentang tanggungjawab kita demi mengakhiri
penderitaan rakyat kita.
Mengakhiri penderitaan Rakyat kita adalah tidak memperpanjang penderitaan itu.
Seringkali, kita tidak mempelajari makna dari kata-kata, kita tidak
mengenal semantik dari ungkapan-ungkapan. Kita hanya menghafal
kalimat-kalimat, slogan-slogan dan palavras de ordem (seruan-seruan
perjuangan) serta mengucapkannya tanpa memahami dalamnya makna yang
dimaksudkan.
Queridos Companheiros da Luta!
Namun, dapat dikatakan bahwa, apa yang terjadi di Tanah Air kita
memiliki penjelasannya. Rakyat kita sedang kehilangan kesabaran, Rakyat
kita telah kehilangan kepercayaan.
Rakyat kita telah hilang kepercayaan terhadap PBB, Rakyat kita telah
sampai pada kesimpulan bahwa resolusi-resolusi PBB tidak punya lagi
nilai, Rakyat kita memiliki kesan bahwa PBB hanya sedang mengikuti
kemauan Jakarta. Rakyat kita merasa terpaksa sampai pada pemikiran
bahwa, untuk membebaskan diri, jalan terbaik adalah meningkatkan
tingkat konfrontasi di Timor-Leste.
Rakyat kita sudah bosan dengan kebohongan-kebohongan Jakarta, Rakyat
kita merasa bahwa jalan terbaik adalah mengambil keuntungan dari
masalah-masalah sosio-politik dan ekonomi yang dihadapi Indonesia.
Rakyat kita tahu bahwa rejim Soeharto/Habibie tidak mau mengakui bahwa
telah melakukan suatu kejahatan dengan menginvasi dan mencaplok
Timor-Leste serta tidak menunjukkan niat baik politik dalam mencari
penyelesaiannya. Rakyat kita tidak tahan lagi dengan keenganan yang
terus-menerus dari Jakarta, karena tahu bahwa setiap kesediaan akan
suatu dialog yang terbuka, serius dan konstruktif selalu ditolak oleh
rejim kolonialis.
Sikap Rakyat kita adalah sekedar suatu reaksi legitim terhadap
ketidakhormatan Indonesia kepada hukum internasional, kepada
prinsip-prinsip universal dan resolusi-resolusi PBB. Sikap Rakyat kita
sekedar menunjukkan bahwa tumbangnya Soeharto tidak memiliki
signifikansi apa-apa bagi Timor-Leste dan bahwa, ternyata 'lalat-lalat
(tidak pernah) berpindah dan kotoran (dari Orde Baru) masih terus ada!
Sikap Rakyat kita juga dengan sendirinya, adalah sebuah tindakan
kekecewaan terhadap masyarakat internasional. Negara-negara kampium
demokrasi dan hak asasi bersikap apatis sehubungan dengan proses
demokratik di Indonesia dan masalah Timor-Leste.
Banyak negara telah membantu rejim Soeharto yang represif, sambil
menikmati korupsi yang menghantarkan Indonesia menuju kebangkrutan.
Kini, negara-negara tersebut hampir tidak mengerakkan satu jaripun bagi
gerakan pro-demokrasi dan, sebaliknya sedang melihat
perspektif-perspektif bagi investasi-investasi baru di suatu Indonesia
yang secara ekonomis terbuka lebar.
Negara-negara inilah yang telah membantu rakyat indonesia terpuruk
dalam kemelaratan, dan sedang menyelamatkan hubungan baiknya dengan
pemerintahan Habibie, dalam merebut laba yang dijanjikan Indonesia,
sebagai negara yang sedang bangkrut. Nilai-nilai demokrasi, keadilan
dan hak asasi manusia masih tetap menjadi urusan interen Indonesia,
kini bertaruh dengan sebuah rejim yang membela evolusi dalam
kontinuitas.
Dan politik antar-kepentingan masyarakat internasional ini memiliki
juga pengaruh yang kuat bagi masalah Timor-Leste. Masyarakat
internsional tidak merasa bertanggunjawab terhadap nasib 200 juta
penduduk indonesia, baik di bawah Soeharto maupun Habibie. Dan kita tidak
dapat membicarakan 700.000 orang Timor, karena angkanya terlalu kecil
untuk memiliki nilai dalam pertimbangan-pertimbangan menyangkut hak dan
keadilan.
Rakyat indonesia secara total sedang terobsesi untuk mengadili Soeharto
dan kliknya yang terdiri dari jenderal-jenderal dan menteri-menteri
serta melupakan bahwa masyarakat internasional memiliki kuota
tanggungjawabnya dalam pemeliharaan sebuah rejim represif dan paling
korup di dunia. Selama masyarakat internasional masih terus memandang
Indonesia dan rakyatnya sebagai zona keuntungan-keuntungan dan
pembeli-pembeli besar bagi pasarnya, situasi di indonesia dapat
menjurus ke ledakan-ledakan politik dan sosial yang lebih besar. Jika
hal ini adalah keprihatinan kita, maka bukanlah menjadi keprihatinan
masyarakat internasional.
Hal yang sama terjada pada masalah Timor-Leste!
Kita tahu apa yang telah dilakukan Portugal hinga kini, dalam membela
hak kita untuk menentukan nasib sendiri dan kemerdekaan nasional. Kita
juga tahu upaya-upaya PBB dan komitmen Sekretaris Jendralnya serta
perjuangan duta besar Jamsheed Marker dan kelompoknya.
Tapi kita juga sadar akan kemampuan Portugal dan PBB dalam penyelesaian
(masalah Timor-Leste-penerj.). Keterbatasan kemampuan PBB terdapat pada
ketidakhormatan sama sekali yang selama ini ditunjukkan Jakarta terhadap
Organisasi Dunia itu. Dan terletak pada perbedaan masyarakat
internasional dalam melakukan tekanan yang lebih besar terhadap
Indonesia.
Kita menghargai dan bersyukur secara mendalam atas sikap politik
Kongres dan Pemerintah Amerika, ketika baru-baru ini meloloskan sebuah
undang-undang yang memberi pengakuan bagi Rakyat Timor-Leste hak untuk
menentukan nasib sendiri. Kita juga menghargai dan bersyukur atas
usaha Uni Eropa yang telah mengesahkan sebuah resolusi yang membela
referndum. Namun kenyataan sedang membuktikan bahwa semua itu tidaklah
cukup, bahwa harus ada tekanan yang lebih besar atas Jakarta, bukan
hanya dalam hubungannya dengan suatu proses yang lebih transparan dan
penjamin reformasi politik tapi juga yang berkaitan dengan pencarian
suatu penyelesaian yang adil dan abadi (bertahan-lama- penerj.)bagi
Timor-Leste.
Companheiros da Luta!
Penyelesaian yang adil dan abadi! Tak ada suatu penyelesaian yang
seutuhnya adil jika tidak abadi, tak ada penyelesaian apapun yang bisa
abadi jika tidak adil. Adil dan abadi adalah 2 binomi dari proses yang
kita semua ingin capai bagi Timor-Leste!
Sudah banyak, puluhan, ratusan, mungkin ribuan kali, kita menyerukan
solusi yang adil dan abadi! Saking banyak kita menggunakannya, istilah
itu telah kehilangan makna yang sebenarnya.
Dalam terang hukum internasional, solusi adil hanya bisa dicapai dengan
pelaksanaan referndum! Tanpa referendum, tidak akan ada solusi yang
adil! Tapi itu tidak cukup! Agar penyelesaian menjadi abadi, kita harus
memprihatinkannya, kita harus memberi perhatian yang sebenarnya
terhadap banyak aspek sosial dan politik di kalangan masyarakat Timor.
Masalah-masalah aktual dengan refleksi untuk masa depan.
Masalah-masalah yang jika tidak dianalisa dan dipertimbangkan dengan
baik, dapat menciptakan instabilitas politik, ketidaktenteraman
jiwa-jiwa dan suatu iklim bagi konflik-konflik sosial.
Kita tahu bahwa Rakyat kita mulai tidak sabar dan mulai muncul
kelompok-kelompok radikal yang akan memilih konfrontasi untuk
menggoyahkan situasi kebuntuan, yang ditimbulkan oleh arogansi
kolonialis dari rejim Soeharto/Habibie.
Kita telah menyatakan bahwa kita tidak akan mengambil keuntungan dari
ledakan politik dan sosial yang sedang terjadi (dan akan terjadi) di
Indonesia. Ketika kita melakukan itu, kita ingin mengungkapkan rasa
hormat dan solidaritas kita atas perjuangan rakyat indonesia bagi
demokrasi dan keadilan yang telah terinjak-injak oleh rejim Orde Baru
selama 32 tahun!
Banyak orang meramalkan adanya instabilitas dan kekerasan yang lebih
besar di Indonesia selama 1999. Selaku Panglima Falintil, saya mengakui
bahwa kita tidak punya kemampuan untuk mengusir tentara pendudukan
dari Tanah Air kita. Namun saya tahu bahwa kita punya kemampuan untuk
menciptakan suatu instabilitas yang lebih besar dan intens di seluruh
wilayah, sambil menciptakan situasi yang lebih sulit lagi bagi Jakarta.
Dan seruan kita adalah 'Tanah Air atau Mati!'. Dan tidak akan ada lagi
kompromi-kompromi...
Mungkin saya adalah pengecut untuk tidak memilih jalan itu. Atau
barangkali saya hanya sedang menunggu sampai kesabaranku habis,
menghadapi sikap tanpa pamrih jenderal-jenderal indonesia, menghadapi
sikap keras kepala para politikus dan diplomat indonesia.
Dapat dikatakan bahwa CNRT telah membuat pertimbangan, pertama-tama,
tanggungjawabnya untuk tidak menimbulkan lebih banyak lagi korban di
pihak penduduk Timor, Rakyat kita. Kedua, CNRT percaya bahwa dialog
adalah jalan terbaik untuk menemukan, lewat mekanisme-mekanisme
internasional, penyelesaian (adil dan abadi!). Ketiga, bahwa CNRT tidak
menginginkan sebuah kemerdekaan yang hanya menyebabkan konflik antara
orang-orang timor sendiri dan antara Timor-Leste dan Indonesia.
Ada yang mengusulkan bahwa kita mesti menyiapkan diri untuk
memproklamirkan kemerdekaan, selama situasi di Indonesia tidak
terkendali. Saya tidak setuju dengan ide tersebut, bukan karena saya
tidak menginginkan kemerdekaan. Saya tidak setuju dengan ide tersebut,
karena saya mempunyai pengertian sendiri akan sebuah kemerdekaan. Saya
tidak menginginkan suatu kemerdekaan yang mendadak, suatu kemerdekaan
yang hanya mengantar kita menuju kekerasan antara sesama saudara. Kita
semua mengerti bahwa kemerdekaan dengan sendirinya hanyalah sarana
bukan tujuan! Kemerdekaan harus menjamin semua anak Timor-Leste, tanpa
kecuali, kedamaian dan ketentraman, harmoni dan keamanan, agar semua
bisa terdorong dengan semangat rekonstruksi dan pembangunan nasional.
Kemerdekaan harus menjamin hubungan kerja sama yang lebih baik dengan
tetangga yang besar yakni Indonesia.
Kemerdekaan tidak akan menjadi suatu tindakan untuk menutup semua pintu
bagi dunia. Kemerdekaan hanyalah sekedar kemampuan yang kita miliki
untuk mengelola nasib kita sendiri. Mengelola, bagi beberapa politikus
adalah memerintah, adalah memiliki kekuasaan di tangan. Mengelola
adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh semua rakyat dalam
partisipasi integral dari nasib Negara.
Perjuangan kita demi pembebasan nasional memberikan waktu lebih dari
cukup bagi kita untuk mempelajari sejarah gerakan-gerakan pembebasan di
seluruh dunia.
Banyak negara merdeka masih belum membuktikan bahwa mereka mengerti
makna sebenarnya dari 'hak untuk mengelola nasib sendiri', sementara
ditangan para pemimpin negara-negara tersebut penuh dengan
masalah-masalah sosio-politik yang rawan dan masalah-masalah ekonomi
yang sangat mengharukan. Kemerdekaan, di negara-negara ini, tidak
membawa kedamaian maupun keserasian antara warganya, kemerdekaan, di
negara-negara ini, tidak berguna untuk memperbaiki kondisi-kondisi
kehidupan penduduk.
Indonesia sendiri merefleksikan politik dunia ketiga tersebut. Di
belakang bangunan-bangunan megah di Jakarta yang besar dan
metropolitan, tersembunyi kemiskinan dan kemelaratan. 50 tahun setelah
kemerdekaan, konflik-konflik sosial hampir tak dapat terselesaikan dan
dengan utang luar negeri sebesar 4 juta rupiah untuk tiap warga negara
indonesia serta dengan lebih dari 90 juta penduduk indonesia hidup
dalam kondisi kemelaratan.
Namun lebih dari itu, kita harus menghindari semangat kemerdekaan yang
selalu muncul setelah perang Pembebasan. Jika bukan sebuah partai yang
mengklaim telah memimpin seluruh perjuangan, maka orang-orang yang
mengkualifikasikan dirinya sebagai pahlawan, sebagai yang lebih banyak
bekerja, yang lebih banyak menderita, yang dengan demikian pantas untuk
menerima kompensasi.
Kemerdekaan terlihat/didesakkan demi menempatkan para pahlawan di
barisan depan pemerintahan. Kemerdekaan hanya berguna untuk menunjukkan
siapa yang telah berjuang dan siapa yang tidak, kemerdekaan hanya
berarti bagi orang-orang untuk bermimpi dengan dirinya sendiri, dengan
kelompoknya, dengan partainya. Dengan demikian kemerdekaan menemukan
persepsi yang baru: perang kesempatan!
Saya tahu bahwa Konvensi Nasional di Peniche menghadirkan
kekecewaan-kekecewaan dalam banyak benak orang timor dan komposisi CNRT
di Timor telah mengecewakan harapan-harapan banyak politikus dan
pahlawan. Belum lagi merdeka, kita sudah memikirkan siapa yang akan
menjadi menteri dan siapa yang tidak layak jadi menteri. Bahkan sebelum
merdeka kita sudah mendaftarkan diri dalam buku kehormatan para
pahlawan, mereka yang telah melakukan segalanya, mereka yang lebih
menderita. Dan kita melupakan bahwa pahlawan yang sebenarnya adalah
Rakyat kita dan para gerilyawan yang ada di hutan!
Kemerdekaan sedang kehilangan karakternya, kemerdekaan sudah
menyembunyikan ambisi-ambisi pribadi dan kelompok. Adalah wajar di
dunia ketiga, bahwa 'para pahlawan' Gerakan Pembebasan haruslah menjadi
'pahlawan-pahlawan' kemerdekaan. Suatu kesalahan fatal dalam banyak
hal. Dan dari kesalahan inilah semestinya orang timor menarik
kesimpulan.
Kita semua mestinya mengerti bahwa pembebasan Tanah Air hanyalah
setengah dari tujuan kemerdekaan. Karena, setelah kemerdekaan,
pembebasan rakyat merupakan setengahnya lagi dari tujuan kemerdekaan.
Sebuah kemerdekaan hanya bisa memungkinkan kita untuk mengembangkan
inisiatif-inisiatif dan daya cipta kita, jika semua orang timor saling
menjamin dan bagi tiap orang bahwa Timor-Leste adalah milik semua dan
bahwa, di Timor-Leste kita semua akan dapat hidup dalam keharmonisan
dan kedamaian.
Agar penyelesaian adil yang akan kita capai bisa menjadi penyelesaian
yang abadi!
Dalam pengertian inilah, saya ingin menjelaskan bahwa jika CNRT
menyetujui ide otonomi, bukan karena kita belum memiliki infra-struktur
maupun sumber daya manusia yang menjamin kemampuan kita untuk membangun
kembali negara.
Tiga tahun pertama invasi, rakyat kita telah menunjukkan animo yang
luar biasa dalam mobilisasi dirinya demi menghadapi perang yang dipicu
oleh para jenderal pembunuh Suharto terhadap kita. Dan saya percaya
bahwa, hanya makan singkong pada 5 tahun pertama, kita orang Timor akan
menjual beras kepada Indonesia pada tahun berikutnya!
Tapi masalahnya bukanlah sesederhana seperti yang kita lihat! Jika,
dalam Konferensi Nasional pada bulan Maret 1981 kita mendifinisikan
Unidade Nacional (Persatuan Nasional) sebagai suatu tujuan primordial
perjuangan kita, jika pada tahun 1986, kita menyaksikan munculnya
Konvergensi Nasionalis (Convergencia Nacionalista), jika CNRM muncul
pada tahun 1987 untuk membuka perspektif-perspektif yang lebih besar
bagi Rekonsiliasi Nasional (Reconciliacao Nacional) dan jika CNRT
berhasil maju secara kualitatif dalam proses ini untuk mempersatukan
orang timor, kini masih kita saksikan bahwa, dalam masyarakat timor,
masih terdapat sentimen-sentimen yang memisahkan kita, yang memecah
kita dan yang mengakibatkan konflik antara kita.
Luka-luka inilah yang harus disembuhkan. Memang gampang bagi 'para
pahlawan' kemerdekaan untuk berpikir bahwa, besok, akan kita jebloskan
para integrasionis (pendukung integrasi) kedalam penjara_dan_habis! Ada
kedamaian!!! Apakah itu kedamaian? Apakah itu yang kita inginkan? Yang
telah membunuh harus mati? Yang telah menangkap harus dipenjarakan?
Yang telah menyiksa harus tersiksa? Yang telah merampok harus dirampok?
Memang gampang, mengurus semuanya dalam penjara. Dan kita semua akan
memakai mahkota kejayaan pahlawan-pahlawan besar Pembebasan Nasional!
Dan sejarah dunia ketigapun berulang: pemimpin perjuangan akan menjadi
presiden tanpa hambatan, meskipun tidak pada saatnya; para komandan
akan menjadi jenderal dan para politikus akan saling bertarung untuk
menjadi menteri! Hanya karena kita adalah pahlawan! Hanya karena kita
yang banyak bekerja, hanya karena kita lebih banyak menderita daripada
yang lain! Jika itu yang terjadi, seluruh makna perjuangan kita,
seluruh makna pengorbanan Rakyat kita akan terhina! Akan terkhianati!
23 tahun perjuangan ini tidak akan berguna untuk mengakhiri pertumpahan
darah, bagi kekerasan! Karena harapan kita adalah balas dendam, adalah
menuntut keadilan!
23 tahun penderitaan ini tidak cukup bagi kita untuk menerima
sikap-sikap politik yang lain. Ternyata, kita berjuang 23 tahun tanpa
mencoba memahami politik!
CNRT menyetujui ide otonomi lebih karena pertimbangan-pertimbangan
politik, karena CNRT bermaksud melakukan Rekonsiliasi Nasional yang
sebenarnya bukan rekonsiliasi-rekonsiliasi ala AIETD! Dan kita
membutuhkan satu periode tertentu untuk mengeliminir semua sentimen
kebencian dan balas dendam serta menciptakan keserasian yang
sebenarnya, atas dasar rasa hormat, atas dasar demokrasi.
Dan itu adalah sulit. Karena itu, CNRT menolak jalan mudah (pintas)
bagi penyelesaian dan menyetujui tantangan untuk menempuh jalan yang
sulit. Karena CNRT percaya bahwa semua, politikus veteran maupun
pemula, tidak akan mau mengotori tangan-tangannya dalam
kekerasan-kekerasan yang baru di Timor-Leste, dimana korban-korbannya
adalah orang timor sendiri!
Inilah komitmen CNRT, dan komitmen pribadi saya!
Dalam suatu referendum, jika maioritas menginginkan integrasi, mereka
yang membela kemerdekaan memiliki kebebasan untuk tetap memegang idenya
tanpa hak untuk menimbulkan gangguan-gangguan demi ide-idenya. Jika
dalam referendum, rakyat memilih kemerdekaan, para pendukung integrasi
(integrasionis) akan tetap menjadi orang timor dengan hak untuk hidup
di Timor-Leste seperti orang timor yang lain, hanya dengan kesepakatan
untuk tidak menimbulkan instabilitas bagi proses rekonstruksi dan
pembangunan Tanah Air.
CNRT tidak bermimpi dengan kemerdekaan, CNRT melihat kemerdekaan sudah
di depan mata! Tidak peduli apakah Habibie senang atau tidak, tidak
peduli apakah Wiranto akan murka atau tidak, tidak peduli Alatas setuju
atau tidak! Kemerdekaan Timor-Leste merupakan sesuatu yang irreversivel
(tak dapat diubah lagi-penerj.)!
Tapi CNRT tidak membela suatu kemerdekaan di mana orang-orang timor
hidup dalam kekhawatiran yang konstan, dalam ketakutan yang konstan.
Bila kita memproklamirkan kemerdekaan, rkyat timor akan menyanyikan
kejayaan yang sebenarnya dengan keyakinan yang sebenarnya akan masa
depan. Tiada seorang timor pun yang akan dikesampingkan, tiada orang
Timor yang akan merasa asing bagi proses.
Kita menyetujui otonomi, dengan keterlibatan indonesia, bukan karena
kita terlalu 'mencintai' Indonesia, bukan karena kita mengharapkan
menerima kompensasi apapun dari Jakarta. Indonesia memiliki
tanggungjawabnya dalam penyelesaian. Indonesia telah memicu perpecahan
antara orang timor, Indonesia harus membantu orang timor untuk saling
rekonsiliasi! Hanya dengan demikian, Indonesia akan menyelamatkan
mukanya! Indonesia tidak bisa membiarkan orang-orang timor saling
membunuh hanya karena sebagian besar menginginkan kemerdekaan. Bagi
kejahatan yang telah dilakukannya dengan menginvasi dan mencaplok
Timor-Leste, hanya akan menyatu dengan yang lain, yaitu dengan
menciptakan perpecahan dan membiarkan orang-orang timor hidup dalam
konflik.
Dalam solusi damai, harus menyatu dengan aspek yang lain: 'abadi'.
Dalam periode otonomi, sebagai transisi menuju Referendum, Indonesia
akan berkolaborasi dengan orang-orang timor dalam menciptakan suatu
iklim keharmonisan menyeluruh, dituntun oleh toleransi dan saling
hormat. Jika kita berhasil melaksanakan itu, indonesia akan memenuhi
tanggungjawabnya dalam penyelesaian yang adil dan abadi bagi
Timor-Leste. Dan suatu solusi yang adil dan abadi di Timor-Leste akan
meningkatkan hubungan bertetangga yang baik di masa depan, meningkatkan
kerja sama dan bantuan timbal-balik antara kedua Negara.
Jika Indonesia bersedia berkolaborasi dalam penciptaan atmosfir politik
dari rekonsiliasi nasional yang sebenarnya, saya percaya bahwa Rakyat
kita akan menempatkan diatas segalanya apa yang telah terjadi dalam 23
tahun yang sulit ini! Dan Timor-Leste dan Indonesia akan membuka bab
baru dalam sejarah, dengan mata tertuju ke suatu masa depan kedamaian
dalam wilayah, sebagai kontribusi bagi perdamaian di Dunia!
Inilah komitmen rakyat kita, karena rakyat Timor ingin hidup dalam
suatu kedamaian yang nyata demi kesejahteraan anak-anaknya.
Companheiros da Luta!
Kita harus memperhatikan masalah-masalah yang kita hadapi,
memperhatikan masalah-masalah masa depan yang akan datang jika kita
tidak menyelesaikan masalah-masalah yang aktual.
Daripada kita memperdebatkan tentang soal jangka waktu, yang bisa 1
bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2, 3 tahun atau 10 tahun, mendingan kita
berusaha untuk memahami persoalan-persoalan yang muncul agar kita bisa
mengambil keputusan, karena nasib Tanah Air harus menjadi perhatian
utama kita.
Terdapat satu pengertian yang keliru atas dua hal yang menempatkan
Rakyat Timor-Leste dalam dua kelompok: Yang membela otonomi dan yang
membela referendum.
Yang membela referendum melupakan bahwa CNRT 'menyetujui' otonomi,
sebagai periode transisi, menuju referendum.
Apa yang bisa saya jamin kepada semua adalah bahwa jika Indonesia terus
bersikap arogan dan terus-menerus memaksakan kita pada suatu otonomi
sebagai solusi final, maka tidak akan ada otonomi di Timor-Leste.
Apa yang dapat saya jamin adalah bahwa sebelum adanya otonomi di
Timor-Leste, rakyat kita akan diberi penjelasan tentang esensi otonomi
dan wakil-wakilnya hanya akan menandatanganinya bila kesepakatan adalah
demi kepentingan rakyat kita. Tanpa kesepakatan dari orang-orang timor
tidak akan ada otonomi. Dan seruan kita pada saat itu adalah: "A luta
continua em todas as frentes! Tanpa henti!"
Sudah saya katakan dalam himbauan saya sebelumnya bahwa semua
tergantung pada sikap politik pemerintahan Habibie, pemerintahan mana
hingga kini masih memberi kesan sebagai kelanjutan dari rejim
kolonial-ekspansionis Soeharto!
Jika pemerintahan Habibie tidak memiliki keberanian politik untuk
mengakui kesalahan Soeharto, Timor-Leste akan terus menjadi masalah PBB
dan bila kita secara total kehilangan kesabaran, kita tidak akan
memperhatikan lagi muka Indonesia! Muka Indonesia telah tercoreng oleh
darah rakyat indonesia dan darah 200.000 lebih orang Timor!
Dan jika dulu rejim Soeharto mengatakan bahwa jarum sejarah tak bisa
diputar kebelakang, kita menegaskan dengan keyakinan bahwa jarum
sejarah sudah terlampau maju dibanding persepsi historis para pemimpin
indonesia, yang berusaha mempertahankan 'status quo' yang sangat
memalukan!
Compaheiros da Luta!
Adalah opini pribadi saya bahwa Jakarta belum siap untuk maju secara
konstruktif dalam proses negosiasi sepanjang tahun 1999. Pemerintah
kolonialis Habibie tidak ingin mencari solusi bagi Timor-Leste, sesuai
dengan hukum internasional dan sampai sekarang selalu menunjukkan
arogansi milik kaum kolonialis bahwa apa yang telah mereka lakukan
adalah legal dan dengan demikian adalah kewajiban Portugal untuk
mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor-Leste.
Saya mempunyai kepastian ini: 1999 akan menjadi lagi suatu tahun
kebuntuan. Dan kita orang-orang timor harus menunggu pemerintahan baru
yang betul-betul demokratis.
Saya tidak mengumumkan adanya peningkatan tekanan-tekanan di Tanah Air
kita, juga tidak mengumumkan adanya suatu konfrontasi yang lebih besar
dengan tentara pendudukan (okupasionis). Mungkin suatu saat kita harus
memutuskan tentang hal itu, jika sesudah pemilihan umum, tidak terjadi
perubahan apa-apa di Indonesia dan perpanjangan rejim Orde baru masih
terus mempertahankan status quo!
Tapi bukan sekarang! Sekarang mari kita berkonsentrasi dalam memacu
usaha-usaha untuk
a- mengakhiri segala permusuhan militer
b- menciptakan suatu iklim toleransi politik yang lebih besar
Dan itu adalah untuk menghindari lebih banyak korban antara orang-orang
timor. Para penguasa mempersenjatai orang-orang timor dan menyuruh
mereka untuk membunuh saudaranya sendiri. Daripada kita unjuk
kemarahan, lebih baik kita berusaha untuk berpikir dengan pemahaman
politik tertentu. Kita sedang melakukan permainan kolonialis, kita
sedang memberi argumen bagi kolonialis bahwa orang-orang timor terancam
oleh suatu perang saudara.
Kita masih belum menemukan suatu format untuk menetralisir secara
politis taktik lama musuh ini, memecah belah dan menguasai.
Persoalannya bukan hanya memecah-belah, masalahnya adalah
memecah-belah dan memberi senjata untuk membunuh saudara sendiri.
Saya ingin menyerukan kepada semua bahwa, mereka yang sedang memancing
konfrontasi fisik antara sesama saudara, sedang membantu musuh untuk
tetap bertahan lebih lama di Timor-Leste. Sadar atau tidak sadar,
mereka yang menimbulkan situasi-situasi konflik antara orang-orang
timor, tidak menginginkan suatu solusi yang cepat bagi masalah
Timor-Leste.
Kita semua harus terpanggil oleh tanggungjawab untuk menciptakan suatu
iklim toleransi politik. Hanya dengan iklim demikian, dapat
memungkinkan kita untuk menemukan kesempatan-kesempatan agar mulai
merancang ide-ide dan rencana-rencana serta melaksanakannya.
Mari kita berusaha menjadi lebih matang secara politis, mari kita semua
mencegah untuk menjadi politiqueiros tahun 74. Mari kita berusaha
belajar menjadi diri sendiri, terbina oleh politik kita, terbina oleh
pengetahuan akan proses kita, terbina oleh analisa obyektif dari
realitas.
Kita jangan menjadi pembual-pembual, hanya karena membawa serta
beberapa kenang-kenangan dari sebuah kehidupan di hutan, juga jangan
menjadi pahlawan hanya karena kita dapat menunjukkan suatu sertifikat
'pengalamam panjang'. Jangan terlalu menuntut karena 'dunia' tidak
mengakui karya atau pengorbanan kita, juga jangan sombong hanya karena
kita telah bisa memimpin atau mewakili kelompok atau partai-partai.
Kita harus rendah hati dalam perjuangan kita, karena perjuangan
bukanlah milik siapapun secara tersembunyi. Perjuangan dari dulu selalu
menjadi milik Rrkyat! Kita jangan membelokkan makna penrjuangan kita
demi ambisi-ambisi pribadi. Harus selalu kita letakkan diatas
segalanya, kepentingan-kepentingan rakyat kita. Dan untuk membela
kepentingan-kepentingan tertinggi rakyat kita, selagi masih sebagai
Panglima Falintil, saya tidak akan ragu-ragu, sekali pun menyakitkan
sebagian orang, untuk mengambil keputusan-keputusan demi rakyat kita
yang heroik!
Tahun 1999 haruslah menjadi tahun dinamika politik yang baru. Tahun
1999 harus menjadi tahun renovasi sikap-sikap dan komitmen yang lebih
besar demi menghasilkan sesuatu yang lebih positif bagi Tanah Air kita.
Daripada menunggu datangnya referendum atau otonomi, lebih baik kita
memdidik diri kita bahwa adalah kita, orang-orang Timor, yang memiliki
tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah-masalah kita, bahwa adalah
kita, orang-orang Timor, yang berwenang menghasilkan rencana-rencana
untuk mengembangkan ide-ide agar menemukan mekanisme-mekanisme yang
lebih memberi peluang bagi pelaksanaan sebagian inisiatif.
Tahun 1999 harus menjadi tahun kombinasi usaha-usaha untuk
mempersiapkan diri demi menghadapi tantangan masa depan!
Tanah Air atau Mati!
Perjuangan berlanjut di segala front!
Berjuang adalah untuk menang!
Presiden CNRT,
Ttd
Kay Rala Xanana Gusmao
Panglima Falintil
Cipinang, 31 Desember 1998
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html