Precedence: bulk
IDUL FITRI DAN SEMANGAT REKONSILIASI
Oleh: Martin Manurung
Rumah saya, dikelilingi oleh Mesjid dari empat sudut arah mata angin.
Semuanya memukul bedug dan menggemakan takbir. Sungguh suatu suasana yang
meriah ditambah dengan suasana langit yang terhiasi kembang api. Berada
dalam suasana agamawi seperti ini justru mengajak saya memasuki suatu tempat
yang jauh dari keramaian, suatu tempat yang sunyi untuk merenungkan apakah
makna suasana itu bagi kehidupan umat manusia.
Idul Fitri terjadi bukan hanya tahun ini. Bertahun-tahun hari raya agama
Islam itu terjadi. Tetapi, entah mengapa Idul Fitri 1419 H ini saya rasa
lebih sebagai suatu moment yang khusus maknanya bagi bangsa saya yang
sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Idul Fitri 1419 H ini juga
bagi saya istimewa karena hari raya itu terjadi tak lama berselang dengan
Hari Natal yang dirayakan oleh kaum kristiani. Dua hari raya dari dua agama
besar itu tentu punya makna yang signifikan untuk dikaji secara mendalam dan
bukan untuk dibiarkan begitu saja berlalu.
Meskipun agama saya bukan Islam, saya mencoba untuk menggali pemaknaan Idul
Fitri. Paling tidak, penggalian itu dilakukan semampu saya untuk memahami
kontekstual hari suci itu. Dalam format negara Indonesia yang mengalami
reformasi, Idul Fitri memberikan suatu inspirasi dan pesan universal yang
seharusnya dapat diresapi oleh setiap insan yang berakhlak. Idul Fitri
memberikan moment bagi terciptanya manusia-manusia yang bersih dari segala
dosa. Idul Fitri juga memberikan kesempatan bagi setiap insan untuk membuang
segala iri hati dan dengki serta dengan hati yang tulus mampu memaafkan
segala kesalahan orang lain. Pendeknya, Idul Fitri membawa suatu pesan
rekonsiliasi yang tak terbatas (unlimited reconciliaton), yakni bagi setiap
manusia dan bagi setiap jenis kesalahan.
Idul Fitri mengisi batin kita dengan kekuatan untuk memaafkan dan memohon
maaf. Segala rekayasa dan kekejian hendaknya dapat dibuang dan diisi dengan
ketulusan dan kemurnian. Suatu cita-cita yang hampir utopis bagi manusia
yang tidak merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyut nadinya. Sehingga
realitas yang ada merupakan fenomena manusia tanpa Allah sehingga tak
mengenal belas kasihan dan mengeliminir kepentingan sosial demi kepentingan
personalnya. Manusia tanpa Allah sehingga membuat hawa nafsunya menggelegar
untuk memakan sesamanya manusia demi tujuan politis sempit.
Manusia dengan Allah, mampu untuk bertobat. Memohon ampun atas segala
kesalahan dan melakukan reformasi total untuk kembali kepada fitrahnya
sebagai manusia ciptaan Allah. Manusia yang mampu memanusiakan manusia
lainnya. Manusia yang menghargai semangat kemanusiaan untuk saling
menyayangi, menjauhkan kemunkaran, mencintai kebenaran, keadilan dan
kedamaian.
Idul Fitri kiranya membuat bangsa Indonesia mampu untuk bertobat. Menjadi
bangsa yang besar dan kembali kepada fitrahnya sebagai bangsa yang penuh
semangat gotong royong dan cinta kebenaran, keadilan dan kedamaian. Bangsa
yang mampu untuk hidup bersama dengan penuh damai melaksanakan perubahan
besar bagi kehidupan yang lebih demokratis. Bangsa yang mampu melakukan
perdamaian bagi dirinya dan orang lain; suatu rekonsiliasi yang membawa
perdamaian bagi setiap perbedaan.
Itulah renungan Idul Fitri yang saya lakukan tengah malam menjelang subuh
ini. Mohon maaf bila saya melakukan kesalahan dalam analisis perenungan saya
itu. Sebentar lagi, fajar akan menyingsing dan saudara-saudara kekasih umat
Islam akan melakukan Shalat Ied. Karena itu, saudara-saudara ku terkasih
umat Islam di Indonesia, ijinkan saya dengan hati yang tulus mengucapkan,
"Selamat Idul Fitri 1419 H. Mohon maaf lahir dan bathin".
Wassalam,
Martin Manurung
Mahasiswa FEUI dan
Koordinator Solidaritas Mahasiswa Kristen
Untuk Reformasi Indonesia.
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html