Precedence: bulk
PUASA UNTUK TEGAKKAN KEBENARAN DAN KEADILAN, BUKAN UNTUK MENGHINDAR
Oleh: Watumona
Hutomo Mandala Putra (Tommy) meminta agar dirinya tidak diperiksa di
Kejaksaan Agung dengan alasan berpuasa, dinilai banyak kalangan sangat
menggelikan dan sama sekali tak dapat diterima. Namun Kejaksaan Agung
meluluskan permintaan Tommy tersebut dan oleh umum dianggap sebagai upaya
memperlambat proses pemeriksaan putra bungsu orang nomor satu di Indonesia.
DALIH PUASA UNTUK HINDARi PEMERIKSAAN
Sebenarnya dalih puasa untuk menghindarkan pemeriksaan bukan hal baru. Di
zaman Hindia Belanda juga pernah terjadi. Hal itu dikisahkan Hasan STM,
bahwa seorang hamba wet, polisi, dapat mengatasi dalih puasa untuk
menghindari pemeriksaan dengan pendekatan yang cukup luwes. Jadi, hamba wet
itu tidak menyerah pada orang yang memperpolitikan puasa untuk menghindarkan
pemeriksaan. Kisahnya di antaranya sebagai berikut:
"Pada satu hari di bulan puasa," kata Nurdin, "yang menjadi hamba wet
tersebut, aku diperintahkan untuk mengambil seorang anak muda, yang merampas
sepeda tukang Dobi. Tempat yang dituju sebuah desa, dekat Kuala Simpang.
Perbatasan Sumatera Timur dengan Aceh. Anak muda yang harus kutangkap itu
adalah seorang anak Aceh."
Anak muda itu merampas sepeda tukang Dobi, karena pakaiannya yang dicucikan
ketukar dengan kepunyaan orang lain. Anak muda itu menuntut ganti rugi.
Tukang Dobi belum mau mengganti. Ia masih mengurus dengan siapa tertukarnya.
Sesampainya aku di rumah anak muda itu, kuperlihatkan surat perintah yang
kubawa guna mengambilnya. Kebetulan yang menerima ayah anak muda itu.
Setelah ayahnya mengetahui aku akan membawa anaknya, dia segera berkata:
"Saya tidak mengizinkan anak saya diperiksa selama bulan puasa. Tuhan saja
tidak mengadakan pemeriksaan selama bulan puasa".
Aku kaget. Tak menduga sama sekali alasan penolakannya adalah agama. Aku
segera menginsyafi bahwa aku sedang berhadapan dengan salah seorang putera
Aceh yang fanatik. Bila dengan kekerasan kubawa anak muda itu, bentrokan
bisa terjadi. Bagaimana caranya supaya tugas dapat terpenuhi dengan aman?
Aku mendapat akal. Kepada orangtua anak muda itu kukatakan bahwa aku orang
Islam. Bila aku tak dapat membawa anaknya, tentu aku akan dianggap bersalah
oleh Komandan. Periuk nasiku bisa terbalik. Aku minta supaya dipertimbangkannya.
Orang tua itu nampaknya heran. Mengapa ada orang Islam yang bekerja pada
Belanda. Dan keheranannya itu tercermin dari pertanyaannya. Betulkah anak
beragama Islam?
Kujawab: Betul. Saya berasal dari Banten. Seperti juga anak negeri Aceh,
kami beragama Islam. Bapak bisa memperhatikan kehidupan saya di rumah. Saya
tetap menjalankan shalat 5X sehari semalam. Dan hari ini juga sedang berpuasa.
Mendengar keteranganku itu, orang tua itu berbicara dengan anaknya dalam
bahasa Aceh. Aku tak mengerti apa yang dipercakapkannya. Putusan dari
pembicaraan mereka, anak itu boleh kubawa guna memenuhi panggilan Komandan
Polisi. Mereka ikut beramai-ramai.
Aku merasa senang sekali. Karena berhasil menjalankan tugas. Bila aku tidak
luwes dalam menjalankan perintah atasan, tentu usahaku akan gagal.
Demikianlah sekelumit kisah nyata "Jawara Banten", yang terjadinya
menjelang tahun 1930, seperti yang dikisahkan Hasan Stm.
Jelas sekali bedanya Nurdin yang polisi itu bisa menunduhkkan dalih puasa
untuk menghindari pemeriksaan, dengan Kejaksaan Agung, yang Jaksa Agungnya
Ghalib, yang menyerah kepada dalih puasa dari Tommy Soeharto.
KEJAKSAAN AGUNG PLIN-PLAN
Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Azyumardi Azra,
diberitakan secara tegas mengatakan bahwa apa yang dilakukan Hutomo Mandala
Putra (Tommy) meminta menunda pemeriksaan dirinya dengan alasan puasa tidak
dapat diterima sama sekali.
Bagaimanapun juga tindakan yang dilakukan Tommy merupakan pelanggaran
hukum, maka upaya pemeriksaan, pengusutan tetap harus dilanjutkan terlepas
dari berpuasa atau tidak.
Dikatakannya, seharusnya Tommy tetap menjalani prosedur hukum seperti yang
berlaku, tanpa harus merasa keberatan. Yang proporsional menurut agama dan
hukum itu adalah seharusnya tidak merasa keberatan diperiksa oleh pihak
pengadilan; meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
Mengenai tindakan dari Kejaksaan Agung, yang nampaknya memperlakukan Tommy
secara istimewa, menurut Azyumardi tidak bisa dipandang sebagai sebagai
menjalankan ketentuan agama. Melainkan justru menunjukkan sikap plin-plan
aparat hukum yang bertugas menangani kasus itu. Tindakan para aparat hukum
yang mencla mencle terhadap Tommy, justru dianggap Azyumardi sebagai
pelanggaran.
TOMMY POLITISIR AGAMA
Lain lagi yang dikatakan Komarudin Hidayat, pengamat dari Paramadina.
Menurut Komaruddin Hidayat "Puasa bukan alasan untuk menolak panggilan
Kejaksaan Agung. Tindakan ini sama saja dengan mempolitisir agama".
Lebih lanjut Komaruddin Hidayat mengatakan, hakikat puasa justru membuat
orang menjadi lebih jujur dan commited dengan prilakunya. Terutama dalam
rangka membela kebenaran.
Justru dengan puasanya Tommy harus lebih komitmen dan intens menegakkan
kebenaran, bukan malah menjadikan puasa sebagai alasan penghindaran.
Sedang Bismar Siregar, bekas Hakim Agung mengatakan, bahwa sikap Tommy untu
menolak panggilan Jaksa Agung dengan alasan sedang dalam puasa merupakan hal
yang tidak masuk akal dari segi hukum.
Menurut Bismar, dari segi keagamaan tindakan memenuhi panggilan Jaksa Agung
sebenarnya merupakan kesempatan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran
sebab dalam Al Quran dan Hadits Nabi dinyatakan bahwa keadilan tetap harus
ditegakkan meskipun dalam keadaan berpuasa. Bahkan memenuhi panggilan Jaksa
pada bulan puasa merupakan hal yang lebih baik untuk membuka kesempatan
menjernihkan duduk persoalan yang sebenarnya.
NABI PUN BERPERANG DI BULAN PUASA
Adalah menarik apa yang dikatakan Alwi Shihab, ahli tafsir Al Quran,
mengenai tindakan Tommy yang menolak panggilan Kejaksaan Agung untuk
pemeriksaan atas tuduhan penggelapan uang negara dalam ruislag Goro senilai
Rp. 52 miliar lebih, dengan alasan puasa tidak dibenarkan menurut ajaran
Islam. Sebab, kendati dalam keadaan berpuasa sekalipun setiap orang tetap
wajib melakukan kegiatan-kegiatan sekuler.
Menghadiri pemeriksaan di Kejaksaan Agung bagi setiap orang yang terjerat
suatu kasus pelanggaran hukum adalah peraturan yang dikeluarkan pemerintah.
Apalagi dalam konteks ini, Tommy tidak langsung dinyatakan bersalah.
Seharusnya dia memenuhi panggilan, yang juga berarti membuka kesempatan
untuk menyingkap kebenaran.
Walau Tommy sebagai tersangka, namun dia juga harus melaksanakan tugas
untuk membela kebenaran, dengan memberi penjelasan terhadap duduk
persoalannya, karena dia juga belum tentu bersalah. Toh, tindakan ini tidak
bertentangan dengan norma-norma Islam.
Tommy tidak berhak menjadikan dalih puasa sebagai alasan untuk absen.
Sebab, pada hakikatnya panggilan pengadilan merupakan kegiatan yang wajib
dilakukan sebagaimana dalam hari-hari biasa. Kecuali, apabila memang
panggilan itu benar-benar menghambat waktu ibadah.
Dalih bila bepergian jauh dapat membatalkan puasa, pun ditampik Alwi.
Menurut Alwi, letak Kejaksaan Agung tidak begitu jauh, sehingga puasa tetap
dapat dilakukan.
Secara analogis, Alwi menilai pemanggilan Tommy pun hampir serupa dengan
yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad Saw. Kala itu, Nabi beserta umatnya
tengah berperang dengan kaum musyrikin yang menyembah berhala. Berperang
untuk menegakkan panji-panji Islam.
Dalam peperangan, Nabi meminta agar setiap prajuritnya tidak boleh
menghentikan peperangan, walau sesaat, dengan dalih puasa sekalipun. Umat
Nabi menjalankan perintahnya sehingga tak heran bila perang terus
berlangsung dari matahari terbit sampai matahari terbenam.
Sebagai hasilnya Allah memberi kemenangan kepada pihak Nabi.
Demikian pula halnya dengan fenomena pemanggilan Tommy. Menghadiri
pemanggilan untuk memenuhi panggilan Jaksa Agung di bulan Ramadhan.
Analoginya pun sama saja dengan mendatangi medan pertempuran dalam keadaan
berpuasa.
Artinya, bagi Tommy tidak menghadiri panggilan Jaksa Agung sama saja dengan
tidak mendatangi medan pertempuran, berarti tidak memenuhi permintaan Nabi
Muhammad Saw untuk jangan menghentikan peperangan.
Permintaan Tommy untuk tidak memeriksa dirinya dengan menggunakan dalih
bulan puasa adalah dengan tujuan menghindarkan dirinya dari menegakkan
keadilan dan kebenaran. Tommy, tak mau ketinggalan dari orang-orang yang
menggunakan agama sebagai kendaraan politik bagi kekuasaan. Tommy hanya
menggunakan puasa untuk menghindari pemeriksaan.
Sedang tindakan Jaksa Agung meluluskan permintaan Tommy yang menggunakan
puasa sebagai kendaraan, nampaknya bagian dari upayanya untuk memperlambat
proses pemeriksaan Tommy. Untuk itu ia akan mendapat penghargaan dari
Soeharto.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html