Precedence: bulk


NINDJA News, 20 Maret 1999

BANTUAN BERAS UNTUK INDONESIA: Langkah untuk menghabiskan kelebihan beras
simpanan di Jepang?

(Harian Yomiuri, 19 Maret 1999)

Jika mengirim  bantuan beras dengan jumlah sama, mana yang lebih 
rasional : Mengirim beras simpanan dari Jepang yang senilai 98 milyar 
yen atau membeli beras Thai yang murah ?

Pemerintah Jepang telah 2 kali mengirim beras bantuan Jepang sebagai 
pinjaman darurat kepada Indonesia yang sedang mengalami krisis 
ekonomi. Harga sesungguhnya  beras dari Jepang itu 99 milyar yen. Tetapi 
karena Indonesia menggunakan harga standar internasional ketika 
mengembalikan, harganya menjadi 22,4 milyar yen. Perbedaannya menjadi 
utang rakyat Jepang. Bantuan ini dilaksanakan atas nama kemanusiaan, tetapi ada
yang mengatakan walaupun ongkos transportasinya mahal, karena tujuan sebenarnya
menghabiskan  beras simpanan  yang kelebihan, maka Pemerintah sengaja mengirim
beras Jepang.

Masalah ini dikemukakan  oleh Seiji Ueda anggota Parlemen dari fraksi Partai 
Demokratis di komisi luar negeri  Parlemen. Bantuan beras telah dilaksanakan 2
kali pada tahun lalu dan tahun ini oleh pemerintah Jepang, karena masyarakat
Indonesia mengalami  kekurangan pangan yang serius oleh krisis ekonomi dan cuaca
kering.  Jumlah pinjamannya sebanyak 700 ribu ton.

Beras ini adalah beras simpanan untuk darurat yang terdiri dari 60 % 
beras domestik dan 40 % beras minimum access (beras MA = beras dari luar 
negeri yang diimpor dengan wajib berdasarkan peraturan Internsional)
Harga nyatanya 98,7 milyar yen dan ditambah lagi 16 milyar yen sebagai 
ongkos transportasi dan biaya untuk pendirian International Agriculture
and Food Help Foundation, organisasi khusus untuk bantuan beras ini,
menjadi 116,2 milyar yen  secara total.

Indonesia akan mengembalikan utang dengan cicilan selama 32 tahun.Harga 
totalnya hanya 22,4 milyar yen saja. 93,8 milyar yen akan menjadi 
utang rakyat Jepang, karena harga kembaliannya dihitung dengan harga 
Internasional.Harga ini berdasarkan  pada harga ekspor beras Thai yang 
sekarang ini 32 ribu yen per ton. Dibandingkan dengan beras domestik 
Jepang yang berharga 300 ribu yen per ton dan beras MA yang 100 ribu 
yen, beras Thai sangat murah.

Sementara itu, menurut perhitungan Ueda, seandainya pemerintah Jepang 
memberi pemerintah Indonesia pinjaman yen untuk mengimpor beras dari 
Thai, Jepang menghemat biaya sampai 21 milyar yen. Lagi pula rasa 
beras Thai dan Indonesia mirip, karena itu dari dulu beras Thai 
dimakan oleh masyarakat Indonesia. 

Menanggapi masalah ini, Kementerian Pertanian dan Kehutanan Jepang 
menjelaskan sebagai berikut: 'Kalau Indonesia mengumpulkan dan membeli
beras yang sangat banyak dalam waktu singkat, ada kemungkinan harga
beras Internasional melambung dan tidak bisa mengumpulkan beras yang
diperlukan walaupun Jepang memberikan pinjaman yen yang cukup'.

Tetapi dikatakan juga 'ada pendapat bahwa di Jepang ada beras 
simpanan yang tidak digunakan, kenapa harus membeli beras luar negeri? 
' Peraturan pangan yang baru menetapkan jumlah beras simpanan untuk 
darurat 1,5 juta ton. Tetapi pada bulan Oktober lalu beras simpanan 
mencapai 2,9juta ton. Biaya pemeliharaan, antara lain, ongkos gudang,  
fasilitas AC, memerlukan 35,4 milyar yen pada tahun anggaran 1997.

'Walaupun jumlah kelebihannya sangat besar, tidak boleh dibuang. 
Bagi pemerintah masalah ini sangat berat.'kata staf kementerian 
tersebut.

Pada kenyataanya, bantuan darurat terhadap Indonesia menjadi kesempatan 
baik untuk menghabiskan beras simpanan yang tidak digunakan di Jepang.

----------
NINDJA <[EMAIL PROTECTED]>
Network for Indonesian Democracy, Japan
Hinoki Bldg. 3F, 2-1 Kanda Ogawamachi Chiyoda-ku Tokyo 101-0052 Japan

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke