Precedence: bulk
Sobron Aidit :
D U A D U N I A
Ketika beberapa tahun yang lalu aku ke Jakarta, ada dua kejadian yang sangat
berkesan dalam hati ini. Mungkin bagi orang lain hal biasa saja, tapi bagiku
sungguh tidak biasa. Karena itu kesannya sangat dalam mengambil tempat dalam
ingatan.
Selama di Jakarta aku selalu ditemani seorang ponakanku. Ponakan ini
bukannya kecil atau sejenis ABG, cucunya saja sudah ada satu. Tapi satu
hal, dia cukup cantik, sehingga cucuku memanggilnya Tante Belle, tante yang
cantik. Anak dari ponakanku itu malah seorang foto-model, penyanyi di
tele (tivi) dan bahkan pernah main filem segala. Jadi kira-kira bisalah
membayangkan bahwa Ita ponakanku itu memang ketika masih mudanya dapat
disebutkan dalam kategori : asik, cantik, menarik dan menggoda! Dan ada lagi
satu hal, dia ini paranormal.
Ke mana-mana di Jakarta bahkan sampai Jabar, Bandung dan sekitarnya selalu
aku ditemaninya dengan sebuah mobil BMW, walaupun tidak baru samasekali, tapi
masih 85 persen, dan ini perlu kukatakan, inilah salah satu hadiah
penghargaan dari seorang pedagang kaya yang datang padanya minta petunjuk
dan nasehat. Nasehat itu ialah bagaimana sebaiknya menurut Ibu Ita dalam
pengusahaan real-estate yang sedang dalam pembangunan. Dan Ita memberikan
pendapat, harus begini, sebaiknya begitu, jangan sampai begitu dan jangan
sampai terjadi begini, dll, dll.
Pengusaha itu menurutinya, dan sangat sukses, rumahnya habis terjual, dan
beberapa hari sesudah kesuksesannya, sebuah mobil BMW yang wanginya saja
masih melengket, diantarkan buat Ibu Ita. Padahal aku tahu benar, Bu
Ita, ponakanku itu tidak pernah pasang tarif. Dia cukup terbuka
terhadapku, dan sering terjadi para pasiennya, pelanggannya, bila menyerahkan
hadiah, pemberian, atau ongkos ke-paranormal-annya, kamilah yang menerimanya,
aku dan anaknya si Fana. Apa yang kami terima? Terkadang kerupuk Palembang, kain
batik, makanan kering, makanan-kaleng, bahkan pernah ikan asin dari
Kalimantan, katanya khas Kalimantan. Tidak pernah kami terima dalam bentuk uang.
Dan lagi Bu Ita pernah mengatakan padaku,sekarang ini dia belum mau pasang
tarif, karena masih merasa belum betul-betul profesional. Nanti, katanya,
sesudah lima tahun lagi, barulah dia akan pasang tarif. Sekarang ini dia
masih merasa sebagai amatiran. Tapi menurutku,sebenarnya sekarangpun dia
sudah bisa pasang tarif, karena sudah banyak bukti, bahwa "pekerjaannya"
sudah banyak hasilnya. Dari segi metiernya, kata orang Perancis, aku sangat
mengaguminya. Suatu waktu pernah aku diajaknya "nyepi" atau "semedi" atau
"mencari masukan-kejiwaan" di ujung sebuah batu di Pelabuhan Ratu. Yang
dibawahnya ombak-garang bergulung-gulung menghempas-ganas, angin
menerjang-kejam. Dan kami harus mulai berada di sebuah batu besar yang
menjorong ke laut itu pada jam 24.00 dan sampai pagi, dan tentu saja tidak
boleh tidur, tidak boleh membayangkan yang bukan-bukan. Harus kosong, suci
dan berserah-pasrah.
Karena mungkin memang aku tak punya niat buat jadi paranormal, dan juga
jalan kehidupanku lain dan berbeda, tentu saja baru satu jam aku diam khusuk
secara itu, lalu kelelahan, kedinginan, tak tahan, dan aku menuju mobil kami
jauh di bawah sana.Dan Bu Ita kubiarkan sendirian, dan sampai pagi. Dan dia
bisa memenuhi jatah-jam-lamanya.
Temanku yang satu lagi, Ajoeb,selalu melihatku berdua dengan Bu Ita ini. Dan
antara rumah Ita dan Ajoeb tidak jauh. Setiap pagi dinasku ke rumah Ajoeb,
jalan kaki satu jam, antara jam 06.00 dan jam 07.00 aku sampai ke rumahnya.
Sekalian olahraga pagi. Dan kami ngobrol, diskusi, berdebat dan terkadang
bertengkar dengan Ajoeb.Ajoeb mengatakan padaku : "sudahlah,kau kawini
sajalah si Ita itu. Ke mana-mana selalu berdua, gatal mataku melihat kalian
itu!", katanya suatu kali. Tapi kukatakan padanya, kami tak ada maksud buat
menikah atau memasuki hidup yang lain dari sekarang ini. Dan lagi kawin,
menikah, berumahtangga, bukan hal sepele begitu saja. Harus ada landasannya.
Lalu kata Ajoeb, "akh apalagi sih, kau duda dia janda, ke mana-mana
bersama". Dan aku tetap berusaha meyakinkan Ajoeb bahwa kami tak ada
perasaan cinta yang menjadikan harus menikah. Bahwa di antara kami ada
saling pengertian dan kesamaan karena "nasib sama duda dan janda" itu tadi.
Akan kumasuki cerita pokok yang menjadi kesan dalam pada diriku. Suatu waktu
ketika kami berdua dengan Ita melintas mau memasuki jalan tol tak jauh dari
Rawamangun, Ita salah masuk, memasuki jalan terlarang. Dan kebetulan polisi
sedang banyak berjaga. Dan priiit......panjang, polisi menyetop mobil kami.
Polisi mendatangi kami. Kukira, wah, akhirnya kena juga nih, pastilah akan
didenda atau kena tilang atau harus nyogok. Dengan tenang dan dengan wajah
disenyum-senyumkan, dibagus-baguskan, padahal yang memang sudah cantik, Ita
berkata "Waduh Pak, betul-betul maafkan saya, sehingga salah masuk. Habis
dipesan agar cepat datang sih oleh Bapak di Kantor".
"Bu, Ibu kan tahu peraturan, jalan ini kan dilarang. Sekarang bagaimana. Tugas
kami harus kami jalankan, atasan minta kami agar keras".
"Itu saya tahu,dan saya setuju. Akibat ini semua nanti saya akan minta Bapak
menguruskannya via Markas", kata Ita. Polisi itu agak terheran dan agak
lama memperhatikan kami.
"Jadi Ibu ini mau ke mana tujuannya".
"Saya diminta lekas datang ke Markas, katanya Bapak ada keperluan yang saya
harus datang sendiri".
"Markas mana dan di mana?",kata polisi.
"Pak,saya istrinya Jenderal Kunto dari Markas Besar AD, kan bapak tahu kan?"
Lagi-lagi polisi itu terheran dan agak lama memperhatikan kami. Karena pada
berdiaman agak lama ini, Ita dengan gesit menjalankan mesin mobilnya dan
dengan berkata "pamitan", sekali lagi minta maaf atas kesalahannya tadi, dan
tak lupa mengucapkan terimakasih, walaupun sang polisi terdiam dan agak
merengut. Tapi Ita tak perduli.
Sesudah agak jauh barulah Ita menimpali.
"Kalau nggak gitu kan kita bisa kena. Dan kena di sini bisa didenda, bisa
ditangkap proses-verbal, dan bisa harus nyogok".
Ketika aku lama terdiam,kebodoh-bodohan, Ita melanjutkan.
"Yah,begitulah Oom. Hidup ini harus bergaya, bisa bergaya secara apa
saja. Kalau perlu yang seperti Oom saksikan tadi itu. Ini Jakarta lho
Oom, mungkin di Paris-pun tidak bergaya demikian", kata Ita. Dan aku tambah
lagi mengagumi Ita, ponakanku itu. Sungguh berani bergaya demikian, yang
tadinya samasekali tak terbayangkan.
Lalu, apakah ini secara kebetulan mau saling ada hubungan dan pertentangan?
Beberapa hari sesudah itu aku berdua Ajoeb ingin makan bersama di ujung
tahun-lama, menyambut tahun-baru. Kami bermobil. Ajoeb punya mobil yang sudah
tua-usang, dan sering mogok.Dengan mobil itulah kami pergi ke Kelapa
Gading, pusat perbelanjaan dan resto-warung, segala makanan dan penganan.
Mungkin kami ini termasuk agak nekad, sudah tahu mobil tua, suka
batuk-batuk, masih juga berani membawa mobil beginian. Ya,bisa dipikirkan
akibatnya. Belum lama jalan, mobil sudah batuk-batuk, dan mulai ngos-ngosan.
"Alah maklum-lah, Mon. Ini bukan mobil yang seperti kalian berdua Ita itu, ini
kan mobil butut", kata Ajoeb.
"Ya dong, pokoknya sesuai dengan yang punya dan yang numpang. Tua, mungkin
sakitan, dan sama batuk-batuknya, ya kan", kataku mencairkan suasana.
Dan celakanya, mobil mogok persis di tengah jalan tol, dan pada bagian
terlarang-keras buat berhenti. Sudah dapat diduga, tak lama polisi bermobil
dinas lalu-lintas, datang memeriksa. Nah, aku sudah berpikir, mau apa kami, apa
daya kami. Ajoeb lagi, mana sih dia punya uang, mana sih dia punya kekuasaan!
Tapi Ajoeb juga ternyata punya syaraf baja. Dia tenang saja. Malah dia
mengejekku "Takut kau? Tenang sajalah berdiri di situ", katanya seolah-olah
tak terjadi apa-apa.
"Aduh,Pak, pelanggaran ini bukan sepele lho Pak", kata seorang polisi. Dan
polisi yang satunya menanyakan SIM dan KTP Ajoeb. Agak takut juga aku. Kan
KTP Ajoeb itu masih ada tanda "ET", ex-tapolnya. Polisi memeriksa dan
membaca dengan teliti KTP Ajoeb.Dan lama sekali. Aku tentu saja sudah kuatir
akan hal Ajoeb, meskipun Ajoeb sendiri kulihat pasrah. Lama sungguh polisi
membaca dan memeriksa KTP dan surat lainnya. Polisi kulihat lalu berunding
dengan teman-temannya. Sudah itu datang mendekati Ajoeb dan mengatakan:
"Okey Pak, lain kali agar hati-hati. Kami panggilkan montir agar datang ke
mari. Bapak tunggu saja dalam beberapa menit lagi", katanya.
Dan apakah mataku yang salah? Polisi itu bagaikan minta diri dan menyalami
Ajoeb, dan ngomong lagi, agar hati-hati.
Lho kok baik sekali, dalam hatiku. Ajoeb ternyata tak perlu berlaku yang
seperti Ita beberapa hari yang lalu. Malah polisi itu bagaikan minta diri
kepada Ajoeb. Ketika Ajoeb di rumah bersamaku, kami menyoalkan lagi
"kebaikan" polisi itu.
"Kan ada-ada saja orang baik di dunia ini.Tidak semua dan mutlak kejahatan
itu ada di setiap tempat dan pada segala waktu", kata Ajoeb "berkhotbah"
kepadaku. Dan aku memang setuju pendapatnya, sebab aku sendiri tidak sekali
dua menemui kejadian semacam ini. Dan aku lama juga berpikir, justru yang
lama dilihatnya kemaren itu,adalah tanda "tapol" itu. Akh, sudahlah, jangan
terlalu banyak tapsiran, nanti bisa salah malah! Bahwa dunia yang terjadi
dalam hari-hari itu padaku, memang tidak satu, tidak bulat, tidak satu
pendapat.
Paris, 7 Maret 1999
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html