Precedence: bulk


SIARAN PERS: SERUAN PEREMPUAN UNTUK PERDAMAIAN

Pada tanggal 6 April 1999, pukul 16.00 wib, sejumlah besar perempuan
berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Dengan baju hitam-hitam,
payung hitam dan spanduk-spanduk mereka menunjukkan keprihatinan dan
menyerukan perdamaian. Rencanannya aksi damai ini akan dilanjutkan dengan
aksi damai serupa di pusat-pusat kota di seluruh Indonesia dan Timor Leste
pada setiap Hari Jum'at pukul 10.00 sore.

Kegiatan Seruan Perempuan untuk Perdamaian adalah gagasan spontan dari
berbagai kalangan perempuan yang prihatin dengan berbagai kekerasan yang
terjadi di tanah air akhir-akhir ini. Mereka menyadari bahwa dalam situasi
konflik dan kerusuhan, perempuan merasa pula memiliki peluang untuk merajut
perdamaian. Ketika masyarakat dipecah-pecah dalam kotak-kotak agama, suku,
ras, etnis, kelas, kaum perempuan merasa mampu menyatukan diri dalam satu
keprihatinan bersama. Sebagai ibu, ia bisa merasakan peneritaan ibu lain
yang cemas dan meratapi anak-anaknya; sebagai perempuan ia berbagi tekad
dengan perempuan lain di manapun juga, dari latar belakang apapun juga, yang
tak mau terus-menerus dikoyak kekerasan.

Para perempuan itu menyerukan agar:

1. Perempuan di seluruh Indonesia dan Timor Leste bersatu dalam solidaritas
untuk merajut perdamaian.

2. Perempuan di seluruh Indonesia dan Timor Leste mengatasi kepentingan
kelompok, golongan, ras, etnis, agama dan menolak segala bentuk adu domba
dan kekerasan.

3. Masyarakat dan pemerintah melibatkan perempuan dalam setiap usaha
rekonsiliasi, sebab mengupayakan perdamaian tanpa perempuan niscaya akan
sulit berhasil.

4. Masyarakat dan pemerintah dengan serius mengangkat perspektif perempuan,
sebab usaha rekonsiliasi tanpa berpegang pada pengalaman perempuan, sebagai
pihak yang paling berat merasakan dampak kekerasan dan konflik, akan kurang
berarti.

Kegiatan lintas daerah ini merupakan kerjasama antar individu, bukan
dilaksanakan suatu organisasi tertentu. Koordinasi dari satu daerah ke
daerah lain dilakukan secara ketuk-tular, dari satu individu ke individu,
dan memanfaatkan jaringan lembaga/ kelompok perempuan yang ada di berbagai
daerah. Perempuan yang mendukung kegiatan ini sangat beragam, dari generasi
muda sampai tua, dari kelas bawah sampai menengah atas, dari latar belakang
kelompok dan agama yang berbeda-beda.

Tokoh perempuan dari Jakarta yang ikut dalam kegiatan antara lain Ibu
Nuriyah Rahman, Herawati Diah, Saparinah Sadli, Lies Marcoes, Sita
Aripurnami dan Karlina Leksono. Di Jakarta kegiatan akan dilanjutkan hari
Jumat 16 April dengan fokus khusus untuk Tual dan Ambon. Sedangkan tanggal
23 April dan selanjutnya untuk Sambas, Aceh, Timor Leste, Kupang, dan
seluruh Indonesia.

Daerah-daerah lain mendukung kegiatan ini dengan ekspresi dan cara yang
beragam. Di Dili, acara seperti di Jakarta akan dimulai hari Jum'at 16
April. Di SoE, NTT, pada tanggal 16 April akan diadakan kebaktian bersama
kaum perempuan, tanggal 30 April malam renungan dan tanggal 14 Mei pembacaan
puisi. Di Lubuk Pakan, Sumatera Utara, tanggal 23 April akan diadakan acara
khusus, sedangkan di Takengon, Aceh Tengah, pada tanggal 9 April diadakan
shalat Ashar bersama, dilanjutkan dengan doa, orasi perdamaian dan Shalawat
Badar.

Dari minggu ke minggu, dari satu tempat ke tempat yang lainnya, para
perempuan Indonesia nampaknya bertekad untuk tidak akan putus-putusnya
melakukan aksi damai dan solidaritas sampai Bumi Pertiwi menjadi tempat yang
aman bagi anak-anak Indonesia dan Timor Leste.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke