Precedence: bulk CATATAN REDAKSI: Meskipun agak terlambat, siaran pers Xanana Gusm�o yang menghebohkan pers dalam dan luar negeri serta membuat sibuk pemerintah Indonesia ini, kami muat dengan harapan sidang pembaca bisa menilai sendiri pernyataan keras pemimpin perlawanan rakyat Maubere ini. ------------------- PRESS RELEASE FALINTIL MENYERUKAN RAKYAT TIMOR TIMUR UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI Selama beberapa bulan terakhir ini kami tiap hari menerima informasi yang berkenaan dengan buruknya situasi di Timor Timur. Hari ini kami mendapatkan informasi baru mengenai serangan milisi sipil yang didukung oleh ABRI pada pagi hari ini kepada penduduk di Mauboke (Maubara, Distrik Liquisa, sebelah barat dili), menewaskan empat orang dan sedikitnya tujuh orang lainnya mendapat luka cukup serius. Jenderal Damiri, Pangdam Udayana, dalam wawancara di Dili 3 April 1999 menyatakan tidak adanya kemauan politik dari sebagian pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan persoalan Timor Timur. Arogansi ABRI ini sekali lagi ditunjukkan oleh Jenderal Damiri melalui pernyataannya di Dili sehingga menyebabkan situasi menjadi memburuk di Timor Timur, dan kami menganstisipasi hal itu akan miningkatkan suhu peparangan. Kami tahu strategi Jakarta adalah mendorong rakyat Timor Timur untuk saling membunuh satu sama lain sebagai bagian untuk menjustifikasi agar kehadiran ABRI tetap berlanjut di kawasan tersebut. Sejak keberhasilan demonstrasi mahasiswa Indonesia menjatuhkan Soeharto sampai sekarang lebih dari sejumlah gelombang kekerasan terjadi di Indonesia, kami secara konsisten menegaskan bahawa kami tidak ingin mengambil keuntungan dari situasi kacau di Indonesia untuk memaksakan tujuan akhir poilitik kami. Untuk beberapa lama kami mengetahui bahwa kami sebaiknya membantu Indonesia (baru-baru ini juga tentara Indonesia brutal) agar tidak kehilangan muka. Namun sejak Oktober 1998 ABRI mensuplai senjata kepada milisi sipil dengan maksud menintimidasi dan mempersenjatai rakyat. Secara reguler telah meminta kepada komunitas internasional menekan Jakarta untuk melucuti para milisi tsb. Yang pada awalnya hanya beroperasi di bagian barat di teritori Timor Timur. Tapi juga seperti yg terjadi dalam kasus-kasus lama dalam 23 tahun terakhir ini komunitas internasional kembali lebih menyimpan kepercayaan kepada ABRI ketimbang rakyat Timor Timur sendiri, dan beberapa permintaan kami tidak terlalu dipercayai. Dengan sikap pasif sebagian komunitas internasional, pemerintah Indonesia merasa cukup percaya untuk mempersenjatai lebih lagi kelompok-kelompok milisi di seluruh Timor Timur dan meningkatkan kampanye kekerasan, dan menyalahkan kelompok perlawanan dengan kejadian-kejadian pembunuhan terhadap rakyat, praktek-praktek yang sudah lama digunakan ABRI tidak hanya di Timor Timur tapi juga di Indonesia. Kemauan politik baik kami dan komitmen kami terhadap perdamaian dianggap sebagai titik kelemahan kami dan karena kami berusaha untuk bertahan pada posisi tersebut, komunitas internasional tampaknya merasa tidak perlu untuk menyumbangkan sesuatu bagi penyelesaian damai di Timor Timur. Hari ini kami menerima banyak janji bantuan dan kerjasama bagi Timor Timur merdeka di kemudian hari. Yang kami juga perlukan adalah bantuan segera untuk menyelesaikan kekerasan dan pertumpahan darah di Timor Timur. Kami berjuang sendirian selama 23 tahun terakhir ini tidak hanya melawan rezim yang despotik dan pembunuh tapi juga melawan ketidak adilan di komunitas internasional. Kami berusaha untuk tetap mengontrol situasi di seluruh Timor Timur dan kepada Falintil kami menyerukan untuk tetap mempertahankan keterlibatan aktif dalam perdamaiai dan proses rekonsiliasi. Namun bagaimanapun juga saya mesti mengingatkan komunitas internasional sejak awal kekejaman invasi Indonesia dan tindakan kriminal militer Indonesia yang menganeksasi bangsa maubere, kami rakyat Timor Timur telah lama sadar memerlukan cara dan mencari bentuk perjuangan kami sendiri. Sejak tawaran Jakarta pada tanggal 27 Januari 1999 kami rakyat Timor Timur percaya kemerdekaan tidak akan datang kepada "piringan perak" dan kami ingin melanjutkan cara kami memperjuangkan tanah air yang merdeka. Ketidak puasan, kemarahan, dan keputusasaan rakyat kami menuntut kesetiaan saya untuik loyal berbhakti. Saya tahu bahwa rakyat Timor Timur akan menderita apabila terjadi pertumpahan darah tapi saya juga mengetahui bahwa kami tidak mempunyai alternatif lain karena itu adalah tanah air kami dan hak kami. Dan kami siap untuk mengorbankan segalanya. Kami akan bertanggung jawab terhadap apa yang mungkin terjadi dan tidak akan meminta ketidak sabaran dari komunitas internasional. Salah satu posisi politik kami adalah selalu menghormati situasi politik di Indonesia tapi jenderal-jenderal pembunuh Jakarta memaksa kami untuk mengingkari kompromi kami. Dan semua yang terjadi di Indonesia menyebabkan intensitasi peperangan di Timor Timur dan bukan tanggung jawab kami. Saya mengirim surat hari ini ke sejumlah kedutaan besar asing di Jakarta untuk menginformasikan situasi terkini. Saya sekarang ingin menginformasikan situasi di Timor Timur jauh dari batas yang bisa ditoleransikan. Pada saat yang bersamaan saya memberikan perintah kepada gerilya Falintil untuk mengambil segala tindakan yang perlu untuk mempertahankan rakyat Timor timur melawan serangan-serangan dari kelompok-kelompok milisi senjatan dan ABRI. Sebagai respon terhadap permohonan rakyat Timor Timur saya juga memerintahkan kepada rakyat Timor Timur untuk mengambil tindakan perlawanan umum melawan kelompok-kelompok milisi bersenjata yang telah membunuh tanpa belas kasihan di bawah pandangan yang berbeda dari komunitas internasional. Tanah air Atau Mati Bertahan untuk mencapai kemenangan Melanjutkan perjuangan tanpa mundur Salemba 5 April 1999 Presiden CNRT ttd. Xanana Gusm�o Panglima Falintil ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
