Precedence: bulk


TAK ADA JAMINAN KESELEMATAN BAGI WARTAWAN, HARIAN STT AKAN DIHENTIKAN
PENERBITANNYA

        Dili (MateBEAN, 11/4/99). Dalam dua hari terakhir ini, Harian Umum Suara
Timor Timur selalu didatangi oleh orang-orang ninja. Bahkan terakhir
semalam, sekitar 4 orang dengan dua sepeda motor pakaian ala ninja terus
mengawasi gedung STT hingga pukul 5.00 Wita (pagi).

        Menurut beberapa saksi mata (pedagang k5), kelompok itu berasal dari Besi
Merah Putih, Liquica, yang berencana untuk membakar Kantor STT serta
melenyapkan seluruh wartawan STT. "Mereka selalu datang pada malam hari.
Setelah mereka minum (beer) mereka mulai berencana untuk melakukan serangan
ke kantor STT dan membakarnya," kata pedagang itu.

        Puncaknya terjadi pada hari ini (Minggu/11/4) ketika Uskup Belo hendak
mengadakan misa di Liquica. Dalam konvoi dengan Uskup Belo itu, rombongan
wartawan, baik dalam dan luar negeri. Ketika Uskup Belo tiba di Liquica,
beberapa anggota BMP dengan mengendarai sepeda sambil berteriak, "Kalau ada
wartawan STT dan wartawa asing kita akan membakar dia sekalian dengan mobilnya."

        Setelah selesai misa, Uskup Belo bersama wartawan hendak kembali ke Dili,
tapi sampai di jembatan Liquica anggota BMP itu kembali menghadang rombongan
Uskup Belo. Mereka hanya memperbolehkan Uskup Belo yang lewat sedangkan
mobil yang ditumpang wartawan di lempari dan dipukul. 

        Tiga Mobil hancur, dan seorang sopir harus dilarikan ke rumah sakit untuk
dirawat karena dilempari batu oleh BMP. "Untung kita pindah, kalau tidak
mungkin apa yang terjadi, karena mobil yang kami tumpangi itu kerusakannya
sangat berat," kata Supri photographer Reuters, yang sempat pindah mobil
sampai dua kali untuk sampai di Dili.

        Anehnya, walaupun rombongan itu dikawal oleh polisi, tapi ketika terjadi
aksi pelemparan, polisi cuma lihat, bahkan tidak bereaksi sedikitpun. "Kita
sangat kecewa dengan penanganan aparat keamana di Timtim. Pangab Wiranto
bilang situasi di Liquica sudah aman dan terkendali, tapi buktinya BMP terus
melakukan teror terhadap masyarakat. Uskup saja mereka sudah tidak takut
apalagi kita?" kata seorang wartawan.

        Dengan teror, intimidasi dan rencana pembakaran serta pembunuhan terhadap
wartawan STT, maka sebagian besar wartawan STT sudah bersepakat untuk
menghentikan penerbitan harian ini. "Siapa yang mau mati sia-sia? Kalau
tidak ada jaminan keamanan dan keselamatan, berarti kita akan hentikan
penerbitan ini sampai melihat situasi lebih lanjut. Ini merupakan aksi
protes kita," kata Wapemred STT Otelio Ote. (*)


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke