Precedence: bulk
TIGA BANK RUGIKAN NEGARA RP 75 TRILYUN
JAKARTA (SiaR, 28/4/99), Akibat ketidakbecusan pengelolaan 3 bank,
negara rugi Rp 75 trilyun. Demikian hasil investigasi Center for Banking
Crisis (CBC) yang diungkap dalam sebuah "buku putih".
Dalam buku putih itu dipaparkan sejumlah contoh antara lain penyimpangan
yang dilakukan Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Danamon dan beberapa
bank beku seperti Bank Aspac dan BDNI. Dalam buku itu selain nama-nama
sejumlah bankir juga terdapat nama pejabat seperti Menteri BUMN Tanri Abeng,
Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita dan Menkeu Bambang Subianto serta
sejumlah pejabat BI yang ternyata terkait dalam skandal tersebut.
Kepada wartawan, Selasa (27/4) kemarin Direktur CBC Deni menyatakan Eka
Tjipta Widjaya terlibat permainan valuta asing pemegang saham mayoritas
secara offset di BII. Caranya adalah dengan melakukan jual beli banknote
secara back-dated hingga meraup keuntungan pribadi Rp 2 milyar selama 2
minggu. Juga permainan transaksi derivatif US$ 250 juta dan rediskonto
wesel ekspor pada September 1988 sebesar US$ 2,5 juta.
Sebaliknya, BII melakukan pelanggaran dengan memberikan kredit usaha kepada
anggota Grup usaha Eka Tjipta yang lain. Kredit yang dikucurkan ke grupnya
sebanyak 75% mengakibatkan kredit macet perusahaan itu mencapai Rp 13
trilyun. Memang, BII sendiri telah menyita jaminan aset perusahaan Eka
Tjipta, namun kepemilikan sita jaminan hanya dialihkan kepada kenalan dekat
Eka Tjipta.
Sementara itu penyimpangan yang dilakukan Bank Danamon terletak pada
pemberian kredit Rp 30 trilyun, di antaranya 50% disalurkan ke grupnya.
Celakanya, dana kredit 85% atau Rp 26 trilyun merupakan pinjaman BI.
Dan ternyata saluran kredit Bank Danamon kepada 77 perusahaan itu
ternyata perusahaan fiktif (paper company) untuk pembelian saham Astra (19
perusahaan fiktif senilai Rp 1.490 milyar), pengembangan kapling Jl Sudirman
(53 perusahaan) Rp 2.017,5 milyar, perluasan kuningan (5 perusahaan Rp 618,9
milyar).
Diungkapkan pula, bahwa pemberian kredit Danamaon ke grupnya yang
lain itu adalah kredit kepada PT Kaliraya Sari Rp 4.128 juta, PT Danamon Usaha
Gedung, PT Kaliraya Sari Divisi Rumah dan Gedung Rp 4.400 juta, PT Danamon Land
Rp 65 milyar, PT Gaterison Sukses Rp 118,55 juta, PT Danamon Usaha Pembiayaan Rp
45,305 milyar. Hasil investigasi menemukan pula BMPK ke PT Chandra Asri Grup Rp
2,884 trilyun dan PT Raja Garuda Mas Grup Rp 887 milyar.
Dalam buku putih itu juga dipaparkan hasil investigasi lain. Deni
mengungkapkan pula dugaan kolusi dan manipulasi yang melibatkan Lippo Bank
dengan dalangnya Ginandjar Kartasasmita, Bambang Subianto dan Tanri Abeng.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html