Precedence: bulk
WARGA TIONGHOA IKRAR DUKUNG PDI PERJUANGAN
JAKARTA (SiaR, 14/5/99), Di tengah isu terjadinya eksodus ribuan warga
keturunan Tionghoa menjelang masa kampanye Pemilu Juni 1999, maka warga
keturunan Tionghoa di kawasan Pluit, Jakarta Utara, Kamis (13/4) kemarin
melakukan ikrar untuk mendukung dan menyalurkan aspirasinya kepada PDI
Perjuangan dalam pemilu mendatang itu.
Acara ikrar bersama warga keturunan Tionghoa sekaligus pembukaan Posko
PDI Perjuangan di kompleks perumahan mewah itu dihadiri tokoh deklarator Sabam
Sirait yang meresmikan berdirinya posko. Semula dijadwalkan kehadiran Ketua Umum
Megawati Soekarnoputri, tapi kehadiran tersebut dibatalkan karena Megawati baru
kembali dari perjalanannya ke Sulawesi.
Dalam acara ikrar dan peresmian posko itu dihadiri oleh ribuan
simpatisan dan kader PDI Perjuangan yang berbaur dengan warga keturunan
Tionghoa. Beragam spanduk berhuruf Cina yang mendukung kepemimpinan Megawati
Soekarnoputri bertebaran di seputar kompleks. Tak ketinggalan memeriahkan acara
tersebut dilakukan pertunjukan barongsay, serta lagu-lagu berbahasa mandarin
dilantunkan oleh sebuah grup band.
Sabam Sirait dalam sambutannya menegaskan, apa yang disaksikannya hari
itu adalah suatu peristiwa unik yang jarang terjadi selama lebih tiga puluh
tahun berkuasanya Orde Baru. Menurut Sabam, selama ini Orde Baru menciptakan
stereotip yang mengakibatkan terjadinya segregasi di masyarakat, yaitu warga
keturunan Tionghoa identik dengan hal-hal yang berhubungan dengan dagang,
bisnis, dan ekonomi saja, sementara untuk hal-hal yang berhubungan dengan
aktivitas politik seolah-olah tabu dan harus dijauhkan dari kehidupan warga
keturunan.
"Kerja politik itu monopoli bumiputera. Warga keturunan jangan
berpolitik atau memegang jabatan-jabatan birokrasi. Demikian mitos yang
diciptakan Orde Baru selama puluhan tahun," ucap Sabam yang merupakan caleg
nomor urut dua dari DKI Jakarta.
Ia menyatakan dengan acara hari itu, warga keturunan Tionghoa telah
berani mengambil inisiatif untuk memutus mitos-mitos masa lalu yang tak benar
itu. Menurut Sabam, warga keturunan Tionghoa yang memiliki hak pilih dalam
Pemilu mendatang, sekitar 3 juta orang, yaitu terbesar ketiga setelah suku Jawa,
dan Sunda, dan hanya selisih sedikit di atas suku Batak. Menurutnya jumlah 10
ribu orang warga keturunan Tionghoa yang dikhabarkan telah eksodus ke luar
Indonesia, jumlah itu tak seberapa.
"Dan mereka yang eksodus itu bukanlah anasionalis, tapi didasarkan
pengambilan sikap yang rasional. Pemerintah lah yang harus bertanggungjawab,
karena dianggap gagal menjamin rasa aman di masyarakat," tegasnya.
Sementara itu, beberapa warga keturunan yang dijumpai menegaskan, mereka
menghadiri acara tersebut tanpa perasaan was-was akan adanya kerusuhan. A Hok,
seorang warga setempat yang hadir lengkap dengan seluruh keluarganya, kepada
SiaR menandaskan, ia dan keluarganya berniat tak akan eksodus, tapi akan
mempercayakan pilihannya pada partai yang menghormati pluralisme, tanpa
membedakan suku, agama dan ras.
Di beberapa tempat, tampak warga keturunan tionghoa dan simpatisan PDI
Perjuangan lainnya bersama-sama mengibar-ngibarkan sebuah spanduk sepanjang tiga
puluh meter yang berhuruf Cina, yang terjemahannya adalah "Megawati untuk
Presiden". Ketika acara berakhir, para pendukung PDI Perjuangan tersebut kembali
dengan aman dan tertib, meskipun di sejumlah ruas jalan aparat --juga yang
berpakaian preman-- berjaga-jaga.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html