Precedence: bulk Yayasan HAK (Hukum, hak Azasi & Keadilan) Jl. Gov. Serpa Rosa no. T-095 Lt. 1 Farol - Dili, Timor Timur Telp.: +62 390 313323 Fax.: +62 390 313324 LAPORAN SITUASI HAM TIMOR TIMUR APRIL 1999 Pengantar Tindak kekerasan di Timor Timur terus berlanjut hingga memasuki bulan April 1999. Di pihak masyarakat sipil Timor Timur, baik korban jiwa maupun materi secara kumulatif bahkan melebihi korban yang tercatat dalam peristiwa-peristiwa tindak kekerasan pada tiga bulan pertama tahun 1999. Berdasarkan laporan masyarakat, hasil monitoring dan investigasi Yayasan HAK, dalam tindak kekerasan selama tiga bulan pertama 1999 tercatat setidak-tidaknya 40 korban jiwa, 22 korban luka-luka karena tertembak atau terkena senjata tajam, 77 korban penyiksaan, 8 korban penangkapan, 3 orang tidak diketahui keberadaannya dan 2 korban perkosaan serta puluhan ribu lainnya mengungsi mencari keselamatan. Menyusul penyerangan tak terprovokasi terhadap massa pengungsi di sebuah Gereja di Liqui�a yang menelan 59 korban jiwa dan memporak-porandakan fasilitas-fasilitas di lingkungan pastoran, terjadi pula penyerangan-penyerangan serupa terhadap masyarakat sipil di berbagai daerah lain. Penyerangan terhadap anggota-anggota milisi pro Indonesia yang diduga dilakukan oleh gerilyawan Falintil dibalas oleh pihak milisi maupun ABRI kepada masyarakat sipil dengan cara yang keji dan menelan korban dalam jumlah yang lebih besar. Di samping para pengungsi yang diserbu di lingkungan gereja Liqui�a, masyarakat sipil yang sedang mencari keselamatan di tempat-tempat lain juga terus diburu dan dijadikan sasaran penyerbuan. Dalam penyerangan ke rumah Manuel Carrascal�o, sejumlah pengungsi yang sedang berlindung di rumah tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak, ikut terbunuh. Dalam melakukan aksi-aksinya, milisi pro Indonesia selalu mendahuluinya dengan ancaman-ancaman, baik tertulis maupun lisan dan disebarkan secara luas. Namun aparat keamanan tidak melakukan tindakan-tindakan preventif untuk mencegah penyerangan-penyerangan tersebut. Dan semua tindak yang dilakukan tersebut tidak pernah diproses secara hukum. Dalam beberapa aksi pembunuhan, aparat keamanan Indonesia justru ikut terlibat di dalamnya. Misalnya, dalam kejadian di Maliana, Komandan KODIM Maliana, Letkol Kav. Burhanudin Siagian, memerintahkan eksekusi terhadap 5 orang warga sipil di hadapan khalayak dan keluarga korban. Sebelum penyerbuan ke rumah Manuel Carrascal�o dan penembakan sporadis di berbagai bagian kota Dili, telah dilakukan sebuah rapat akbar di mana Eurico Guterres meneriakkan yel-yel berisi ancaman terhadap orang-orang yang disebutnya sebagai 'pengkhianat integrasi', yang dihadiri oleh Gubernur Abilio Soares dan Ketua DPRD TK I Timor Timur, Armindo Mariano. Mengetahui ancaman-ancaman tersebut pun para pejabat itu juga tidak melakukan upaya apapun untuk mencegah penyerangan. Kecuali terhadap rumah mantan Gubernur Timor Timur, Mario Carrascal�o yang dijaga ketat oleh aparat keamanan ketika terjadi aksi penembakan di Dili, dalam semua aksi pembunuhan, petugas keamanan selalu datang sesudah para milisi selesai melakukan aksinya, atau bahkan tidak datang sama sekali. Bahkan dalam beberapa kasus, kehadiran aparat keamanan di tempat kejadian adalah untuk menghilangkan alat bukti kejahatan, misalnya dengan mengangkut mayat-mayat yang terbunuh ke tempat lain, sehingga mengaburkan upaya pengusutan selanjutnya. Situasi Hak Azasi Manusia bulan April 1999 Dalam laporan ini akan disajikan rekaman situasi HAM di Timor Timur untuk setiap Kabupaten menurut Jenis Pelanggaran. KABUPATEN AILEU Kasus Penangkapan, Penyiksaan dan Penahanan Sewenang-wenang: Pada tanggal 15 April 1999 aparat keamanan dari Kodim Aileu melakukan penangkan terhadap empat orang warga sipil di Kampung Talito, Desa Talito, Kecamatan Laulara, Kabupaten Aileu. Keempat orang warga tersebut adalah: 1. Hilario da Costa, 24, L, PNS pada Kantor Dinas Kesehatan Turiscai, Kabupaten Same. 2. Eugenio da Costa, 24, L, berasal dari Turiscai, Same. Hilario dan Eugenio adalah warga Turiscai mengungsi ke Dili saat terjadi pembantaian terhadap masyarakat di Alas dan Weberek, Same. 3. Jo�o Mesquita, 28, L, PNS, warga Desa Talito, Kecamatan Laulara, Kabupaten Aileu. 4. Martinho dos Reis, 22, L, warga Desa Talito, Kecamatan Laulara, Kabupaten Aileu. Keempat orang tersebut ditangkap di Kampung Talito ketika sedang bersantai meminum tuak mutin (sejenis minuman tradisional Timor Timur). Tanpa alasan yang jelas, aparat keamanan mendatangi dan membentak mereka sambil memerintahkan agar mereka tidak melarikan diri, dengan ancaman akan ditembak. Keempat korban itu pun mengikuti kata-kata para petugas, dan mereka akhirnya ditangkap. Mereka diangkut dengan sebuah mobil ke Markas Kodim Aileu. Menurut laporan, keempat orang tersebut ditangkap berkaitan dengan peristiwa penembakan terhadap aparat keamanan Indonesia oleh sekelompok pemuda bersenjata di Laulara dua hari sebelumnya (13/04). Dua dari keempat korban tersebut, yakni Jo�o Mesquita dan Martinho dos Reis, telah dilepaskan pada tanggal 24 April 1999, sedangkan Hilario da Costa dan Eugenio da Costa hingga kini masih ditahan di Markas Kodim Aileu. Kedua orang korban yang telah dilepaskan mengaku bahwa mereka telah disiksa dan dianiaya oleh aparat kemanan selama dalam penahanan. 15 April 1999, sekitar pukul 20.15 WTT di Desa Asu Mau RT 03, Kecamatan Remixio, milisi AHI, anggota Tim Rajawali dan anggota Kodim Aileu melakukan penangkapan dan penahanan sewenang-wenang terhadap 8 (delapan) orang penduduk setempat, masing-masing; 1. Rogerio Mendon�a, 21, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio. 2. Henrique da Costa, 24, L, Pegawai Negeri, Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio 3. Humberto da Silva, 23, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio 4. Francisco Carvalho, 34, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio 5. Ambrosius Mendonca, 26, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio 6. Jose da Costa, 32, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio 7. Jose Mendonca, 35, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio 8. Adolfo da Costa, 22, L, Pegawai Negeri, tinggal di Desa Asu Mau Rt 03 Kecamatan Remixio. Kedelapan korban ditangkap dalam patroli milisi AHI, anggota Tim Rajawali dan anggota Koramil Remexio di Desa Asu Mau. Alasan penangkapan mereka tidak jelas. Diduga, penangkapan tersebut berkaitan dengan aktivitas para korban dalam gerakan kemerdekaan. Selama dalam tahanan di Markas Kodim Aileu, kedelapan korban telah mendapat siksaan yang luas biasa. Mereka dipaksa untuk memberikan kesaksian tentang aktivitas politik dari penduduk setempat. Selanjutnya mereka dilepaskan pada 17 April 1999. 22 April 1999, penangkapan dan penahanan senenang-wenang juga dilakukan oleh tentara terhadap dua warga sipil, masing-masing: 1. Alfredo da Costa, 31, L, petani. 2. Mouzinho da Silva, 21, L. Keduanya adalah penduduk Desa Nunomogue, Kecamatan Fatubuilico, Kabupaten Ainaro, yang sedang dalam pengungsian di Dili. Mendengar informasi bahwa akan diadakan operasi "sapu Bersih" di Dili terhadap orang-orang yang diduga mendukung kemerdekaan, kedua korban tersebut bersama dua orang temannya yang bernama Filipe dan Apolinario menghindar ke Aileu. Kedua korban ditangkap oleh aparat keamanan yang sedang melakukan pemeriksaan dalam perjalanan antara Dili-Aileu. Tanpa diberitahu kesalahan yang dituduhkan kepada mereka, kedua korban tersebut langsung dianiaya dan diangkut ke Markas Kodim Aileu. Sesampai di Aileu, aparat keamanan langsung melakukan kontak dengan kelompok milisi Mahidi untuk memberitahukan tertangkapnya kedua korban tersebut. Kelompok Mahidi akhirnya membawa mereka ke Ainaro. Keberadaan kedua korban tersebut belum diketahui hingga saat ini. KABUPATEN AINARO Kasus Penyitaan Fasilitas Pemerintah: Setelah aksi kekerasan terhadap penduduk sipil di Ainaro dan sekitarnya, tanggal 26 April 1999, anggota Mahidi melakukan pemeriksaan terhadap PNS setempat yang menggunakan fasilitas pemerintah seperti rumah dinas dan kendaraan dinas, baik mobil maupun sepeda motor. Operasi tersebut dilakukan di bawah pimpinan Bernardo de Araujo, Kepala Dinas Kehutanan Dati II Ainaro. Dalam operasi tersebut telah disita 4 (empat) buah motor dinas masing-masing dua buah Honda GL-Max, sebuah motor Yamaha RX-King, dan sebuah motor Yamaha YT, yang dikendarai masing-masing oleh Eduardo Lopes (36, L), Cesario (40, L), Nelson (28, L), Sidonio (38, L). Keempat motor dinas tersebut diambil oleh anggota milisi Mahidi di rumah atau di kantor pengendaranya, dan sekarang digunakan oleh para anggota Mahidi. Menurut laporan, operasi serupa masih akan terus dilanjutkan. KABUPATEN AMBENO Aksi Teror dan Intimidasi: 16 April 1999, bersamaan dengan dibentuknya Milisi Pro Indonesia Sakunar pimpinan Sim�o Lopes di Ambeno, aksi teror dan intimidasi mulai merebak di wilayah ini. Sasaran tindak teror dan intimidasi ini adalah orang-orang yang diketahui menjalankan kegiatan CNRT di wilayah itu. Sebanyak 10 orang penanggungjawab CNRT yang selama ini mengorganisir masyarakat di Ambeno ditangkap dan dipaksa membuat surat yang menyatakan kesetiaanya mereka kepada Pemerintah Indonesia, UUD'45 dan Pancasila. (Identitas ke-10 orang korban tersebut sampai sekarang belum diketahui termasuk keberadannya). 27 April 1999, di kota kabupaten Ambeno dan sekitarnya milisi Sakunar pimpinan Sim�o Lopes, melakukan teror dan intimidasi dengan cara melakukan patroli keliling kota sambil meneriakkan yel-yel 'Integrasi' seraya mengancam dan menyiksa beberapa penduduk sipil. Dalam patroli tersebut para anggota milisi memotong rambut sejumlah pemuda dengan parang. Anggota masyarakat yang dicurigai mendukung aktivitas CNRT di wilayah itu ditangkap disiksa. Menurut laporan masyarakat setempat dan hasil konfirmasi Yayasan HAK, masyarakat setempat kini hidup dalam ketakutan. Aktivitas masyarakat seperti biasanya mengalami ganguan karena sudut-sudut kota Ambeno selalu dijaga ketat oleh anggota milisi Sakunar. Dalam operasi itu, para anggota milisi menyita sejumlah sepeda motor dan mobil dinas yang dipakai oleh PNS yang menurut mereka tidak pantas memakainya. Penangkapan, Penahanan & Penyiksaan Sewenang-wenang: 19 April 1999, di Kecamatan Passabe, penangkapan sewenang-wenang dilakukan oleh anggota Milisi Sakunar dan aparat keamanan setempat terhadap 5 orang warga sipil, masing-masing: 1. Antonio Lafu, Guru SMP Negeri Passabe. 2. Leovegildo Pui, Juru Penerangan Kecamatan Passabe. 3. Manuel da Concei��o, Kepala Sekolah SD Negeri Passabe. 4. Jose Antonio Lafu, mantan Kepala Desa Abani. 5. Marcos Bobo Emanuel da Concei��o, Pemuda desa Passabe. Kelima korban ini ditangkap dan rumah serta seisinya dihancurkan. Anggota keluarga yang lainnya melarikan diri dan berlindung di Pastoran setempat. Seorang warga Kecamatan Passabe akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menggantung diri, karena tidak tahan ddengan semua penyiksaan yang disaksikan dan dialaminya sendiri. Di Kecamatan Oesilo, terjadi penangkapan sewenang-wenang terhadap 5 orang warga sipil, masing-masing: 1. Luis Neno, Perawat Puskesmas Oesilo. Mobil Puskesmas yang dikemudikannya juga dirampas dan kini dipakai oleh Milisi Sakunar. 2. Paulo da Costa, Karyawan Tata Usaha SMP Negeri Oesilo. 3. Miguel da Costa Gama, Guru SD Negeri Oesilo. 4. Belarmino Sequera, Guru SD Negeri Oesilo. 5. Dami�o Marques, Pemuda Oesilo. Di Kecamatan Pante Makasar, 2 (dua) orang penanggungjawab CNRT, masing-masing: 1. Ant�nio da Conceic�o, penduduk Desa Padiae. 2. Jos� Talue, penduduk Desa Padiae Di Desa Lela-Ufe, Kecamatan Pante Makassar, Milisi Sakunar, memporak-porandakan 5 (lima) buah rumah milik: 1. Jose Antonio Ote 2. Andre Lao 3. Vicente Lafu 4. Xisto de Sousa 5. Cipriano da Cunha Pemecatan PNS Secara Tidak Hormat: 21 April 1999, di lingkungan Pemerintah Daerah Tingkat II Ambeno, Bupati KDH Tingkat II Ambeno, melakukan pemecatan terhadap 2 (dua) orang staf, masing-masing; 1. Jo�o Tabes, Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Peternakan Dati II Ambeno. Korban sebelumnya telah ditangkap pada 19/04, dan ditahan di Pos Sakunar yang berada di Markas Kodim Ambeno. Alasan penangkapannya adalah karena dicurigai sebagai pendukung gerakan pro-kemerdekaan di wilayah itu. 2. Xavier da Costa, Bendahara Rutin Kantor Sosial Politik Dati II Ambeno. Bersamaan dengan pemecatan terhadap kedua koban, rumah korban dan sieisinya juga dihancurkan oleh Sakunar. Pada saat yang sama, juga terjadi penyitaan kendaran dinas yang dipakai oleh sejumlah PNS yang dicurigai sebagai pendukung gerakan kemerdekaan Timor Timur. Hingga saat ini jumlah kendaraan yang disita tersebut belum diketahui. KABUPATEN BAUCAU Terror dan Intimidasi: 26 April 1999, di kota Baucau dan sekitarnya, komandan milisi SAKA, Sersan Joanico da Costa, bersama-sama dengan beberapa mobil truck melakukan pawai keliling Kota Baucau dan memerintahkan rakyat untuk mengibarkan bendera merah putih menyambut rapat akbar milisi pro Indonesia dari seluruh Timor Timur yang akan berlangsung keesokan harinya. Dalam pawai tersebut, Joanico da Costa juga mengatakan bahwa saat apel akbar semua penduduk diharuskan mengikat bendera di kepala dan tangan. Siapa yang melawan dianggap juga sebagai musuh pemerintah Indonesia dan harus ditangkap bahkan dibunuh. Kasus Penangkapan, Penahanan dan Penyiksaan Sewenang-wenang: 16 April 1999, di RT IV, Kampung Liaoli, Desa Bahamori, Kecamatan Baucau Kota aparat gabungan dari Polres Baucau, Kodim Baucau dan anggota BTT 143 melakukan penangkapan dan penyiksaan terhadap Antonio da Costa Belo, 33, L, penduduk Desa Bahamori. Korban ditangkap dan disiksa, kemudian dibawa ke Polres Baucau. Sekarang korban berada dalam tahanan Polres Baucau untuk diperiksa dengan tuduhan sebagai salah satu pelaku pengculikan dua anggota KAMRA di Baucau pada pada tanggal 2 April lalu. 23 April 1999, di Pasar Baru Kota Baucau, aparat Polres Baucau menangkap dan menyiksa Jorge Soares, 24, L. korban kemudian disiksa dengan tuduhan sebagai salah satu pelaku dalam pengculikan terhadap dua orang anggota tentara di Bucoli awal April 1999. Selanjutnya korban ditahan di Polres dan diinterogasi. Sampai sekarang korban masih dalam tahanan Polres Bacuau, dan sedang menunggu proses hukum atas tuduhan tersebut. 27 April 1999, terjadi penangkapan atas tiga orang pemuda di Kabupaten Baucau oleh milisi SAKA dan anggota Koramil Baguia, Kabupaten Baucau. Selama penahanan, korban telah mengalami penyiksaan. Keberadaan ketiga korban tersebut tidak diketahui hingga saat ini. Ketiga korban tersebut adalah: 1. Arindo Sarmento, 23, L, penduduk Desa Uacala, Kecamatan Baguia. Korban ini ditangkap di pasar Samalari pada pukul 10.00 Waktu Timor timur (WTT). 2. Carlito Soares, 21, L, penduduk Kecamatan Quelecai. 3. Luis Soares, 17, L. Carlito Soares dan Luis Soares ditangkap di pasar Laisorulai oleh Tim Saka dan tentara dari Koramil Baguia. Menurut beberapa saksi mata, ketiga korban tersebut ditangkap karena diduga sebagai kaki tangan Falintil. KABUPATEN BOBONARO Penembakan dan Pembunuhan di Luar Proses Hukum Pada hari Senin, tanggal 12 April 1999, pukul 08.30 wita, telah terjadi penembakan oleh sekelompok orang bersenjata yang diduga merupakan anggota Falintil terhadap 7 orang, yakni: 1. Manuel Soares Gama, Penduduk Kampung Purgoa, Desa Meligo, Kecamatan Cailaco, Kepala Dinas Pendapatan Daerah TK II Bobonaro. Manuel Soares Gama adalah salah seorang pejuang interasi di wilayah Kecamatan Cailaco dan merupakan anggota Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilan (FPDK) serta Kelompok Milisi Halilintar. Korban ditembak hingga meningal dunia, kemudian dikebumikan pada keesokan harinya. 2. Angelino Bere Asa, 40, L, Prajurit Kepala TNI-AD, anggota Kodim Bobonaro. 3. Miguel, 23, L. 4. Manuel, 30, L. 5. I Ketut Subrata, 26, L, Karyawan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cailaco. 6. Aristides, 25, L, Pegawai honorer PLN Cailaco. 7. Luis Antonio, Kopral Satu TNI-AD, anggota Koramil Cailaco. Ketujuh korban tersebut tertembak dalam penghadangan terhadap mobil Toyota Kijang Pick Up DF 9542 R. yang mereka tumpangi dalam perjalanan dari Cailaco ke kota Maliana. Terdapat dugaan bahwa penembakan tersebut dilakukan sebagai balasan atas keterlibatan Manuel Soares Gama dalam sejumlah operasi bersama kelompok milisi Halilintar. 13 April 1999 sekitar pukul 18.00 atas perintah Komandan Kodim (Dandim) Bobonaro, Letkol Kav. Burhanudin Siagian dan Jo�o Tavares, aparat Keamanan mengeksekusi 6 orang warga sipil, masing-masing: 1. Antonio Soares, 38, L, Guru SDN Cailaco, warga Kampung Purgoa, Desa Meligo, Kecamatan Cailaco, Kabupaten Bobonaro. 2. Joao Evangelita Vidal, 35, L, Guru SDN 8 Desa Daudu, Warga Kampung Porgoa, Desa Meligu, Kecamatan Cailaco, Kabupaten Bobonaro, 3. Jose Paulelo, 36, L, PNS, Kepala Desa Daudu, warga Desa Daudu, Kecamatan Cailaco, Kabupaten Bobonaro. 4. Manuel Maulelo, 38, L, Guru SDN Maumela, Warga Kampung Maumela, Desa Atudara, Kecamatan Cailaco, Kabupaten Bobonaro. 5. Paulino Batumali, 29, L, Petani, Warga Kampung Marco, Desa Meligu, Kecamatan Cailaco, Kabupaten Bobonaro. 6. Joao Matus, 32, L, Petani, Warga Kampung Porgoa, desa Meligu, Kecamatan Cailaco, Kabupaten Bobonaro. Keenam korban tersebut ditangkap pada hari Selasa, 12 April 1999, pukul 06.00 di rumahnya masing-masing oleh pasukan gabungan anggota Kodim Bobonaro dan Halilintar. Mereka ditangkap karena dicurigai mambantu Falintil dan menjadi pendukung CNRT. Keenam korban itu semula dibawa ke Markas Koramil Cailaco. Di Markas Koramil Cailaco tersebut mereka diinterogasi dan disksa. Setelah penembakan terhadap rombongan Manunel Gama, mereka dibawa ke rumah Manuel Gama. Atas perintah Dandim Bobonaro, Letkol Kav. Burhanudin Siagian dan Jo�o Tavares, keenam korban tersebut diieksekusi di hadapan orang-orang yang sedang melayat jenazah Manuel Gama. Sesudah memerintahkan eksekusi tersebut, Letkol Burhanudin Siagian mengancam warga sipil dan pejabat pemerintahan setempat yang sedang melayat, bahwa siapapun yang melawan ABRI dan Pemerintah Indonesia, akan mengalami nasib yang sama dengan keenam korban tersebut. Jenazah keenam korban tersebut kemudian diangkut dengan mobil milik Dandim Siagian yang bernama lambung Setia Jaya ke arah Sungai Marobo, 10 km ke arah Timur kota Kecamatan Cailaco. Hingga tanggal 29 April 1999 jenazah keenam korban tersebut belum dikembalikan kepada keluarganya. 14 April 1999, sekitar pukul 13.00 WTT, terjadi pembunuhan atas dua warga Kampung Puetete, Desa Goulolo, Kecamatan Cailaco oleh pasukan gabungan Milisi Halilintar, Koramil Cailaco, SGI, Milisi Besi Merah Putih, dan pasukan Guntur. Kedua korban tersebut masing-masing: 1. Placido Soares, 29, L, petani; ditikam hingga tewas oleh para anggota Milisi Halilintar. 2. Jose Gaspar, 24, L, petani; tertembak hingga ketika mencoba melarikan diri. Kedua korban tersebut dibunuh sesaat sesudah diajak keluar dari persembunyiannya di hutan. Bersama warga desa yang lain, keduanya telah mengungsi ke hutan untuk menghindari operasi pasukan gabungan Halilintar dan ABRI. Setelah dibunuh, jenazah kedua korban tersebut dibiarkan tergeletak di tempat kejadian. Jenazah kedua korban baru diambil oleh keluarganya setelah paran anggota milisi Halilintar itu pergi dari tempat kejadian. Setelah peristiwa tersebut, di bawah ancaman pembunuhan, warga masyarakat Cailaco telah dipaksa untuk menjadi anggota Milisi Halilintar. Dengan ancaman yang sama, warga masyarakat melarikan diri ke hutan setelah perintah eksekusi terhadap enam orang di Cailaco, dipaksa untuk kembali ke desanya masing-masing. Di samping itu, sejumlah rumah penduduk sipil di Kampung Asalau, Desa Meligo dam Kampung Retete, Desa Manapa, telah dibakar oleh para anggota milisi Halilintar. 20 April 1999, terjadi pembunuhan atas dua orang guru masing-masing: 1. Jose Barros, 44, L, penduduk Kampung Bandole, Desa Purugoa, Wakil Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 7 Purugoa. Korban ditikam kemudian ditembak di bagian kepala hingga tewas. Beberapa pelaku penembakan tersebut diidentifikasi sebagai Aparicio (anggota Milisi Guntur) dan Viegas Bilatu (anggota Milisi Halilintar). Menurut saksi mata, Aparicio-lah yang menikam korban. Selain membunuh korban, para anggota Milisi juga membakar rumah korban. Pembunuhan tersebut dilakukan di belakang Gereja Purgua. Jenazah korban dibiarkan di tempat pembunuhan, dan baru diambil oleh keluarganya satu hari kemudian. 2. Cornelio Da Silva, 42, L, penduduk Kampung Maumela, Desa Atudara, Kecamatan Cailaco, guru SDN 3 Maumela. Korban ditembak hingga tewas kerika mencoba melarika diri dari kejaran anggota milisi Halilintar. Jenazah korban dibiarkan tergeletak di pinggir sungan Ruini, Cailaco, dan baru diambil keluarganya sehari kemudian. Menurut para saksi mata, penembakan tersebut dilakukan oleh anggota Milisi Halilintar. 21 April 1999, sekitar pukul 17.00 WTT, terjadi penangkapan atas diri dua orang korban (bersaudara), oleh Halilintar dan tentara. Kedua orang yang ditangkap adalah: 1. Aparigio Malitae, 28, L, petani, penduduk Kampung Raiabe, Desa Purugoa, Kecamatan Cailaco. 2. Carlos Samaati, 26, L, petani, penduduk Kampung Raiabe, Desa Purugoa, Kecamatan Cailaco. Hingga saat ini (29/04) keberadaan kedua korban ini belum diketahui. Pada hari yang sama (21/04) terjadi pula penangkapan terhadap seorang warga Kampung Hatudara, Desa Purgoa, Kecamatan Cailaco, bernama Cornelio, 34, L. Korban berasal dari Maubesi (Kabupaten Ainaro) dan sedang bertugas sebagai Guru di SDN Purgua. Korban ditangkap di rumahnya oleh anggota Milisi Halilintar dan pasukan gabungan dan selanjutnya dibawa ke arah kota Cailaco. Namun setiba di pinggir sungai Railuli (20 km dari Kota Cailaco), korban dieksekusi oleh Kapolsek Cailaco, Serma Polisi Triyono. Hingga laporan ini dikelurkan, jenazah korban tidak dikembalikan kepada pihak keluarganya. Diduga jenazah korban dikuburkan oleh para milisi dan aparat gabungan. Rumah korban dirusak dan harta milik korban berupa TV, Kulkas, Tape serta sebuah sepeda motor juga raib dibawa oleh tim gabungan. 21 April 1999, terjadi pembunuhan secara dua orang warga sipil bernama: 1. Antonio Bazilio, 26, L, Mahasiswa. Korban tewas karena ditikam dengan pisau pada bagian leher. 2. Armando Belaku, 50, L, petani. Korban ditikam pada bagian punggung dan perut oleh anggota gabungan milisi Dadurus Merah Putih, Halilintar dan tentara. Selain membunuh korban, para pelaku juga membakar rumah korban. Para pelaku yang berhasil diidentifikasi oleh saksi mata adalah Paulo (berasal dari Ermera, saat ini bekerja sebagai PNS di Cailaco, menetap di Atabae dan merupakan anggota Milisi Halilintar), Flabiano Dasilelo (anggota Halilintar, berasal dari Kampung Biadoi, Desa Meligo, Kecamatan Cailako) dan Ad�o Babo, warga asal Ermera, anggota milisi Halilintar yang juga adalah PNS di Cailaco. Para pelaku ini juga terlibat dalam ppembakaran sejumlah rimah penduduk pada saat yang sama. Pengrusakan Rumah Penduduk Sipil: Setelah eksekusi terhadap lima orang warga sipil di Cailaco pada tanggal 13 April 1999, terjadi pula penangkapan dan tindak kekerasan oleh aparat keamanan setempat bersama anggota Milisi Halilintar terhadap warga sipil di Kecamatan tersebut. Akibatnya banyak pemuda yang melarikan diri ke hutan dan ada yang mengungsi ke luar kota Cailaco. Di kota Kecamatan Cailaco, hannya tinggal anak-anak, perempuan dan orang-orang tua, dan segala aktivitas masyarakat menjadi terhenti. Di tempat yang sama, telah pula terjadi pengrusakan terhadap sejumlah rumah milik warga sipil, masing-masing: 1. Manuel Magalhaes, mantan Kepala Dinas PU TK II Bobonaro. Rumah korban dibongkar, semua perabot rumah tangga dibawa ke jalan raya kemudian dibakar oleh para anggogta Milisi Halilintar. Anggota keluarga Manuel Magalhaes mengungsi mencari perlindungan di Susteran Maliana. Korban dijadikan sasaran aksi kekerasan para pelaku karena dianggap sebagai tokoh CNRT di wilayah Bobonaro. Manuel adalah mitra kerja Yayasan HAK dalam melakukan pemantauan HAM di Wilayah Bobonaro. 2. Jo�o Vicente, Asisten II Setwilda TK II Bobonaro. Rumah korban dibongkar, semua perabot rumah tangga dibawa ke jalan raya kemudian dibakar oleh para pelaku itu. Selain itu, sejumlah barang milik korban berupa antena parabola, TV, sebuah sepeda motor dan satu unit mobil Toyota Kijang Pick Up, dibawa ke rumahnya Jo�o da Silva Tavares, pimpinan Halilintar dan Panglima Tertinggi Pro Indonesia. Anggota keluarga korban mengungsi mencari perlindungan di Susteran Maliana. Korban dijadikan sebagai salah satu sasaran aksi kekerasan karena dituduh mempunyai hubungan dengan Falintil dan mendukung perjuangan kemerdekaan bagi Timor Timur. Korban bersembunyi selama satu minggu untuk menghindari para milisi. Sekarang korban telah kembali sesudah meminta maaf kepada Jo�o Tavares, Dandim dan Bupati Bobonaro. 3. Cipriano do Rego Amaral, pensiunan PNS Pemda TK Bobonaro. 4. Anacleto, Pegawai Dinas Kesehatan TK II Bobonaro). Sebuah sepeda motor dan satu mobil Toyota Kijang milik korban dirampas dan kini masih dipkai oleh para anggota milisi Halilintar. 5. Jo�o Lopes, pensiunan PNS PU Bobonaro. 6. Adriano Afonso. PNS P&K Bobonaro. 7. Guelherme Caeiro, Kepala Desa Lahomea. 8. Joao Godinho. Rumah korban dirusak dan korban dianiaya hingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Maliana. 9. Jos� Andrade, PNS P & K Bobonaro. Jo�o Andrade telah ditahan oleh aparat sejak terjadinya peristiwa penembakan terhadap empat orang warga di Kampung Moleana-Maliubun, Desa Ritabou, Kecamatan Maliana. 10. Bonifacio, ketua Pemuda Maliana. Korban melarika diri dan hingga kini tidak diketahui keberadaannya. 11. Apolinario, petani. 12. Ad�o. 13. Marten, Serka Polisi, Kapolsek Lolotoi. 14. Lucio Marques, pegawai Sospol TK II Bobonaro. 15. Duarte Monis, pengawai Kandep P & K TK II Bobonaro. Selain dibakar rumahnya, sepeda motor milik korban juga dirusak. 16. Loren�o, Pegawai Peternakan TK II Bobonaro. Di samping rumah-rumah tersebut, terdapat juga sejumlah rumah yang dirusak tetapi diperoleh informasi tentang pemiliknya, karena mereka umumnya melarikan diri untuk mencari perlindungan di tempat lain. Alasan pengrusakan rumah-rumah tersebut adalah karena pemiliknya dicurigai sebagai pendukung perjuangan kemeerdekaan bagi Timor Timur. 12 April 1999 di Kecamatan Maliana, aparat keamanan dari anggota Kodim Bobonaro dan milisi Halilintar membakar rumah penduduk sipil sesudah menjarah semua harta benda di dalamnya. Rumah-rumah yang dijarah, dirusak dan dibakar tersebut masing-masing milik: 1. Anacleto Barreto 2. Lourenco Gonsalves 3. Marcus de Jesus 4. Armindo Barreto Rumah keempat orang ini dirusak dan dibakar karena yang bersangkutan dituduh sebagai tokoh-tokoh CNRT di wilayah itu yang selalu menentang otonomi luas dan memperjuangkan suatu kemerdekaan bagi Timor Timur. 21 April 1999, kira-kira pukul 10.00 pagi di Desa Manapa, Kecamatan Cailako, Kabupaten Bobonaro terjadi aksi pembakaran, perusakan dan pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok milisi Halilintar. Peristiwa ini masih merupakan kelanjutan dari tindakan balas dendam terhadap kematian Manuel Soares Gama tanggal 12 April 1999. Sejak itu, aparat Keamanan bersama Milisi Hlailintar dan Besi Merah Putih selalu melakukan patroli ke desa-desa di wilayah Kecamatan Cailaco, termasuk Desa Manapa. Dalam patroli sebuah patroli di Desa Manapa, para milisi mengumpulkan semua warga desa dan selanjutnya merusak dan membakar terhadap rumah mereka. Rumah-rumah yang beratapkan ilalang hangus terbakar, sedangkan yang beratapkan seng mengalami kerusakan berat. Pemilik rumah yang berhasil diidentifikasi adalah: 1. Flabiano Tarabesi, 29, L, penduduk Desa Manapa, Kecamatan Cailaco, PNS pada Dinas Pertanian Tingkat II Bobonaro yang bertugas sebagai Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). 2. Raul, 30, L, penduduk Desa Manapa, Kecamatan Cailako, PPL. 3. Jose Soares, 30, L, Penduduk Kampung Samutu, Desa Manapa, Kecamatan Cailaco, Guru SD. 4. Roberto Dasimau, 30, L, petani, penduduk Desa Manapa, Kecamatan Cailaco. 5. Agustinho Calveleira, 45, L, PNS (Guru), penduduk Desa Manapa, Kecamatan Cailako. 6. Louren�o dos Santos Fatima, 50, L, PNS (Guru), penduduk Desa Manapa, Kecamatan Cailako. 7. Felisano Soares, 55, L, petani, penduduk Desa Manapa, Kecamatan Cailaco. Penduduk yang rumahnya dirusak atau dibakar telah melarikan diri ke tempat yang belum diketahui. Para pelaku dalam kejadian ini yang dapat dikenali identitasnya adalah: 1. Paulo, warga asal Atabae, anggota milisi Halilintar yang sekarang bertugas di Cailaco. 2. Ad�o Babo, warga asal Ermera, anggota milisi Halilintar yang juga adalah PNS di Cailaco. 3. Flaviano Dasilelo, warga Desa Meligo, Kecamatan Cailaco, anggota milisi Halilintar. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
