Precedence: bulk


AN-Teve: BERIMBANG, NAMUN GOLKAR DIUNTUNGKAN OLEH SOSIOLOG 'NETRAL'

Selama dua hari pertama kampanye pemilu, AN-Teve merupakan stasiun yang
memberitakan laporan kampanye paling banyak. Ada sebanyak 36 item perihal
pemilu ditayangkan, termasuk talk show. Beritanya cukup variatif, mulai dari
koalisi antara KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Amien Rais,
bingungnya artis Sys NS dalam pemilu, kontroversi mengenai boleh tidaknya
Golkar berkampanye, hingga bagaimana pemilu menyebabkan orang memborong mata
uang dollar AS.

Stasiun ini bukan saja paling banyak memberitakan perihal kampanye, tapi
juga cukup berimbang dalam memberikan gambaran atas masing-masing partai.
Memang, jika kita hanya menilai secara item per item berita, ada
kecenderungan ketidakberimbangan dalam hal narasumber berita. Namun
keberimbangan itu dipenuhi stasiun ini dalam item-item beragam berita
lainnya secara keseluruhan. Misalnya, dalam satu item berita diberitakan
bahwa Golkar tetap mempunyai hak yang sama dengan partai-partai lain untuk
berkampanye. Dalam item tersebut tidak diperlihatkan pendapat narasumber
lain sebagai penyeimbang pernyataan di atas. Pernyataan penyeimbangnya
ternyata termuat dalam item berita lain yang menyusul kemudian.

Demikian juga halnya dengan tanggapan atas berita koalisi antara PAN, PKB,
dan PDI Perjuangan. Saat tanggapan atas koalisi tersebut dilontarkan
Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim, pendapatnya itu tidak dimuat
dalam item berita mengenai koalisi itu melainkan tertempatkan dalam urutan
berita lainnya.

Secara keseluruhan stasiun ini tidak menunjukkan keberpihakannya pada partai
tertentu. Ada saat di mana partai-partai tertentu dirugikan sementara yang
lain diuntungkan dalam peliputan kampanye. Hal ini bukan hanya mengenai
Golkar tapi juga partai-partai besar lainnya, terutama PAN dan PKB.

Keberimbangan ini sedikit terusik ketika dua sosiolog Sardjono Jatiman dan
Parsudi Suparlan - yang ditampilkan sebagai cendekiawan netral --
berpendapat bahwa pelanggaran aturan pemilu harus ditindak. Tayangan ini
justru menguntungkan Golkar dan merugikan PPP dan PKB, terutama dikarenakan
gambar yang ditayangkan stasiun ini adalah bentrokan fisik antara massa
pendukung PKB dan PPP. Pendapat dan penggambaran negatif ini dibiarkan tetap
mengambang.

Hal serupa terjadi saat Sys NS, artis yang pernah berkampanye untuk Golkar,
menilai bahwa BJ Habibie memenuhi syarat sebagai pemimpin yang baik. Secara
tak langsung ia mengkritik PKB dan PPP -- dua partai berlandaskan Islam --
dengan menyarankan partai-partai yang berafiliasi pada agama Islam agar
bersatu.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke