Precedence: bulk


KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN
_____________________________________________________________________ 

MASALAH PENGUNGSI DI TIMOR TIMUR

Laporan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Dili, 29 Mei 1999

Dari tiga kunjungan ke Timor Timur sejak April 11, 1999, Komisi Nasional
Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melihat adanya
permasalahan urgen menyangkut pengungsi internal (internally displaced
persons, IDP). Gejala ini dimunculkan oleh beberapa peristiwa kekerasan yang
terjadi sejak bulan Januari 1999, dan terutama pada awal bulan April 1999,
di Timor Timur. Mayoritas dari para pengungsi ini adalah kaum perempuan,
anak-anak dan orang tua jompo yang terpaksa atau dipaksa meninggalkan rumah
dan desanya dalam konteks pertikaian bersenjata di Timor Timur. 

Komnas Perempuan menganggap semua pengungsi sebagai korban situasi di luar
kendali mereka sendiri. Pemberian bantuan dan perlindungan kepada mereka
merupakan upaya murni kemanusiaan dan merupakan pemenuhan hak asasi para
pengungsi untuk mempertahankan hidup.

Berikut adalah beberapa temuan yang diperoleh dari wawancara dengan berbagai
narasumber pada tanggal 24-28 Mei dan kunjungan ke lokasi penampungan
pengungsi di Liquica pada tanggal 27 Mei 1999.

Jumlah pengungsi

Jumlah keseluruhan dari pengungsi internal belum ada yang benar-benar pasti
karena akses kepada mereka masih sangat dibatasi sehingga pendataan sulit
dilakukan. Pendataan yang ada menyebutkan adanya antara 14. 236 jiwa (Kanwil
Depsos Timtim) sampai 44.388 (Caritas) pengungsi internal di wilayah Timor
Timur sampai dengan 24 Mei 1999. 

Para pengungsi internal tersebar di kota Dili dan kabupaten-kabupaten di
bagian barat Timor Timur, khususnya Liquica, Ermera, Manufahi, Covalima,
Bobonaro, serta di wilayah NTT, yaitu Kabupaten Belu. Perincian jumlah
pengungsi per kabupaten yang telah dikumpulkan berbagai lembaga dilampirkan
secara terpisah (lihat Lampiran). 

Jumlah pengungsi internal sesungguhnya berfluktuasi dari waktu ke waktu,
mengikuti terjadinya insiden-insiden kekerasan. Ada sebagian pengungsi yang
telah kembali ke tempat tinggalnya, ada sejumlah pengungsi yang
berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi penampungan lain, sementara
pengungsi-pengungsi baru juga masih berdatangan. Ada sebagian pengungsi yang
masih belum berani menampakkan diri, bahkan untuk menerima bantuan, karena
merasa diri mereka terancam. Jumlah yang tepat dari satu kurun waktu ke
kurun waktu berikutnya hanya dapat diperoleh melalui akses yang terbuka dan
kontinyu ke lokasi-lokasi penampungan pengungsi.

Kondisi para pengungsi

Berbagai laporan pandangan mata dari para pemberi bantuan kemanusiaan, yang
dikonfirmasikan oleh kunjungan langsung Komnas Perempuan ke beberpa lokasi
pengungsi, menggambarkan kondisi hidup yang tidak layak dan tingkat
kesehatan yang sangat mengkhawatirkan. Ibu-ibu hamil dan anak balita
termasuk di antara mereka yang paling rentan penyakit.

Sebagian pengungsi tinggal di tempat-tempat terbuka di bawah tenda plastik
dengan alas tikar-tikar kecil, sebagian bahkan tanpa atap ataupun alas,
sebagian di gedung-gedung kosong, seperti di sekolah-sekolah, di barak atau
kantor polisi atau militer yang sudah tidak dipakai. Sejumlah pengungsi yang
mempunyai sanak-saudara di tempat pengungsian tinggal di rumah-rumah
penduduk secara berdesakan, sebagian lain menempati rumah-rumah kosong dan
tempat ibadah. 

Di salah satu lokasi pengungsi di Liquica, 25 pengungsi, termasuk sejumlah
anak balita, tinggal dan tidur di bawah tenda berukuran 2x3 meter yang
didirikan di belakang rumah penduduk. Mereka membuat dapur darurat di dekat
tenda, memasak makanan yang mereka cari sendiri dan menggunakan WC dan sumur
penduduk. Menurut informasi, ada empat tenda sejenis di sekitar lokasi yang
sama sehingga diperkirakan fasilitas umum yang dimiliki penduduk setempat
kini harus menanggung 100 orang tambahan selama lebih dari sebulan. Sebuah
lokasi penampungan di barak Polres bahkan hampir tidak ada air bersih
samasekali dan pada waktu hujan mereka harus berjalan 3 km ke sungai untuk
mengeruk air bersih dari banjiran sungai.

Laporan dari lokasi-lokasi penampungan lainnya menunjukkan gejala yang
konsisten, yaitu bahwa tempat tinggal, air bersih dan sarana sanitasi yang
tersedia bagi para pengungsi tidak layak dan tidak memenuhi standar minimal
kemanusiaan. 

Dari segi kesehatan, malaria, diare, penyakit kulit, infeksi sarana
pernafasan dan kekurangan gizi merupakan penyakit yang sudah terdeteksi.
Palang Merah Internasional telah mencatat adanya malnutrisi tingkat moderat
yang akan memburuk dengan sangat cepat jika tidak ada bantuan dalam waktu
1-2 minggu ini. Kunjungan langsung ke lokasi pengungsi oleh Komnas Perempuan
dan lembaga-lembaga lain, seperti UNICEF, mengkonfirmasikan hal ini. Para
pengungsi dan warga masyarakat sekitarnya saat ini dihadapi ancaman ledakan
diare yang bisa muncul sewaktu-waktu jika kondisi hidup para pengungsi tidak
membaik dalam waktu dekat. 

Di luar kondisi hidup saat ini, sebagian pengungsi juga harus menghadapi
kenyataan bahwa ekonomi rumah-tangga mereka sudah ikut hancur. Rumah mereka
ada yang habis dibakar, ada yang masih berdiri tetapi kosong karena seluruh
barangnya telah dijarah. Ternak dan hasil kebunnya terlantar, atau bahkan
sudah hilang dicuri.

Kondisi pengungsi di beberapa lokasi, seperti di Suai (Covelima) dan Cailaco
(Bobonaro) misalnya, masih belum diketahui secara pasti karena akses para
pekerja kemanusiaan ke wilayah-wilayah tersebut dibatasi (lihat bagian 
berikut).
 Bantuan kemanusiaan

Sejumlah instansi pemerintah dan lembaga-lembaga swadaya kemanusiaan telah
mengupayakan bantuan kepada para pengungsi. Tetapi, mereka menghadapi
kendala-kendala yang cukup berat.

Dinas Sosial, misalnya, melakukan pembagian beras kepada para pengungsi dan
Dinas Kesehatan memanfaatkan dana JPS untuk memberi susu dan bubur kepada
anak-anak balita yang ada di tempat-tempat pengungsi. Suster-suster, lembaga
sosial gereja, posko-posko bantuan kemanusiaan maupun lembaga-lembaga
internasional juga mengupayakan bantuan pangan, obat-obatan serta
perlengkapan tenda untuk para pengungsi. 

Di Liquica, misalnya, telah dibuka klinik kesehatan oleh para suster untuk
membantu para pengungsi yang sakit. Di klinik ini dua suster perawat,
dibantu satu asisten, mengobati sekitar 300-400 pasien per hari. Dari tiga
puskesmas yang ada di Liquica, hanya satu yang masih berfungsi. Puskesmas
yang biasanya berkapasitas 60-70 pasien per hari, sejak April 1999, menerima
250-300 pasien per hari. Pelayanan kesehatan di kedua tempat ini dilakukan
tanpa dokter seorang pun. Kendati demikian, pelayanan terus berlangsung dan
buka selama 24 jam sehari.

Para pemberi bantuan kemanusiaan, khususnya pihak-pihak non-pemerintah,
menghadapi beberapa kendala serius dalam menjalankan tugasnya. Mereka
melaporkan telah dituduh melakukan pemihakan kepada salah satu unsur yang
bertikai dan, atas dasar ini, mengalami penghadangan di jalan ketika
melakukan pengiriman barang bantuan, pemukulan terhadap pengemudi/konjek
truk barang bantuan serta ancaman melalui telfon untuk menghentikan
pekerjaannya. Karena kondisi mencekam seperti ini, para pekerja kemanusiaan,
termasuk suster-suster, harus bekerja dalam ketakutan atas keselamatan jiwa
dan keamanan diri mereka. 

Pembatasan akses dan suasana ketakutan seperti di atas melemahkan kemampuan
kita untuk mengetahui secara pasti kondisi dan kebutuhan para pengungsi dan
menghambat pemberian bantuan kemanusiaan yang begitu urgen dibutuhkan oleh
mereka.

Bantuan pangan dan obat bagi para pengungsi saat ini masih belum mampu
memenuhi kebutuhan yang ada, kendatipun berjalan terus menerus tanpa henti.
Di Liquica, misalnya, pengungsi di salah satu lokasi melaporkan baru
menerima satu kali pembagian beras, sebanyak 5 kilogram/KK, selama dua bulan
menjadi pengungsi. Anak balita telah menerima pembagian susu dan bubur, tapi
persediaan hanya cukup untuk empat hari saja dan itupun belum semua balita
pengungsi bisa mendapatkan bantuan yang sama nilainya. Kondisi malnutrisi
yang ada menunjukkan bahwa bantuan pangan masih di bawah yang dibutuhkan.
Kedua klinik pengobatan di Liquica harus menghadapi ancaman ledakan diare
tanpa mempunyai satupun cairan infus dan perlengkapannya. Obat-obatan
lainnya juga terbatas persediaannya.

Sampai saat ini, kapasitas yang ada di dalam wilayah Timor Timur sendiri
masih belum optimal dimanfaatkan untuk membantu semua pengungsi.

Sesungguhnya, sumber daya dan potensi peningkatan bantuan cukup tersedia.
Lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan, baik lokal maupun internasional, mampu
mendapatkan bantuan dari luar wilayah Timor Timur dengan cukup lancar.
Caritas, misalnya, mempunyai kapasitas untuk memberi bantuan beras dan
obat-obatan dengan rencana kerja yang mencakup jangka waktu 5-10 bulan ke
depan. Care International mempunyai persediaan 4.000 ton beras yang siap
untuk dibagikan sebagai bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi tetapi
mereka tidak diberi akses langsung kepada para pengungsi. Kebutuhan tenaga
medis dan obat-obatan siap diberikan antara lain oleh Palang Merah
Internasional dan UNICEF jika akses ke lokasi-lokasi pengungsi dapat
diperoleh. Sementara itu, penyediaan sarana air bersih dan sanitasi adalah
keahlian Palang Merah Internasional, Care International, maupun berbagai
lembaga swadaya masyarakat yang ada secara lokal.

Rangkuman 

1. Walaupun angka pastinya belum ada, jumlah pengungsi internal sampai
dengan 24 Mei 1999 didata antara 14. 000 sampai 44.000 jiwa. Mereka tersebar
di kota Dili, di kabupaten-kabupaten bagian barat Timor Timur serta di
wilayah NTT dekat perbatasan. 

2. Laporan dari lokasi-lokasi penampungan secara konsisten menunjukkan bahwa
tempat tinggal, air bersih dan sarana sanitasi yang tersedia bagi para
pengungsi tidak layak dan tidak memenuhi standar minimal kemanusiaan. 

3. Dari segi kesehatan, malaria, diare, penyakit kulit, infeksi sarana
pernafasan dan kekurangan gizi sudah terdeteksi. Para pengungsi dan warga
masyarakat sekitarnya dihadapi ancaman ledakan diare yang bisa muncul
sewaktu-waktu jika kondisi hidup para pengungsi tidak membaik dalam waktu
dekat. 

4. Sebagian pengungsi juga harus menghadapi kenyataan bahwa ekonomi
rumah-tangga mereka ikut hancur karena rumahnya ada yang habis dibakar atau
dijarah, dan ternak serta hasil kebunnya terlantar atau habis dicuri.

5. Kondisi pengungsi di beberapa lokasi masih belum diketahui secara pasti
karena akses para pekerja kemanusiaan ke wilayah-wilayah tersebut dibatasi.

6. Sejumlah instansi pemerintah dan lembaga-lembaga swadaya kemanusiaan
telah mengupayakan bantuan kepada para pengungsi. Mereka mempunyai kapasitas
yang tinggi untuk membantu para pengungsi dan dapat meningkatkan kapasitas
tersebut sesuai dengan kebutuhan. Tetapi, sampai saat ini, kapasitas yang
ada di dalam wilayah Timor Timur sendiri masih belum optimal dimanfaatkan
untuk membantu semua pengungsi.

7. Lembaga-lembaga pemberi bantuan kemanusiaan menghadapi kendala dalam
penyaluran bantuannya karena kurangnya akses terbuka kepada para pengungsi
dan tidak adanya jaminan keamanan bagi para pekerja kemanusiaan, khususnya
yang berasal dari lembaga non-pemerintah, yang tengah menjalankan tugasnya.

8. Pembatasan akses dan suasana ketakutan yang dialami para pekerja
kemanusiaan melemahkan kemampuan kita untuk mengetahui secara pasti kondisi
dan kebutuhan para pengungsi dan menghambat pemberian bantuan kemanusiaan
yang begitu urgen dibutuhkan oleh mereka.

Rekomendasi

1. Para pekerja kemanusiaan, baik pemerintah maupun non-pemerintah, baik
lokal maupun internasional, perlu diberi jaminan keselamatan dan keamanan
oleh aparat keamanan dan penegak hukum Timor Timur agar mereka dapat segera
menjalankan tugas kemanusiaannya secara optimal dan tanpa kendala.
Keterlambatan bantuan membawa ancaman penyebaran wabah penyakit bukan hanya
bagi para pengungsi tetapi juga bagi warga masyarakat yang hidup di sekitarnya.

2. Di lokasi-lokasi di mana masih terjadi konflik-konflik bersenjata perlu
diberlakukan peluang damai (corridor of peace) di mana semua pihak
bersepakat untuk menghentikan pertikaian dan menjaga keamanan agar para
pekerja kemanusiaan dapat bergerak dengan leluasa untuk memberi bantuan
kemanusiaan dan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi dan penduduk
setempat yang membutuhkan. Konsep corridor of peace sedang dikembangkan oleh
UNICEF Timor Timur dan bisa dikoordinasikan dengan mereka.

3. Lokasi-lokasi yang tidak berada dalam cengkraman konflik bersenjata perlu
dinyatakan terbuka bagi para pekerja kemanusiaan tanpa kecuali.

4. Pemberian jaminan keamanan kepada para pekerja kemanusiaan oleh aparat
keamanan dan pemerintahan daerah perlu disampaikan secara terbuka kepada
lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan dan kepada publik agar semua pihak di
seluruh wilayah mengetahui hal ini. 

Tim KOMNAS PEREMPUAN

ttd.

Koesparmono Irsan, Anggota Paripurna
Kamala Chandrakirana, Sekretaris Jenderal

Lampiran:

JUMLAH PENGUNGSI MENURUT PERKIRAAN
CARITAS TIMOR TIMUR

Terhitung sampai dengan
tanggal 24 Mei 1999


Lokasi  dan Jumlah Pengungsi

Dili 2.579
Liquica 14.000
Maliana 12.000
Ermera (Hatolia) 12.000
Manufahi 312
Atambua 400
Suai 3.000
Total 44.291

Dikutip dari Laporan Naratif tentang Bantuan Darurat bagi Pengungsi
Caritas Timor Timur.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke