Precedence: bulk
KONDISI PENGUNGSI SAMBAS MAKIN MEMPRIHATINKAN
PONTIANAK (SiaR, 12/6/99), Kondisi para pengungsi dari kabupaten Sambas
saat ini semakin memprihatinkan. Kondisi kesehatan mereka semakin hari
semakin menurun. Bahkan beberapa hari belakangan ini tiga balita telah
meninggal karena kekurangan gizi.
Usulan pemerintah Kalimantan Barat membuat barak-barak di Tebang Kacang
ditolak para pengungsi Madura. Dari 500 KK pengungsi yang sebelumnya
menyetujui direlokasi, yang akhirnya berangkat ke Tebang Kacang hanya
8 KK saja. Puluhan truk yang sedianya akan digunakan untuk mengangkut
para pengungsi, Kamis (10/6) itu pulang dengan kondisi kosong.
"Bagaimana kami mau menerima relokasi, kalau tempatnya saja berupa
gambut sedalam 3 meter. Kami kan tidak hanya sehari dua hari saja, tapi
bertahun-tahun. Dengan kondisi seperti itu, lalu mau makan apa?" kata
salah seorang pengungsi.
Sebelumnya, tawaran pemerintah pindah ke lokasi baru yaitu Tebang
Kacang dan Padang Tikar di kabupaten Pontianak sempat menghebohkan
warga setempat. Sebab pemerintah tidak memusyawarahkan dengan warga
kedua lokasi itu yang kebanyakan masyarakatnya Melayu dan Bugis.
Masyarakat kedua wilayah itu serta merta menolak karena trauma dengan
peristiwa sebelumnya yang terjadi di kabupaten Sambas. Namun keberatan
masyarakat kedua wilayah itu tidak dianggap oleh pemerintah. Pemerintah
langsung membangun 10 barak di Tebang Kacang seluas 160 m2 yang
diperuntukkan menampung 2 ribu orang pengungsi.
Pemda juga telah menyanggupi menyediakan bahan makanan selama enam
bulan dan uang 7 ribu per hari untuk setiap KK. Bahkan, rencananya
pemerintah akan memberi lahan pekarangan kepada setiap KK seluas 0,25 dan
lahan garapan masing-masing 1 hektar. Pemerintah juga telah menyiapkan
kanal-kanal sebagai sarana irigasi dan transportasi air.
Dari sebagian besar para pengungsi menyatakan bahwa mereka menginginkan
kembali lagi ke wilayah semula di kabupaten Sambas. Sebab di wilayah
Sambas itulah, masyarakat Madura menggantungkan hidupnya selama ini.
Perlu di ketahui, jumlah pengungsi kerusuhan Sambas yang sekarang
berada di Pontianak tidak kurang dari 4 ribu KK. Mereka dibagi dalam
empat kelompok penempatan. Yaitu, GOR Pangsuma, GOR Untan, Stadion
Sultan Syarief Abdurahman dan Asrama Haji Pontianak. Kondisi tidur dan
MCK mereka sangat memprihatinkan.
Mereka menyadari, bahwa saat ini masih ada luka di hati masyarakat
Melayu di Sambas dan untuk menyembuhkannya membutuhkan waktu yang cukup
lama. Tapi kondisi itu menurut orang Madura bukan berarti harus
memisahkan terus menerus antara kedua suku itu. Sebab pemisahan akan
menimbulkan luka yang semakin hebat di pihak Madura, yang tentunya akan
menimbulkan dendam yang semakin dalam di antara mereka.
Sementara itu, di pihak Melayu Sambas, hingga saat ini masih dihinggapi
rasa ketakutan akan kembalinya orang-orang Madura. Di setiap rumah
mereka telah bersiap-siap menghadang kembalinya orang Madura. Mereka
belakangan membuat senjata-senjata seadanya, berikade penghadang jalan
maupun membuat pos-pos ronda. Sebab ada isu, orang Madura akan kembali
ke Sambas seusai Pemilu.
Karena itu lah, belakangan ini tak mudah orang luar daerah lalu lalang
di wilayah itu. Masyarakat setempat akan memeriksa dan menanyakan
asal-usul para tamu.
Isu kembalinya orang Madura di Sambas, merupakan isu yang paling
sensitif saat ini. Bahkan sebelum Pemilu lalu, sebuah selebaran yang
diduga dibuat oleh Golkar mengisukan bahwa PDI Perjuangan akan
mengembalikan orang Madura ke Sambas. Isu ini sempat menjadikan
melorot dukungan massa di Sambas kepada partai banteng bulat itu.
Bahkan Golkar pun konon juga menghabisi PKB dan PAN dengan menyebarkan
isu bahwa kedua partai itu dekat dengan orang Madura.
Akhirnya, hasil pemilu di Sambas untuk sementara Golkar jauh
meninggalkan partai-partai lain. Itu pun masih dibantu dengan memanipulasi
jumlah suara. Perlu diketahui, di kabupaten Sambas ditemukan 11 ribu lebih
suara tambahan untuk pemenangan Golkar.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html