Precedence: bulk


SEORANG MENTERI KABINET HABIBIE OTAK PELEDAKAN ISTIQLAL 

        JAKARTA (SiaR,15/6/99) Kapolda Metro Jaya, Mayjen  (Pol)  Noegroho
Djajoesman, Senin (14/6) kemarin menyatakan, tujuh pelaksana lapangan yang
terlibat langsung dalam peledakan sudah ditahan. Namun, polisi belum bisa
mengungkapkan motif dan siapa otak di belakang peledakan tersebut. Karena
pengungkapan hal itu tidak semudah yang diduga semula. "Hubungan antara
pelaksana di lapangan dengan otaknya terputus," katanya. Sebab, para
tersangka melakukan peledakan itu di bawah tekanan dan ancaman, sementara
perintahnya diberikan secara tertulis alias tidak pernah tatap muka.

        Namun, sumber SiaR di Polda Metro Jaya mengatakan, polisi sudah
menemukan aktor intelektual itu meski belum bisa diumumkan karena banyak hal
yang harus dipertimbangankan.

        Sumber SiaR mengatakan tokoh intelektual itu kini masih aktif
sebagai seorang menteri di Kabinet Reformasi BJ Habibie. Sang menteri itu,
sumber SiaR tak mau menyebut namanya, merekrut tiga orang anggota dari
satuan elit Angkatan Darat untuk operasi tersebut. Motifnya jelas, yaitu
menyerang kelompok non-Islam.
 
        Sumber SiaR tersebut mengatakan, belum bisa memberi nama sang
menteri karena penyelidikan terhadap yang bersangkutan tengah dikembangkan
secara diam-diam. Namun, sumber SiaR lainnya di Polda Metro Jaya mengatakan,
polisi tengah menyelidiki keterkaitan Menteri Koperasi/Pengusaha Kecil dan
Menengah, Adi Sasoso dalam kaitan dengan peledakan Istiqlal ini.

        Polisi menangkap tujuh tersangka dengan inisial Wwn (26), Nri (20),
Bo (20), Smi (22), Jpa (17), Srd  (18), dan Usi. Mereka adalah pengamen yang
biasa beroperasi di sekitar kawasan Istiqlal. Penangkapan dilakukan di
beberapa tempat di Jakarta dan Tangerang sejak 7 Mei 1999 lalu, atau 18 hari
setelah peledakan. Penangkapan dilakukan berdasarkan keterangan dari
sejumlah saksi.

        Salah seorang tersangka, Wwn yang diduga sebagai pimpinan kelompok,
diketahui pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Karena
kekurangan biaya, ia menggelandang dan pernah ditampung sebuah lembaga
pengentasan pengangguran dan korban PHK milik sebuah yayasan Kristen di
kawasan Kebonsirih, Jakarta Pusat.

        Noegroho mengatakan kelompok pengamen ini diincar seseorang yang
mempunyai maksud mengganggu keamanan. Perilaku kelompok itu pun sudah
diamati dengan cermat: di mana mereka biasa mengamen,  berkumpul dan tinggal.
Awal April 1999, Wwn didatangi seseorang yang belum pernah dikenalnya. Orang
tersebut menunjukkan foto keluarganya: ayah, kakak dan keponakannya di Jawa
Timur, dan mengancam akan membunuh mereka jika ia menolak mengikuti perintah
orang tadi.

        Sejak itu, Wwn tidak pernah bertemu lagi dengan orang tersebut dan
hanya menerima perintah tertulis untuk meledakkan Istiqlal. Pada hari
peledakan, mereka diminta menggunakan sepeda motor yang sudah disiapkan di
dekat penjual bakso di kawasan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat dan
mengambil bom yang dibungkus plastik hitam di tempat lain. Bom itu tinggal
diletakkan di lantai dasar Masjid Istliqlal dan diaktifkan.

        Selain sepeda motor, aktor intelektual juga menyediakan sebuah mobil
Suzuki Escudo yang warna dan pelat nomornya disamarkan sehingga sama persis
dengan Escudo milik yayasan di mana Wwn pernah ditampung. Sejak Wwn mengakui
apa yang telah dialaminya, Polda Metro Jaya meminta bantuan Polda Jatim
untuk menyembunyikan keluarga Wwn dan memberikan perlindungan dari ancaman
kelompok yang amat profesional ini.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke