Precedence: bulk
MUSIM MENJUAL ISLAM SUDAH BERLALU?!
Oleh: Sulangkang Suwalu
"Kecilnya perolehan suara partai Islam menunjukkan bahwa musim menjual
Islam sudah berlalu. Hal ini dikatakan Jalaluddin Rakhmat. Islam yang
dimaksudnya adalah Islam formal atau verbal dan bukan Islam kultural.
Muncul pertanyaan, mengapa Jalaluddin Rakhmat sampai pada kesimpulan
tersebut? Bukan kah MUI telah mengeluarkan fatwa untuk mendongkrak perolehan
suara partai-partai Islam? Mengapa perolehan partai-partai Islam kecil?
PASAR PARPOL
Kang Jalal memulai tulisan "Pasarnya Parpol" (DeTAK No 046) dengan
mengatakan, "Sampai artikel ini ditulis, data terakhir KPU menunjukkan PDI
Perjuangan menduduki posisi tertinggi, disusul PKB. Pada urutan ke lima,
setelah Golkar dan PPP, beringsut PAN. Boleh jadi urutan lima besar ini
berubah, tapi hampir pasti PDI-P akan tetap nomor pertama."
Mengapa PDI-P menang? Karena ia menggambarkan perlawanan terhadap status
quo. Tapi Golkar lambang status quo ternyata masih memperoleh suara yang
banyak. Ada yang menuding Golkar sebagai partai yang paling banyak duitnya.
Jika PDI-P dan Golkar sebagai partai yang paling banyak duitnya. Jika PDI-P
dan Golkar mendapat suara terbanyak karena duit, mengapa PKB masih unggul.
Padahal konon tidak berduit. Untuk sementara harus kita kesampingkan
variebel dana partai, kecuali sampai tingkat tertentu untuk PDI-P dan Golkar.
Tampaknya yang dapat menjelaskan perolehan suara adalah "pasar" kelima
partai itu. Sepertinya, segmentasi pasar terjadi, disengaja atau tidak.
Pasar PDI-P adalah rakyat kelas bawah. Jenisdnya banyak, tapi memiliki ciri
yang sama: pendapatan kecil, pendidikan rendah, kurang informasi politik.
Anda akan menolak dan menunjukkan banyaknya mobil mewah dalam kampanye
PDI-P. Bukan kah PDI-P juga ternyata banyak duit? Kalau begitu kita
tambahkan lagi satu unsur: orang-orang yang tertindas pada rezim Orba.
Umumnya mereka duduk dalam elit partai.
Pasar PKB sudah pasti massa NU, yang tampaknya tetap setia pada Gus Dur.
Walau bermacam barang keluar dari perut NU, ternyata kebanyakan massa
Nahdliyin memilih "telur". Seperti kata Gus Dur, NU itu adalah kaum muslim
tradisional. Orang desa, dengan tingkat pendidikan, pendapatan dan informasi
politik yang mirip dengan massa PDI-P.
PAN sebaliknya, adalah muslim modernis, tinggal di kota, dengan tingkat
pendidikan, pendapatan, informasi politik yang lebih tinggi dari kedua massa
PDI-P dan PKB. Masih kata Gus Dur, karena muslim tradisional lebih banyak
dari muslim modernis, tentu saja PKB akan lebih unggul dari PAN.
Bila PAN mencerminkan kelas menengah muslim, Golkar masih kokoh mewakili
keluarga besar ABRI dan birokrat. Pada kebanyakan TPS yang berlokasi pada
pemilih keluarga ABRI atau birokrat, Golkar dominan. Pasar PPP sebetulnya
telah diacak-acak oleh banyak partai Islam, tapi ia memperoleh kelebihan
dari partai-partai yang baru karena usia dan pengalaman. Kecilnya perolehan
suara pertai Islam menunjukkan bahwa musim menjual "Islam" sudah berlalu.
Demikian Jalaluddin Rakhmat.
MASYARAKAT TELAH KRITIS
Sesungguhnya untuk memenangkan partai-partai Islam dalam Pemilu 7 Juni
lalu, MUI telah mengeluarkan fatwa atau amanat agar umat Islam memilih caleg
muslim. Memang, berbagai reaksi terdengar atas fatwa MUI yang terkesan
sengaja dikeluarkan untuk mendongkrak naik suara partai-partai Islam.
Nurcholish Madjid sebagai seorang pembaru Islam menyayangkan adanya seruan
MUI yang melarang umat Islam untuk memilih parpol yang calegnya banyak dari
kalangan non-muslim. Amanat itu mengesankan belum dewasanya pribadi bangsa
dalam menerima perbedaan. Khususnya dalam kehidupan berpolitik.
Buat apa kita membuat seruan seperti itu? Apalagi fatwanya dikaitkan dengan
kehidupan berpolitik. Fatwa yang dikeluarkan memang terkesan ingin
menggembosi kelompok tertentu. Indikasinya adalah fatwa tersebut dikeluarkan
hanya pada beberapa saat terakhir menjelang pencoblosan suara dilakukan.
Tindakan memojokkan partai dengan justifikasi agama jelas merupakan tindakan
yang tidak dewasa, biar pun beralasan.
Namun, pada prakteknya, fatwa tersebut tak punya banyak pengaruh. Masyarakat
kita sudah demikian kritis untuk memahami fenomena politik yang berkembang.
Sementara itu pengamat politik AS Hikam menilai tindakan MUI merupakan
tindakan reformis, karena terkesan selama ini MUI menjadi perpanjangan
tangan pemerintah. Seperti juga penilaian Cak Nur, Hikam berpendapayt bahwa
fatwa MUI yang menganjurkan masyarakat tidak memilih caleg non-muslim
ternyata tidak berhasil mempengaruhi rakyat.
Berhasil atau gagalnya tujuan fatwa MUI guna mempengaruhi pemilih agar tak
memilih caleg non-muslim ternyata tak berhasil "membodohi" masyarakat yang
telah kritis dan memahami fenomena politik yang berkembang. Karena itu
partai-partai Islam harus memeriksa diri, mengapa perolehan sura mereka
kecil, meski telah dibantu MUI melalui fatwanya tersebut.
TAK PUNYA PROGRAM YANG JELAS
Dalam rangka menggali latar belakang kenapa partai-partai Islam memperoleh
suara yang kecil, barangkali menarik apa yang dikaytakan Azyumardi Azea,
pengarang "Jaringan Ulama", Kepada tabloid Tekad (No 12/Th I) ia mengatakan
bahwa dirinya melihat partai-partai Islam yang baru itu belum siap dengan
sufra struktur yang baik. Sejauh ini, mereka baru beradu mulut antara satu
partai dengan yang lain. Ia belum melihat adanya partai yang serius
memberikan program yang jelas, yang bisa dilaksanakan untuk masa depan atau
mengatasi krisis. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bertengkar
satu sama lain dan menggalang massa dengan figur-figur yang dipandang
kharismatik Baru sampai batas itu.
Azyumardi benar. Belum ada di antara partai Islam itu yang menampilkan
programnya. Apalagi untuk membumikan surat Al Qashash Ayat 5-6, di mana
Tuhan telah berjanji akan memberi karunia kepada kaum mustadhafhin (yang
tertindas dan miskin) di bumi untuk menjadikan pemimpin dan mewarisi bumi.
Malah yang banyak membiarkan kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya)
meneruskan kekuasaannya, sehingga kaum mustadhafhin tetap tertndas dan miskin.
Selama inio partai-partai Islam itu lebih banyak menonjolkan berbagai
simbol Islam. Misalnya dengan mengatakan "memperjuangan amar ma'ruf nahi
munkar", tapi dalam prakteknya tak mengubah kemungkaran dengan tangannya
seperti yang diajarkan Nabi Muhammad. Mereka berkecenderungan menjanjikan
kebahagiaan bagi kaum mustadhafhin di seberang kematian, daripada
melenyapkan serita yang secara konfret mereka alami dalam kehidupan di
dunia. Padahal dapat dikatakan setiap hari mereka berdoa "Ya, Allah kami,
berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat" (Al Baqarah Ayat 201).
Sekiranya partai-partai Islam menjadikan Al Qashash Ayat 6-6 sebagai
program kemasyarakatannya, tentu rakyat tertindas dan miskin (mustadhafhin)
yaitu lapisan bawah dari masyarakat yang memilih PDI-P, akan berpaling pada
partai Islam. Dengan demikian "menjual Islam" masih akan berjaya.
Jelas kiranya, bahwa seperti yang dikatakan Kang Jalal bahwa era "menjual"
Islam" telah berlalu. Para tokoh partai Islam lebih banyak menonjolkan
simbol Islam, tapi tak mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html