Precedence: bulk


TERBITAN AVANTE DAN TALITAKUM DIBLOKIR POLISI

        DILI (MateBEAN, 22/6/99), Hadirnya beberapa media alternatif di
Timtim, yang memberikan informasi yang jujur dan adil kepada masyarakat,
ternyata tidak diterima kelompok pro-otonomi. Karena kelompok pro-otonomi
sudah menetapkan bahwa media yang bisa beredar di Timtim adalah hanya media
resmi nasional, serta media lokal seperti Suara Timor Timur, TVRI Stasiun
Dili, Radio Katolik, Radio Lorosae. Karena hanya media tersebut yang bisa
menjadi corong kelompok pro-otonomi untuk mensosialisasikan otonomi kepada
masyarakat.

        Pemblokiran sejumlah media alternatif itu, menurut sumber MateBEAN
di Dili, bukan masalah politis, tapi hanya persaingan untuk merebut pasar di
kalangan pembaca. Karena Avante sejak terbit pertama hingga saat ini
dikabarkan laku keras di Dili, bahkan ada loper yang menfotokopi lalu dijual
kembali dengan harga yang sama. 
"Masyarakat Timtim lebih banyak membaca berita-berita dari media alternatif
itu, ketimbang membaca berita STT yang menjadi corong dari kelompok pro
otonomi," kata sumber itu. 
        
        Upaya pemblokiran itu, ditempuh oleh kelompok pro-otonomi melalui
Barisan Rakyat Timtim (BRTT) yang mengirim surat secara resmi pada Kapolda
Timtim untuk meminta bantuan Polda memblokir media-media alternatif itu.

        Surat pangaduan yang ditandatangani Salvador Ximenes Soares
(Sekretaris Umum BRTT/Pemimpin Redaksi STT) dan Lopez da Cruz (Ketua Umum
BRTT/Dubes Keliling Tugas Masalah Timtim), isinya meminta supaya aparat
kepolisian di Timtim menindak secara tegas setiap penerbitan media
alternatif yang beredar di Dili.

        "Alasannya cukup sederhana, karena koran STT  terlihat makin
kehilangan pasarnya di Timtim, hingga dengan topeng pro-otonomi, Salvador
ingin memblokir penerbitan media alternatif. Dan selama ini kelompok pro
otonomi tidak ingin media memberitakan kekerasan yang mereka lakukan
terhadap warga sipil," tambah sumber itu.

        Menurut beberapa pembaca Avante dan Talitakum yang dihubungi
MateBEAN mengaku bahwa kedua media itu sangat berani memberikan informasi
yang akurat dan benar kepada masyarakat. "Kekerasan yang dilakukan oleh
kelompok pro otonomi terhadap warga sipil di seluruh Timtim ini selalu
diberitakan Avante. Pemblokiran ini merupakan bagian dari pembungkaman
terhadap kebebasan pers di Timtim. Di Jakarta pers makin kritis, justru di
Timtim adanya pembungkaman terhadap kebebasan pers dan kebebasan untuk
menyatakan pendapat," kata seorang mahasiswi Untim di Timtim.

        Sedangkan beberapa pembaca STT yang dihubungi MateBEAN mengatakan,
sebagian besar pembaca harian satu-satunya milik masyarakat Timtim kecewa
dengan penampilan STT yang sangat berubah drastis sejak pengrusakan kantor
STT 17 April 1999 lalu. 

        "STT sudah bungkam takut. Setiap pemberitaannya sudah tidak kritis
dan lebih banyak menyuarakan kepentingan kelompok pro otonomi di Timtim,
tanpa memberikan pendidikan politik yang baik kepada pembaca. Saya melihat
bahwa STT tidak lagi menjadi media kontrol sosial di Timtim, melainkan
menjadi corong bagi kelompok pro otonomi di Timtim," kata pembaca STT yang
mengaku bahwa selama dua bulan ini dia sudah memutuskan untuk tidak
berlangganan STT lagi.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke